Assalamu'alaikum WR. WB.
Maaf moderator,
Karena orang ini sudah kelewatan.Ahmad Badrudduja, sepertinya anda memang 
banyak ikut organisasi yang selama ini selalu berseberangan dengan pada ulama, 
kesimpulan sementara dari pesan yang anda kirim untuk (sepertinya) guru anda 
Ulil.
Perkenankanlah saya dan beberapa guru saya untuk mengajak anda Ahmad Badrudduja 
dan orang-orang dibelakang anda untuk berdiskusi, dialog atau pun debat kapan 
saja tentang kenapa banyak organisasi ingin ahmadiyah dilarang (tapi bukan pada 
milis ini). Saya bukan anggota HTI yang anda anggap "gerombolan" seperti 
penjahat saja (lihat kamus b.ind). Sekali lagi saya bukanlah anggota HTI namun 
dari tulisan anda yang jelas-jelas memutarbalikan fakta dan membuat wacana 
nyeleneh dengan mengatasnamakan KEBEBASAN BERSERIKAT dan memecah umat menjadi 
RADIKAL dan NON RADIKAL. Anda menulis "anda boleh tak setuju atau menganggap 
kelompok tertentu adalah sesat,
tetapi anda tak boleh melarang orang lain untuk memeluk keyakinannya." Opini 
anda ini jelas dengan sengaja memancing amarah (seperti yang biasa dilakukan 
oleh musuh-musuh Islam). Apa yang anda sampaikan jelas-jelas pemikiran yang 
nyeleneh. Coba anda sampaikan pada seluruh pemeluk Ahmadiyah untuk berkata 
bahwa MIRZA GULAM AHMAD BUKANLAH SEORANG NABI ATAU RASUL! sampaikan untuk 
menjadi makmum saat sholat berjamaah! maka saya yakin banyak organisasi yang 
akan mempertimbangkan untuk tidak lagi menuntut pembubaran ahmadiyah. Jika 
berkenan ajak serta penganut ahmadiyah, atau SELURUH organisasi-organisasi yang 
berserikat bersama mereka untuk ikut serta bersama anda. Saya tunggu. 

Mohamad Ayatulloh
[EMAIL PROTECTED]



----- Original Message ----
From: Ahmad Badrudduja <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; Anti-Sabili <[EMAIL PROTECTED]>; Apakabar <[EMAIL 
PROTECTED]>; Ateis <[EMAIL PROTECTED]>; Bacaan Islam Bermutu <[EMAIL 
PROTECTED]>; Era Muslim <[EMAIL PROTECTED]>; FOSSEI <[email protected]>; 
Fundamentalis <[EMAIL PROTECTED]>; Hidayatullahcom <[EMAIL PROTECTED]>; HMI MPO 
<[EMAIL PROTECTED]>; Islam Liberal <[EMAIL PROTECTED]>; Islam Alternatif 
<[EMAIL PROTECTED]>; Islam Cara Hidupku <[EMAIL PROTECTED]>; Islam Pembebasan 
<[EMAIL PROTECTED]>; Islam Pluralisme <[EMAIL PROTECTED]>; Islam Progresif 
<[EMAIL PROTECTED]>; Islamic Centre PBII <[EMAIL PROTECTED]>; Islamic 
Discussion <[EMAIL PROTECTED]>; Islamic I <[EMAIL PROTECTED]>; Istiqlal <[EMAIL 
PROTECTED]>; Jamaah Islamiyah
 <[EMAIL PROTECTED]>; Jarik Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>; KMNU <[EMAIL 
PROTECTED]>; Komnas HAM <[EMAIL PROTECTED]>; Komunitas Istiqlal <[EMAIL 
PROTECTED]>; Mediacare <[EMAIL PROTECTED]>; Mencintai Islam <[EMAIL 
PROTECTED]>; NU News <[EMAIL PROTECTED]>; Pengajian Kantor <[EMAIL PROTECTED]>; 
Pesantren Online <[EMAIL PROTECTED]>; Sabili-net <[EMAIL PROTECTED]>; Surau 
<[EMAIL PROTECTED]>; Ulil Abshar Abdalla <[EMAIL PROTECTED]>; Yusuf Anshar 
<[EMAIL PROTECTED]>; Zamanku <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 6, 2008 8:17:00 PM
Subject: {FoSSEI Kita} Sebetulnya HTI dan gerombolannya lebih layak dilarang, 
tetapi....


Assalamu 'alaikum,
Sebetulnya yang layak dilarang sebagai kelompok bukan Ahmadiyah, tetapi tiada 
lain dan tiada bukan ADALAH...Hizbut Tahrir Indonesia. 

Alasannya sangat sederhana dan untuk memahaminya tak perlu teori yang 
muluk-muluk. Ahmadiyah selama ini tak pernah melakukan tindakan yang melawan 
hukum, tidak pernah melakukan kekerasan fisik yang merugikan masyarakat, tidak 
pernah melakukan makar terhadap negara.

Ahmadiyah juga tak mempunyai ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara 
Indonesia. Ahmadiyah tidak ingin menggantikan bentuk negara kita dengan bentuk 
lain. 

Dengan kata lain, Ahmadiyah adalah organisasi damai yang tak membahayakan 
negara Indonesia.

Kebalikannya adalah Hibut Tahrir. Meskipun tidak secara langsung Hizbut Tahrir 
pernah melakukan kekerasan, tetapi organisasi ini menyetujui kekerasan yang 
dilakukan oleh para preman berjubah --istilah Buya Syafii Maarif-- seperti Si 
Sobri Lubis dkk itu. 

Yang lebih berbahaya sebetulnya adalah HTI memiliki ideologi yang jelas-jelas 
bertentangan dengan ideologi negara kita. Tujuan akhir HTI tidak singkron 
dengan tujuan negara kita. Tujuan HTI adalah menggantikan negara Indonesia 
dengan negara khilafah yang kalau terjadi (duh Gusti, moga-moga tidak...), 
jelas-jelas akan menyeramkan seperti Taliban.

Tetapi apakah HTI harus faktual dilarang beneran?

Saya kurang setuju. Saya hanya mengatakan "sebetulnya yang layak dilarang..." . 
Artinya ini hanya pengandaian saja. 

Pelarangan organisasi dan kelompok tidak sejalan dengan prinsip kebebasan 
berserikat dan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi kita. Prinsip yang 
harus ditegakkan di negeri kita adalah: anda boleh tak setuju atau menganggap 
kelompok tertentu adalah sesat, tetapi anda tak boleh melarang orang lain untuk 
memeluk keyakinannya. 

Hanya dengan prinsip seperti inilah, kedamaian untuk semua kelompok bisa 
dijamin, bukan kedamaian bagi kelompok tertentu, terutama kedamaian untuk 
memuaskan "nafsu ganas" kelompok-kelompok Islam radikal.

Semoga bangsa kita tetap utuh sebagai bangsa yang majemuk di bawah lindungan 
Pancasila dan konstitusi, dan dapat menjamin kebebasan kepada seluruh warga 
negara, bukan di bawah lindungan "khilafah" yang tidak jelas itu.

Allahumma taqabbal minna du'a-ana wa tadhurru'ana. ...

Ahmad Badrudduja




Ahmad Badrudduja 

Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi 
Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat
-- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)


________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.    


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke