Wanita dengan Ekonomi Syariah? bisa dhubungkan?
atau, wanita (akhwat) dengan FoSSEI?

Pada 22 April 2009 05:58, ardiansyah selo yudha <
[email protected]> menulis:

>
>
>
>
> --- On *Tue, 4/21/09, Arya Endonesya <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Arya Endonesya <[email protected]>
> Subject: Bunga di Taman (Serial Kebangsaan No. 9/April/2009)
> To: "SI PPI" <[email protected]>, "PPIS Post-Grad" <
> [email protected]>, "OISAA" <[email protected]>
> Date: Tuesday, April 21, 2009, 1:07 PM
>
> Bunga di Taman (Serial Kebangsaan No. 9/April/2009)
> http://www.facebook.com/note.php?note_id=87717184032&ref=mf
>
> *Dunia kita adalah taman, wanita adalah bunga-bunganya. Yang terbaik
> adalah yang baik niat, pikiran, perbuatannya serta bermanfaat bagi kehidupan
> ini. Sungguh, tiap wanita dapat menjadi bunga harum dalam aroma pilihan-nya
> masing-masing...
>
> ....Kartini, ibu yang namanya kita peringati hari ini telah menjadi
> inspirasi semua wanita. Beliau menghadiahkan kisah dirinya sebagai bunga
> yang sangat harum bagi ibu pertiwi kita.*
>
> Dalam akar budaya bangsa kita. Ragam bunga itu tergambar jelas dalam kisah
> etis tradisional. Sebatas ingatan saya yang sewaktu kecil sepekan sekali
> nonton wayang orang bersama akung. Sosok wanita, hadir dalam ragam perannya
> serta hikmah dibaliknya. Dimana jika sosok-sosok itu diajak ke dalam
> kehidupan sekarang, wuuiiihh... beberapa variasi kepribadiannya nyata
> relevansinya!
>
> *1. Wanita Karir dan/ atau Ibu Rumah Tangga*
> Dua sosok paling dikenal khalayak: Sumbadra dan Srikandi. Lakon seorang
> wanita yang anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada suaminya laiknya
> Sumbadra. Sebaliknya ada sosok wanita aktif yang dialogis, cendekia,
> berkemauan kuat, sosial, dan gemar berburu, pemanah hebat, dan siap berdebat
> intelek dan bertarung di medan pertempuran seperti Srikandi. Keduanya tidak
> berada dalam posisi yang diametrikal dalam kehidupan. Keduanya dihargai
> dalam potensinya masing-masing.
>
> *2. Wanita Gembong Kriminalis*
> Tak selamanya wanita bersentuhan dengan keharuman, kadang ia lebih busuk
> dari bau bangkai. Batari Durga adalah representasi wanita semacam itu. Ia
> bukan kriminalis biasa yang menipu anak-anak kecil dengan permen. Ia adalah
> gembong kekerasan yang amat sadis. Dia memegang kekuasaan dan kontrol para
> mafia dari berbagai macam jenjangnya dan distrik. Dalam lakon-lakon selalu
> hadir sebagai aktor yang berstrategi melawan dan menghancurkan Pandawa.
> Bahkan suaminya sendiri Batara Guru, tidak dapat membendungnya. Ia hanya
> takut dengan Semar, seorang sosok spiritual.
>
> Dalam epik realita, wanita yang jahat memang tidak dapat dibendung oleh
> siapapun. Dalam kontras kisah kenabian juga Nabi Nuh tidak bisa membendung
> upaya istrinya untuk memobilisir massa agar tidak percaya seruan suami-nya.
>
> *3. Wanita Angkuh dan Komprador*
> Banowati putri termuda dari Prabu Salya dan permaisuri Suyudana di
> Ngastina. Pembawaannya yang angkuh, dalam wayang ditandai dengan hidungnya
> yang mendongak dan senyumnya yang sinis. Banowati pula yang merajut hubungan
> gelap dengan Arjuna dan membocorkan rahasia militer negara Ngastina pada
> musuh-musuhnya. Banowati mendukung Pandawa di satu sisi, namun mengkhianati
> Arjuna dan Pandawa, suaminya di sisi yang lain.
>
> Tentu saja keangkuhan bukan monopoli kaum borjuis, pemegang modal saja.
> Namun juga mereka yang tidak pernah tersentuh pusaran modal, kaum paria dan
> sudra pun, dalam kehidupan nyata kita banyak wanita sombong dan pengkhianat
> bagi cita-cita bersama.
>
> *4. Wanita Pelayan Rumah Tangga yang Genit*
> Ada pula tokoh wanita bernama Cangik seorang pembantu rumah tangga. Ceria
> sekali, teringat TKW yang sosoknya humoris dan kesayangan negara karena
> mereka "pahwalan devisa". Cangik punya penampilan standard kelas bawah,
> namun sikapnya yang mudah tersipu dan genit, memang membuat penonton
> menyenanginya. Biasanya hadir dengan suara tinggi, melengking, dan bersiul,
> karena giginya ompong.
>
> Dalam sudut positifnya, bangsa ini punya sekian banyak wanita, dengan
> segala keterbatasannya, dan ketidakadilan yang diterimanya di Luar Negeri,
> namun sikapnya tetap cheerful dan menyenangkan bagi keluarga dan tetangga di
> kampungnya. Selalu bawa oleh-oleh, dan sebagainya. Hanya saja memang
> wanita-wanita semacam Cangik ini perlu mendapatkan perhatian ekstra.
>
> *5. Wanita Idaman Pemicu Konflik*
> Dalam kisah wayang juga kita temui sosok Satyawati. Ia gadis cantik
> sekaligus putri seorang preman besar yang bengis hati, bernama Begawan
> Bagaspati tengah menjalin cinta dengan Salya muda, seorang parlente berdarah
> biru.
>
> Masalah muncul ketika Salya merasa tak layak bagi seorang priyayi keturunan
> ningrat menikahi putri penguasa "hitam", maka Bagaspati meminta Salya
> membunuh dirinya. Setelah hidup dengan kebengisan, lalu ia mati dengan
> mewarisi perilaku kebengisan putri nya yang membiarkan calon mantu-nya
> melakukan kebengisan puncak terhadap bapak kandungnya. Atas nama cinta.
>
> Dalam realita gambaran masyarakat, lakon ini dilihat dalam ambiguitas
> moral, sebab adapula wanita-wanita yang melihatnya sebagai "kecintaan puncak
> seorang ayah terhadap putri-nya", "happy ending untuk sang wanita", dan
> seterusnya. Demikianlah ambiguitas hadir bersama cinta yang bertaring.
>
> Lakon pembunuhan memang kerap hadir di kehidupan kita antar pria, dimana
> sebenarnya mereka dapat berhenti dengan instruksi lembut wanita untuk
> berhenti. Namun, kerap lakon konflik terjadi berkelanjutan dalam kehidupan
> kita, karena wanita tidak sadar akan kemampuannya untuk menghentikan konflik
> ada pada dirinya.
>
> Sebagaimana sejarah Maluku yang mengatakan itu, konflik tidak berhenti
> karena wanita nya membiarkan libido pria untuk membunuh terus berlanjut.
> Pembunuhan terjadi, lalu wanita yang menangis lebih keras, dan itu membuat
> pria berlatih lebih keras untuk mencari sarung manusia bagi pedang mereka
> yang terhunus dan mendendam.
>
> *Berpikir Positif*
> Itulah ragam realita kehidupan kita, wanita seperti juga pria, memiliki
> potensi kebaikan sama besarnya dengan potensi keburukan.
>
> Seperti potensi negatif yang membuat malaikat sangat ragu terhadap manusia,
> ketika awal Tuhan menciptakan manusia, "kenapa Engkau jadikan makhluk
> penumpah darah dan pembuat kerusakan ini pengelola bumi". Namun, tentu saja
> Tuhan Maha Mengetahui sehingga kita percaya kita pun juga diciptakan dengan
> potensi positif.
>
> Meski kita juga tau, bahwa selain potensi merusak dan penumpah darah,
> manusia juga karena 'akal nya punya potensi sebagai "Seniman Alasan". Ketika
> dikatakan "kamu merusak", akan sangat mudah mencari alasan untuk mendukung
> argumen "Sesungguhnya saya membuat perbaikan". Manusia oh, manusia.
>
> Semoga saja wanita dapat mengawali arus besar tabiat kebaikan tersebut,
> sebagai bunga kebaikan yang harum, senyawa kehidupan, dan sekolah peradaban
> bagi anak bangsa kita.
>
>
> *Arya Sandhiyudha*
>
>
>
>  
>



-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke