analisa  :
Tabarruk (Ngalap Berkah)
oleh : Izzudin Karimi

 
Sebuah tradisi yang mengakar kuat, kebiasaan warisan leluhur yang mendarah 
daging dan adat yang dipegang layaknya sebuah agama bahkan mengalahkan agama, 
ngalap berkah atau berharap berkah yang dalam bahasa Arab dikenal dengan 
tabarruk. Biasanya tradisi ini bergeliat dan mengemuka dalam momen-momen 
tertentu misalnya menjelang hadirnya bulan Ramadhan. Maka kita menyaksikan 
beberapa kalangan kaum muslimin mengadakan kegiatan-kegiatan dan ritual-ritual 
tertentu dengan maksud meraih berkah darinya. Sebagian dari mereka ada yang 
mendatangi tempat pemandian atau danau atau sungai di tempat tertentu, di sana 
mereka mandi dengan campuran kembang-kembang dalam rangka bersih diri demi 
menghadapi bulan puasa. Sebagian dari mereka membuat sesajen dalam bentuk 
makanan tertentu yang ditata dengan cara tertentu lalu dibawa ke tempat 
keramat, misalnya kuburan leluhur, setelah acara selesai maka makanan tersebut 
diperebutkan, yang memperebutkannya meyakini adanya berkah pada makanan
 tersebut. Sebagian dari mereka ada yang berkeliling sungkem atau sowan 
(menghadap) kepada orang-orang yang diyakini baik dan mulia untuk mengambil 
berkahnya demi kesempurnaan ibadah puasa. Dan masih banyak lagi tradisi-tradisi 
yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka meraih berkah. 
 
Pelurusan 
 
Berkah atau barokah adalah kebaikan yang terkumpul pada sesuatu, perkataan atau 
perbuatan. Kebaikan pada sesuatu yang diharapkan bisa didapatkan harus 
dipastikan terlebih dahulu keberadaannya, jika kita berharap barokah dari 
sesuatu artinya kita berharap kebaikan darinya, pertanyaan yang patut 
disodorkan adalah, apakah kebaikan yang kita harapkan dari sesuatu itu memang 
benar-benar ada? Ataukah ia hanya berdasarkan kata Zaid dan Amru? Tidak semua 
yang kita yakini merupakan kebenaran, apakah tidak sia-sia jika berkah yang 
kita harapkan dari sesuatu ternyata hanya isapan jempol belaka? 
 
Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah yang berhak menetapkan keberadan barokah 
pada sesuatu? Jika jawabannya adalah kita, maka hal ini tidak memiliki dasar 
yang bisa dipegang, sebab bisa saja Zaid meyakini keberadaan berkah pada 
sesuatu dan tidak dengan Amru, lalu keyakinan siapa yang lebih berhak dan lebih 
layak? Dari sini maka perkara ini harus diserahkan kepada penentu kebaikan dan 
ketidakbaikan pada sesuatu, dalam hal ini kita sebagai muslim, adalah Allah dan 
rasulNya. Apa yang dinyatakan oleh Allah dan rasulNya sebagai kebaikan dan 
mengandung kebaikan maka perkaranya memang demikian. Sebaliknya apa yang tidak 
dinyatakan oleh Allah dan rasulNya sebagai kebaikan dan mengandung kebaikan 
maka memang demikian. Dengan ini kita sebagai muslim berpegang kepada kaidah 
yang pasti dan kokoh. 
 
Berpijak kepada dasar dan pertimbangan ini maka apa yang dilakukan oleh 
sebagian kaum muslimin dalam bentuk kegiatan dan aktifitas tertentu yang biasa 
mereka lakukan menjelang puasa seperti yang dijelaskan di atas termasuk ke 
dalam usaha berharap berkah atau barokah dari sesuatu yang tidak berdasar 
kecuali hanya sebatas keyakinan atau katanya yang tidak berpijak kepada dalil 
pasti dari peletak dan penetap kebaikan yaitu Allah dan rasulNya. Dicari di 
sudut mana pun dalam Islam, dibuka dari sisi mana pun dalam Islam tidak akan 
ditemukan dan tidak akan didapatkan dasar yang melegalkan secara syar'i 
perbuatan-perbuatan tersebut. Tidak ada ayat al-Qur`an, tidak ada sunnah 
Rasulullah saw baik fi’liyah maupun qauliyah, tidak pula ada teladan dari para 
sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini yang menetapkan dan 
menganjurkan ritual-ritual mandi, membuat makanan sesaji dan sowan ke 
orang-orang yang dianggap sepuh atau shalih menjelang bulan puasa, alih-alih 
hal itu
 diyakini memberikan kebaikan dan pengampunan dosa. Dari mana? 
 
 Apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin seperti perkara-perkara di atas 
tidaklah berbeda dengan apa yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw dan 
beliau mengingkarinya serta meluruskannya. 
 
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Waqid al-Laitsi berkata, suatu kali kami 
berangkat ke Hunain bersama Rasulullah saw, sementara kami baru saja lepas dari 
kekufuran, pada saat itu orang-orang musyrik mempunyai sebuah pohon bidara yang 
bernama Dzatu Anwath, mereka mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata 
mereka padanya, pada saat kami melewatinya kami berkata kepada Rasulullah saw, 
‘Ya Rasulullah saw buatkan Dzatu Anwath seperti mereka mempunyai Dzatu Anwath.” 
Maka Rasulullah saw bersabda, “Allahu Akbar, itu adalah terdisi orang-orang 
sebelum kamu, demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, kamu telah berkata 
suatu perkataan seperti perkataan yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, 
‘Buatkanlah sesembahan untuk kami sebagaimana mereka mempunyai 
sesembahan-sesembahan’ Musa menjawab, ‘Sungguh kamu adalah kaum yang tidak 
mengerti.’ Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu.”  
At-Tirmidzi menshahihkannya. 
 
Kita lihat sebuah pohon yang diyakini membawa berkah sehingga mereka 
menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, padahal ia tidak demikian, maka 
ketika para sahabat meminta pohon yang sama kepada Nabi saw beliau 
mengingkarinya dengan keras. Walaupun sesuatu yang diharapkan berkahnya oleh 
sebagain kaum muslimin tidak harus berwujud pohon, akan tetapi apalah arti 
sesuatu itu jika ia diyakini seperti itu, bisa pohon, bisa hewan, bisa makanan, 
bisa pemandian dan bisa yang lain, intinya adalah berharap kebaikan dari 
sesuatu padahal Allah dan rasulNya tidak menyatakannya membawa kebaikan. 
Bukankah perbuatan seperti ini pantas masuk ke dalam firman Allah, “Amilatun 
nashibah.” (Al-Ghasyiyah: 3). Lelah beramal berharap kebaikan darinya akan 
tetapi karena ia keliru maka yang didapatkan hanyalah kelelahan. 
 
Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Umar bin al-Khatthab ini, Imam al-Bukhari 
dan Muslim meriwayatkan dari Abis bin Rabi’ah berkata, aku melihat Umar bin 
al-Khattab mencium Hajar Aswad, dia berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa 
kamu adalah batu, tidak mendatangkan manfaat dan mudharat, kalau aku tidak 
melihat Rasulullah saw menciummu maka aku tidak akan menciummu.” 
 
Perhatikan juga bahwa tidak seorang pun dari para sahabat Nabi saw yang 
menelusuri tempat-tempat yang tercatat dalam sejarah hidup Rasulullah saw 
seperti gua Tsur, gua Hira`, jalan hijrah dari Makkah ke Madinah, padang Badar 
dan sebagainya lalu mereka melakukan ibadah-ibadah atau amalan-amalan tertentu 
di sana pada saat-saat tertentu, padahal jika semua itu memang membawa berkah 
niscaya mereka akan melakukannya, bagaimanapun, jika ia memang berkah ia lebih 
layak daripada selainnya, dan para sahabat akan berlomba-lomba melakukannya, 
jika ia tidak maka selainnya lebih tidak. Adakah yang sadar? 
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke