Dear miliser yang budiman,
Sudah lama sekali saya kangen untuk posting di milis ini. Mudah-mudahan
postingan pendek berikut ini, yang mengingatkan kita supaya “mundur beberapa
langkah ke belakang untuk berancang-ancang melakukan sebuah lompatan besar
(reform) ke depan”, dapat memberikan inspirasi dan motivasi terutama kepada
generasi muda calon pemimpin DJPBN untuk melakukan dan menciptakan “sesuatu”
(terobosan) yang jauh lebih baik dari yang selama ini dilakukan dan diciptakan
oleh para pemimpin DJPBN sebelumnya. Apakah slogan Amerika “Yes, we can”
merupakan jawaban generasi muda calon pemimpin kita?
Mengingat. Ya, mengingat adalah mencoba melihat sesuatu di masa lalu.
Mengingat itu penting. Lihat saja monumen, prasasti dan museum yang dibangun
agar kita mengingat dan menghargai sesuatu di masa lalu. Orang bijak bilang
untuk membuat suatu lompatan besar ke depan seringkali kita harus belajar dari
sejarah, yakni penggalan-penggalan pengalaman masa lalu yang sengaja diabadikan
agar kita dapat belajar dan mengambil hikmah darinya. Orang yang tidak pernah
belajar dan peduli pada Sejarah, ia tidak akan dapat mengetahui Kekuatan dan
Kelemahan para tokoh dan pemimpin bangsa di masa lalu. Dengan demikian ia juga
akan kehilangan momentum untuk memetik hikmah Sejarah yang semestinya dapat
dimanfaatkan untuk mengukir Sejarah di masa mendatang.
Sekarang coba kita hitung dalam kalender, berapa kali dalam setahun kita
memperingati (diminta untuk mengingat) kejadian dan peristiwa besar bersejarah.
Kita bisa memilih untuk tertarik memperingati Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan,
Hari Kartini, atau Hari Maulud (Kelahiran) Nabi. Semua Hari besar tersebut
memang “menjual” nilai-nilai kepemimpinan dan keteladanan yang semestinya kita
warisi. Tetapi, tentu merupakan hak kita untuk memilih mana di antara Hari-Hari
besar tersebut yang akan kita peringati, renungkan dan ambil hikmahnya sesuai
dengan kebutuhan kita. Seperti halnya Sejarah yang memilih kejadian-kejadian
(yang dianggap) Besar di masa lalu sesuai kebutuhan dan kepentingan (politik)
Sejarawan, kita pun tentu berhak untuk memilih sejarah mana yang kita yakini
kebenarannya dan dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan Bangsa Indonesia.
Pertanyaan saya, mampukah kita belajar dari Sejarah Bangsa-Bangsa di masa lalu
untuk mengukir Sejarah Emas
Bangsa Indonesia di masa mendatang? “Yes, we can”, apakah mantra-perubahan
Amerika itu juga merupakan jawaban kita?
Hari ini saya tidak ingin mengingat peristiwa-peristiwa Besar bersejarah. Saya
hanya ingin mengingat sebuah peristiwa biasa yang terjadi pada tanggal 29
November, atau tepatnya 56 tahun yang lalu, ketika seorang anak manusia lahir
dan diberi nama “Hari Utama Ribowo”. Selain ingin mengingatnya, saya juga
ingin menyampaikan pesan. “Selamat ulang tahun ke-56 Pak Hari. Semoga sampai
akhir perjalanan karir dan perjalanan hidup Bapak nanti, Bapak senantiasa
sehat, sukses, bahagia, dan mendapatkan ketenangan hidup lahir dan batin. Amin.”
Kepada Misua saya tercinta, mas Budisan yang berulang tahun sehari setelah Pak
Hari, saya juga ingin mengucapkan selamat dan menyampaikan pesan yang sama.
Mudah-mudahan ucapan selamat dan pesan saya kepada Misua tersebut bukan
pertanda sifat narsis saya yang berlebihan. Semoga.
Salam Perubahan
Bicara tentang Ultah, puisi anak saya berikut ini mungkin layak untuk disimak:
HARI INI EMPAT BELAS TAHUN YANG LALU
Hari yang aku nanti
kini telah hadir bersamaku di sini
Kedua tangannya memegang kedua tanganku
Kedua matanya menatap kedua mataku
Ia tersenyum
lalu ia menyatu ke dalam tubuhku
sambil berbisik “Happy Birthday Dyah Ayu”
Tiba-tiba aku merasa semua mata tertuju padaku
mereka menyapa dan menagih janjiku
“Hai, pakabar Dyah Ayu? Aku rindu pada janjimu”
Seketika aku terjaga dari mimpiku
Mimpi untuk meraih cita-citaku
Mimpi untuk memelihara ibadahku
Mimpi untuk memupuk cintaku
Dan mimpi-mimpi lain yang terpendam dalam lubuk hatiku
Mimpi-mimpi itulah yang selama ini selalu mengganggu tidurku
Entah berapa kali aku mencoba membunuh mereka yang mencoba membunuh mimpiku
dengan belajarku, dengan sholatku, dengan ketekunanku
Tetapi sekian kali pula mereka menertawaiku
“Percuma saja, Dyah Ayu”
Hari ini sekali lagi aku berjanji pada diriku
Aku bertekad untuk membuat dan meniti Jalan Baru
“Now you must be the Winner, unless you’ll be the Loser forever”
Hari ini empat belas tahun yang lalu
Orang bilang aku keluar dari rahim Mamaku
Aku menangis
dan orang-orang di sekitarku gempar menyambut kehadiranku
Orang bilang aku lahir
ketika Mama baru saja melangkah ke luar rumah
Hari ini aku ingin sekali menraktir kamu-kamu
Mau nonton atau makan-makan, itu up to you
Ijinkanlah pada hari ultahku ini
aku membagi sepotong kue kebahagiaanku padamu
> --------------- <
Bandung, 30 April 2008
Dyah Ayu Kusumawardhani
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo!
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/