Yang ketangkap tangan siapa sih? Pelaksana ya? Ato kasie ato KK?? Terlepas dari jalan ceritanya, TKP-nya, pelakunya dan segala ancaman hukumannya, saya ingin mengomentari ya, semoga gak bikin polemik baru. Kita adalah manusia, dengan segala keterbatasan kemanusiaan. Bila kita berada di posisi pelaku penerima pungli, bisakah kita juga mengelak? Ketika kebutuhan hidup meningkat dengan adanya Hari Raya, dengan kedekatan "emosi" dengan pemberi. Justru saya merasa tidak senang dengan si pemberi yang ternyata bekerja sama dengan pihak lain untuk "menjebak" si penerima pungli. Tujuan utama adalah menjebak penerima pungli. Bagaimana perasaan saudara, ketika dijebak oleh oknum polisi (dulu sering terjadi). Merasa aman, dan tidak ada siapa siapa, lalu kita melanggar rambu rambu. Ketika kita dirangkap dan ditilang, bagaimana perasaan kita? Emangnya kita robot, yang dengan mudah diinstall ulang dan di restart?? Apalagi kalo menyayangkan dengan "jika pelakunya anak2 muda". Apakah hanya orang muda yang harus tidak tergoda??
Kenapa para penjebak tidak menjebak para pejabat? Kenapa para penjebak hanya mengincar pelaksana? Apakah karena pelaksana yang berhadapan langsung dengan satker? ( yang seringkali bukan big boss) Kenapa hanya menjebak pungli? Kenapa tidak menjebak pencairan DIPA? Jebak dan tangkap juga para penggerogot dana perjalanan, dana ATK.. Pelaksana..kasihan nasibmu..heheh Maksud saya sih, bukan membela penerima pungli. Tapi mari kita melihat dari sisi lain, jangan hanya mengharapkan hukuman berat, pemecatan dsbnya.. Kejahatan harus diberantas, tapi jangan tebang pilih... Mohon maaf kalau ada kesalahan kata dan kalimat..

