saya tidak akan berkomentar apapun, ini ada tulisan bagus dari sdr. 
rifky pradana yang disebarkan ke beberapa milis.
(walau ujung-ujungnya ada unsur SARA-nya),
tapi menarik sebagai info lain...




---


-------- Original Message --------
Subject:        [mediacare] Sri Mulyani diantara Kolega & Komunitasnya
Date:   Tue, 18 May 2010 18:58:39 -0700 (PDT)
From:   rifky pradana <[email protected]>




Buat pendukung Sri Mulyani yang begitu bangga Sri Mulyani jadi “Managing
Director” World Bank, sehingga menganggap itu satu kehormatan yang luar
biasa dan bersikap lebay, mudah2an informasi ini bisa menyadarkan mereka.

Posisi “Managing Director” World Bank itu sebetulnya hal yang biasa
terutama untuk mengamankan hutang2 yang diberikan World Bank ke negara tsb.

Sebagai contoh Indonesia punya hutang Rp. 1.600 Trilyun di mana sebagian
dari World Bank. Wajarlah jika World Bank mempekerjakan Sri Mulyani yang
punya jaringan dengan pembuat kebijakan ekonomi dan juga ekonom agar
pinjaman Bank Dunia tsb aman.

Yang jadi “Managing Director” World Bank itu banyak. Ada yang dari
Afrika, Nigeria, Sudan, dsb. Ini satu contoh “Managing Director” World
Bank yang jadi rekan Sri Mulyani, ekonom yang sangat hebat itu:

Ikonjo yang merupakan senior dari Sri Mulyani adalah mantan Menkeu Nigeria.

( Ikonjo-Iweala – Managing Director, World Bank Group

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/TOPICS/EXTGENDER/0,,contentMDK:21731300~pagePK:210058~piPK:210062~theSitePK:336868,00.html
 

<http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/TOPICS/EXTGENDER/0,,contentMDK:21731300~pagePK:210058~piPK:210062~theSitePK:336868,00.html>
 

)

(Untuk melihat kemakmuran Nigeria, silahkan lihat di sini:
http://www.worldlifeexpectancy.com/sort.php
<http://www.worldlifeexpectancy.com/sort.php> )

Harapan hidup rakyat Nigeria hanya 46,9 tahun dan menempati urutan 181
dari 189 negara.

Jadi sepertinya keberhasilan memakmurkan rakyat yang harusnya jadi satu
indikator ekonom yang menjabat, bukanlah pertimbangan Bank Dunia.

Sri Mulyani akan menggantikan Juan Jose Daboub sebagai Managing Director
World Bank, yang tak lain adalah mantan Menteri Keuangan El Salvador.

El Salvador adalah satu negara penghutang besar di Amerika Tengah:

http://en.wikipedia.org/wiki/Developing_countries%27_debt
<http://en.wikipedia.org/wiki/Developing_countries%27_debt>

Jadi sepertinya Bank Dunia memang memilih mantan Menkeu dari negara2 di
Afrika, El Salvador, Indonesia, dsb sebagai Managing Directornya.

Beberapa kesamaan negara Afrika, El Salvador, dan Indonesia adalah
hutangnya yang besar, mayoritas penduduk yang miskin, dan kesenjangan
yang tinggi antara segelintir orang yang kaya dan mayoritas rakyat yang
miskin.

Jadi kalau ada hal yang istimewa, itulah keistimewaannya.

Indonesia sendiri dari tahun 2004 hutangnya berkembang dari Rp. 1.200
trilyun jadi Rp. 1.600 trilyun di tahun 2010.

Jadi ada penambahan hutang Rp 400 trilyun.

Jika bunganya 10%, maka bunganya adalah Rp 40 trilyun/tahun.

Jadi menggaji mantan pejabat ekonomi sebesar Rp 3 milyar itu tidak rugi
bagi Bank Dunia.

( Di bawah struktur organisasi selengkapnya dari Bank Dunia:

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/EXTABOUTUS/0,,contentMDK:20040913~menuPK:93850~pagePK:43912~piPK:44037~theSitePK:29708,00.html
 

<http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/EXTABOUTUS/0,,contentMDK:20040913~menuPK:93850~pagePK:43912~piPK:44037~theSitePK:29708,00.html>

http://news.id.msn.com/okezone/regional/article.aspx?cp-documentid=4069228
<http://news.id.msn.com/okezone/regional/article.aspx?cp-documentid=4069228> 

)

Silahkan lihat tulisan Profesor Joseph Stiglitz, mantan Ketua Ekonom
World Bank, dan mantan Ketua Penasehat Bill Clinton tentang “Empat
Langkah Strategi” World Bank untuk Memperbudak Negara Berkembang

http://infoindonesia.wordpress.com/2010/05/06/empat-langkah-strategi-world-bank-untuk-memperbudak-negara-berkembang/
 

<http://infoindonesia.wordpress.com/2010/05/06/empat-langkah-strategi-world-bank-untuk-memperbudak-negara-berkembang/>

Tulisan ini sekedar menunjukkan bahwa posisi Managing Director di mana
orang2 terpilihnya ternyata dari Afrika, El Salvador, Indonesia, dsb
merupakan hal yang biasa karena negeri2 tsb punya karakteristik hutang
besar, mayoritas rakyatnya miskin, dan kesenjangan yang besar antara si
kaya dan si miskin.

***

*Sri Mulyani - Managing Director World Bank dari Afrika*

*http://politik.kompasiana.com/2010/05/07/sri-mulyani-managing-director-world-bank-dari-afrika/
 

<http://politik.kompasiana.com/2010/05/07/sri-mulyani-managing-director-world-bank-dari-afrika/>*

***

Ada pun untuk mengetahui lebih lanjut bisa dibaca di:

http://polhukam.kompasiana.com/2010/02/11/sri-mulyani-boediono-ekonom-hebat/ 

<http://polhukam.kompasiana.com/2010/02/11/sri-mulyani-boediono-ekonom-hebat/>

Kemiskinan di Indonesia:

http://infoindonesia.wordpress.com/category/kemiskinan/
<http://infoindonesia.wordpress.com/category/kemiskinan/>

***



Terpilihnya Sri Mulyani oleh bank dunia untuk menduduki posisi bergengsi
di lembaga tersebut, tak pelak mendapat banyak pujian dari banyak kalangan.

Sebagian besar yang memuji beliau beralasan bahwa terpilihnya Sri
Mulyani merupakan kehormatan bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali
masuk dan diperhitungkan di kancah internasional.

Tak urung presiden Bank Dunia menyampaikan pujiannya terhadap Sri
Mulyani yang ia anggap sebagai menteri keuangan yang luar biasa.

Namun bagi kalangan peminat teori konspirasi tentu akan bertanya-tanya
ada apa dengan ini semua.

Kita mungkin tidak akan meributkan lagi siapa Sri Mulyani, yang
merupakan bagian dari lingkaran Mafia Berkeley, yang berideologi ekonomi
kapitalis neoliberalis.

Hampir semua orang mengetahui sosok beliau, bahkan sebagian besar
pendukungnya menganggap Sri Mulyanilah yang mampu menyelamatkan bangsa
ini dari krisis ekonomi global, sebuah keyakinan syirik apabila Sri
Mulyani ansich dianggap sebagai penyelamat, karena mereka yang
berideologi kapitalis, liberalis tentu tidak akan melihat persoalan
Allah dalam setiap langkah mereka.

Kita lupakan dahulu sosok Sri Mulyani yang kontroversi tersebut, namun
kita coba lebih mendalam melihat siapa yang bakal menjadi atasan Sri
Mulyani seandainya dirinya benar-benar menjadi managing director World Bank.

Yah..Robert Bruce Zoellick, presiden World Bank (Bank Dunia).

Tidak begitu sulit untuk mencari siapa Zoellick sebenarnya, di situs
wikipedia terpampang dengan jelas profil Robert Zoellick yang merupakan
salah satu anggota dari PNAC (Project for the New American Century).

Naiknya Robert Zoellick pada tahun 2007 menduduki posisi presiden Bank
Dunia, tidak terlepas dari kedekatannya dengan George W Bush.

Karena pada pemilihan presiden AS sebelum era Obama, Zoellick cs dibawah
payung PNAC mendukung all out upaya George W Bush menduduki tampuk
kekuasaan di AS.

Perlu diketahui, PNAC lah yang pada tahun 1998 mengirim surat ke Bill
Clinton (presiden AS saat itu) agar Clinton menuruti saran mereka untuk
memberi perhatian penuh pada pelaksanaan strategi menginvasi Irak dan
menggulingkan Saddam Hussein.

Dan pada surat PNAC yang dikirimkan ke Clinton tersebut, Zoellick
termasuk penandatangannya, bersama dengan Donald Rumsfeld, Paulus
Wolfowitz, Richard Perle, Elliott Abrams, Zalmay Khalilzad, John R.
Bolton, Richard Armitage, dan Bill Kristol.

Peristiwa 11 September 2001 menjadi momentum besar bagi PNAC yang
Zoellick berada di dalamnya.

Peristiwa tragis tersebut benar-benar di eksploitasi oleh PNAC. Hanya
beberapa hari setelah kejadian itu, PNAC mengeluarkan surat yang
menyatakan "../jika pun nantinya tidak ditemukan bukti keterkaitan Irak
dengan kasus WTC, strategi apapun yang bertujuan menghabisi terorisme
dan sponsornya harus memuat upaya penggulingan Saddam Hussein dari
kekuasaannya di Irak/…"

Jadi perang Irak adalah ilegal, yang dibuat berdasarkan atas kebohongan,
karena pada akhirnya terbukti Saddam Hussein dan rakyat Iraq tak ada
kaitannya dengan gerakan Al-Qaidah. Belum lagi tuduhan terkait Weapon
Mass Destruction (WMD) yang digembar-gemborkan AS yang dimiliki oleh
pemerintahan Saddam Hussein juga palsu.

Bisa dikatakan Zoellick and the gank, telah membuat sebuah kebohongan,
dengan memanipulasi data, serta memanipulasi emosi dunia untuk
mengompori rakyat AS, Eropa, dan sekutunya agar membantai mayoritas umat
Islam tak berdosa di Irak dan Afghanistan.

Akibat konspirasi Zoellick cs tidak kurang satu juta rakyat Irak yang
tak ada sangkut pautnya dengan tuduhan AS menjadi korban dan lebih dari
5000 tentara AS yang dikirim ke perang ilegal ini menjadi mati konyol.

Jadi bisa diambil kesimpulan, bahwa Robert Zoellick presiden World Bank
tangannya berlumuran darah umat Islam.

Dan secara langsung maupun tidak langsung Sri Mulyani pun akan
kecipratan dosa si Zoellick yang bakal jadi atasannya tersebut.

Kalau di indonesia banyak bedebah seperti yang disampaikan dalam sebait
puisi, maka Zoellick tidak kalah bedebahnya dengan petinggi-petinggi AS
lainnya yang menghalalkan perang atas dasar kebohongan, menggencet
negara-negara dunia ketiga dengan utang luar negeri, membantai kaum
muslimin atas nama perang melawan teroris dan sebagainya.

note:

PNAC dibentuk pada bulan Juni 1997 oleh kelompok Zionis-Kristen dan
Zionis-Yahudi Amerika yang tergabung dalam kelompok Hawkish.

Pembentukan PNAC disebabkan keinginan mereka agar AS menjadi polisi
dunia seutuhnya tidak mendapat respon yang maksimal dari presiden Bill
Clinton.

Hal itu terpampang dalam "Statement of Principles", garis-garis besar
visi dan misi PNAC.

***

*Robert Zoellick Bos Bank Dunia yang Berlumuran Darah Umat Islam*

*http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/robert-zoellick-bos-bank-dunia-yang-berlumuran-darah-umat-islam.htm
 

<http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/robert-zoellick-bos-bank-dunia-yang-berlumuran-darah-umat-islam.htm>*

***



Bank Dunia adalah sebuah lembaga keuangan global yang secara struktural
berada di bawah PBB dan diistilahkan sebagai "specialized agency".

Bank Dunia dibentuk tahun 1944 sebagai hasil dari Konferensi Bretton
Woods yang berlangsung di AS. Konferensi itu diikuti oleh delegasi dari
44 negara, namun yang paling berperan dalam negosiasi pembentukan Bank
Dunia adalah AS dan Inggris.

Tujuan awal dari dibentuknya Bank Dunia adalah untuk mengatur keuangan
dunia pasca PD II dan membantu negara-negara korban perang untuk
membangun kembali perekonomiannya.

Sejak tahun 1960-an, pemberian pinjaman difokuskan kepada negara-negara
non-Eropa untuk membiayai proyek-proyek yang bisa menghasilkan uang,
supaya negara yang bersangkutan bisa membayar kembali hutangnya,
misalnya proyek pembangunan pelabuhan, jalan tol, atau pembangkit listrik.

Era 1968-1980, pinjaman Bank Dunia banyak dikucurkan kepada
negara-negara Dunia Ketiga, dengan tujuan ideal untuk mengentaskan
kemiskinan di negara-negara tersebut. Pada era itu, pinjaman
negara-negara Dunia Ketiga kepada Bank Dunia meningkat 20% setiap tahunnya.

*Peran Bank Dunia dalam Ekonomi dan Politik Global.*

Rittberger dan Zangl (2006: 172) menulis, sejak tahun 1970-an Bank Dunia
mengubah konsentrasinya karena situasi semakin meningkatnya jurang
perekonomian antara negara berkembang dan negara maju.

Pada era itu, seiring dengan merdekanya negara-negara yang semula
terjajah, jumlah negara berkembang semakin meningkat.

Negara-negara berkembang menuntut distribusi kemakmuran (distribution of
welfare) yang lebih merata dan negara-negara maju memenuhi tuntutan ini
dengan cara menyuplai dana pembangunan di negara-negara berkembang.

Basis keuangan Bank Dunia adalah modal yang diinvestasikan oleh negara
anggota bank ini yang berjumlah 186 negara.

Lima pemegang saham terbesar di Bank Dunia adalah AS, Perancis, Jerman,
Inggris, dan Jepang. Kelima negara itu berhak menempatkan masing-masing
satu Direktur Eksekutif dan merekalah yang akan memilih Presiden Bank Dunia.

Secara tradisi, Presiden Bank Dunia adalah orang AS karena AS adalah
pemegang saham terbesar.

Sementara itu, 181 negara lain diwakili oleh 19 Direktur Eksekutif (satu
Direktur Eksekutif akan menjadi wakil dari beberapa negara).

Bank Dunia berperan besar dalam membangun kembali tatanan ekonomi
liberal pasca Perang Dunia II (Rittberger dan Zangl, 2006: 41).

Pembangunan kembali tatanan ekonomi liberal itu dipimpin oleh AS dengan
rancangan utama mendirikan sebuah tatanan perdagangan dunia liberal.

Untuk mencapai tujuan ini, perlu dibentuk tatanan moneter yang
berlandaskan mata uang yang bebas untuk dikonversi.

Rittberger dan Zangl (2006: 43) menulis, "/Perjanjian Bretton Woods
mewajibkan negara-negara untuk menjamin kebebasan mata uang mereka untuk
dikonversi dan mempertahankan standar pertukaran yang stabil terhadap
Dollar AS."/

Lembaga yang bertugas untuk menjaga kestabilan moneter itu adalah IMF
(International Monetary Funds) dan IBRD (International Bank for
Reconstruction dan Development).

IBRD inilah yang kemudian sering disebut "Bank Dunia".

Pendirian Bank Dunia dan IMF tahun 1944 diikuti oleh pembentukan tatanan
perdagangan dunia melalui lembaga bernama GATT (General Agreement on
Tariffs and Trade) pada tahun 1947. Pada tahun 1995, GATT berevolusi
menjadi WTO (World Trade Organization).

Meskipun tugas Bank Dunia adalah mengatur kestabilan moneter, namun
dalam prakteknya, Bank Dunia sangat mempengaruhi politik global karena
hampir semua negara di dunia menjadi penerima hutang dari Bank Dunia.

Sejak awal beroperasinya, Bank Dunia sudah mempengaruhi politik dalam
negeri negara yang menjadi penghutangnya.

Penerima hutang pertama Bank Dunia adalah Perancis, yaitu pada tahun
1947, dengan pinjaman sebesar $ 987 juta.

Pinjaman itu diberikan dengan syarat yang ketat, antara lain staf dari
Bank Dunia mengawasi penggunaan dana itu dan menjaga agar Perancis
mendahulukan membayar hutang kepada Bank Dunia daripada hutangnya kepada
negara lain.

AS juga ikut campur dalam proses pencairan hutang ini. Kementerian Dalam
Negeri AS meminta Perancis agar mengeluarkan kelompok komunis dari
koalisi pemerintahan. Hanya beberapa jam setelah Perancis menuruti
permintaan itu, pinjaman pun cair.

Kebijakan yang diterapkan Bank Dunia yang mempengaruhi kebijakan politik
dan ekonomi suatu negara, disebut SAP (Structural Adjustment Program).

Bila negara-negara ingin meminta tambahan hutang, Bank Dunia
memerintahkan agar negera penerima hutang melakukan "perubahan
kebijakan" (yang diatur dalam SAP).

Bila negara tersebut gagal menerapkan SAP, Bank Dunia akan memberi
sanksi fiskal.

Perubahan kebijakan yang diatur dalam SAP antara lain, program pasar
bebas, privatisasi, dan deregulasi.

Karena adanya SAP ini, tak dapat dipungkiri, pengaruh Bank Dunia
terhadap politik dan ekonomi dalam negeri Indonesia juga sangat besar,
sebagaimana akan diuraikan berikut ini.

*Kinerja Bank Dunia di Indonesia.*

Bank Dunia telah aktif di Indonesia sejak 1967. Sejak saat itu hingga
saat ini, Bank Dunia telah membiayai lebih dari 280 proyek dan program
pembangunan senilai 26,2 milyar dollar atau setara dengan Rp243,725
triliun (dengan kurs Rp9.302 per USD).

Menurut Managing Director The World Bank Group, Ngozi Okonjo
(30/1/2008), pinjaman tersebut telah digunakan pemerintah Indonesia
untuk mendukung pengembangan energi, industri, dan pertanian.

Sementara yang sektor yang paling mendominasi selama 20 tahun pertama
yakni infrastruktur yang pemberiannya kepada masyarakat miskin.

Total hutang Indonesia kepada Bank Dunia adalah 243,7 Trilyun rupiah dan
total hutang pemerintah Indonesia kepada berbagai pihak mencapai 1.600
Trilyun rupiah.

Anggoro (2008) menulis, ada beberapa tugas Bank Dunia di Indonesia.

/Pertama/, memimpin Forum CGI. Aggota CGI (Consultative Group meeting on
Indonesia) adalah 33 negara dan lembaga-lembaga donor yang
dikoordinasikan oleh Bank Dunia.

CGI "membantu" pembangunan di Indonesia dengan cara memberikan pinjaman
uang serta bantuan teknik untuk menciptakan aturan-aturan pasar dan
aktivitas ekonomi liberal.

Dalam hal ini, Bank Dunia bertugas menciptakan pasar yang kuat bagi
kepentingan negara-negara dan lembaga donor.

/Tugas kedua/ Bank Dunia adalah menyediakan hutang dalam jumlah besar,
bekerjasama dengan Jepang dan ADB (Asian Development Bank). Tugas Bank
Dunia yang lain adalah mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan
privatisasi dan kebijakan yang memihak pada perusahaan-perusahaan besar.

Dana hutang yang diberikan kepada Indonesia, antara lain dalam bentuk
hutang proyek dan hutang dana segar.

*a. Hutang Proyek :*

Hutang proyek adalah hutang dalam bentuk fasilitas berbelanja barang dan
jasa secara kredit.

Namun, sayangnya, hutang ini justru menjadi alat bagi Bank Dunia untuk
memasarkan barang dan jasa dari negara-negara pemegang saham utama,
seperti Amerika, Inggris, Jepang dan lainnya kepada Indonesia.

*b. Hutang Dana Segar :*

Hutang dana segar bisa dicairkan bila Indonesia menerima Program
Penyesuaian Struktural (SAP). SAP mensyaratkan pemerintah untuk
melakukan perubahan kebijakan yang bentuknya, antara lain :


1. swastanisasi (Privatisasi) BUMN dan lembaga-lembaga pendidikan

2. deregulasi dan pembukaan peluang bagi investor asing untuk memasuki
semua sektor

3. pengurangan subsidi kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti: beras,
listrik, pupuk dan rokok

4. menaikkan tarif telepon dan pos

5. menaikkan harga bahan bakar (BBM)

Besarnya jumlah hutang (yang terus bertambah) membuat pemerintah juga
harus terus mengalokasikan dana APBN untuk membayar hutag dan bunganya.

Sebagai illustrasi, dapat kita lihat data APBN 2004 dimana pemerintah
mengalokasikan Rp. 114,8 trilyun (28% dari total anggaran) untuk belanja
daerah, Rp. 113,3 trilyun untuk pembayaran utang dalam dan luar negeri
(27% dari total anggaran), dan subsidi hanya Rp. 23,3 trilyun (5% dari
total anggaran).

Dari ketiga komponen anggaran belanja tersebut, anggaran belanja daerah
dan subsidi masing-masing mengalami penurunan sebesar Rp. 2 trilyun dan
Rp. 2,1 trilyun.

Sedangkan alokasi untuk pembayaran utang mengalami kenaikan sebesar Rp.
14,1 trilyun.

Komposisi dalam anggaran belanja negara tersebut mencerminkan besarnya
beban utang tidak saja menguras sumber-sumber pendapatan negara, tetapi
juga mengorbankan kepentingan rakyat berupa pemotongan subsidi dan
belanja daerah.

Karena itu, meski Bank Dunia memiliki semboyan "working for a world free
of poverty", namun meski telah lebih dari 60 tahun beroperasi di
Indonesia, angka kemiskinan masih tetap tinggi.

Data dari Badan Pusat Statistik tahun 2009, ada 31,5 juta penduduk
miskin di Indonesia.

Anggoro (2008), peneliti dari Institute of Global Justice, menulis,
kerugian yang diderita Indonesia karena menerima pinjaman dari Bank
Dunia adalah sebagai berikut.

*1. Kerugian dalam bidang ekonomi :*

- Indonesia kehilangan hasil dari pengilangan minyak dan penambangan
mineral (karena diberikan untuk membayar hutang dan karena proses
pengilangan dan penambangan itu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
transnational partner Bank Dunia)

- Jebakan hutang yang semakin membesar, karena mayoritas hutang
diberikan dengan konsesi pembebasan pajak bagi perusahaan-perusahaan AS
dan negara donor lainnya.

- Hutang yang diberikan akhirnya kembali dinikmati negara donor karena
Indonesia harus membayar "biaya konsultasi" kepada para pakar asing,
yang sebenarnya bisa dilakukan oleh para ahli Indonesia sendiri.

- Hutang juga dipakai untuk membiayai penelitian-penelitian yang tidak
bermanfaat bagi Indonesia melalui kerjasama-kerjasama dengan lembaga
penelitian dan universitas-universitas.

- Bahkan, sebagian hutang dipakai untuk membangun infrastuktur demi
kepentingan perusahaan-perusahaan asing, seperti membangun fasilitas
pengeboran di ladang minyak Caltex atau Exxon Mobil. Pembangunan
infrastruktur itu dilakukan bukan di bawah kontrol pemerintah Indonesia,
tetapi langsung dilakukan oleh Caltex dan Exxon.

*2. Kerugian dalam bidang politik :*

- Keterikatan pada hutang membuat pemerintah menjadi sangat bergantung
kepada Bank Dunia dan mempengaruhi keputusan-keputusan politik yang
dibuat pemerintah. Pemerintah harus berkali-kali membuat reformasi hukum
yang sesuai dengan kepentingan Bank Dunia.

Hal ini juga diungkapkan ekonom Rizal Ramli (2009), "/Lembaga-lembaga
keuangan internasional, seperti Bank Dunia, IMF, ADB, dan sebagainya
dalam memberikan pinjaman, biasanya memesan dan menuntut UU ataupun
peraturan pemerintah negara yang menerima pinjaman, tidak hanya dalam
bidang ekonomi, tetapi juga di bidang sosial. Misalnya, pinjaman sebesar
300 juta dolar AS dari ADB yang ditukar dengan UU Privatisasi BUMN,
sejalan dengan kebijakan Neoliberal. UU Migas ditukar dengan pinjaman
400 juta dolar AS dari Bank Dunia/."

Cara kerja Bank Dunia (dan lembaga-lembaga donor lainnya) dalam menyeret
Indonesia (dan negara-negara berkembang lain) ke dalam jebakan hutang,
diceritakan secara detil oleh John Perkins dalam bukunya, "Economic Hit
Men".

