hhmm... kalo menurut saya memang tidak boleh di kultuskan seperti
macam kita menganggap tanggal 22 desember itu hari ibu
tak ada hadist yang menerangkan bukan bahwa tgl 22 desember itu hari ibu...?
namun sebagai peringatan aja kepada kita, soalnya kita seringan lupa kalo
enggak diingetin.. tul gak?
jadi itu sebatas moment ajah.... dan jangan menjadi suatu keharusan juga
(apalagi sampe menjadikan ibadah yang wajib dijalankan)
so.. kalo saya berpendapat ya... boleh2 ajah.. layaknya seperti peringatan
maulid nabi, tahun baru Islam, dll yang emang enggak ada tuntunannya dalam
Islam, tapi sebagai sarana syi'ar,,
lagian enggak ada salahnya khan mengusap anak yatim terus kasih duit bangsa
sepuluh dua pulu ribu (hihi.. soalnya saya dulu juga pernah digituin..)
mereka pasti seneng banget digituin... (perngalaman)


Farizal
(yang pernah diusap2 dan dikasih duit pas hari asyurra)

Pada 6 Januari 2010 16:24, risnandar <[email protected]> menulis:

>
>
>
> Assalam alaikum wr wb
>
> Saat memforward email "Menyantni Anak Yatim", saya mendapatkan respon
> berikut dari salah seorang penerima email.
>
> Saya rasa email balasan tersebut di bawah ini signifikan.
>
> Mohon maaf jika tidak berkenan
>
>
> Salam hangat,
>
> Risnandar
>
>
>
> --- Pada *Rab, 6/1/10, Akmal Burhanuddin 
> <[email protected]>*menulis:
>
>
> Dari: Akmal Burhanuddin <[email protected]>
> Judul: hari anak Yatim????
>
> Tanggal: Rabu, 6 Januari, 2010, 12:24 AM
>
> Darimanakah Pandangan Asyuro Hari kemerdekaan kaum lemah/Dhuafa???
>
> Saya agak sedikit mengernyitkan kening pada saat membaca artikel dari Mas
> Iwan Zarkasyi yang mengaitkan hari asyura dengan kemerdekaan kaum lemah.
>
> Saya sangat setuju dengan memuliakan anak yatimnya, namun tidak setuju
> dengan mengaitkan hari asyura dengan hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa.
>
> karena pemahaman kemerdekaan kaum lemah/dhuafa pada hari asyura terkait
> dengan peristiwa karbala. dalam hadis tidak pernah disebutkan hari asyura
> sebagai hari kemerdekaan kaum lemah dan tidak ada korelasinya dengan hadis2
> asyura
>
>
> Menyantuni Anak Yatim
>
> By Iwan Zarkasyi
> Senin, 21 Desember 2009
> Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan
> umatnya untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang
> dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah' '
> (Muttafaq 'alaih). Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai
> wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak
> yatim. Karena itu, dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula
> disebut sebagai hari raya anak yatim.
>
>
>
> *Pendapat Saya:*
> *
>
> Asyuro' dalam ajaran Islam
>
> Harus Menyalahi Ahli Kitab
>
> Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ya
> Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi
> dan Nasrani", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun
> depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (HR.
> Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).
>
>
>
> Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda
> Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: "Berpuasalah pada hari Asyura' dan
> selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau
> sehari sesudahnya."
>
> (Fathul Bari, 4/245)..
>
>
>
> Imam Syafi'i juga meriwayatkan hadits di atas, makanya beliau di dalam
> kitab Al-Um dan Al-Imla' menyatakan kesunnahan puasa tiga kali tanggal 8, 9
> dan 10 Muharram. (Al-Ibda', Ali Mahfudz hal. 149, Fathul Bari 4/246).
>
>
>
> Keutamaan Asyura'
>
> Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura', maka
> beliau menjawab: "Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim (1162),
> Ahmad 5/296, 297).
>
> Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan: "Saya tidak pernah melihat
> Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena
> ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu
> bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)." (HR. Al-Bukhari (2006),
> Muslim (1132)).
>
>
>
> Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Puasa yang paling utama
> setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR.
