Assalamualaikum... Mohon maaf apabila banyak sekali komen terhadap postingan yang berjudul menyantuni anak yatim ini berasal dari http://republika.co.id/berita/97205/Menyantuni_Anak_Yatim dan silahkan saja baca artikel lengkap..
Wassalam, Muhammad Sadeli Zanikhan Al-Palembangi --- In [email protected], risnandar <risnand...@...> wrote: > > > Assalam alaikum wr wb > Saat memforward email "Menyantni Anak Yatim", saya mendapatkan respon berikut > dari salah seorang penerima email. > Saya rasa email balasan tersebut di bawah ini signifikan. > Mohon maaf jika tidak berkenan > > Salam hangat, > Risnandar > > > > --- Pada Rab, 6/1/10, Akmal Burhanuddin <akmal_burhanud...@...> menulis: > > Dari: Akmal Burhanuddin <akmal_burhanud...@...> > Judul: hari anak Yatim???? > > Tanggal: Rabu, 6 Januari, 2010, 12:24 AM > > Darimanakah Pandangan Asyuro Hari kemerdekaan kaum lemah/Dhuafa??? > > Saya agak sedikit mengernyitkan kening pada saat membaca artikel dari Mas > Iwan Zarkasyi yang mengaitkan hari asyura dengan kemerdekaan kaum lemah. > > Saya sangat setuju dengan memuliakan anak yatimnya, namun tidak setuju dengan > mengaitkan hari asyura dengan hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa. > > karena pemahaman kemerdekaan kaum lemah/dhuafa pada hari asyura terkait > dengan peristiwa karbala. dalam hadis tidak pernah disebutkan hari asyura > sebagai hari kemerdekaan kaum lemah dan tidak ada korelasinya dengan hadis2 > asyura > > > Menyantuni Anak Yatim > > > > > > > By Iwan Zarkasyi > Senin, 21 Desember 2009 > Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan > umatnya untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang > dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah' ' > (Muttafaq 'alaih). Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai > wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak > yatim. Karena itu, dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula > disebut sebagai hari raya anak yatim. > > Pendapat Saya: > Asyuro' dalam ajaran Islam > Harus Menyalahi Ahli Kitab > Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ya > Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi > dan Nasrani", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun > depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (HR. > Muslim (1134) dari Ibnu Abbas). > > Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda > Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: "Berpuasalah pada hari Asyura' dan > selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari > sesudahnya." > (Fathul Bari, 4/245).. > > Imam Syafi'i juga meriwayatkan hadits di atas, makanya beliau di dalam kitab > Al-Um dan Al-Imla' menyatakan kesunnahan puasa tiga kali tanggal 8, 9 dan 10 > Muharram. (Al-Ibda', Ali Mahfudz hal. 149, Fathul Bari 4/246). > > Keutamaan Asyura' > Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura', maka > beliau menjawab: "Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim (1162), > Ahmad 5/296, 297). > Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan: "Saya tidak pernah melihat > Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin > mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu bulan > selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)." (HR. Al-Bukhari (2006), Muslim > (1132)). > > Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Puasa yang paling utama > setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim,1163). > > B. Bid'ah-bid'ah Asyura' > 10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah Al-Husen bin Ali (ra) > di padang Karbala. Karena peristiwa berdarah ini, setan berhasil menciptakan > dua kebid'ahan sekaligus. > > Pertama : Bid'ah Syi'ah > Asyura' dijadikan oleh Syi'ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa > diri sebagai ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap Asyura', > mereka memperingati kematian Al-Husen dan melakukan perbuatan-perbuatan > yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Al-Husen secara histeris, > membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di > pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala > dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (At-Tasyayyu' > Wasy-Syi'ah, Ahmad Al-Kisrawiy Asy-Syi'iy, hal. 141, Tahqiq Dr. Nasyir > Al-Qifari). > > Kedua : Bid'ah Jahalatu Ahlissunnah > Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas, orang > Ahlussunnah yang jahil (Bodoh) menjadikan hari Asyura' sebagai hari raya, > pesta dan serba ria. Menurut Ahmad Al-Kisrawi Asy-Syi'iy: "Dua budaya > (bid'ah) yang sangat kontras ini, menurut literatur yang ada bermula pada > jaman dinasti Buwaihi (321H - 447 H.) yang mana masa itu terkenal dengan > tajamnya pertentangan antara Ahlus-sunnah dan Syi'ah. Orang-orang jahalatu > (bodoh) > > Ahlussunnah menjadikan Asyura' sebagai hari raya dan hari bahagia sementara > orang-orang Syi'ah menjadikannya sebagai hari duka cita, mereka berkumpul > membacakan syair-syair haru kemudian menangis dan menjerit." (At-Tasyayyu' > Wasy-Syi'ah hal.142) Sementara Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah > ada kelompok Syi'ah yang > sampai ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Al-Husen (ra) yang dipelopori oleh > Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi (tahun 67 H dibunuh oleh Mush'ab bin > Az-Zubair) dan ada kelompok Nashibah (yang anti Ali beserta keturunannya), > yang diantaranya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan telah disebut di > dalam hadits shahih. Sesungguhnya (akan muncul) di Tsaqif (kepala suku dari > Hawazin) seorang pendusta dan pembantai." Pendusta tadi adalah Al-Mukhtar > yang memperselisihkan keimamahan Ibnul Hanafiyah, dan pembantai tadi adalah > Al-Hajjaj yang membenci Alawiyyin, > maka yang Syi'ah tadi menciptakan bid'ah duka cita sementara yang Nashibah > menciptakan bid'ah bersuka ria. (Al-Ibda' hal. 150) > Bid'ah-bid'ah tersebut berbentuk : > > 1. Menambah belanja dapur. > Banyak riwayat yang mengatakan: "Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada > keluarganya pada hari Asyura', > maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu." (HR. > At-Thabraniy, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr). Asy-Syabaniy berkata: semua > jalurnya lemah, Al-Iraqi berkata: sebagian jalur dari Abu Hurairah > dishahihkan oleh Al-Hafidz > Ibnu Nashir, jadi menurutnya ini hadits hasan, sedangkan Ibnul Jauzi > menulisnya di dalam kumpulan hadits palsu. (Tamyizuth-Thayyib minal Khabits, > no. 1472, Tanbihul Ghafilin, 1/367). Sementara itu imam As-Suyuthi dengan > tegas mengatakan: "Telah diriwayatkan tentang keutamaan meluaskan nafkah > sebuah hadits dhaif, bisa jadi sebabnya adalah ghuluw di dalam > mengagungkan-nya, dari sebagian segi untuk menandingi orang-orang Rafidhah > (Syi'ah) karena syetan sangat berambisi untuk memalingkan manusia dari jalan > lurus. Ia tidak peduli ke arah mana -dari dua arah- mereka akan berpaling, > maka hendaklah para pelaku bid'ah menghindari bid'ah-bid'ah sama sekali." > (Al-Amru Bil Ittiba', hal.88-89) > > Imam Ahmad mengatakan ketika ditanya: "Hadits ini tidak ada asalnya, ia tidak > bersanad kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah dari Ibnul > Muntasyir, sementara ia adalah orang Kufah, ia meriwayatkan dari seorang yang > tidak > dikenal." (Al-Ibda', Ali Mahfudz, 150) > > 2. Memakai celak (sifat mata) > > 3. Mandi. > Mereka meriwayatkan sebuah hadits: "Barangsiapa yang memakai celak pada hari > Asyura', maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan > barangsiapa mandi pada hari Asyura', ia tidak akan sakit selama tahun itu." > (Hadits ini palsu menurut As-Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim) (Al-Ibda', > hal. 150-151) > > 4. Mewarnai kuku > > 5. Bersalam-salaman. Imam As-Suyuthi mengatakan: " Semua perkara ini (no.2-5) > adalah bid'ah munkarah, dasarnya > adalah hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." > (Al-Amru bil Ittiba' , hal.88) > > 6. Mengusap-usap kepala anak yatim. > > 7. Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura'. Mereka tidak segan-segan > membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan haditsnya > orang Syi'ah yang berbunyi: "Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura' dari > bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh > ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan barangsiapa > memberi buka seorang mukmin pada malam Asyura', maka seakan-akan seluruh > umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berbuka di rumahnya sampai > kenyang." (Hadits palsu dinyatakan oleh > imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, no. 34, lihat Tanbihul Ghafilin, 1/366). > > 8. Membaca do'a Asyura' seperti yang tercantum dalam kumpulan do'a dan Majmu' > Syarif yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan khusnul > khotimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca do'a Asyura' > tidak akan meninggal pada tahun tersebut adalah bid'ah yang jahat. (As-Sunan > wal Mubtada'at, Muhammad Asy-Syuqairi, hal.134). > > 9. Membaca "Hasbiyallah wani'mal wakil" pada air kembang untuk obat dari > berbagai penyakit adalah bid'ah > > 10. Shalat Asyura'.. Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh > As-Suyuthi di dalam Al-La'ali Al-Mashnu'ah > (As-Sunan wal Mubtada'at, 134). > > C. Asyuro dalam Tradisi dan Kultur Kejawen > Bulan Suro banyak diwarnai oleh orang Jawa dengan berbagai mitos dan > khurafat, antara lain: Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang > tidak boleh dibuat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan > dan lain-lain yang ada hanya ritual. Ternyata kalau kita renungkan dengan > cermat apa yang dilakukan oleh orang Jawa di dalam bulan Suro adalah > merupakan akulturasi Syi'ah dan animisme, dinamisme dan Arab jahiliyah. Dulu, > orang Quraisy jahiliyah pada setiap Asyura' selalu mengganti Kiswah Ka'bah > (kain pembungkus Ka'bah) (Fathul Bari, 4/246). Kini, > orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus. Alangkah miripnya hari ini > dan kemarin. > > Di dalam Islam, Asyura' tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri > (Syi'ah), tidak diisi dengan pesta dan berhias diri (Jahalatu Ahlissunnah) > dan tidak diisi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang dianggap > suci untuk tolak bala' (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan berkumpul-kumpul. > Namun yang ada hanyalah puasa Asyura' dengan satu hari sebelumnya atau juga > dengan sehari sesudahnya. Waallahu-a'lam. ( Abu Hamzah A. Hasan Bashori) > > Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu berkata: Jika kamu berpuasa, hendaknya > berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan > dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa > bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari > berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa." > > Wallahu A'lam > > > > Menyantuni Anak Yatim > > > > > > > By Iwan Zarkasyi > Senin, 21 Desember 2009 > Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan > umatnya untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang > dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah' ' > (Muttafaq 'alaih). Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai > wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak > yatim. Karena itu, dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula > disebut sebagai hari raya anak yatim. > Kata yatim berasal dari bahasa Arab berupa fail pelaku, berbentuk tunggal > dengan jamaknya yatama atau aitam yang berarti anak (laki/perempuan) yang > belum dewasa dan orangtuanya telah meninggal dunia. Karena ketidakmampuan > mereka secara fisik dan sosial inilah maka umat Islam sangat dianjurkan untuk > menyantuni dan memberdayakan mereka agar > kelak mampu dalam menghadapi kehidupan dunia ini. > > Menyantuni dan memberdayakan mereka ini penting karena Alquran sendiri > mengingatkan hal tersebut sebanyak 22 kali, antara lain, pada surah Al > Baqarah (2) ayat 83, 177, 215, 220, An Nisaa' (4) ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36, > dan 127, Al An'aam (6) ayat 152. Program ini, bagi umat Islam secara > keseluruhan adalah wajib, dan bukan terbatas pada hal-hal yang bersifat > fisik, seperti harta, tetapi secara umum juga mencakup hal-hal yang bersifat > psikis (QS 93:9 dan 107:2). Sedangkan anjuran membela dan menyantuni anak > yatim tampak lewat berbagai hadis Rasulullah saw. ''Sering-seringlah mengusap > kepala anak yatim,'' kata Nabi yang dijadikan yatim oleh Allah SWT. > ''Hiasilah rumahmu dengan (memelihara) anak yatim.'' > > Dalam menyantuni anak yatim, terutama mereka yang memiliki harta haruslah > dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Sesungguhnya orang-orang yang > memakan harta anak yatim secara zalim, > sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke > dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS An Nisaa': 10). Juga, Dan janganlah > kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, > hingga sampai ia dewasa ... (QS Al An'aam: 152). > > Kendati demikian Alquran juga membolehkan wali miskin memakan harta anak > yatim dan tidak membolehkan wali kaya memakannya (QS An Nisaa: 6). Adapun > dalam sebuah hadis, Rasulullah saw menjelaskan masalah ini. Pada suatu hari > datang seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: ''Ya, Rasulullah, aku > ini orang miskin, tapi aku memelihara anak yatim dan hartanya, bolehkah aku > makan dari harta anak yatim itu?'' Rasulullah saw menjawab, ''Makanlah dari > harta anak yatim sekadar kewajaran, jangan berlebih-lebihan, jangan > memubazirkan, jangan hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu,'' (HR > Abu Dawud, an Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin > Khattab). > > Berkaca dari pesan Alquran dan Sunah Rasul tersebut, dalam situasi krisis > berkepanjang seperti ini, maka menyantuni anak yatim merupakan perbuatan > sangat terpuji.. Semua itu kita lakukan agar kita terhindar dari ancaman > Alquran sebagai pendusta agama (QS al-Maun: 1-3). ahi > > > > > > > > > > > > > > Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang > Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com >

