--- On Tue, 4/21/09, Arya Endonesya <[email protected]> wrote:
From: Arya Endonesya <[email protected]> Subject: Bunga di Taman (Serial Kebangsaan No. 9/April/2009) To: "SI PPI" <[email protected]>, "PPIS Post-Grad" <[email protected]>, "OISAA" <[email protected]> Date: Tuesday, April 21, 2009, 1:07 PM Bunga di Taman (Serial Kebangsaan No. 9/April/2009) http://www.facebook.com/note.php?note_id=87717184032&ref=mf Dunia kita adalah taman, wanita adalah bunga-bunganya. Yang terbaik adalah yang baik niat, pikiran, perbuatannya serta bermanfaat bagi kehidupan ini. Sungguh, tiap wanita dapat menjadi bunga harum dalam aroma pilihan-nya masing-masing... ....Kartini, ibu yang namanya kita peringati hari ini telah menjadi inspirasi semua wanita. Beliau menghadiahkan kisah dirinya sebagai bunga yang sangat harum bagi ibu pertiwi kita. Dalam akar budaya bangsa kita. Ragam bunga itu tergambar jelas dalam kisah etis tradisional. Sebatas ingatan saya yang sewaktu kecil sepekan sekali nonton wayang orang bersama akung. Sosok wanita, hadir dalam ragam perannya serta hikmah dibaliknya. Dimana jika sosok-sosok itu diajak ke dalam kehidupan sekarang, wuuiiihh... beberapa variasi kepribadiannya nyata relevansinya! 1. Wanita Karir dan/ atau Ibu Rumah Tangga Dua sosok paling dikenal khalayak: Sumbadra dan Srikandi. Lakon seorang wanita yang anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya laiknya Sumbadra. Sebaliknya ada sosok wanita aktif yang dialogis, cendekia, berkemauan kuat, sosial, dan gemar berburu, pemanah hebat, dan siap berdebat intelek dan bertarung di medan pertempuran seperti Srikandi. Keduanya tidak berada dalam posisi yang diametrikal dalam kehidupan. Keduanya dihargai dalam potensinya masing-masing. 2. Wanita Gembong Kriminalis Tak selamanya wanita bersentuhan dengan keharuman, kadang ia lebih busuk dari bau bangkai. Batari Durga adalah representasi wanita semacam itu. Ia bukan kriminalis biasa yang menipu anak-anak kecil dengan permen. Ia adalah gembong kekerasan yang amat sadis. Dia memegang kekuasaan dan kontrol para mafia dari berbagai macam jenjangnya dan distrik. Dalam lakon-lakon selalu hadir sebagai aktor yang berstrategi melawan dan menghancurkan Pandawa. Bahkan suaminya sendiri Batara Guru, tidak dapat membendungnya. Ia hanya takut dengan Semar, seorang sosok spiritual. Dalam epik realita, wanita yang jahat memang tidak dapat dibendung oleh siapapun. Dalam kontras kisah kenabian juga Nabi Nuh tidak bisa membendung upaya istrinya untuk memobilisir massa agar tidak percaya seruan suami-nya. 3. Wanita Angkuh dan Komprador Banowati putri termuda dari Prabu Salya dan permaisuri Suyudana di Ngastina. Pembawaannya yang angkuh, dalam wayang ditandai dengan hidungnya yang mendongak dan senyumnya yang sinis. Banowati pula yang merajut hubungan gelap dengan Arjuna dan membocorkan rahasia militer negara Ngastina pada musuh-musuhnya. Banowati mendukung Pandawa di satu sisi, namun mengkhianati Arjuna dan Pandawa, suaminya di sisi yang lain. Tentu saja keangkuhan bukan monopoli kaum borjuis, pemegang modal saja. Namun juga mereka yang tidak pernah tersentuh pusaran modal, kaum paria dan sudra pun, dalam kehidupan nyata kita banyak wanita sombong dan pengkhianat bagi cita-cita bersama. 4. Wanita Pelayan Rumah Tangga yang Genit Ada pula tokoh wanita bernama Cangik seorang pembantu rumah tangga. Ceria sekali, teringat TKW yang sosoknya humoris dan kesayangan negara karena mereka "pahwalan devisa". Cangik punya penampilan standard kelas bawah, namun sikapnya yang mudah tersipu dan genit, memang membuat penonton menyenanginya. Biasanya hadir dengan suara tinggi, melengking, dan bersiul, karena giginya ompong. Dalam sudut positifnya, bangsa ini punya sekian banyak wanita, dengan segala keterbatasannya, dan ketidakadilan yang diterimanya di Luar Negeri, namun sikapnya tetap cheerful dan menyenangkan bagi keluarga dan tetangga di kampungnya. Selalu bawa oleh-oleh, dan sebagainya. Hanya saja memang wanita-wanita semacam Cangik ini perlu mendapatkan perhatian ekstra. 5. Wanita Idaman Pemicu Konflik Dalam kisah wayang juga kita temui sosok Satyawati. Ia gadis cantik sekaligus putri seorang preman besar yang bengis hati, bernama Begawan Bagaspati tengah menjalin cinta dengan Salya muda, seorang parlente berdarah biru. Masalah muncul ketika Salya merasa tak layak bagi seorang priyayi keturunan ningrat menikahi putri penguasa "hitam", maka Bagaspati meminta Salya membunuh dirinya. Setelah hidup dengan kebengisan, lalu ia mati dengan mewarisi perilaku kebengisan putri nya yang membiarkan calon mantu-nya melakukan kebengisan puncak terhadap bapak kandungnya. Atas nama cinta. Dalam realita gambaran masyarakat, lakon ini dilihat dalam ambiguitas moral, sebab adapula wanita-wanita yang melihatnya sebagai "kecintaan puncak seorang ayah terhadap putri-nya", "happy ending untuk sang wanita", dan seterusnya. Demikianlah ambiguitas hadir bersama cinta yang bertaring. Lakon pembunuhan memang kerap hadir di kehidupan kita antar pria, dimana sebenarnya mereka dapat berhenti dengan instruksi lembut wanita untuk berhenti. Namun, kerap lakon konflik terjadi berkelanjutan dalam kehidupan kita, karena wanita tidak sadar akan kemampuannya untuk menghentikan konflik ada pada dirinya. Sebagaimana sejarah Maluku yang mengatakan itu, konflik tidak berhenti karena wanita nya membiarkan libido pria untuk membunuh terus berlanjut. Pembunuhan terjadi, lalu wanita yang menangis lebih keras, dan itu membuat pria berlatih lebih keras untuk mencari sarung manusia bagi pedang mereka yang terhunus dan mendendam. Berpikir Positif Itulah ragam realita kehidupan kita, wanita seperti juga pria, memiliki potensi kebaikan sama besarnya dengan potensi keburukan. Seperti potensi negatif yang membuat malaikat sangat ragu terhadap manusia, ketika awal Tuhan menciptakan manusia, "kenapa Engkau jadikan makhluk penumpah darah dan pembuat kerusakan ini pengelola bumi". Namun, tentu saja Tuhan Maha Mengetahui sehingga kita percaya kita pun juga diciptakan dengan potensi positif. Meski kita juga tau, bahwa selain potensi merusak dan penumpah darah, manusia juga karena 'akal nya punya potensi sebagai "Seniman Alasan". Ketika dikatakan "kamu merusak", akan sangat mudah mencari alasan untuk mendukung argumen "Sesungguhnya saya membuat perbaikan". Manusia oh, manusia. Semoga saja wanita dapat mengawali arus besar tabiat kebaikan tersebut, sebagai bunga kebaikan yang harum, senyawa kehidupan, dan sekolah peradaban bagi anak bangsa kita. Arya Sandhiyudha

