saya juga ikutan forward juga.... ini dari milis STAN... :) ya anggap aja dari pendukung SMI...
2010/5/17 Agung Bayu Purwoko <[email protected]> > > > Berikut ketikan saya mengenai kebijakan utang Indonesia. Mencoba > menjawab berbagai pertanyaan dengan data. Maaf jika analisisnya masih > dangkal dan open discussion. > > Sri Mulyani, Bank Dunia, dan Utang Indonesia > > Sri Mulyani memang fenomenal. Setiap langkahnya selalu menjadi sorotan > masyarakat. Saat ramai isu pemberantasan korupsi, Sri Mulyani > meluncurkan program reformasi birokrasi. Kala negeri ini di tubir > jurang krisis 2008, Sri Mulyani meluncurkan berbagai kebijakan > antisipatif, seperti penerbitan dua Perpu mengenai BI dan LPS. Ketika > kasus Bank Century masuk ke ranah politik, Sri Mulyani melontarkan isu > bahwa Aburizal Bakrie tidak suka padanya (AWSJ, 10/12/2009). Yang > terakhir, secara mengejutkan Sri Mulyani mengajukan pengunduran diri > sebagai Menkeu dan menerima tawaran menjadi Managing Director Bank > Dunia (AWSJ, 6/5/2010). Keputusan yang kontroversial. > > Beberapa ekonom memandang terpilihnya Sri Mulyani menjadi Managing > Director tak lepas dari implikasi kebijakan utang pemerintah yang > menguntungkan Bank Dunia dan Amerika Serikat. Hendri Saparini > (Econit) menyatakan Indonesia melipatgandakan utang kepada Bank Dunia > dalam 5 tahun terakhir dan memberikan suku bunga global bond yang > tinggi sebesar 7-8% kepada pemodal asing (Kompas.Com, 5/5/2010). Hal > ini diamini Ichsanuddin Noorsy. Menurutnya, beberapa program > pemerintah dibiayai Bank Dunia seperti reformasi birokrasi, sensus > penduduk, dan BLT (Kompas.Com, 5/5/2010). > > Sri Mulyani Menimbun Utang? > > Sejak era SBY, pengelolaan utang luar negeri (ULN) pemerintah > sebenarnya menunjukkan perbaikan yang mengesankan. Perkembangan Utang > Negara April 2010 menunjukkan bahwa posisi ULN terus menurun dari USD > 68,59 milyar (2004) menjadi USD 64,37 milyar (2010). Artinya, sejak > tahun 2004 penambahan ULN pemerintah jauh lebih rendah dibandingkan > penambahannya. > > Rasio utang terhadap PDB juga mengalami penurunan yang cukup dramatis > dari 57% (2004) menjadi 27% (Maret 2010). Artinya, penambahan PDB > lebih tinggi daripada penambahan utang. Ini menunjukkan kemampuan > pemerintah untuk membayar utang dan membiayai APBN secara mandiri > semakin meningkat, karena peningkatan PDB akan diikuti kenaikan > penerimaan pajak. Dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk > negara-negara maju, penurunan rasio utang terhadap PDB ini merupakan > yang tercepat dalam 5 tahun terakhir. > > Bank Dunia menguasai Utang Indonesia? > > Sejak reformasi 1998, terjadi perubahan yang cukup mendasar dalam > porsi pinjaman luar negeri terhadap total utang pemerintah. Porsi > pinjaman luar negeri terus menurun dari 82% (1998) menjadi > 37%(Mar-2010), sementara porsi Surat Berharga meningkat dari 18% > (1998) menjadi 63% (Mar-2010). Dari sini terlihat bahwa peran > strategis pinjaman luar negeri sebagai sumber pembiayaan defisit > pemerintah sudah jauh berkurang. > > Kucuran utang Bank Dunia pun ikut menurun. Jika pada era pemerintahan > Gus Dur dan Megawati, posisi utang yang disalurkan Bank Dunia di > Indonesia mencapai USD 12 miliar, maka pada era SBY posisi utang Bank > Dunia berkisar USD 9 miliar. Kontribusi Bank Dunia sebagai pemberi > utang luar negeri pemerintah juga ikut menurun dari sekitar 20% (1998) > menjadi 15,5% (Maret 2010). Program-program yang dibiayai Bank Dunia > di Indonesia pun sesuai dengan fokusnya dalam pencapaian Milenium > Development Goals (MDG’s) yang dicanangkan PBB pada bulan September > 2000. Tidak ada program khusus yang membedakan Indonesia dengan negara > berkembang lainnya. Pembiayaan program-program pemerintah seperti BLT, > Sensus Penduduk, BOS, dan reformasi birokrasi justru merupakan andil > Bank Dunia dalam mendorong pembangunan di Indonesia, bukan justru > sebaliknya. > > Mahalkah biaya utang di era Sri Mulyani? > > Beberapa ekonom boleh berpendapat bahwa penerbitan global bond di era > Sri Mulyani menguntungkan investor asing karena tingginya suku bunga. > Namun berbagai indikator menunjukkan bahwa biaya utang pemerintah > semakin efisien. Rasio bunga utang terhadap pendapatan terus menurun > dari 19,2% (2003) menjadi 12,2% (Maret 2010). Dibandingkan kondisi > negara-negara lain, rasio tersebut relatif moderat, namun termasuk > pada kelompok negara dengan penurunan rasio paling tajam selama tahun > 2003-2008. > > Tidak adil rasanya jika menghitung mahalnya global bond hanya > didasarkan tingkat suku bunga kupon. Harus diperhatikan juga suku > bunga pasar (yield). Yield global bond Indonesia saat ini berkisar > antara 4-5%, relatif sama bahkan lebih rendah daripada global bond > negara-negara lain dengan tingkat rating yang sama seperti Turki, > Filipina, dan Vietnam. > Penetapan suku bunga kupon lebih didasarkan pada kondisi pasar saat > bond tersebut diterbitkan. Credit rating Indonesia juga menjadi > faktor yang dominan. Justru karena kebijakan Sri Mulyani yang > prudent, credit rating Indonesia terus membaik hingga mendekati daerah > investment grade. Penerbitan dua global bond ini bisa dijadikan > perbandingan. Indo-35, diluncurkan tahun 2006, memiliki suku bunga > kupon 8,5%. Sementara, GMTN yang diluncurkan tahun 2009 memberikan > suku bunga kupon 5,75%. > > Silent revolution. > > Istilah ini tepat diberikan pada Sri Mulyani dan kebijakan utang > Indonesia. Indonesia tidak lagi tergantung kepada lembaga donor > seperti Bank Dunia. Biaya utang juga semakin rendah seiring dengan > menguatnya fundamental ekonomi dan rating Indonesia. Namun tak banyak > orang yang tahu, termasuk beberapa ekonom handal negeri ini. > > Memang masih ada ruang untuk perbaikan. Isu sustainabilitas fiskal > menjadi penting agar pemerintah bisa membayar bunga dan pokok utang > pada saat jatuh tempo. Penurunan biaya utang juga perlu terus > diupayakan. Efektivitas penyerapan utang juga masih menjadi pekerjaan > rumah. Dan yang tak kalah penting, komunikasi kebijakan utang yang > lebih intensif. Agar tidak ada pihak yang menganggap kebijakan utang > pemerintah masih seperti yang dulu. > > > > Rasio Utang Terhadap PDB (sisi kiri) > Rasio Utang Terhadap Pendapatan (sisi kanan) 200089% 24%2001 77%29% 200267% > 29% 2003 61%19% 2004 57%15% 2005 47%13% 2006 39%12% 2007 35%11% 2008 33%9% > 2009 28%10% 2010 27%12% > > Posisi Pinjaman Luar NegeriPosisi Surat Berharga 200158.9 63.52200263.74 > 73.3 2003 68.9176.64 2004 68.5971.29 2005 63.0970.51 2006 62.0282.34 200762.25 > 85.26 2008 66.6982.78 2009 65.02104.2 2010 64.37110.52 > > > > Jepang World Bank ADB Lainnya 2001 37% 21% 14% 29% 2002 39% 18% 14% 29% > 2003 41% 15% 13% 31% 2004 42% 14% 13% 31% 2005 40% 14% 15% 31% 2006 40% > 14% 15% 31% 2007 40% 13% 16% 31% 2008 45% 13% 16% 26% 2009 42% 16% 17% > 25% 2010 43% 15% 17% 25% > > selengkapnya bisa dilihat di www.dmo.or.id > > salam > [email protected] > -- -- Rachmat Gerhantara 664/SPA/01 YM : Mamat_664 GTalk : eclipsebeat twitter n plurk : Gerhantara 2010/5/19 JeKa <[email protected]> > saya tidak akan berkomentar apapun, ini ada tulisan bagus dari sdr. > rifky pradana yang disebarkan ke beberapa milis. > (walau ujung-ujungnya ada unsur SARA-nya), > tapi menarik sebagai info lain... > > >

