1. Mengapa dikatakan bunga di bank syariah mahal? Apakah yang mengatakan itu 
pernah mengajukan pembiayaan di bank syariah atau hanya mendengar dari pihak 
lain? Margin atau nisbah adalah hasil kesepakatan. Saya pribadi sewaktu jadi 
wartawan pernah mengajukan pembiayaan ke BSM dan Muamalat. Biasa saja tuh. Sama 
saja dengan ketika saya ke  bank konvensional, BRI dan Bukopin. Saya pernah 
jadi nasabah pembiayaan keempat bank tersebut. 
2. Sampai sekarang pun, keluarga saya (kakak dan adik) masih punya pembiayaan 
di beberapa bank syariah dan nonsyariah untuk pengembangan usaha. Keluarga kami 
masih punya utang di bank swasta terbesar, bank BUMN terbesar, dan bank syariah 
juga. Marginnya sama-sama aja. Paling selisih sedikit. Tidak terlalu terasa 
kalau untuk kami yang bergerak di bidang usaha. Kebetulan kalau untuk akad 
kredit, saya sering ikut karena nama saya dicantumkan sebagai salah satu 
Direktur. Meskipun aslinya, saya adalah wartawan. 
3. Bahkan saya pernah berhubungan dengan unit usaha syariah salah satu 
bank. Itulah pertama kali kami berhubungan dengan bank syariah. Waktu itu, 
ajaib karena ketika kami hendak memberi uang tips setelah kredit kami cair, 
petugas marketing bank menolak. padahal itu praktik lazim di bank konvensional. 
Bagi kami di dunia usaha, itu juga masih biasa. 
4. Jadi kesimpulannya, masuklah ke sebuah lembaga dengan kepala kosong dari 
prasangka. Kami datang saja mengajukan pembiayaan tanpa menghitung-hitung ini 
bank syariah atau bukan. Waktu itu, kami berpikir ingin coba-coba saja, selain 
karena saya juga mulai jadi wartawan di ekonomi syariah. Karena sudah biasa 
usaha, kami sudah tahu ancer-ancer margin di bank. Kalau kemahalan ya di nego 
saja... Malah di bank syariah saya pernah minta diskon margin saat pembiayaan 
sudah di tengah jalan dan dikabulkan...I
 
Alhamdulillah usaha kami tetap jalan, meski masih harus melunasi banyak utang 
di bank. That's life. 
 
Ini benar-benar pengalaman pribadi
enci siti darojah


--- On Wed, 4/14/10, Ahmad Ifham <[email protected]> wrote:


From: Ahmad Ifham <[email protected]>
Subject: {FoSSEI} Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal?
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Wednesday, April 14, 2010, 8:43 PM


  





Menurut saya, hal itu terjadi karena:
1. Edukasi kurang. Penggiat bank syariah harusnya proaktif dan kompak.
2. Ekspektasi mereka atas janji bahwa syariah lebih adil dan menguntungkan.
3. [Sebagian besar] masyarakat ber-bank adalah mencari kemudahan dan 
keuntungan. Bukan halal/haram.
 
Usul:
Optimalkan potensi conventional media juga social media, agar biaya edukasi 
bisa ditekan. Optimalkan fungsi Marketing Public Relations (MPR). Mungkin 
sebagian menganggap MPR itu akal2an aja. Padahal syarat MPR berhasil adalah 
berdasar fakta yang kredibel. Saya yakin banyak ahli MPR yang siap bantu 
syariah, asal industri ini serius dan konsisten. Mungkin di beberapa bank 
syariah sudah ada fungsi ini. 
Yang terpenting dari membesarkan industri syariah adalah semua lembaga keuangan 
syariah profit non profit kompak. Saya masih yakin bahwa masyarakat muslim 
masih bisa diarahkan agar mau menggunakan sistem ekonomi syariah (termasuk 
bank), adalah karena alasan halal. So, mahal pun gak masalah. Isu halal/haram 
ini masih dominan, karena kalo mau head to head kasih layanan prima ke 
masyarakat, akan kalah jauh dibanding konvensional.
 
Regards,
Ahmad Ifham Sholihin
 




From: Irwan <irwansi...@yahoo. com>
To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Sent: Wed, April 14, 2010 10:58:37 PM
Subject: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal?

  

Banyak Orang ketika melihat brosur pinjaman modal usaha/pembiayaan syariah 
lainnya banyak yang mengeluh:
1. "Loh Kok Ini lebih Mahal dari Bank Konvensional? "
2. "Kok Bunga di Bank Syariah lebih besar?"
3. dll
Kenapa Begitu y?
Kok bisa pernyataan ini bisa terucap?
ada yang bisa kasih wejangan?
atau kenapa y pernyataan kedua bisa terucap seperti itu y?










      

Kirim email ke