Setiap menghadapi tantangan akan perubahan mestinya dihadapi dengan
optimisme penuh pengharapan akan perbaikan. Respon akan perubahan
adalah tanda bahwa setiap insan birokrasi termasuk didalamnya jajaran
warga DJPBN  pada dasarnya adalah "pendukung" perubahan/reformasi
birokrasi.

Optimisme tanpa dibarengi dengan kehati-hatian berujung pada
ceremonial yang berulang. Karena kita diwariskan kebijakan keliru dari
masa lalu dan perbaikannya membutuhkan waktu, tidak bisa instan meski
jaman yang kita hadapi serba instan dan menawarkan serba jalan pintas
(iming-iming). Hemat saya disinilah tantangannya dan
hambatannya.sekaligus yang menggoda konsistensi kita dalam berkomitmen
pada perubahan yang membawa perbaikan.

Kalaulah punya cita-cita tertinggi untuk diraih jangan berhenti untuk
mengerjar cita-cita itu hanya karena lingkungan tidak mendukung.
Perubahan yang memberi makna selalu dimulai dari dalam diri. Betapapun
begitu sulit dijalani tetap memiliki nilai di kehidupan nanti. Wisuda
selalu menjadi ceremonial di akhir ujian berat yang menghadang bukan
sebaliknya. Wisuda bukan menjadi awal yang baru sekedar melekatnya
predikat yang harus disandang.

Marilah kita jaga apa-apa yang baik yang sudah kita mulai. Tidak perlu
berkecil hati, hanya karena kondisi tidak mendukung untuk mendapat
predikat pelayanan terbaik. Bukanlah tujuan utamanya untuk mendapat
predikat-predikat itu. Tujuan utama yang bisa dipahami adalah agar
kita saling menjaga optimisme kita masing-masing sehingga dapat keluar
dari berbagai krisis yang membelenggu bangsa ini.

Mengapa selalu gagal dalam implementasi: jawabnya karena terlalu mudah
untuk melupakan komitmen. Setiap kali kita melanggar komitmen
(janji-janji) selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri untuk
membuat komitmen baru. Siklus tahunan (tahun anggaran) dan siklus lima
tahunan (pemilu) sering kali memaksa kita berada di simpang jalan.
Namun sekali kita kuat dan konsisten (istiqomah) dan tetap netral
suatu saat nanti perubahan itu membuahkan hasil. 

Perlu dingat jika ada perselisihan kembalilah pada pedoman pokok.
Dengan memakai idiom Islam "Kembalilah kepada Qur'an dan As Sunnah
jika mengalami kegamangan hidup" UUD 1945 tentu pedoman tertinggi
dalam setiap aturan implementasi dibawahnya. Jika tidak punya kepekaan
dan komitmen pada aturan tertinggi itu apakah pantas masih berkomitmen
untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas serta adil dalam kemakmuran.

Ide dasar pembentukan Kejuruan sama dengan Diploma yaitu menciptakan
tenaga profesional di bidangnya. dimana sudah terspesialisasi
sedemikian rupa. Sehingga bukan saja diharapkan mampu bekerja sesuai
spesialisasinya tetapi sangat fungsional dalam tupoksinya
masing-masing dengan pembinaan terus-menerus melalui diklat yang
terencana Tugas fungsional sangat terkait erat bagi jajaran dalam
struktural karena diharapkan keputusan yang diambil tidak keluar dari
apa yang dihasilkan jajaran fungsional dalam hal ini tidak ada
dikriminasi reward yang harus diterima masing-masing pemangku baik di
fungsional maupun struktural. Kenyataan godaan struktural begitu besar
disisi lain jajaran fungsional tidak dapat fokus karena tidak ada
pembinaan yang secara konfrehensip berpihak/melindungi karier dan masa
depan mereka. Karena dibiarkan berlanjut tanpa terencana hingga
jadilah kelebihan pegawai. Hemat saya masalah klasik ini agar segera
diselesaikan. Karena sudah bukan jamannya menutup mata terhadap
berbagai tuntutan agar kita memberikan pelayanan terbaik transparan
dan akuntabel. 

Kalau saya boleh usul atas kelebihan pegawai DJPBN mungkin juga eselon
lain atau  Kementerian/Lembaga lain. Adalah peningkatan pelayanan
kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. "kesediaan penyediaan dana
pendidikan 20% dari APBN" meski sebatas approval belum menjadi
komitmen kita bersama sudah merupakan kemajuan yang luar biasa.
Keberhasilan dari komitmen tetap harus diuji dengan tahapan
imlementasi baru kemudian dievaluasi. Pada implementasi sering kali
kita mendapat kendala karena mindset. Mengubah mindset (Pola Pikir)
adalah inti dari self learning atau pembelajaran diri. Inilah yang
menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, tantangan dan
peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan,
kerja keras, komitmen untuk tercapainya keberhasilan visi dan tujuan
hidup kita.
Proses pembelajaran diri selalu dimulai dari perumusan visi dan misi
hidup. Inilah yang akan memandu arah dan jalan keberhasilan kita.
Inilah yang akan mengarahkan kemana tujuan kita dan menjadi seperti
apakah kita nanti. Namun itu tidak cukup. Perlu sebuah mindset yang
berkembang (growth mindset) yang akan menjadi katalisator dalam
merespon setiap peluang, tantangan, dan perubahan dan mengubahnya
menjadi sebuah proses  yang dijalankan dengan ketelatenan, usaha, dan
komitmen yang berkelanjutan, untuk menjadi berhasil, berkembang,
efisien, efektip, dan berkualitas.
Jawaban ini masih kurang fokus (bias) karena memang begitu luasnya
dimensi persoalan yang kita hadapi. 
Mohon maaf atas segala kekurangan semoga bermanfaat.



Kirim email ke