membingunkan emang klo baca baca dari yang kontra kebanyakan bener bener
tidak paham tentang ekonomi makro.. isu yang paling dikembangkan bahwa
kemajuan ekonomi hanya akan dinikmati pemodal dan pemodal pasti orang
asing.. terus orang lokal selalu dikonotasikan hanya petani dan nelayan
lainnya tidak dianggap.. entah dapat dari mana tapi ituuuu aja yang
dihembuskan. apa sebenarnya mereka tidak rela akan munculnya pemodal baru
dari dalam negeri?

benernya klo mau diributin kenapa sih kita kok utang sama world bank kok
tidak utang sama bank mandiri aja? apa bank mandiri ga berani ambil alih
utang utang kita di world bank? ataukan biaya bunga kalo utang dari mandiri
lebih tinggi dari world bank? kalo emang bicara soal nasionalisme.. kenapa
pemodal dalam negeri ga dipaksa aja supaya iuran aja beli indosat dari
singapura? kenapa mesti negara yang dipaksa paksa beli?



=================================
Gautama Seti
Financial Advisor
http://www.facebook.com/mas.gaut


Pada 19 Mei 2010 22:02, Rachmat Gerhantara <[email protected]> menulis:

>
>
> saya juga ikutan forward juga....
> ini dari milis STAN... :)
> ya anggap aja dari pendukung SMI...
>
>
>
> 2010/5/17 Agung Bayu Purwoko <[email protected]>
>
>>
>>
>> Berikut ketikan saya mengenai kebijakan utang Indonesia. Mencoba
>> menjawab berbagai pertanyaan dengan data. Maaf jika analisisnya masih
>> dangkal dan open discussion.
>>
>> Sri Mulyani, Bank Dunia, dan Utang Indonesia
>>
>> Sri Mulyani memang fenomenal. Setiap langkahnya selalu menjadi sorotan
>> masyarakat. Saat ramai isu pemberantasan korupsi, Sri Mulyani
>> meluncurkan program reformasi birokrasi. Kala negeri ini di tubir
>> jurang krisis 2008, Sri Mulyani meluncurkan berbagai kebijakan
>> antisipatif, seperti penerbitan dua Perpu mengenai BI dan LPS. Ketika
>> kasus Bank Century masuk ke ranah politik, Sri Mulyani melontarkan isu
>> bahwa Aburizal Bakrie tidak suka padanya (AWSJ, 10/12/2009). Yang
>> terakhir, secara mengejutkan Sri Mulyani mengajukan pengunduran diri
>> sebagai Menkeu dan menerima tawaran menjadi Managing Director Bank
>> Dunia (AWSJ, 6/5/2010). Keputusan yang kontroversial.
>>
>> Beberapa ekonom memandang terpilihnya Sri Mulyani menjadi Managing
>> Director tak lepas dari implikasi kebijakan utang pemerintah yang
>> menguntungkan Bank Dunia dan Amerika Serikat. Hendri Saparini
>> (Econit) menyatakan Indonesia melipatgandakan utang kepada Bank Dunia
>> dalam 5 tahun terakhir dan memberikan suku bunga global bond yang
>> tinggi sebesar 7-8% kepada pemodal asing (Kompas.Com, 5/5/2010). Hal
>> ini diamini Ichsanuddin Noorsy. Menurutnya, beberapa program
>> pemerintah dibiayai Bank Dunia seperti reformasi birokrasi, sensus
>> penduduk, dan BLT (Kompas.Com, 5/5/2010).
>>
>> Sri Mulyani Menimbun Utang?
>>
>> Sejak era SBY, pengelolaan utang luar negeri (ULN) pemerintah
>> sebenarnya menunjukkan perbaikan yang mengesankan. Perkembangan Utang
>> Negara April 2010 menunjukkan bahwa posisi ULN terus menurun dari USD
>> 68,59 milyar (2004) menjadi USD 64,37 milyar (2010). Artinya, sejak
>> tahun 2004 penambahan ULN pemerintah jauh lebih rendah dibandingkan
>> penambahannya.
>>
>> Rasio utang terhadap PDB juga mengalami penurunan yang cukup dramatis
>> dari 57% (2004) menjadi 27% (Maret 2010). Artinya, penambahan PDB
>> lebih tinggi daripada penambahan utang. Ini menunjukkan kemampuan
>> pemerintah untuk membayar utang dan membiayai APBN secara mandiri
>> semakin meningkat, karena peningkatan PDB akan diikuti kenaikan
>> penerimaan pajak. Dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk
>> negara-negara maju, penurunan rasio utang terhadap PDB ini merupakan
>> yang tercepat dalam 5 tahun terakhir.
>>
>> Bank Dunia menguasai Utang Indonesia?
>>
>> Sejak reformasi 1998, terjadi perubahan yang cukup mendasar dalam
>> porsi pinjaman luar negeri terhadap total utang pemerintah. Porsi
>> pinjaman luar negeri terus menurun dari 82% (1998) menjadi
>> 37%(Mar-2010), sementara porsi Surat Berharga meningkat dari 18%
>> (1998) menjadi 63% (Mar-2010). Dari sini terlihat bahwa peran
>> strategis pinjaman luar negeri sebagai sumber pembiayaan defisit
>> pemerintah sudah jauh berkurang.
>>
>> Kucuran utang Bank Dunia pun ikut menurun. Jika pada era pemerintahan
>> Gus Dur dan Megawati, posisi utang yang disalurkan Bank Dunia di
>> Indonesia mencapai USD 12 miliar, maka pada era SBY posisi utang Bank
>> Dunia berkisar USD 9 miliar. Kontribusi Bank Dunia sebagai pemberi
>> utang luar negeri pemerintah juga ikut menurun dari sekitar 20% (1998)
>> menjadi 15,5% (Maret 2010). Program-program yang dibiayai Bank Dunia
>> di Indonesia pun sesuai dengan fokusnya dalam pencapaian Milenium
>> Development Goals (MDG’s) yang dicanangkan PBB pada bulan September
>> 2000. Tidak ada program khusus yang membedakan Indonesia dengan negara
>> berkembang lainnya. Pembiayaan program-program pemerintah seperti BLT,
>> Sensus Penduduk, BOS, dan reformasi birokrasi justru merupakan andil
>> Bank Dunia dalam mendorong pembangunan di Indonesia, bukan justru
>> sebaliknya.
>>
>> Mahalkah biaya utang di era Sri Mulyani?
>>
>> Beberapa ekonom boleh berpendapat bahwa penerbitan global bond di era
>> Sri Mulyani menguntungkan investor asing karena tingginya suku bunga.
>> Namun berbagai indikator menunjukkan bahwa biaya utang pemerintah
>> semakin efisien. Rasio bunga utang terhadap pendapatan terus menurun
>> dari 19,2% (2003) menjadi 12,2% (Maret 2010). Dibandingkan kondisi
>> negara-negara lain, rasio tersebut relatif moderat, namun termasuk
>> pada kelompok negara dengan penurunan rasio paling tajam selama tahun
>> 2003-2008.
>>
>> Tidak adil rasanya jika menghitung mahalnya global bond hanya
>> didasarkan tingkat suku bunga kupon. Harus diperhatikan juga suku
>> bunga pasar (yield). Yield global bond Indonesia saat ini berkisar
>> antara 4-5%, relatif sama bahkan lebih rendah daripada global bond
>> negara-negara lain dengan tingkat rating yang sama seperti Turki,
>> Filipina, dan Vietnam.
>> Penetapan suku bunga kupon lebih didasarkan pada kondisi pasar saat
>> bond tersebut diterbitkan. Credit rating Indonesia juga menjadi
>> faktor yang dominan. Justru karena kebijakan Sri Mulyani yang
>> prudent, credit rating Indonesia terus membaik hingga mendekati daerah
>> investment grade. Penerbitan dua global bond ini bisa dijadikan
>> perbandingan. Indo-35, diluncurkan tahun 2006, memiliki suku bunga
>> kupon 8,5%. Sementara, GMTN yang diluncurkan tahun 2009 memberikan
>> suku bunga kupon 5,75%.
>>
>> Silent revolution.
>>
>> Istilah ini tepat diberikan pada Sri Mulyani dan kebijakan utang
>> Indonesia. Indonesia tidak lagi tergantung kepada lembaga donor
>> seperti Bank Dunia. Biaya utang juga semakin rendah seiring dengan
>> menguatnya fundamental ekonomi dan rating Indonesia. Namun tak banyak
>> orang yang tahu, termasuk beberapa ekonom handal negeri ini.
>>
>> Memang masih ada ruang untuk perbaikan. Isu sustainabilitas fiskal
>> menjadi penting agar pemerintah bisa membayar bunga dan pokok utang
>> pada saat jatuh tempo. Penurunan biaya utang juga perlu terus
>> diupayakan. Efektivitas penyerapan utang juga masih menjadi pekerjaan
>> rumah. Dan yang tak kalah penting, komunikasi kebijakan utang yang
>> lebih intensif. Agar tidak ada pihak yang menganggap kebijakan utang
>> pemerintah masih seperti yang dulu.
>>
>>
>>
>> Rasio Utang Terhadap PDB (sisi kiri)
>> Rasio Utang Terhadap Pendapatan (sisi kanan) 200089% 24%2001 77%29% 200267%
>> 29% 2003 61%19% 2004 57%15% 2005 47%13% 2006 39%12% 2007 35%11% 2008 33%
>> 9% 2009 28%10% 2010 27%12%
>>
>>   Posisi Pinjaman Luar NegeriPosisi Surat Berharga 200158.9 63.52200263.74
>> 73.3 2003 68.9176.64 2004 68.5971.29 2005 63.0970.51 2006 62.0282.34 
>> 200762.25
>> 85.26 2008 66.6982.78 2009 65.02104.2 2010 64.37110.52
>>
>>
>>
>> Jepang World Bank ADB Lainnya 2001 37% 21% 14% 29% 2002 39% 18% 14% 29%
>> 2003 41% 15% 13% 31% 2004 42%   14% 13% 31% 2005 40% 14% 15% 31% 2006 40%
>> 14% 15% 31% 2007 40% 13%   16% 31% 2008 45% 13% 16% 26% 2009   42% 16% 17%
>> 25% 2010 43% 15% 17% 25%
>>
>> selengkapnya bisa dilihat di www.dmo.or.id
>>
>> salam
>> [email protected]
>>
> --
> --
> Rachmat Gerhantara
> 664/SPA/01
>
> YM : Mamat_664 GTalk : eclipsebeat
> twitter n plurk : Gerhantara
>
>
> 2010/5/19 JeKa <[email protected]>
>
> saya tidak akan berkomentar apapun, ini ada tulisan bagus dari sdr.
>> rifky pradana yang disebarkan ke beberapa milis.
>> (walau ujung-ujungnya ada unsur SARA-nya),
>> tapi menarik sebagai info lain...
>>
>>
>>  
>

Kirim email ke