Perkins adalah mantan konsultan keuangan yang bekerja pada perusahaan
bernama Chas T. Main, yaitu perusahaan konsultan teknik. Perusahaan ini
memberikan konsultasi pembangunan proyek-proyek insfrastruktur di
negara-negara berkembang yang dananya berasal dari hutang kepada Bank
Dunia, IMF, dll.

Mengenai pekerjaannya itu, Perkins (2004: 13-16) menulis,

".../saya mempunyai dua tujuan penting. Pertama, saya harus membenarkan
(justify) kredit dari dunia internasional yang sangat besar jumlahnya,
yang akan disalurkan melalui Main dan perusahaan-perusahaan Amerika
lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster) melalui
proyek-proyek engineering dan konstruksi raksasa. Kedua, saya harus
bekerja untuk membangkrutkan negara-negara yang menerima pinjaman
raksasa tersebut (tentunya setelah mereka membayar Main dan kontraktor
Amerika lainnya), sehingga mereka untuk selamanya akan dicengkeram oleh
para kreditornya, dan dengan demikian negara-negara penerima utang itu
akan menjadi target yang mudah ketika kita memerlukan yang kita
kehendaki seperti pangkalan-pangkalan militer, suaranya di PBB, atau
akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya/."

Dalam wawancaranya dengan Democracy Now! Perkins mengatakan,

"/Pekerjaan utama saya adalah membuat kesepakatan (deal-making) dalam
pemberian hutang kepada negara-negara lain, hutang yang sangat besar,
jauh lebih besar daripada kemampuan mereka untuk membayarnya. Salah satu
syarat dari hutang itu adalah-contohnya, hutang 1 milyar dolar untuk
negara seperti Indonesia atau Ecuador-negara ini harus memberikan 90%
dari hutang itu kepada perusahaan AS untuk membangun infrastruktur,
misalnya perusahaan Halliburton atau Bechtel. Ini adalah
perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan ini kemudian akan membangun
jaringan listrik, pelabuhan, atau jalan tol, dan ini hanya akan melayani
segelintir keluarga kaya di negara-negara itu. Orang-orang miskin di
sana akan terjemak dalam hutang yang luar biasa yang tidak mungkin bisa
mereka bayar/."

Untuk kasus Ekuador, Perkins menulis, negara itu kini harus memberikan
lebih dari 50% pendapatannya untuk membayar hutang.

Hal itu tentu tak mungkin dilakukan Ekuador.

Sebagai kompensasinya, AS meminta Ekuador agar memberikan ladang-ladang
minyaknya kepada perusahaan-perusahaan minyak AS yang kini beroperasi di
kawasan Amazon yang kaya minyak.

Tak heran bila kemudian ekonom Joseph Stiglitz pada tahun 2002
mengkritik keras Bank Dunia dan menyebutnya "/institusi yang tidak
bekerja untuk orang miskin, lingkungan, atau bahkan stabilitas ekonomi/".

Dengan demikian, menurut Stiglitz, Bank Dunia pada prakteknya menyalahi
tujuan didirikannya bank tersebut, sebagaimana disebutkan di awal
tulisan ini, yaitu untuk membantu mengentaskan kemiskinan dan menjaga
kestabilan ekonomi.

Melihat kinerja seperti ini, menurut Anggoro (2008), Bank Dunia
sesungguhnya telah melanggar Piagam PBB yang menyebutkan, "/to employ
international machinery for the promotion of the economic and social
advancement of all peoples/".

Dengan kata lain, Bank Dunia sebagai salah satu organ PBB mendapatkan
mandat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa-bangsa.

Bank Dunia malah memfokuskan operasinya pada penguatan pasar dan
keuangan melalui ekspansi ekonomi perusahaan multinasional, dan
membiarkan Indonesia selalu berada dalam jeratan hutang tak berkesudahan.

***

*Peran World Bank dlm Perekonomian Indonesia*

*http://politikana.com/baca/2010/05/09/copas-peran-world-bank-dlm-perekonomian-indonesia.html
 

<http://politikana.com/baca/2010/05/09/copas-peran-world-bank-dlm-perekonomian-indonesia.html>*

***





-- 
-Sent from my MacBook Pro(r) wireless and non-BB device.

hanafi 'JeKa'
me [at] jamurkuping.me
ym : h4nafi


------------------------------------

Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
Hentikan sekarang juga.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/forumprima/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/forumprima/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke