gue dapet di blog somenone di multiply tafadhal enjoy aja lah agar pergerakan kita lebih terarah dan kerasa tendangannya .......
http://herisudarsono07.multiply.com/journal/item/52/Boikot_Produk_Amerika_Masalah_dan_Solusi Boikot Produk Amerika; Masalah dan Solusi Serangan Israel terhadap Palestina di jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 1000 nyawa. Peristiwa ini menimbulkan tragedi kemanusiaan di awal tahun 2009. Amerika yang diharapkan membantu meredam konflik ternyata mendukung tindakan Israel tersebut. Untuk sekian kalinya Amerika mengunakan hak vetonya. Sikap Amerika ini yang menimbulkan protes keras umat Islam dunia dan di Indonesia. Salah satu bentuk protes yang dilakukan umat Islam di Indonesia adalah memboikot produk Amerika. Boikot adalah tindakan untuk tidak menggunakan, membeli, atau berurusan dengan seseorang, organisasi atau suatu negara sebagai wujud protes atau sebagai suatu bentuk pemaksaan. Boikot produk Amerika juga merupakan dukungan moral atas perjuangan rakyat Palestina sekaligus protes atas tindakan Amerika yang mendukung Israel menyerang Palestina. Boikot produk Amerika akan menurunkan konsumsi pada produk perusahaan multinasional yang perusahaan induknya milik (orang) Amerika. Turunnya permintaan pada produk Amerika akan menurunkan penghasilan perusahaan sehingga akan menurunkan pendapatan Amerika. Namun apakah boikot produk Amerika ini tidak berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tulisan ini akan memaparkan secara singkat kriteria produk yang memenuhi kriteria untuk diboikot, masalah yang menganggu efektifitas boikot dan solusi alternatif. Kriteria Produk Amerika di Indonesia Produk Amerika bisa dibagi 3 kriteria berdasarkan kedudukan perusahaan, bahan baku dan tenaga kerja yang digunakan. Yang pertama, produk Amerika yang diproduksi perusahaan Amerika yang berkedudukan di Amerika, mengunakan bahan baku dan tenaga kerja Amerika. Produk ini langsung di impor dari Amerika melalui distributor yang berkedudukan di Indonesia dan dijual di Indonesia. Jenis produk yang masuk kriteria ini adalah produk mesin-mesin pabrik dan mobil yang memenuhi kriteria tertentu. Produk ini diimpor dari Amerika dikarenakan; produk tersebut tidak bisa dibuat di Indonesia, produk tersebut tidak bisa didatangkan dari negara lain dan produk ini memenuhi kriteria sebagai produk yang dibutuhkan di Indonesia. Produk yang masuk dalam kriteria ini misalnya mesin-mesin pabrik; dan mobil Amerika yang bermerk Ford, Chrysler, Hammer, Chevrolet, dan Puck. Produk Amerika yang masuk kriteria ini bisa diboikot, karena selain mudah untuk dilakukan dengan menghentikan pembelian barang tersebut dan resiko kerugian ekonomi dari dampak boikot produk ini lebih sedikit bagi Indonesia . Produk mesin-mesin pabrik dan mobil merupakan produk yang hanya di konsumsi oleh kalangan perusahaan dan kolektor mobil yang memiliki pendapatan tinggi. Mesin besar untuk perusahaan bisa dibeli lagi dalam jangka waktu lebih dari lima tahun dengan memperhitungkan biaya penyusutan, sedangkan bagi kolektor mobil bisa mengantikan mobil yang mereka beli dengan produk mobil Jepang. Sedangkan kerugian yang langsung diterima pemerintah dari boikot ini adalah berhentinya pemasukan dari pajak/cukai pada produk mesin dan mobil. Kedua, adalah produk Amerika yang diproduksi oleh perusahaan multinasional Amerika yang ada di Indonesia tetapi mengunakan bahan baku dari Amerika. Amerika memperoleh penghasilan dari pajak perusahaan induk yang mendapatkan penghasilan dari pabriknya yang beroperasi di Indonesia. Perusahan ini mengunakan brand, label dan merk Amerika karena untuk menjaga kualitas produksi dan memenuhi bahan-bahan yang disyaratkan dalam pembuatan produk tersebut yang tidak bisa diperoleh di Indonesia. Perusahaan ini mengunakan tenaga kerja orang asing juga tenaga kerja Indonesia. Perusahaan yang masuk kriteria ini misalnya produk obat-obatan serta produk kecantikan. Untuk produk yang masuk kriteria kedua di atas bisa dimasukkan dalam kriteria produk yang di boikor dengan resiko sedang bagi ekonomi Indonesia. Produk dengan jenis ini banyak di Indonesia dikarenakan masyarakat Indonesia banyak mekonsumsi produk jenis ini. Produk ini dihasilkan oleh perusahaan Amerika yang beroperasi di Indonesia dengan mengunakan tenaga kerja Indonesia, perusahan ini memiliki anak cabang perusahaan yang memproduksi produk yang berbeda. Memboikot produk ini akan mengurangi pendapatan Amerika, namun resiko pengangguran di Indonesia akan bertambah. Ketiga, adalah produk Amerika yang diproduksi di Indonesia melalui frencise perusahaan Amerika atau perusahana induk Amerika yang membuka cabang operasi di Indonesia. Tenaga kerja yang digunakan untuk kriteria produk ini adalan mayoritas Indonesia. Yang masuk kriteria produk ini adalah produk makanan, minuman, sepatu dan baju dengan bermerk KFC, Arbys, McDonald, McBurger, Texas, A&W, Pepsi, Coca-Cola. Nike, Adidas, Kate dan Calvin Klein. Untuk produk yang masuk kriteria ini mudah untuk dilakukan boikot tetapi dampak dari boikot lebih buruk dari pada produk yang masuk kriteria pertama dan kedua. Hal ini disebabkan kandungan bahan baku yang diperoleh dari Indonesia, selain itu tenaga kerja yang digunakan untuk mengelola operasi perusahaan untuk menghasilkan produk ini mayoritas dalam warga Indonesia. Resiko ekonomi yang ditimbulkan dari boikot ini dari sisi pemerintah berkurangnya pendapatan pemerintah dari pajak perusahaan dan bertambahnya pengangguran. Persoalan dalam boikot Ada sejumlah masalah yang menganggu efektifitas jalannya boikot produk Amerika. Masalah yang pertama, Indonesia termasuk anggota WTO dan APEC, organisasi pasar bebas tingkat Dunia dan Asia. Indonesia telah menyepakati untuk terlibat dalam pasar bebas (free trade) dengan menandatanganinya beberapa item produk luar negeri yang bebas masuk tanpa pajak, demikian juga dengan produk dalam negeri yang bisa keluar bebas tanpa pajak di luar negeri. Perdagangan bebas menjadikan tarif atau pajak impor produk luar negeri masuk ke Indonesia diminimalisir sehingga poduk luar negeri yang masuk ke Indonesia relatif murah. Sikap manusia yang rasional mendorong untuk memilih harga barang yang murah dan berkualitas di banding harga barang yang murah tetapi tidak berkualitas. Kenyataan ini yang menjadikan masyarakat Indonesia lebih memilih produk luar negeri. brand, label, dan merk produk luar negeri sudah cukup familiar bagi umat Islam menyebabkan sulitnya umat Islam untuk meningalkan produk tersebut. Kedua, kesepakatan Indonesia tentang liberalisasi ini juga akan menganggu sikap tegas pemerintah jika masyarakat menginginkan boikot produk Amerika ini didukung pemerintah. Bahkan, boikot ini akan efektif memenuhi sasaran bila ada turut campur pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Namun, bila pemerintah sudah menyepakati dengan Amerika tentang kesepakatan perdagangan bebas lewat WTO dan APEC maka bukan Amerika saja yang akan memprotes tetapi negara lain yang masuk dalam kesepakatan akan memprotes tindakan Indonesia menghentikan secara sepihak masuknya produk Amerika ke Indonesia. Ketiga, perusahaan multinasional yang perusahaan induknya di Amerika atau perusahaan Amerika yang membuka franchise di Indonesia seperti Mc Donald, Dunkin Donut, KFC sudah lama menjalankan operasinya di Indonesia. Perusahaan tersebut bukan hanya menguntungkan Amerika dikarenakan menerima pajak dari perusahaan induk yang mendapatkan pendapatan dari franchise yang ada di Indoensia. Namun, juga perusahaan-perusahaan franchise tersebut telah menghidupi ribuan peternak, petani dan pegawai di franchise yang berkedudukan hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Pada saat kemiskinan dan pengangguran meningkat di negara kita tindakan memboikot produk franchise semacam ini bukan hanya menimbulkan masalah ekonomi tetapi juga sosial dan politik. Ketiga, ketergantungan Indonesia pada produk Amerika cukup tinggi dibanding dengan negara lain. Amerika merupakan negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia dibanding dengan negara-negara lain di dunia. Demikian juga, bagi Indonesia, Amerika merupakan negara yang terbesar nilai ekspor di Indonesia. Jadi kita mendapatkan pendapatan luar negeri sebagian besar dari penjualan produk dalam negeri ke Amerika, demikian juga kita mendatangkan bahan mentah/suku cadang sebagai faktor produksi dari Amerika. Oleh karenanya, ketergantungan ini terrefleksi dengan besar pengaruh nilai dolar terhadap rupiah. Solusi Alternatif Boikot produk Amerika bukan keputusan instan yang hanya bertujuan untuk melakukan protes Amerika. Boikot seperti ini tidak akan tepat sasaran karena tidak akan siqnifikan mempengaruhi konsumsi umat Islam terhadap produk Amerika. Oleh karena itu boikot lebih efektif dampaknya kalau agenda yang kita usung lebih berorientasi pada pengurangan ketergantungan pada produk Amerika. Dampak dari realisasi agenda ini menuntut perencanaan yang lebih terukur dan memerlukan waktu yang tidak pendek. Perencanaan untuk mengurangi konsumsi produk Amerika adalah dengan menghidupkan kembali industri subtitusi impor guna mengurangi ketergantungan dari produk-produk impor. Produk ini berorientasi untuk mengantikan produk luar negeri dengan produk dalam negeri dengan kriteria tenaga kerja dan bahan bakunya bisa diperoleh di Indonesia. Negara kita kaya dengan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), ini merupakan potensi awal yang bisa digunakan untuk menghidupkan kembaii industri subtitusi impor. Strategi ini pernah dilakukan pada masa pemerintahan orde baru namun strategi ini tidak begitu berhasil di era liberalisasi saat ini. Era liberalisasi menjadikan umat Islam lebih mudah untuk memperoleh barang yang diingin dari luar negeri dan murah untuk mendapatkan. Strategi subtistusi impor ini juga bisa dilakukan dengan melakukan imitasi produk Amerika. Di Yogyakarta terdapat Yogya Chicken, dan Deakin Donat sebagai produk imitasi dari KFC dan Dunkin Donat. Dua produk ini bisa menjadi alternatif penganti produk Amerika, KFC dan Dunkin Donat. Dengan rasa yang tidak jauh beda dan harga lebih terjangkau pasar akan lebih memilih produk lokal tersebut dibanding dengan produk Amerika. Imitasi produk Amerika tidak menyalahi hak paten karena nama, kemasan produk dan bahan yang digunakan relatif tidak sama. Kalau produk lokal—makanan, obat-obatan dan elektronik—diorientasi untuk mengantikan produk Amerika dengan strategi imitasi akan banyak mengurangi konsumsi masyarakat terhadap produk Amerika dan akan menambah pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor rill yang mengunakan produk imitasi dari franchise perusahaan Amerika. Langkah yang lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk Amerika adalah meningkatkan peran koperasi. Koperasi sebagai soko guru perekonomian guna mendukung terbangunnya sektor riil. Sektor riil tidak akan bisa hidup kalau tidak ada sistem pendukung yang mampu mengakomodasi ketersediaan bahan baku, proses pengolahan, distribusi output produksi. Koperasi mempunyai peran sebagai sistem pendukung yang memiliki peran sebagai koordinator dalam suatu pengelolaan sektor riil. Salah satu contoh lembaga yang berperan sebagai sistem pendukung tumbuhnya sektor riil di Bangladesh adalah Grammen Bank dengan inisitornya Muhammad Yunus. Sistem yang digunakan adalah dengan pembentukan kelompok-kelompo dimana setiap kelompok terdiri dari beberapa anggota kelompok. Satu anggota bertanggung jawab kepada anggota lain di kelompok tersebut, bila salah anggota tidak bisa mengembalikan pembiayaan maka anggota dalam kelompok yang sama tidak memiliki hak untuk mendapatkan pembiayaan. Ternyata sistem ini mampu meningkatakan kerjasama dalam pengelolaan industri kecil di Bangladesh. Sistem Grammen Bank ini bisa digunakan untuk membangun koordinasi masyarakat dengan pihak koperasi dalam mengelola sektor rill. Hal lain yang perlu diperhatikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk Amerika adalah tingginya pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Besarnya jumlah pengangguran dan sedikitnya jumlah permintaan tenaga kerja menyebabkan tingginya ketergantungan pada perusahaan Amerika. Tenaga kerja tidak memiliki alternatif untuk pindah ke perusahaan dalam negeri karena belum tentu diterima dan juga penghasilan yang diperoleh dari perusahaan Amerika tersebut biasanya lebih tinggi dibanding penghasilan yang di tawarkan perusahaan Indonesia. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan pekerjaan di perusahaan Amerika bukan hanya alasan komitmen terhadap produk dalam negeri semata tetapi juga mampu perusahaan dalam negeri mampu memberikan kesejahteraan yang setara dengan perusahaan Amerika. Upaya-upaya untuk mengantikan produk Amerika dengan produk dalam negeri tidak berjalan dengan baik bila tidak ada visi yang sama di antara umat Islam untuk beralih mengunakan produk dalam negeri. Demikian juga usaha untuk beralih ke produk dalam negeri harus dibarengi dengan usaha untuk menyediakan produk penganti produk luar negeri tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan SDM dan SDA yang dimiliki umat Islam untuk mengelola usaha kecil dan menengah (UKM). Bila keputusan boikot produk Amerika tanpa ada upaya untuk memberikan solusi atas dampak yang diakibatkan dari boikot tersebut hanya menunjukkan bahwa keputusan boikot adalah semata-mata keputusan emosional. Wallahu a'lam ___________________________________________________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