> Muslim,1163).
> *
>
>
>
> *B. Bid'ah-bid'ah Asyura'*
>
> *10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah Al-Husen bin Ali
> (ra) di padang Karbala. Karena peristiwa **berdarah ini, setan berhasil
> menciptakan dua kebid'ahan sekaligus.*
>
> **
>
> *Pertama : Bid'ah Syi'ah*
>
> *Asyura' dijadikan oleh Syi'ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan
> menyiksa diri sebagai ungkapan dari kesedihan **dan penyesalan. Pada
> setiap Asyura', mereka memperingati kematian Al-Husen dan melakukan
> perbuatan-perbuatan*
>
> *yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Al-Husen secara
> histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk **pawai berkeliling di
> jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai
> besi, melukai kepala*
>
> *dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (At-Tasyayyu'
> Wasy-Syi'ah, Ahmad Al-Kisrawiy Asy-Syi'iy, hal. **141, Tahqiq Dr. Nasyir
> Al-Qifari).*
>
> **
>
> *Kedua : Bid'ah Jahalatu Ahlissunnah*
>
> *Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas,
> orang Ahlussunnah yang jahil (Bodoh) **menjadikan hari Asyura' sebagai
> hari raya, pesta dan serba ria. Menurut Ahmad Al-Kisrawi Asy-Syi'iy: "Dua
> budaya **(bid'ah) yang sangat kontras ini, menurut literatur yang ada
> bermula pada jaman dinasti Buwaihi (321H - 447 H.) yang **mana masa itu
> terkenal dengan tajamnya pertentangan antara Ahlus-sunnah dan Syi'ah.
> Orang-orang jahalatu (bodoh)*
>
> **
>
> *Ahlussunnah menjadikan Asyura' sebagai hari raya dan hari bahagia
> sementara orang-orang Syi'ah menjadikannya **sebagai hari duka cita,
> mereka berkumpul membacakan syair-syair haru kemudian menangis dan
> menjerit." (At-**Tasyayyu' Wasy-Syi'ah hal.142) Sementara Syekh Ali
> Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah ada kelompok Syi'ah yang*
>
> *sampai ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Al-Husen (ra) yang dipelopori
> oleh Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi **(tahun 67 H dibunuh oleh
> Mush'ab bin Az-Zubair) dan ada kelompok Nashibah (yang anti Ali beserta
> keturunannya), **yang diantaranya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.
> Dan telah disebut di dalam hadits shahih. Sesungguhnya **(akan muncul) di
> Tsaqif (kepala suku dari Hawazin) seorang pendusta dan pembantai." Pendusta
> tadi adalah Al-Mukhtar **yang memperselisihkan keimamahan Ibnul Hanafiyah,
> dan pembantai tadi adalah Al-Hajjaj yang membenci Alawiyyin,*
>
> *maka yang Syi'ah tadi menciptakan bid'ah duka cita sementara yang
> Nashibah menciptakan bid'ah bersuka ria. (Al-Ibda' **hal. 150)*
>
> *Bid'ah-bid'ah tersebut berbentuk :*
>
> **
>
> *1. Menambah belanja dapur.*
>
> *Banyak riwayat yang mengatakan: "Barangsiapa yang meluaskan (nafkah)
> kepada keluarganya pada hari Asyura',*
>
> *maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu." (HR.
> At-Thabraniy, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr). Asy-**Syabaniy berkata:
> semua jalurnya lemah, Al-Iraqi berkata: sebagian jalur dari Abu Hurairah
> dishahihkan oleh Al-Hafidz*
>
> *Ibnu Nashir, jadi menurutnya ini hadits hasan, sedangkan Ibnul Jauzi
> menulisnya di dalam kumpulan hadits palsu. **(Tamyizuth-Thayyib minal
> Khabits, no. 1472, Tanbihul Ghafilin, 1/367). Sementara itu imam As-Suyuthi
> dengan tegas **mengatakan: "Telah diriwayatkan tentang keutamaan meluaskan
> nafkah sebuah hadits dhaif, bisa jadi sebabnya adalah **ghuluw di dalam
> mengagungkan-nya, dari sebagian segi untuk menandingi orang-orang Rafidhah
> (Syi'ah) karena syetan **sangat berambisi untuk memalingkan manusia dari
> jalan lurus. Ia tidak peduli ke arah mana -dari dua arah- mereka akan 
> **berpaling,
> maka hendaklah para pelaku bid'ah menghindari bid'ah-bid'ah sama sekali."
> (Al-Amru Bil Ittiba', hal.88-89)*
>
> **
>
> *Imam Ahmad mengatakan ketika ditanya: "Hadits ini tidak ada asalnya, ia
> tidak bersanad kecuali apa yang diriwayatkan **oleh Ibnu Uyainah dari
> Ibnul Muntasyir, sementara ia adalah orang Kufah, ia meriwayatkan dari
> seorang yang tidak*
>
> *dikenal." (Al-Ibda', Ali Mahfudz, 150)*
>
> **
>
> *2. Memakai celak (sifat mata)*
>
> **
>
> *3. Mandi.*
>
> *Mereka meriwayatkan sebuah hadits: "Barangsiapa yang memakai celak pada
> hari Asyura', maka ia tidak akan **mengalami sakit mata pada tahun itu.
> Dan barangsiapa mandi pada hari Asyura', ia tidak akan sakit selama tahun
> itu."*
>
> *(Hadits ini palsu menurut As-Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim)
> (Al-Ibda', hal. 150-151)*
>
> **
>
> *4. Mewarnai kuku*
>
> **
>
> *5. Bersalam-salaman. Imam As-Suyuthi mengatakan: " Semua perkara ini
> (no.2-5) adalah bid'ah munkarah, dasarnya*
>
> *adalah hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
> (Al-Amru bil Ittiba' , hal.88)*
>
> **
>
> *6. Mengusap-usap kepala anak yatim.*
>
> **
>
> *7. Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura'. Mereka tidak
> segan-segan membuat hadits palsu dengan sanad **dari Ibnu Abbas yang mirip
> dengan haditsnya orang Syi'ah yang berbunyi: "Barangsiapa berpuasa pada hari
> Asyura' dari*
>
> *bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat,
> sepuluh ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu **orang mati syahid. Dan
> barangsiapa memberi buka seorang mukmin pada malam Asyura', maka seakan-akan
> seluruh*
>
> *umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berbuka di rumahnya sampai
> kenyang." (Hadits palsu dinyatakan oleh*
>
> *imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, no. 34, lihat Tanbihul Ghafilin,
> 1/366).*
>
> **
>
> *8. Membaca do'a Asyura' seperti yang tercantum dalam kumpulan do'a dan
> Majmu' Syarif yang berisi minta panjang **umur, kehidupan yang baik dan
> khusnul khotimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca do'a
> **Asyura' tidak akan meninggal pada tahun tersebut adalah bid'ah yang
> jahat. (As-Sunan wal Mubtada'at, Muhammad Asy-**Syuqairi, hal.134).*
>
> **
>
> *9. Membaca "Hasbiyallah wani'mal wakil" pada air kembang untuk obat dari
> berbagai penyakit adalah bid'ah*
>
> **
>
> *10. Shalat Asyura'.. Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh
> As-Suyuthi di dalam Al-La'ali Al-Mashnu'ah*
>
> *(As-Sunan wal Mubtada'at, 134).*
>
> **
>
> *C. Asyuro dalam Tradisi dan Kultur Kejawen*
>
> *Bulan Suro banyak diwarnai oleh orang Jawa dengan berbagai mitos dan
> khurafat, antara lain: Keyakinan bahwa bulan **Suro adalah bulan keramat
> yang tidak boleh dibuat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan
> pernikahan dan **lain-lain yang ada hanya ritual. Ternyata kalau kita
> renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh orang Jawa di **dalam
> bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi'ah dan animisme, dinamisme dan
> Arab jahiliyah. Dulu, orang Quraisy **jahiliyah pada setiap Asyura' selalu
> mengganti Kiswah Ka'bah (kain pembungkus Ka'bah) (Fathul Bari, 4/246). Kini,
> *
>
> *orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus. Alangkah miripnya hari
> ini dan kemarin.*
>
> **
>
> *Di dalam Islam, Asyura' tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri
> (Syi'ah), tidak diisi dengan pesta dan berhias **diri (Jahalatu
> Ahlissunnah) dan tidak diisi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau
> yang dianggap suci untuk tolak **bala' (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan
> berkumpul-kumpul. Namun yang ada hanyalah puasa Asyura' dengan satu **hari
> sebelumnya atau juga dengan sehari sesudahnya. Waallahu-a'lam. ( Abu Hamzah
> A. Hasan Bashori)*
>
> **
>
> *Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu berkata: Jika kamu berpuasa,
> hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, **penglihatanmu dan lisanmu dari
> dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu
> senantiasa*
>
> *bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari
> berbukamu sama dengan hari kamu **berpuasa."*
>
> **
>
> *Wallahu A'lam*
>
>
>
> Menyantuni Anak Yatim
>
> By Iwan Zarkasyi
> Senin, 21 Desember 2009
> Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan
> umatnya untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang
> dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah' '
> (Muttafaq 'alaih). Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai
> wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak
> yatim. Karena itu, dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula
> disebut sebagai hari raya anak yatim.
>
> Kata yatim berasal dari bahasa Arab berupa fail pelaku, berbentuk tunggal
> dengan jamaknya yatama atau aitam yang berarti anak (laki/perempuan) yang
> belum dewasa dan orangtuanya telah meninggal dunia. Karena ketidakmampuan
> mereka secara fisik dan sosial inilah maka umat Islam sangat dianjurkan
> untuk menyantuni dan memberdayakan mereka agar kelak mampu dalam menghadapi
> kehidupan dunia ini.
>
> Menyantuni dan memberdayakan mereka ini penting karena Alquran sendiri
> mengingatkan hal tersebut sebanyak 22 kali, antara lain, pada surah Al
> Baqarah (2) ayat 83, 177, 215, 220, An Nisaa' (4) ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36,
> dan 127, Al An'aam (6) ayat 152. Program ini, bagi umat Islam secara
> keseluruhan adalah wajib, dan bukan terbatas pada hal-hal yang bersifat
> fisik, seperti harta, tetapi secara umum juga mencakup hal-hal yang bersifat
> psikis (QS 93:9 dan 107:2). Sedangkan anjuran membela dan menyantuni anak
> yatim tampak lewat berbagai hadis Rasulullah saw. ''Sering-seringlah
> mengusap kepala anak yatim,'' kata Nabi yang dijadikan yatim oleh Allah SWT.
> ''Hiasilah rumahmu dengan (memelihara) anak yatim.''
>
> Dalam menyantuni anak yatim, terutama mereka yang memiliki harta haruslah
> dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Sesungguhnya orang-orang yang
> memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api
> sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala
> (neraka) (QS An Nisaa': 10). Juga, Dan janganlah kamu dekati harta anak
> yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa
> ... (QS Al An'aam: 152).
>
> Kendati demikian Alquran juga membolehkan wali miskin memakan harta anak
> yatim dan tidak membolehkan wali kaya memakannya (QS An Nisaa: 6). Adapun
> dalam sebuah hadis, Rasulullah saw menjelaskan masalah ini. Pada suatu hari
> datang seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: ''Ya, Rasulullah, aku
> ini orang miskin, tapi aku memelihara anak yatim dan hartanya, bolehkah aku
> makan dari harta anak yatim itu?'' Rasulullah saw menjawab, ''Makanlah dari
> harta anak yatim sekadar kewajaran, jangan berlebih-lebihan, jangan
> memubazirkan, jangan hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu,'' (HR
> Abu Dawud, an Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin
> Khattab).
>
> Berkaca dari pesan Alquran dan Sunah Rasul tersebut, dalam situasi krisis
> berkepanjang seperti ini, maka menyantuni anak yatim merupakan perbuatan
> sangat terpuji.. Semua itu kita lakukan agar kita terhindar dari ancaman
> Alquran sebagai pendusta agama (QS al-Maun: 1-3). ahi
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
> <http://id.mail.yahoo.com>
> 
>



-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke