Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Buat mas wendra muchtar, hal seperti ini butuh klarifikasi kan mas? Entah 
disebut sebagai pembelaan atau apapun namanya.

                                  Selasa 6 Maret 2006 pukul 20.00 waktu 
Spanyol, di Estadio Mestalla, Valencia, Spanyol, diadakan pertandingan antara 
tuan rumah Valencia melawan Inter Milan yang berkesudahan 0-0. Pertandingan 
berjalan lancar hingga peluit tanda pertandingan usai ditiup oleh wasit. Di 
satu sudut lapangan terlihat bahwa Carlos Marchena (Valencia) dan Nicolas 
Burdisso (Inter) bersitegang dan coba dilerai oleh rekan-rekannya. “Keadaan 
berangsur kondusif sampai ada seorang idiot bernama (David) Navarro berlari 
dari bangku cadangan Valencia dan memukul wajah Burdisso hingga hidungnya patah 
(retak)”, ujar (Fransesco) Toldo, kiper cadangan Inter. Burdisso pun lunglai 
dan segera dipapah oleh (Javier) Zanetti dan (Dejan) Stankovic. Sementara itu, 
(Julio) Cruz, Maicon, dan Toldo mengejar Navarro yang melarikan diri ke ruang 
ganti dan berhasil kabur melalui pintu belakang ke rumahnya. “Saya makan malam 
bersama Ayah dan Dia terlihat sangat kecewa terhadap kejadian tadi.
 Saya lalu mencoba menelepon Burdisso namun tidak berhasil. Kemudian Saya 
mengirim sms kepadanya yang berisi permintaan maaf. Pertandingan tadi sangat 
menegangkan dan hanya duduk di bangku cadangan semakin membuatku gila”, begitu 
pengakuan Navarro. Burdisso lalu membalas sms Navarro, “Sudahlah, kejadian tadi 
sebaiknya tidak perlu terjadi di dalam sepakbola. Pekerjaan Kita adalah bermain 
sepakbola sebaik-baiknya dan menghibur para pendukung, tidak perlu ada 
keributan seperti ini”. Kini masalah antara keduanya sudah selesai, namun 
sanksi dari UEFA (otoritas sepakbola eropa) tetap mengancam keduanya. Navarro, 
sang petinju, divonis larangan bertanding selama 7 bulan pada semua kompetisi 
yang berada di bawah otoritas FIFA dan UEFA. Sedangkan Burdisso dan Marchena 
dilarang tampil selama 6 pertandingan. Para pemain tersebut rupanya melupakan 
slogan FIFA, My game is fair play..
           Pada awalnya Saya tekankan bahwa tulisan ini adalah buah pemikiran 
Saya sendiri dan apabila ada kesalahan atas tulisan ini maka KEI-KiAMI dan 
segenap sivitas akademika Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia terlepas 
darinya.
            Segera setelah Saya membaca email kritikan Saudara Heru dari 
Universitas Mercu Buana, Saya segera mencari petunjuk dari apa saja poin-poin 
permasalahan yang dibahas oleh Saudara Heru di dalam emailnya. Saya 
menggarisbawahi dua poin penting disini yaitu masalah pemasangan logo FoSSEI di 
Shari’a Economics Days (SEconD) 2006 dan masalah Presnas FoSSEI yang “dikerjai” 
oleh KEI-KiAMI pada Temu Ilmiah Nasional FoSSEI ke VI yang lalu.
            Masalah pertama telah Saya tanyakan kebenarannya pada Project 
Officer (Ketua Panitia) SEconD 2006 yaitu Saudara Ridha Rukminto. Logo FoSSEI 
memang tidak dipasang pada poster dan spanduk SEconD 2006, alasannya adalah 
pihak FoSSEI pada saat itu terlambat memberitahukan kepada panitia untuk 
mencantumkan logo FoSSEI pada poster dan spanduk sebelum media tersebut naik 
cetak. Disini ada koordinasi yang kurang baik antara panitia dengan FoSSEI 
sehingga panitia SEconD 2006 tidak mengerti mengapa logo FoSSEI harus 
dicantumkan. Sementara itu untuk mengakomodir keterlambatan pemberitahuan pihak 
FoSSEI mengenai pencantuman logo, maka backdrop dan tayangan digital flash pada 
saat acara SEconD 2006 berlangsung mencantumkan logo FoSSEI. Begitulah usaha 
yang dapat dilakukan panitia untuk tetap menyertakan logo FoSSEI dalam acara 
ini.
            Masalah kedua tentang Presnas FoSSEI “dikerjai” oleh KEI-KiAMI pada 
Temilnas VI lalu adalah pernyataan yang Saya tidak kunjung memahami maksud 
