Sepakat, 
tapi semua gerak harus ada triger selain alasan jangka panjang,
harus ada pemantik yang dahsyat agar kesadaran dapat terbangkitkan
harus ada alasan yang kuat kenapa harus tidak tergantung dengan amerika
yang terakhir, alasan boikot jangan sampai sekedar keputusan emosional
namun memang keputusan Iman
yang paling penting, jangan lupa memulai
jangan hanyak matang dengan ide tanpa gerak
bukankah semua perjalanan panjang dimulai dengan langkah pertama?



--- On Tue, 20/1/09, Willy Mardian <[email protected]> wrote:
From: Willy Mardian <[email protected]>
Subject: {FoSSEI} Sisi Lain Boikot
To: [email protected]
Date: Tuesday, 20 January, 2009, 1:40 PM










    
            gue dapet di blog somenone di multiply tafadhal enjoy aja lah 
 agar pergerakan kita lebih terarah dan kerasa tendangannya .......

http://herisudarson o07.multiply. com/journal/ item/52/Boikot_ Produk_Amerika_ 
Masalah_dan_ Solusi
Boikot  Produk Amerika; Masalah dan Solusi  Serangan
Israel terhadap Palestina di jalur Gaza telah menewaskan lebih dari
1000 nyawa. Peristiwa ini  menimbulkan tragedi kemanusiaan di awal
tahun 2009. Amerika yang diharapkan membantu meredam konflik ternyata
mendukung tindakan Israel tersebut. Untuk sekian kalinya Amerika
mengunakan hak vetonya. Sikap Amerika ini yang menimbulkan protes keras
umat Islam dunia dan di Indonesia. Salah satu bentuk protes yang dilakukan umat 
Islam di Indonesia  adalah memboikot produk Amerika. Boikot adalah tindakan 
untuk tidak menggunakan, membeli, atau berurusan dengan seseorang, organisasi 
atau suatu negara sebagai wujud protes atau sebagai suatu bentuk pemaksaan. 
Boikot produk Amerika juga  merupakan dukungan moral atas perjuangan rakyat 
Palestina  sekaligus protes atas tindakan Amerika yang mendukung Israel 
menyerang Palestina. Boikot
produk Amerika akan menurunkan konsumsi pada produk perusahaan
multinasional yang perusahaan induknya milik (orang) Amerika.
Turunnya permintaan pada  produk Amerika akan menurunkan
penghasilan perusahaan sehingga akan menurunkan pendapatan Amerika.
Namun apakah boikot produk Amerika ini tidak berpengaruh terhadap
ekonomi Indonesia. Tulisan ini akan memaparkan secara singkat kriteria
produk yang memenuhi kriteria untuk diboikot,  masalah yang menganggu 
efektifitas boikot dan solusi alternatif. Kriteria Produk Amerika di Indonesia 
Produk
Amerika bisa dibagi 3 kriteria berdasarkan kedudukan perusahaan, bahan
baku dan tenaga kerja yang digunakan. Yang pertama, produk Amerika yang
diproduksi perusahaan Amerika yang berkedudukan di Amerika, mengunakan
bahan baku dan tenaga kerja Amerika. Produk ini langsung di impor dari
Amerika melalui distributor yang berkedudukan di Indonesia dan 
dijual di Indonesia. Jenis produk yang masuk kriteria ini  adalah
produk mesin-mesin pabrik dan mobil yang memenuhi kriteria tertentu.
Produk ini diimpor dari Amerika dikarenakan; produk tersebut tidak bisa
dibuat di Indonesia, produk tersebut tidak bisa didatangkan dari negara
lain dan produk ini memenuhi kriteria sebagai produk yang dibutuhkan di
Indonesia.  Produk yang masuk dalam kriteria
ini misalnya mesin-mesin pabrik; dan mobil Amerika yang bermerk Ford,
Chrysler, Hammer, Chevrolet, dan Puck. Produk Amerika  yang
masuk kriteria ini bisa diboikot, karena selain mudah untuk dilakukan
dengan menghentikan pembelian barang tersebut dan resiko kerugian
ekonomi dari dampak boikot produk ini lebih sedikit  bagi
Indonesia . Produk mesin-mesin pabrik dan mobil merupakan produk yang
hanya di konsumsi oleh kalangan perusahaan dan kolektor mobil yang
memiliki pendapatan tinggi. Mesin besar untuk perusahaan bisa
dibeli lagi dalam jangka waktu lebih dari lima tahun dengan
memperhitungkan biaya penyusutan, sedangkan bagi kolektor mobil bisa
mengantikan mobil yang mereka beli dengan produk mobil Jepang.
Sedangkan kerugian yang langsung diterima pemerintah dari boikot ini
adalah berhentinya pemasukan dari pajak/cukai pada produk mesin dan
mobil.  Kedua,
adalah produk Amerika yang diproduksi oleh perusahaan multinasional
Amerika yang ada di Indonesia tetapi mengunakan bahan baku dari
Amerika. Amerika memperoleh penghasilan dari pajak perusahaan induk
yang mendapatkan penghasilan dari pabriknya yang beroperasi di
Indonesia. Perusahan ini mengunakan brand, label dan merk Amerika
karena untuk menjaga kualitas produksi dan memenuhi bahan-bahan yang
disyaratkan dalam pembuatan produk tersebut yang tidak bisa diperoleh
di Indonesia. Perusahaan ini  mengunakan
tenaga kerja orang asing juga tenaga kerja Indonesia. Perusahaan yang
masuk kriteria ini misalnya produk obat-obatan serta produk kecantikan. Untuk
produk yang masuk kriteria kedua di atas bisa dimasukkan dalam kriteria
produk yang di boikor dengan resiko sedang bagi ekonomi Indonesia.
Produk dengan jenis ini banyak di Indonesia dikarenakan masyarakat
Indonesia banyak mekonsumsi produk jenis ini.  Produk
ini dihasilkan oleh perusahaan Amerika yang beroperasi di Indonesia
dengan mengunakan tenaga kerja Indonesia, perusahan ini memiliki anak
cabang perusahaan yang memproduksi produk yang berbeda. Memboikot
produk ini akan mengurangi pendapatan Amerika, namun resiko
pengangguran di Indonesia akan bertambah. Ketiga, adalah produk Amerika yang 
diproduksi di Indonesia melalui frencise perusahaan Amerika atau perusahana 
induk Amerika yang membuka cabang operasi di Indonesia. Tenaga  kerja yang 
digunakan untuk kriteria produk ini adalan mayoritas Indonesia.  Yang
masuk kriteria produk ini adalah produk makanan, minuman, sepatu dan
baju dengan bermerk KFC, Arbys, McDonald, McBurger, Texas, A&W,
Pepsi, Coca-Cola. Nike, Adidas, Kate dan Calvin Klein.  Untuk
produk yang masuk kriteria ini mudah untuk dilakukan boikot tetapi
dampak dari boikot lebih buruk dari pada produk yang masuk kriteria
pertama dan kedua. Hal ini disebabkan kandungan bahan baku yang
diperoleh dari Indonesia, selain itu tenaga kerja yang digunakan untuk
mengelola operasi perusahaan untuk menghasilkan produk ini mayoritas
dalam warga Indonesia. Resiko ekonomi yang ditimbulkan dari boikot ini  dari 
sisi pemerintah berkurangnya pendapatan pemerintah dari pajak perusahaan dan 
bertambahnya pengangguran.  Persoalan dalam boikot  Ada sejumlah masalah yang 
menganggu efektifitas jalannya boikot produk Amerika. Masalah yang pertama, 
Indonesia
termasuk anggota WTO dan APEC, organisasi pasar bebas tingkat Dunia dan
Asia. Indonesia telah menyepakati untuk terlibat dalam pasar bebas (free trade)
dengan menandatanganinya beberapa item produk luar negeri yang bebas
masuk tanpa pajak, demikian juga dengan  produk dalam negeri yang
bisa keluar bebas tanpa pajak di luar negeri. Perdagangan bebas  menjadikan
tarif atau pajak impor produk luar negeri masuk ke Indonesia
diminimalisir sehingga poduk luar negeri yang masuk ke Indonesia
relatif murah. Sikap manusia yang rasional mendorong untuk memilih
harga barang yang murah dan berkualitas di banding harga barang yang
murah tetapi tidak berkualitas. Kenyataan ini yang menjadikan
masyarakat Indonesia lebih memilih produk luar negeri. brand, label,
dan merk  produk luar negeri sudah cukup familiar bagi umat Islam
menyebabkan sulitnya umat Islam untuk meningalkan produk tersebut. Kedua,
kesepakatan Indonesia tentang liberalisasi ini juga akan menganggu
sikap tegas pemerintah jika masyarakat menginginkan boikot produk
Amerika ini didukung pemerintah. Bahkan, boikot ini akan efektif
memenuhi sasaran bila ada turut campur pemerintah sebagai pemegang
kebijakan. Namun, bila pemerintah sudah menyepakati dengan Amerika
tentang kesepakatan perdagangan bebas lewat WTO dan APEC maka bukan
Amerika saja yang akan memprotes tetapi negara lain yang masuk dalam
kesepakatan akan memprotes tindakan Indonesia menghentikan secara
sepihak masuknya produk Amerika ke Indonesia.  Ketiga,  perusahaan 
multinasional yang perusahaan induknya di Amerika atau perusahaan Amerika yang 
membuka franchise di Indonesia seperti Mc Donald, Dunkin Donut, KFC  sudah
lama menjalankan operasinya di Indonesia. Perusahaan tersebut bukan
hanya menguntungkan Amerika dikarenakan menerima pajak dari perusahaan
induk yang mendapatkan pendapatan dari franchise yang ada di Indoensia. Namun, 
juga perusahaan-perusaha an franchise tersebut  telah menghidupi ribuan 
peternak, petani dan pegawai di franchise
yang berkedudukan hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Pada
saat kemiskinan dan pengangguran meningkat di negara kita tindakan
memboikot produk franchise semacam ini bukan hanya menimbulkan masalah ekonomi 
tetapi juga sosial dan politik. Ketiga,
ketergantungan Indonesia pada produk Amerika cukup tinggi dibanding
dengan negara lain. Amerika merupakan negara tujuan ekspor terbesar
bagi Indonesia dibanding dengan negara-negara lain di dunia. Demikian
juga, bagi Indonesia, Amerika merupakan negara yang terbesar nilai
ekspor di Indonesia. Jadi kita mendapatkan pendapatan luar negeri
sebagian besar dari penjualan produk dalam negeri ke Amerika, demikian
juga kita mendatangkan bahan mentah/suku cadang sebagai faktor produksi
dari Amerika. Oleh karenanya, ketergantungan ini terrefleksi dengan
besar pengaruh nilai dolar terhadap rupiah.  Solusi Alternatif  Boikot produk 
Amerika bukan keputusan instan yang hanya bertujuan untuk melakukan 
protes Amerika. Boikot seperti ini  tidak
akan tepat sasaran karena tidak akan siqnifikan mempengaruhi konsumsi
umat Islam terhadap produk Amerika. Oleh karena itu boikot lebih
efektif dampaknya kalau agenda yang kita usung lebih berorientasi pada
pengurangan ketergantungan pada produk Amerika. Dampak dari realisasi
agenda ini menuntut perencanaan yang lebih terukur dan memerlukan waktu
yang tidak pendek.  Perencanaan
untuk mengurangi konsumsi produk Amerika adalah dengan menghidupkan
kembali industri subtitusi impor guna mengurangi ketergantungan dari
produk-produk impor. Produk ini berorientasi untuk mengantikan produk
luar negeri  dengan produk dalam negeri dengan kriteria tenaga kerja dan bahan 
bakunya bisa diperoleh di Indonesia.  Negara
kita kaya dengan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM),
ini merupakan potensi awal yang bisa digunakan untuk menghidupkan
kembaii industri subtitusi impor. Strategi ini pernah dilakukan pada
masa pemerintahan orde baru namun strategi ini tidak begitu berhasil di
era liberalisasi saat ini. Era liberalisasi menjadikan umat Islam lebih
mudah untuk memperoleh barang yang diingin dari luar negeri dan murah
untuk mendapatkan. Strategi
subtistusi impor ini juga bisa dilakukan dengan melakukan imitasi
produk Amerika. Di Yogyakarta terdapat Yogya Chicken, dan Deakin Donat
sebagai produk imitasi dari KFC dan Dunkin Donat. Dua produk ini bisa
menjadi alternatif penganti produk Amerika, KFC dan Dunkin Donat.
Dengan rasa yang tidak jauh beda dan harga lebih terjangkau pasar akan
lebih memilih produk lokal tersebut dibanding dengan produk Amerika.
Imitasi produk Amerika tidak menyalahi hak paten karena nama, kemasan
produk dan bahan yang digunakan relatif tidak sama. Kalau produk
lokal—makanan, obat-obatan dan elektronik—diorientasi untuk
mengantikan produk Amerika dengan strategi imitasi akan banyak
mengurangi konsumsi masyarakat terhadap produk Amerika dan akan
menambah pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor rill yang
mengunakan produk imitasi dari franchise perusahaan Amerika.  Langkah
yang lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk Amerika
adalah meningkatkan peran koperasi. Koperasi sebagai soko guru
perekonomian guna mendukung terbangunnya sektor riil. Sektor riil tidak
akan bisa hidup kalau tidak ada sistem pendukung yang mampu
mengakomodasi ketersediaan bahan baku, proses pengolahan, distribusi
output  produksi.  Koperasi mempunyai peran sebagai sistem pendukung yang 
memiliki peran sebagai koordinator dalam suatu pengelolaan sektor riil.  Salah
satu contoh lembaga yang berperan sebagai sistem pendukung tumbuhnya
sektor riil di Bangladesh adalah Grammen Bank dengan inisitornya
Muhammad Yunus. Sistem yang digunakan adalah dengan pembentukan
kelompok-kelompo dimana setiap kelompok terdiri dari beberapa anggota
kelompok. Satu anggota bertanggung jawab kepada anggota lain di
kelompok tersebut, bila salah anggota tidak bisa mengembalikan
pembiayaan maka anggota dalam kelompok yang sama tidak memiliki hak
untuk mendapatkan pembiayaan. Ternyata sistem ini mampu meningkatakan
kerjasama dalam pengelolaan industri kecil di Bangladesh. Sistem
Grammen Bank ini bisa digunakan untuk membangun koordinasi masyarakat
dengan pihak koperasi dalam mengelola sektor rill. Hal lain yang perlu 
diperhatikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk Amerika  adalah
tingginya pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Besarnya jumlah
pengangguran dan sedikitnya jumlah permintaan tenaga kerja menyebabkan
tingginya ketergantungan pada perusahaan Amerika. Tenaga kerja tidak
memiliki alternatif untuk pindah ke perusahaan dalam negeri karena
belum tentu diterima dan juga penghasilan yang diperoleh dari
perusahaan Amerika tersebut biasanya lebih tinggi dibanding penghasilan
yang di tawarkan perusahaan Indonesia. Ini menunjukkan bahwa
meninggalkan pekerjaan di perusahaan Amerika bukan hanya alasan
komitmen terhadap produk dalam negeri semata tetapi juga mampu
perusahaan dalam negeri mampu memberikan kesejahteraan yang setara
dengan perusahaan Amerika. Upaya-upaya
untuk mengantikan produk Amerika dengan produk dalam negeri tidak
berjalan dengan baik bila tidak ada visi yang sama di antara umat Islam
untuk beralih mengunakan produk dalam negeri. Demikian juga usaha untuk
beralih ke produk dalam negeri harus dibarengi dengan usaha untuk
menyediakan produk penganti produk luar negeri tersebut. Hal ini bisa
dilakukan dengan mengoptimalkan SDM dan SDA yang dimiliki
umat Islam untuk mengelola usaha kecil dan menengah (UKM). Bila
keputusan boikot produk Amerika tanpa ada upaya untuk memberikan solusi
atas dampak yang diakibatkan dari boikot tersebut hanya menunjukkan
bahwa keputusan boikot adalah semata-mata keputusan emosional.  Wallahu a'lam


        Sikap Peduli Lingkungan?  
 Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke