Kekritisan Prasetyantoko
Oleh : Maria Hartiningsih & Orin Basuki
Banyak temannya bertanya mengapa ia mau berbicara di forum
organisasi nonpemerintah yang anti-Bank Pembangunan Asia atau ADB. Dr A
Prasetyantoko (35) menjawab, ”Saya setuju dengan misi teman-teman yang
anti-ADB karena ’software’ ADB adalah ’software’ institusi keuangan
pada umumnya yang basisnya proyek.”
”Kalau kita mau melakukan counter terhadap lembaga keuangan
multilateral, seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia,
peran ADB penting karena bisa menyatukan regional kita,” kata
Prasetyantoko yang ditemui di Bali dan Jakarta, pekan lalu.
”Dilemanya, justru ADB adalah bagian dari mereka. Jadi, kenapa
mereka ngotot menyalurkan uang, ya karena ini bisnis mereka, seperti
Bank Dunia dan IMF juga.”
Bank regional, seperti ADB, diibaratkan komputer. ”Kita membutuhkan komputer,
software-nya harus diganti,” lanjut dia.
Karena itu, reformasi ADB merupakan agenda mendesak. Cuma, seperti
dikatakannya, ”Kalau melihat konstelasi sekarang, reformasi dari dalam
tak akan mungkin.”
Bank regional seperti apa yang dibutuhkan?
Institusi keuangan regional, tetapi dengan cara pandang yang sama
sekali lain. Amerika Latin punya bank regional, Banco del Sur, Bank
dari Selatan, diluncurkan tahun 2006, sebagai tandingan dari IMF dan
Bank Dunia.
Bank itu akan bertahan di tengah arus besar saat ini, dengan syarat,
negara-negara yang mendukung keberadaan bank itu punya standpoint sama.
Standpoint negara-negara Amerika Latin terhadap AS dan lembaga-lembaga
keuangan multilateral sangat jelas. Prasyarat itu tampaknya tak ada di
sini. Tidak ada kepemimpinan politik di Asia.
Sangat berisiko
Menurut Prasetyantoko, kesepakatan ADB yang diambil di Bali
mengandung risiko luar biasa karena seluruh pembicaraan intinya
stimulus. Ada program countercyclical support fund, trade financing,
dan peningkatan pinjaman utang. Artinya, akan semakin banyak uang
menggelontor di pasar Asia. Dengan begitu, diandaikan ekonomi akan
pulih.
”ADB terjebak pada agenda Amerika yang mengandaikan ekonomi akan
pulih dengan memperbesar stimulus. Yang pulih mereka. Kita masuk ke
jebakan berikutnya. Yang paling berbahaya adalah jebakan surat utang,”
kata dia.
Bisa dijelaskan?
Saat ini stimulus-stimulus dianggap sebagai jalan keluar. Risikonya,
APBN semua negara akan mengalami defisit fiskal. Untuk menutupnya yang
paling mungkin dari state bond. Surat utang negara. Kalau semua itu
keluar di pasar, pasarnya crowded. Kalau crowded, yang paling menderita
adalah negara-negara yang country risk-nya tinggi.
Dalam peta pasar surat utang global, country risk di kawasan Asia
mempunyai tingkat risiko relatif tinggi. Indonesia bersama Vietnam dan
Filipina termasuk yang paling tinggi. Salah satu sebabnya karena
tingkat inflasinya tinggi. Kalau terjadi gejolak di bond market, kita
akan menjadi korban pertama. Dampak konkretnya, akan ada pelarian modal
asing dari instrumen obligasi kita ke luar negeri sehingga rupiah
tertekan. Untuk mempertahankan agar investor masih tertarik, suku bunga
harus dinaikkan. Berarti beban pada anggaran akan meningkat.
Rasio (total) utang kita memang hanya 30 persen dari produk domestik
bruto (PDB), sementara negara maju, seperti AS, rasio utangnya 90-an
persen terhadap PDB, tetapi country risk mereka rendah. Dalam kondisi
krisis saja masih ada investasi masuk, sementara kita dalam kondisi
baik pun suku bunga obligasinya tetap tinggi. Ini menunjukkan investor
yang memegang surat utang kita harus dikasih kompensasi besar sekali,
sementara di AS hanya 2 persen.
Jangan terbuai
Rasio utang luar negeri Indonesia sekarang yang di bawah 20 persen
dari PDB, sementara total utang (termasuk utang dalam negeri) sekitar
30 persen PDB, menurut Prasetyantoko, ”Secara teoretis angka ini
dianggap dalam ’batas aman’. Karena itu, pemerintah merasa bisa dengan
leluasa memperbesar jumlah utang, baik lewat mekanisme bilateral maupun
penerbitan obligasi dan surat utang negara yang bunganya sangat tinggi.”
Tetapi, diingatkan, jika terjadi gejolak dan krisis, perilaku aktor
ekonomi tidak rasional lagi. Mereka akan berspekulasi, baik untuk
mendapatkan keuntungan maupun untuk menyelamatkan diri. Salah satu yang
berpotensi akan menjadi ajang spekulasi adalah pasar surat utang (bond
market).
”ADB meyakini, kawasan Asia saat ini merupakan kawasan yang aman
dari spekulasi pasar surat utang. Karena itu, salah satu hasil dari
pertemuan ADB kemarin adalah meningkatkan Asian Bond Market Initiatives
(ABMI), dan ADB menjadi penjamin penerbitan obligasi,” lanjut dia.
Kondisi terburuk apa yang mungkin terjadi pada perekonomian kita
akibat krisis global dan langkah apa yang perlu dilakukan agar itu tak
terjadi?
Global bubble bond adalah kondisi terburuk. Kita harus
menghindarinya agar tak masuk ke jebakan surat utang. Strategi keluar
dari krisis dengan mengandalkan utang dan menerbitkan surat utang itu
ibarat keluar dari mulut macan masuk ke mulut buaya.
Inisiatif ADB memperbesar surat utang harus dikaji agar jangan
sampai menimbulkan gelembung surat utang di kawasan Asia. Kalau itu
terjadi, krisis finansial berikutnya kemungkinan akan berpusat di Asia.
Kalau krisis 2007/2008 yang kolaps adalah neraca bank dan perusahaan
investasi, bisa jadi pada krisis berikut yang kolaps adalah neraca
pemerintah karena terlalu terbebani surat utang akibat defisit anggaran
yang digunakan untuk stimulus fiskal.
Jadi, jangan terbuai pada pernyataan bahwa kita ”baik- baik” saja
dan paling mild terkena dampak krisis. Singapura akan minus 10 persen
tahun ini, kita masih tumbuh 3 persen, bahkan mungkin 4 persen. Tetapi,
persis itu yang menunjukkan negara kita tak terlalu terpapar oleh
dinamika global. Ekspor kita kecil, sektor pasar uang kita juga belum
berkembang baik. Tetapi, ke depan kita bisa menghadapi risiko paling
tinggi di antara negara-negara Asia lain. Teknokrat Indonesia
seharusnya menyadari kondisi ini.
Kembali ke prinsip dasar
”Saya menganut pendekatan ekonomi heterodoks atau mengambil sikap
kritis terhadap pandangan ortodoksi dalam ilmu ekonomi yang sangat
mekanistis,” ujar Prasetyantoko.
Pandangan ortodoks meyakini pasar adalah cara paling efisien untuk
mengalokasikan sumber daya, dan sumber daya kapital diyakini bersifat
netral. ”Terhadap dua prinsip dasar ini, saya sangat kritis. Dari
situlah asal-muasal kenapa krisis selalu terjadi, hanya berpindah
tempat dari satu kawasan ke kawasan lain, dari satu pemicu ke pemicu
lainnya….”
Bagaimana agar krisis tak selalu berulang?
Yang diperlukan, perubahan paradigma. Pertanyaan mendasarnya,
mengapa krisis selalu balik lagi. Ada dua agenda yang muncul di sidang
G-20. Agenda AS mengatakan, obatnya stimulus. Agenda Eropa mengatakan,
problemnya adalah regulasi sektor finansial. ADB bahkan tidak berbicara
sedikit pun soal regulasi sektor finansial.
Kita masuk di jebakan pertama. Teknokrat Indonesia adalah bagian
dari cara pandang lembaga multilateral seperti ADB. Mereka meyakini,
satu-satunya cara menggerakkan ekonomi adalah dengan menyuntik modal.
Jadi, mereka sudah merasa melakukan yang terbaik ketika bisa menambah
dana stimulus, bisa memberi cash transfer kepada orang miskin (dalam
bentuk bantuan langsung tunai/BLT). Mereka tidak bergerak dari pakem
ini.
Padahal, yang dibutuhkan tak selalu uang. Kemiskinan sebenarnya bisa
diselesaikan dengan sumber daya lokal, salah satunya mengandalkan
ikatan sosial di antara mereka. Para ahli ilmu sosial mengatakan,
penetrasi kapital justru merusak ikatan sosial mereka. Contoh paling
jelas, orang sampai meninggal karena desak-desakan hanya untuk dapat Rp
20.000. Tetapi, para teknokrat tak bisa melihat itu sebagai realitas.
Bagi mereka, kemiskinan adalah persoalan kapital, maka pengentasan
masyarakat dari kemiskinan adalah tambahan modal untuk
”program-program” pengentasan masyarakat dari kemiskinan, yang akhirnya
jatuh pada ”proyek-proyek”.
ADB (bersama Bank Dunia) adalah salah satu lembaga yang katanya
punya perhatian pada masalah kemiskinan dan ketimpangan. Kenyataannya,
masalah kemiskinan dan ketimpangan lebih parah meski dalam skala kecil.
Secara keseluruhan (agregat) memang angka kemiskinan menurun, tetapi
sejumlah kecil yang kemiskinannya tambah parah dianggap sebagai
”residu” atau risiko alamiah. IMF lebih parah lagi. Lembaga itu
didirikan untuk mencegah krisis, tetapi secara keseluruhan pola
kebijakannya justru bersifat pro-siklus, artinya mendorong risiko
krisis menjadi semakin besar.
Apa solusi yang Anda tawarkan?
Kembali ke prinsip dasar ekonomi, yang namanya ekonomi adalah proses
produksi menghasilkan barang dan jasa guna menyejahterakan semakin
banyak orang, bukan spekulasi sektor finansial, pasar uang, pasar
utang, dan pasar saham. Sektor finansial harus dikembalikan pada fungsi
dasarnya, yaitu menopang usaha ekonomi produktif, bukan memodifikasi
diri menjadi instrumen canggih atau produk derivatif yang pada akhirnya
penuh dengan spekulasi dan manipulasi.[] Kompas, 10/05/2009
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/