kata-kata “dikerjai” tersebut. Saudara Heru hanya menyampaikan pernyataan 
bersifat tuduhan di milis umum tanpa menyebutkan secara jelas apa yang 
sebenarnya terjadi, hal ini akan membuat rekan-rekan yang awam yang bergabung 
dalam milis ini menjadi bingung dan tidak mengerti bagaimana duduk perkaranya. 
Bahkan ketika Saya meminta konfirmasi kepada salah satu Presnas FoSSEI yang 
berasal dari STEI SEBI tentang makna dari kata “dikerjai”, Beliau pun belum 
mampu untuk menjelaskannya, atau memang tidak ada masalah? Saya selaku Ketua 
panitia SEconD 2007 lalu secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada 
KSEI-KSEI yang hadir karena telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada 
Kami, KEI dan KiAMI untuk berkontribusi lebih kepada FoSSEI, yaitu untuk 
menyelenggarakan Temilnas yang kali ini digabung bersama SEconD 2007.
            Saya memandang bahwa kritikan senada (namun lebih sopan) juga 
pernah disampaikan tahun lalu oleh rekan Saya, Saudara Hafiz, Ketua KSEI 
Progres Tazkia. Permasalahan yang berkembang saat itu adalah kurangnya 
kontribusi KEI-KiAMI pada kampanye nasional ekonomi syariah yang dilakukan oleh 
FoSSEI, tepatnya saat aksi di bunderan HI kalau Saya tidak salah. Hal tersebut 
menjadi masukan bagi Kami dan  secara bertahap terus diperbaiki oleh KEI-KiAMI, 
karena sebagai salah satu dari lima universitas pendiri FoSSEI, Kami sadar 
harus bertanggung jawab lebih kepada organisasi ini. KEI-KiAMI memperbanyak 
partisipasi pada agenda FoSSEI baik yang bersifat regional maupun nasional 
seperti Temilnas V di Purwokerto, rapat-rapat koordinasi di region Jabodetabek, 
Musyawarah Nasional di Solo, rapat 2 hari di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, 
dan menjadi tuan rumah pada Temilnas VI di Jakarta dan Depok. Partisipasi yang 
dapat Kami berikan memang hanya itu, tapi saat ini hanya hal
 tersebut yang dapat Kami berikan untuk FoSSEI.
            Saya sadar bahwa semangat Kami dalam berjuang memperjuangkan 
ekonomi syariah di bawah bendera FoSSEI tidak lebih besar jika dibandingkan 
dengan rekan-rekan dari KSEI lain termasuk Saudara Heru sendiri. Namun Kami 
butuh proses dan waktu yang memadai untuk memperbaiki diri menjadi lebih kuat 
dari sebelumnya. Keadaan internal sebuah KSEI sangatlah berbeda jika 
dibandingkan dengan KSEI lainnya. Saya harap agar Kita semua dapat memahami 
bahwa KEI-KiAMI masih dalam proses perbaikan menuju kontribusi yang optimal 
bagi ekonomi syariah di Indonesia.
            Marchena mungkin mengkritik Burdisso dengan bahasa Spanyol seusai 
pertandingan sehingga menyulut pertikaian berdarah di Estadio Mestalla itu. 
Sehingga ada pihak seperti Navarro yang membuat keadaan bertambah runyam dan 
merugikan semua pihak. Pada akhirnya Mereka sebagai pesepakbola mencederai 
sportivitas yang diusung oleh sepakbola itu sendiri, hingga hukuman FIFA dan 
UEFA pun dijatuhkan. Kejadian seperti itu tidak perlu terjadi di dalam 
sepakbola.
            Kritik yang disampaikan Saudara Heru mungkin bermaksud baik, namun 
caranya kurang tepat. Kritik yang ahsan sebaiknya disampaikan secara pribadi 
kepada pihak yang bersangkutan agar orang-orang awam yang tidak mengerti 
permasalahan tidak mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi hingga terjadi 
kesalahpahaman. Kejadian yang tidak perlu terjadi di dalam dakwah Kita, 
mahasiswa-mahasiswa yang memiliki intelektualitas sebagai pejuang-pejuang 
ekonomi syariah di Indonesia.
            Mari Kita duduk bersama, membicarakan segalanya dengan pikiran yang 
dewasa, dan mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik..
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
  Forza Inter!!
   
        Rachmat Supriatna
Vice President
KiAMI FSI FEUI
[EMAIL PROTECTED]
  

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke