Aku ingin seperti Khalid bin Walid. Yang selalu berjuang dengan gigih ketika
menjadi panglima, yang tidak pernah kalah dalam setiap peperangan yang
digelutinya, yang dijuluki pedang Allah yang terhunus. Aku ingin seperti
itu, dan ingin seperti Khalid bin Walid, yang ketika tidak lagi menjadi
panglima mampu tetap menjaga semangat dan etosnya, yang merasa lega karena
ia dapat menjemput syahid dengan tenang karena tidak terbebani oleh tanggung
jawabnya untuk memenangkan perang bersama pasukannya, yang di kala menjadi
panglima ia mampu menggunakan 7 bilah pedang, dan bahkan, saat tak menjadi
panglimapun ia menggunakan 9 bilah pedang dalam sekali peperangan. Aku..
ingin seperti Khalid bin Walid, yang berfokus pada karya dan kontribusi,
bukan pada posisi.

Aku ingin seperti Umar bin Abdul Aziz. Yang selalu khawatir dengan
kapasitasnya menjadi khalifah, namun mampu membuktikan performanya dengan
karya nyata. Yang menjemput amanah dengan kekhawatiran yang teramat sangat,
namun menjalaninya dengan kesungguhan, memberikan diri dan seluruh yang
dimilikinya untuk dakwah. Hingga hanya dalam 2,5 tahun masa kepemimpinannya,
ia mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Aku.. ingin seperti Umar
bin Abdul Aziz, yang selalu khawatir akan kapabilitas diri, namun mampu
membuktikan performanya dengan karya nyata.

Aku ingin seperti Muhammad Al Fatih. Yang berfokus pada kesempurnaan,
terobsesi oleh mimpi dan karya besarnya, termotivasi karena harapannya
menjadi panglima terbaik penakluk Konstatinopel. Aku ingin berfokus untuk
bertumbuh dan berkembang, untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.
Karena Allah menciptakan surga bertingkat-tingkat, maka raihlah tingkatan
surga yang tertinggi. Aku ingin seperti Muhammad Al-Fatih, yang berfokus
pada kesempurnaan, untuk menjadi yang terbaik di mata Allah swt.

Sungguh amanah itu sangat berat. mengembannya seperti menggenggam bara api.
namun menghindar darinya dengan mengecilkan kapasitas diri bukanlah pilihan
yang bijak. menjauhi dan menolaknya karena merasa tidak cukup pantas adalah
tidak tepat, karena Allah lah yang Maha Tahu kemampuan kita. Dan Allah juga
yang menganugerahkan kekuatan-Nya kepada kita dalam mengemban amanah itu.

Amanah bukanlah jenjang karir, bukanlah prestasi, apalagi gengsi. Amanah
adalah tarbiyah dari Allah, merupakan kesempatan yang diberikan Allah bagi
kita untuk berkarya sebanyak-banyaknya, agar memberikan arti dalam
keberadaan kita di dunia ini. Amanah adalah tarbiyah dan cobaan Allah,
merupakan tanda kecintaan Allah bagi para hambaNya.

Sungguh memperbaiki diri terus-menerus merupakan kewajiban kita.
mempersiapkan diri untuk siap mengemban amanah apapun merupakan keharusan
kita. Sampai Allah yang akan menetapkan takdir terbaikNya bagi kita..

Aku.. ingin mengesampingkan rupa, dan berfokus pada makna
Aku.. ingin mengesampingkan kata, dan berfokus pada karya

ya Rabb karuniakanlah ikhlas kepada hati ini.. amiinn..




   - note by: Kepala Gamais ITB 2010



-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke