Sebuah pantikan diskusi yang bagus. Semoga ada (banyak) yang menanggapi, 
memberikan tambahan, sanggahan, rekomendasi, atau setidaknya (akan) bertanya, 
separti saya ini.

Jujur saya merasa kurang paham, hehe. Afwan, saya kurang belajar. Saya nanya 
aja, tolong dijelasin, apa yang dimaksud dengan riba jenis zero sum game. Oke?

Jazakumullahu khairan katsiiran.

_________________________________
ADITYA RANGGA YOGA :)
Presidium Nasional 4 FoSSEI
+62 813 2888 5856
[email protected]
Shariah Economics Forum (SEF)
UNIVERSITAS GADJAH MADA


--- On Sat, 9/12/09, Muflikha Zahra D.H <[email protected]> wrote:

From: Muflikha Zahra D.H <[email protected]>
Subject: {FoSSEI} Kenapa Bank Indonesia Meluncurkan Uang Baru. ???
To: "FOSSEI NASIONAL" <[email protected]>, "MES MILIS" 
<[email protected]>
Date: Saturday, September 12, 2009, 7:14 PM






 




    
                  Depok, 03 Agustus 2009

            Apa Arti Peredaran Uang Rp 2000? 

                        Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia

            
            Bank Indonesia meluncurkan uang baru. 


Dewasa
ini, bila anda berkendaraan melalui jalan tol, anda akan jarang
menerima uang kembalian berupa lembaran Rp 1.000,-. Kasir pintu tol
justru mengembalikan sisa tol dengan koin Rp 500,- aluminium. Memang
sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas (UK)
baru, pecahan Rp 2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas Rp
1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,-
yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit
(1993 - 2000). Lalu apa arti perubahan ini?

Ya, tentu saja, dengan terbitnya pecahan Rp 2000, berarti
pemangkasan harta atau aset kita dalam mata uang rupiah, menjadi
separuh dari daya belinya semula, yang disebut inflasi rupiah! Anda
yang tadinya cukup nyaman dengan penghasilan, katakanlah Rp 2
juta/bulan, kini dengan adanya pemangkasan tadi, anda harus menambah
penghasilan dua kali lipatnya! Artinya selepas Idul Fitri 1430 H nanti,
penghasilan anda harus naik menjadi Rp 4 juta atau sekurangnya Rp 3
juta / bulan bila ingin tetap nyaman seperti hari ini (Juli 2009).

Lalu bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang penghasilannya kurang dari Rp 1 
juta sebulan ? Ya, semakin blangsak

Berdasarkan sejarah, ketika era Soeharto dulu, uang kertas tertinggi
sejak tahun 1968-1991 adalah Rp 10.000,-. Lalu dengan alasan defisit
APBN, diedarkanlah uang lembaran Rp 20.000,- seri Cengkeh/Cenderawasi h,
tahun 1992. Karena nominal "aneh" ini sukses beredar, maka tak lama
kemudian muncul nominal lebih tinggi lagi yaitu Rp 50.000,- bergambar
Pak Harto (1993). Dan tidaklah mustahil, bila uang kertas Rp 2.000,-
baru ini sukses beredar, maka Bank Indonesia akan menerbitkan uang
kertas dengan nominal baru lainnya, misalnya: Rp 200.000,-; Rp
500.000,-, bahkan Rp 1 juta!

Sebab hal itu memang lazim dilakukan oleh Bank Sentral di negara
berkembang. Karena ciri khas mata uang negara maju, nominal angkanya
hanya tiga digit saja, seperti USA $100, Arab Saudi 200 riyal, Eropa
500 euro, Inggris 100 poundsterling; kecuali Jepang dan Korea Selatan
dengan 10.000 yen dan 10.000 won, sebagai sisa sebuah trauma ekonomi
pasca Perang Dunia II.

Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh
terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,-
akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim
terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,-
lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,-
lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995.
Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya
belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan
dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka.

Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga
Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun
1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari
Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari
sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli
telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam
negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal
menunggu waktu saja.

Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang 
kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game!
Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit
dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya.>

Muflikha “ZAHRA” Dwi Hartanti  ForSEI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  Mobile : 
085292747168  Email   : zahra_...@yahoo. co.id  SEMANGAT!!!  PRIBADI 
TANGGUH,.PANTANG MENGELUH!!!  ALLAHU AKBAR!!!  

        Akses email lebih cepat. 
 Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang 
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke