Assalamu'alaykum wr.wb... 

Saya sangat setuju sekali dengan postingan Saudara Kitambotoo.Entah siapa yang 
mengeluarkan "kebijakan" ini yang jelas hal-hal seperti ini sudah harusnya 
hilang dari lingkungan Departemen Keuanga dan juga departemen lain.Sebenarnya 
kalau kita mau JUJUR kita tidak berhak 100% atas lembur yang kita terima setiap 
bulan.Sebenarnya kita semua sudah tahu, cuma tidak berani menolak karena takut 
pada atasan,dan pun ketika berani menolakĀ  eh...atasannya seperti itu, atau 
malah protes kok lemburnya cuma segini padahal lembur aja g pernah (nah inilah 
mental yang harus dibenahi).Saya kira Bapak-Bapak yang dipusat sana yang bisa 
menghilangkan "KEBIJAKAN" yang TIDAK BIJAK ini.Kalau Kantor Pusat mau 
Insyaallah hal tersebut bisa dihilangkan, tentunya dengan dukungan kita 
semua,buktinya sekarang KPPN sudah bersih dari PUNGLI.Dan dengan begitu akan 
bisa menghemat pengeluaran negara apalagi di saat krisis begini.

Demikian unek-unek saya mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan.


--- On Tue, 10/21/08, kitambotoo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: kitambotoo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Prima] Sekali lagi soal lembur
To: [email protected]
Date: Tuesday, October 21, 2008, 4:16 AM










    
            Pernahkah anda sakit perut? Mules, mencret, Maag, Liver, Types, dll?

Kalau belum syukurlah karena sekecil apapun yg namanya sakit pasti

banyak nggak enaknya. Kalau sudah pernah, akankah kita akan mencari

tahu sebabnya? Mungkin kita akan berpikir, saya sakit peryt karena

makanannya nggak bersih, mungkin ada kuman atau virus yg nempel di

makanan sehingga menyebabkan sakit perut ataupun yg lain.



Trus apa hubungannya sakit perut dengan soal lembur. Jelas kalau

dihubung-hubungkan jelas ada. Kalau kita bener-bener lembur tentu kita

berhak untuk menerima uang lembur sesuai peraturan yg berlaku dan ini

Halal bagi kita menurut peraturan maupun agama. Insya Allah yg

demikian ini tidak akan bikin sakit perut. Kalaupun pun sakit tentu

saja karena sebab lain. Kalau kita TIDAK LEMBUR tapi masih mau juga

mengambil UANG LEMBURnya atau bahkan menuntut harus dibayarkan,

mungkin ini yg bisa bikin penyakit dalam tubuh kita. Bisa mencret,

maag, liver, types, asam urat dan lain-lain. Apalagi kalau sampai ke

anak - isteri. Bisa2 mereka ke apesnya. Padahal mereka nggak tahu

apa2. Tahunya apa yg dibawa ke rumah ya uang halal. Kasihan khan? 



Ilustrasi di atas barangkali hanya soal kecil dalam kehidupan kita.

Dan soal lembur juga bukan soal yg besar saya kira. Tapi yg jelas kita

tidak boleh meremehkan yg kecil2. Bukankah yg kecil2 ini kalau

ditumpuk juga jadi besar?



Singkat cerita di sebuah KPPN Percontohan seorang staf dipanggil

menghadap kepala Kantor. Alasan pemanggilan ya soal kecil dan sepele

tadi. Sang Kepala Kantor menanyakan kenapa (sebut saja si A) kamu

nggak mau menerima uang lembur? Si A pun menjawab Lha saya nggak

pernah lembur pak. Atasan saya juga nggak pernah memerintahkan saya

untuk kerja lembur. Disini sebenarnya alasan si A sangat logis. Namun

karena ego sang Pimpinan yg mengatakan bahwa ini adalah kebijakan saya

selaku pimpinan. Anda harusnya patuh.



Kebijakan... .. Ya ini kata2 sakti yg sdh saya dengar sejak saya jadi

PNS yg mana saya selalu melawan kebijakan lembur fiktif ini. Ada yg

karena untuk dana taktislah. Untuk menjamu tamu lah. Dan segudang

alasan lain. Kalau jaman dulu okelah karena belum ada reformasi

birokrasi. Tapi kalau hari gini... Di KPPN Percontohan lagi. Ada

Kepala Kantor yg membuat kebijakan seperti ini... APa lagi yg mau kita

katakan. Paham nggak dg reformasi birokrasi. Yg begini lulus ....?

Bukankan soal jamu menjamu Pak Dirjen sendiri sudah mengatakan, tidak

minta ada jamu-jamuan. Ya mungkin ini ekses dari jaman jahiliyah dulu

yg barangkali sadar atau tdk masih terbawa2. Mudah-mudahan seiring

dengan berjalannya waktu yg model2 begini cepat2 pensiun. Dan

muda-mudahan tidak ada kaderisasi perilaku negatif ini.



Tulisan ini bukan untuk menghilangkan sistem lembur dalam lingkungan

kita. Tapi Mbok ya lurus-lurus saja. Yang lembur dibayarkan uang

lemburnya. Yang tidak lembur mbok jangan dikasih uang lembur apalagi

ngotot minta uangnya. Buat yg di KPPN percontohan tentu saja ada seksi

yg super sibuk yang kalaupun diberikan lembur juga nggak sepadan

dengan jerih payah mohon bersabar mudah2 kedepannya mendapatkan system

yg lebih baik lagi.



Mohon maaf bila ada yg nggak berkenan.

Tulisan ini didedikasikan untuk DJPBN yg lebih Bersih, Amanah dan

Profesional. 




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke