By Republika Newsroom
Jumat, 01 Mei 2009 
JAKARTA - Industri asuransi syariah
sepertinya harus terus bekerja keras dalam memperkenalkan asuransi syariah,
baik produk maupun mekanismenya pada masyarakat. Pasalnya berdasar riset yang
dilakukan Synovate sebanyak 25 persen nasabah tak mengetahui tentang mekanisme
atau produk asuransi syariah. Sementara 13 persen karena tak memiliki uang,
kondisi keuangan ketat (12 persen), tidak tertarik (7 persen), kurang memiliki
daya beli dan tak mengetahui tentang asuransi (12 persen), serta beragam faktor
lainnya seperti merasa tak memerlukannya, sedikitnya pengetahuan tentang
asuransi jiwa syariah dan konvensional.

"Untuk itu yang harus dilakukan asuransi syariah agar dapat menuju next
level adalah dengan menyakinkan masyarakat sistem syariah ini bisa menjadi
solusi bagi publik," kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia,
Mohammad Shaifie Zein. Hal yang menjadi tantangan dalam mendorong asuransi
syariah menuju tahap selanjutnya, lanjut dia, adalah mengubah paradigma mindset
konvensional baik para shareholder, investor, regulator, dan manajemen.

Selain itu juga diperlukan komitmen luas mengenai shariah compliance dan
edukasi pengembangan produk. "Untuk membuat asuransi syariah menjadi
sesuatu yang dibutuhkan, setidaknya produk diimagekan sebagai suatu kebutuhan,
bukan sebagai sesuatu yang hanya dijajakan," ujar Shaifie.

Menurut dia, masyarakat sebenarnya tertarik dengan asuransi syariah, namun
belum mengetahui seperti apa mekanisme takaful secara menyeluruh. Karena itu
sosialisasi dan komunikasi perlu terus menerus dilakukan. Bersama dengan
Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia dan Bank Indonesia,
pihaknya melakukan sosialisasi untuk menawarkan pada masyarakat bahwa terdapat
alternatif pengelolaan risiko untuk asuransi. gie/kpo
 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke