Assalam alaikum wr wb, Dear All, Sekedar sharing ide, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan
-Dana talangan untuk Krisis Yunani, sebesar 110 miliar euro, oleh beberapa kalangan hanya memberikan waktu bagi Yunani untuk membereskan masalah fiskalnya, bukan untuk menyelesaikan permasalahan fiskal tersebut secara langsung- Dalam suatu perekonomian yang terbuka terdapat hubungan asymmetric interdependence, dikatakan bahwa pergerakan suatu ekonomi besar (seperti Amerika Serikat (AS)), mampu mempengaruhi perekonomian negara-negara kecil, namun tidak sebaliknya, layaknya sebuah bola basket yang bergetar, yang getarannya mampu mempengaruhi bola bekel yang berukuran kecil, namun getaran bola bekel tidak mampu mempengaruhi bola basket. Lebih lanjut, bagaimana jika massa bola bekel diperbesar namun dipadatkan sepadat-padatnya dengan volume yang tetap? Tentunya akan hal tersebut akan merubah konstelasi yang ada dalam perekonomian yang terbuka, dimana asymmetric interdependence tetap terjadi. Analoginya adalah sebuah kelereng yang mampu menggetarkan sebuah balon yang ringan namun besar. Dengan melakukan suatu sinkronisasi perdagangan dan yang diiringi dengan penguatan sistem fiskal dan moneter dalam momen yang tepat. Untuk sinkronisasi perdagangan bukanlah suatu hal yang mudah,namun juga bukan suatu hal yang sulit. Dengan rejim internasional yang anarkis saat ini (secara de facto tidak ada yang lebih tinggi dari suatu negara), maka segala jenis track diplomasi diperlukan untuk mendukung pembukaan pasar bagi pasar produk Indonesia. Diperlukan sejumlah pertemuan-pertemuan yang efektif dan efisien demi kepentingan masing-masing negara, sebuah win-win solution. Namun untuk penguatan system fiskal dan moneter itu adalah hal lain. Berikut merupakan suatu ide, a wishful thinking idea, akan kedua system tersebut. Krisis ekonomi yang terjadi, di AS dan di Eropa, merupakan suatu momen yang pas bagi perbankan di negara-negara yang masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, seperti Indonesia, untuk mulai meningkatkan cadangan modal minimumnya ke level yang aman, bahkan untuk menuju full reserve banking system, sebuah wishful thinking idea. Perbankan yang umumnya berperan penting dalam suatu sistem pembiayaan sudah semestinya memiliki ketahanan yang baik, salah satunya dengan kekuatan modal. Republik Rakyat Tiongkok (RRT/Cina) yang sejak Februari 2010, mengharuskan bank-bank di negaranya untuk meningkatkan cadangan modalnya sampai batas tertentu (16,5% untuk bank-bank besar (kemungkinan meningkat ke tingkat 18%) dan 14,5% untuk bank-bank kecil). Tingkat pengucuran kredit yang sehat dan pengereman laju harga properti sepertinya menjadi alasan utama pemerintah RRT melakukan kebijakan tersebut. Namun dapat dikatakan apa yang dilakukan RRT adalah memperkuat sistem moneter mereka juga. Yang menarik adalah, dengan munculnya krisis perekonomian global, hal tersebut menjadi momentum tersendiri (jika ingin digunakan) oleh bank-bank syariah untuk memperkuat modalnya. Dari sisi fiskal kucuran stimulus pemerintah dapat menjadi penyeimbang dana yang ditarik/ditahan oleh perbankan (pengetatan moneter) untuk memperkuat modalnya. Stimulus yang ada akan menjadi obat bagi keringnya likuiditas. Dalam ekonomi syariah, yang bukan melulu mengenai perbankan (syariah), juga di dalamnya terdapat instrument-instrumen seperti zakat, infaq dan waqaf sebagai stimulus kepada rakyat untuk mengimbangi perbankan dalam melakukan penguatan modalnya. Hal ini dapat menjadi suatu strategi ke arah full reserve banking system, sebuah momen yang tepat, seperti tepatnya momen menguak siapa Israel ditengah insiden Konvoi Freedom Flotilla. Peran fiskal, yang seharusnya diperankan dengan efektif dan efisien oleh negara, dapat di-tackle oleh mereka, hamba Allah yang mampu, yang mau menjadi “kaya untuk miskin”. Di satu sisi perbankan syariah yang semakin menguat, mampu dengan efektif dan efisien mengucurkan “dana” ke dalam pasar dan proyek-proyek yang bermanfaat seoptimal mungkin dan memberikan nilai lebih bagi pelaku ekonomi. Sementara para kaum dhuafa secara pararlel juga mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai harta dalam pandangan Islam. Mungkin ke depan, dengan begitu, perekonomian Indonesia akan bertambah berat dan padat massanya (kulaitas) sehingga mampu bertahan dan “menyerang” dalam perekonomian global. Wallahualam bi shawab

