Sy kira itu dah jelas masuk dalam area yg dilarang. Menerima langsung maupun tidak langsung dari pelayanan yang kita berikan. Normalnya satker harus berkonsultasi hal2 yang terkait peraturan ataupun aplikasi yang berhub dgn pelayanan DJPBN langsung ke DJPBN (Kanwil/ KPPN fungsi CS), bukan menarik person DJPBN ke dalam lingkup mereka dengan tameng sebuah SK. Sejak awal 2008 (semenjak KPPN ini dilaunch sbg KPPN P) hal tersebut termasuk yg diharamkan disini.
Tapi kembali semua berangkat dari nurani dan moral masing masing, jika ada yg beranggapan itu sah karena didukung SK silahkan saja, tapi percayalah hal itu akan membuat semangat reformasi (clean goverenment) menjadi kabur, dan memancing reaksi dari jiwa jiwa yang lain untuk berlomba lomba mencari celah serupa, yang pada akhirnya akan menggoyahkan "bangunan baru" yang sedang kita bangun bersama. Saran saya, tolaklah secara halus. Maaf jika kurang berkenan Salam Hangat dari Kendari HaBeWe --- In [email protected], "Ikyu_san32" <iky...@...> wrote: > > > > --- In [email protected], jacko dwi <dwijacko@> wrote: > > > > Assalamu'alaikum, > > > > Sudah menjadi kebiasaan diawal tahun satker maupun unit wilayahnya meminta > > pegawai dari KPPN atau Kanwil Perbendaharaan untuk dimasukkan dalam > > struktur UAKPA/ UAPPA-W. Namun ada yang bilang kalo hal itu > > tidak diperbolehkan. Hanya aturan pelarangan nya belum ketemu. Mungkin > > teman2 mailist ada yang tahu? mohon dibagi infonya.. Trims. > > > > Djoko DS > > > > Meneruskan guys... > > iya niyh...tolong pencerahannya... > kalo temen2 mantan Kanpus bilang... gpp/masih legal karena ada SKnya dan di > kanpus katanya banyak yg spt itu... > > jangan sampai hal ini menjadi masalah di kemudian hari.... > > > ikyusan >

