Assalam alaikum wr wb
Saat memforward email "Menyantni Anak Yatim", saya mendapatkan respon berikut 
dari salah seorang penerima email.
Saya rasa email balasan tersebut di bawah ini signifikan.
Mohon maaf jika tidak berkenan

Salam hangat,
Risnandar



--- Pada Rab, 6/1/10, Akmal Burhanuddin <[email protected]> menulis:

Dari: Akmal Burhanuddin <[email protected]>
Judul: hari anak Yatim????

Tanggal: Rabu, 6 Januari, 2010, 12:24 AM

Darimanakah Pandangan Asyuro Hari kemerdekaan kaum lemah/Dhuafa???
 
Saya agak sedikit mengernyitkan kening pada saat membaca artikel dari Mas Iwan 
Zarkasyi yang mengaitkan hari asyura dengan kemerdekaan kaum lemah.
 
Saya sangat setuju dengan memuliakan anak yatimnya, namun tidak setuju dengan 
mengaitkan hari asyura dengan hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa.
 
karena pemahaman kemerdekaan kaum lemah/dhuafa pada hari asyura terkait dengan 
peristiwa karbala. dalam hadis tidak pernah disebutkan hari asyura sebagai hari 
kemerdekaan kaum lemah dan tidak ada korelasinya dengan hadis2 asyura
 
 
Menyantuni Anak Yatim






By Iwan Zarkasyi
Senin, 21 Desember 2009
Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan umatnya 
untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang dimuliakan 
Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah' ' (Muttafaq 'alaih). 
Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai wujud penghormatan 
kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak yatim. Karena itu, 
dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula disebut sebagai hari 
raya anak yatim.
 
Pendapat Saya:
Asyuro' dalam ajaran Islam
Harus Menyalahi Ahli Kitab
Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ya 
Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan 
Nasrani", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun depan 
insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (HR. Muslim 
(1134) dari Ibnu Abbas).
 
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: "Berpuasalah pada hari Asyura' dan 
selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari 
sesudahnya."
(Fathul Bari, 4/245).. 
 
Imam Syafi'i juga meriwayatkan hadits di atas, makanya beliau di dalam kitab 
Al-Um dan Al-Imla' menyatakan kesunnahan puasa tiga kali tanggal 8, 9 dan 10 
Muharram. (Al-Ibda', Ali Mahfudz hal. 149, Fathul Bari 4/246).
 
Keutamaan Asyura'
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura', maka 
beliau menjawab: "Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim (1162), 
Ahmad 5/296, 297).
Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan: "Saya tidak pernah melihat 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin 
mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu bulan 
selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)." (HR. Al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Puasa yang paling utama 
setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim,1163).
 
B. Bid'ah-bid'ah Asyura'
10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah Al-Husen bin Ali (ra) di 
padang Karbala. Karena peristiwa berdarah ini, setan berhasil menciptakan dua 
kebid'ahan sekaligus.
 
Pertama : Bid'ah Syi'ah
Asyura' dijadikan oleh Syi'ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa 
diri sebagai ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap Asyura', 
mereka memperingati kematian Al-Husen dan melakukan perbuatan-perbuatan
yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Al-Husen secara histeris, 
membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di 
pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala
dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah, 
Ahmad Al-Kisrawiy Asy-Syi'iy, hal. 141, Tahqiq Dr. Nasyir Al-Qifari).
 
Kedua : Bid'ah Jahalatu Ahlissunnah
Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas, orang 
Ahlussunnah yang jahil (Bodoh) menjadikan hari Asyura' sebagai hari raya, pesta 
dan serba ria. Menurut Ahmad Al-Kisrawi Asy-Syi'iy: "Dua budaya (bid'ah) yang 
sangat kontras ini, menurut literatur yang ada bermula pada jaman dinasti 
Buwaihi (321H - 447 H.) yang mana masa itu terkenal dengan tajamnya 
pertentangan antara Ahlus-sunnah dan Syi'ah. Orang-orang jahalatu (bodoh)
 
Ahlussunnah menjadikan Asyura' sebagai hari raya dan hari bahagia sementara 
orang-orang Syi'ah menjadikannya sebagai hari duka cita, mereka berkumpul 
membacakan syair-syair haru kemudian menangis dan menjerit." (At-Tasyayyu' 
Wasy-Syi'ah hal.142) Sementara Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah ada 
kelompok Syi'ah yang
sampai ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Al-Husen (ra) yang dipelopori oleh 
Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi (tahun 67 H dibunuh oleh Mush'ab bin 
Az-Zubair) dan ada kelompok Nashibah (yang anti Ali beserta keturunannya), yang 
diantaranya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan telah disebut di dalam 
hadits shahih. Sesungguhnya (akan muncul) di Tsaqif (kepala suku dari Hawazin) 
seorang pendusta dan pembantai." Pendusta tadi adalah Al-Mukhtar yang 
memperselisihkan keimamahan Ibnul Hanafiyah, dan pembantai tadi adalah 
Al-Hajjaj yang membenci Alawiyyin,
maka yang Syi'ah tadi menciptakan bid'ah duka cita sementara yang Nashibah 
menciptakan bid'ah bersuka ria. (Al-Ibda' hal. 150)
Bid'ah-bid'ah tersebut berbentuk :
 
1. Menambah belanja dapur.
Banyak riwayat yang mengatakan: "Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada 
keluarganya pada hari Asyura',
maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu." (HR. At-Thabraniy, 
Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr). Asy-Syabaniy berkata: semua jalurnya lemah, 
Al-Iraqi berkata: sebagian jalur dari Abu Hurairah dishahihkan oleh Al-Hafidz
Ibnu Nashir, jadi menurutnya ini hadits hasan, sedangkan Ibnul Jauzi menulisnya 
di dalam kumpulan hadits palsu. (Tamyizuth-Thayyib minal Khabits, no. 1472, 
Tanbihul Ghafilin, 1/367). Sementara itu imam As-Suyuthi dengan tegas 
mengatakan: "Telah diriwayatkan tentang keutamaan meluaskan nafkah sebuah 
hadits dhaif, bisa jadi sebabnya adalah ghuluw di dalam mengagungkan-nya, dari 
sebagian segi untuk menandingi orang-orang Rafidhah (Syi'ah) karena syetan 
sangat berambisi untuk memalingkan manusia dari jalan lurus. Ia tidak peduli ke 
arah mana -dari dua arah- mereka akan berpaling, maka hendaklah para pelaku 
bid'ah menghindari bid'ah-bid'ah sama sekali." (Al-Amru Bil Ittiba', hal.88-89)
 
Imam Ahmad mengatakan ketika ditanya: "Hadits ini tidak ada asalnya, ia tidak 
bersanad kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah dari Ibnul Muntasyir, 
sementara ia adalah orang Kufah, ia meriwayatkan dari seorang yang tidak
dikenal." (Al-Ibda', Ali Mahfudz, 150)
 
2. Memakai celak (sifat mata)
 
3. Mandi.
Mereka meriwayatkan sebuah hadits: "Barangsiapa yang memakai celak pada hari 
Asyura', maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan 
barangsiapa mandi pada hari Asyura', ia tidak akan sakit selama tahun itu."
(Hadits ini palsu menurut As-Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim) (Al-Ibda', 
hal. 150-151)
 
4. Mewarnai kuku
 
5. Bersalam-salaman. Imam As-Suyuthi mengatakan: " Semua perkara ini (no.2-5) 
adalah bid'ah munkarah, dasarnya
adalah hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." 
(Al-Amru bil Ittiba' , hal.88)
 
6. Mengusap-usap kepala anak yatim.
 
7. Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura'. Mereka tidak segan-segan 
membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan haditsnya 
orang Syi'ah yang berbunyi: "Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura' dari
bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh 
ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan barangsiapa memberi 
buka seorang mukmin pada malam Asyura', maka seakan-akan seluruh
umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berbuka di rumahnya sampai kenyang." 
(Hadits palsu dinyatakan oleh
imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, no. 34, lihat Tanbihul Ghafilin, 1/366).
 
8. Membaca do'a Asyura' seperti yang tercantum dalam kumpulan do'a dan Majmu' 
Syarif yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan khusnul 
khotimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca do'a Asyura' 
tidak akan meninggal pada tahun tersebut adalah bid'ah yang jahat. (As-Sunan 
wal Mubtada'at, Muhammad Asy-Syuqairi, hal.134).
 
9. Membaca "Hasbiyallah wani'mal wakil" pada air kembang untuk obat dari 
berbagai penyakit adalah bid'ah
 
10. Shalat Asyura'.. Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh 
As-Suyuthi di dalam Al-La'ali Al-Mashnu'ah
(As-Sunan wal Mubtada'at, 134).
 
C. Asyuro dalam Tradisi dan Kultur Kejawen
Bulan Suro banyak diwarnai oleh orang Jawa dengan berbagai mitos dan khurafat, 
antara lain: Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh 
dibuat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan dan lain-lain 
yang ada hanya ritual. Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang 
dilakukan oleh orang Jawa di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi 
Syi'ah dan animisme, dinamisme dan Arab jahiliyah. Dulu, orang Quraisy 
jahiliyah pada setiap Asyura' selalu mengganti Kiswah Ka'bah (kain pembungkus 
Ka'bah) (Fathul Bari, 4/246). Kini,
orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus. Alangkah miripnya hari ini dan 
kemarin.
 
Di dalam Islam, Asyura' tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri 
(Syi'ah), tidak diisi dengan pesta dan berhias diri (Jahalatu Ahlissunnah) dan 
tidak diisi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang dianggap suci 
untuk tolak bala' (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan berkumpul-kumpul. Namun 
yang ada hanyalah puasa Asyura' dengan satu hari sebelumnya atau juga dengan 
sehari sesudahnya. Waallahu-a'lam. ( Abu Hamzah A. Hasan Bashori)
 
Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu berkata: Jika kamu berpuasa, hendaknya 
berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan 
dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa
bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari 
berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa."
 
Wallahu A'lam


 
Menyantuni Anak Yatim






By Iwan Zarkasyi
Senin, 21 Desember 2009
Setiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan umatnya 
untuk berpuasa. ''Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang dimuliakan 
Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah' ' (Muttafaq 'alaih). 
Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai wujud penghormatan 
kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak yatim. Karena itu, 
dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula disebut sebagai hari 
raya anak yatim.
Kata yatim berasal dari bahasa Arab berupa fail pelaku, berbentuk tunggal 
dengan jamaknya yatama atau aitam yang berarti anak (laki/perempuan) yang belum 
dewasa dan orangtuanya telah meninggal dunia. Karena ketidakmampuan mereka 
secara fisik dan sosial inilah maka umat Islam sangat dianjurkan untuk 
menyantuni dan memberdayakan mereka agar
 kelak mampu dalam menghadapi kehidupan dunia ini.

Menyantuni dan memberdayakan mereka ini penting karena Alquran sendiri 
mengingatkan hal tersebut sebanyak 22 kali, antara lain, pada surah Al Baqarah 
(2) ayat 83, 177, 215, 220, An Nisaa' (4) ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36, dan 127, Al 
An'aam (6) ayat 152. Program ini, bagi umat Islam secara keseluruhan adalah 
wajib, dan bukan terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, seperti harta, 
tetapi secara umum juga mencakup hal-hal yang bersifat psikis (QS 93:9 dan 
107:2). Sedangkan anjuran membela dan menyantuni anak yatim tampak lewat 
berbagai hadis Rasulullah saw. ''Sering-seringlah mengusap kepala anak yatim,'' 
kata Nabi yang dijadikan yatim oleh Allah SWT. ''Hiasilah rumahmu dengan 
(memelihara) anak yatim.''

Dalam menyantuni anak yatim, terutama mereka yang memiliki harta haruslah 
dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Sesungguhnya orang-orang yang 
memakan harta anak yatim secara zalim,
 sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke 
dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS An Nisaa': 10). Juga, Dan janganlah 
kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga 
sampai ia dewasa ... (QS Al An'aam: 152).

Kendati demikian Alquran juga membolehkan wali miskin memakan harta anak yatim 
dan tidak membolehkan wali kaya memakannya (QS An Nisaa: 6). Adapun dalam 
sebuah hadis, Rasulullah saw menjelaskan masalah ini. Pada suatu hari datang 
seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: ''Ya, Rasulullah, aku ini orang 
miskin, tapi aku memelihara anak yatim dan hartanya, bolehkah aku makan dari 
harta anak yatim itu?'' Rasulullah saw menjawab, ''Makanlah dari harta anak 
yatim sekadar kewajaran, jangan berlebih-lebihan, jangan memubazirkan, jangan 
hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu,'' (HR Abu Dawud, an Nasa'i, 
Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin
 Khattab).

Berkaca dari pesan Alquran dan Sunah Rasul tersebut, dalam situasi krisis 
berkepanjang seperti ini, maka menyantuni anak yatim merupakan perbuatan sangat 
terpuji.. Semua itu kita lakukan agar kita terhindar dari ancaman Alquran 
sebagai pendusta agama (QS al-Maun: 1-3). ahi





 




      


      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke