Dear All,
Sekedar share, saya termasuk yang gak pernah sekalipun ikutan training apapun 
itu tentang ekonomi syariah yang sifatnya saya harus bayar, karena bagi saya 
biaya-nya mahal. Kebetulan saja dulu saya sering jadi Asrot alias asisten sorot 
untuk berbagai training yang diadakan oleh perusahaan konsultan lembaga 
keuangan syariah tempat saya kerja.
 
Tujuan training biasanya untuk memahami atas topik training, bisa menerapkan di 
lapangan. Kalau salah satu tujuan ikutan training adalah untuk memeroleh 
sertifikat, ya ini sah sah saja dan mau gak mau harus ikutan training yang 
menurut sebagian rekan, biayanya mahal.
 
Untuk mengupgrade kompetensi, biasanya saya melihat praktek dan bertanya secara 
personal kepada rekan2 yang lebih paham tentang konsep dan praktek lembaga 
keuangan syariah. Bisa jadi beliau lebih paham, bisa jadi ternyata saya yang 
lebih paham.
 
Ada kalanya berbagi (training) itu dalam rangka tabarru’, ada kalanya berbagi 
itu dalam rangka tijarah.
 
Jika rekan2 bersedia berbagi, belajar bersama dan sama2 gratisan, dengan senang 
hati saya pun bersedia via Email, FB, atau YM di [email protected] 
twitter @ahmadifham
 
Sekian dan terima kasih.
 
Regards,
Ahmad Ifham Sholihin




________________________________
From: risnandar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, June 15, 2010 3:03:21 PM
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?

  
Assalam alaikum wr wb 


Tapi orang miskin tidak dilarang untuk belajar dan berusaha Pak. He he..

Memang suatu tantangan dalam isu ini, sewaktu kuliah saya saya bertemu dengan 
seorang teman di BEM UI, yang waktu itu BEM UI salah satu programnya adalah 
mengadakan sekolah gratis untuk yang tidak mampu. 

Di hari pertama anak-anak yang tidak mampu yang datang banyak, di kahir bulan 
hanya tersisa 3 orang Pak. Isunya klasik, anak-anak merasa pendidikan yang 
diberikan tidak "menghasilkan" , mereka lebih baik kembali ke jalan. Waktu di 
sekolah hanya terbuang sia-sia menurut mereka.

Memang terlepas dari isu apapun, usaha untuk menanggulangi kemiskinan secara 
struktural tetap harus dilakukan, Bahkan subsidi terhadap pendidikan harusnya 
menjadi hal yang penting. Namun apakah dana yang banyak menjadi panacea bagi 
masalah-masalah pendidikan di Indonesia?

Tantangan paling besar saya rasa ada dalam dimensi kultural. 
Para officer-officer Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang bergerilya ke 
pasar-pasar untuk lending dan funding, pada umumnya, paham sekali dengan 
kemiskinan kultural. 

Semoga saja 20% APBN yang dialokasikan untuk dapat digunakan dan diberdayakan 
oleh orang-orang yang amanah dan mampu secara optimal berdampak terhadap 
kemajuan pendidikan Indonesia secara kualitas dan kuantitas.

Pengawasan terhadap penyaluran-penyalur an dana tersebut yang menjadi kunci.
Banyak sekali kasus penyelewengan (penyunatan) dana beasiswa yang terjadi 
soalnya. .

Salam hangat,


--- Pada Sen, 14/6/10, AYeeP <fais1...@yahoo. com> menulis:


>Dari: AYeeP <fais1...@yahoo. com>
>Judul: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?
>Kepada: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
>Tanggal: Senin, 14 Juni, 2010, 5:08 AM
>
>
>  
>Salam,
>
>Apa yang ditulis oleh bu Leni Hartati adalah sebuah realita yang menyakitkan 
>jika dibaca oleh orang miskin. Hal itu semakin membuktikan bahwa 
>
>       1. Orang miskin tidak boleh mendapatkan pendidikan (kalau mau ke desa 
> saja sono, sekolah di madurasa eh salah, madrasah)
>       2. Orang miskin tidak boleh sehat (kalau mau juga usahakan jangan 
> sampai sakit lalu masuk rumah sakit)
>       3. Orang miskin tidak boleh memimpin (kalau mau juga siapkan uang 
> milyaran untuk menjadi sekedar bupati atau gubernur)
>       4. Orang miskin tidak boleh berusaha (toh yang diuber-uber satpol 
> selalu mereka)Intinya, "sistem ini" melarang orang miskin untuk hidup di bumi 
> Indonesia. Mari kita hancurkan orang miskin!
>
>Lalu kita bicara hingga berbuih berbicara tentang sebuah teori ekonomi islam 
>yang -secara filosofis- konon membebaskan dan menjunjung tinggi kemanusiaan, 
>memanusiakan manusia dan menempatkan mereka dalam sebuah nilai kesetaraan.
>Faktanya kita lebih ribut di sisi kulit daripada implementasi "nilai". 
>
>Bahkan fatwa pun harus berpihak kepada pemilik modal.
>
>Siapa yang mau menggali lebih dalam, merenungi lebih dalam kisah orang buta 
>yang diceritakan secara eksplisit dalam awal surat 'abasa wa tawallaa? 
>Atas nama dakwah, Rasul pun nyaris bersikap sama jika tidak ditegur. Sebuah 
>kisah yang "menyadarkan" .
>Padahal wajar, jika hari ini saya bisa happy karena dapat berkenalan dengan 
>pemilik modal dan pemilik jabatan yang menguasai modal.
>Wajar juga jika saya merasa "happy dan berbeda" jika bisa bergaul dalam satu 
>komunitas yang berada di ruangan ber-ac, penuh aroma harum, kostum yang serba 
>"terpelajar" di bawah terang benderang lampu ruang.
>Wajar juga jika saya hari ini saya mengatakan "maaf ya bu" kepada pengemis 
>yang mengetuk rumah saya (Ah ganggau aja, bisik hati saya!)
>Kalaupun saya ingin memberinya, maka saya harus "mengabadikan" nya dalam 
>gambar dan dimasukkan dalam kolom seremonia sebuah surat kabar, plus (jangan 
>lupa sertakan juga) "bendera saya".
>Prinsip "memberi tanpa diketahui oleh tangan kiri" sungguh amat merugikan 
>dilihat dari sisi marketing dan pencitraan.
>
>Sebaliknya adalah tidak realistis.
>
>Mau apa lagi, zamane wis koyo ngene, gak "edan" gak keduman.
>
>Kemiskinan adalah kesialan dalam segala hal.
>
>Pertanyaanya, akankah sikap ini berubah ketika -dalam detik ini juga- sistem 
>kita bah menjadi "sistem syariati"? i dont think so. Hay`ata, hay`aata.
>
>Salam hangat
>Fasihol
>
>
>
________________________________
From: LENI HARTATI <lenihartati2000@ gmail.com>
>To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
>Sent: Fri, June 11, 2010 10:51:41 PM
>Subject: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?
>
>  
>Assalamu'alaikum, wr.wb
>Biaya pelatihan bank syariah sekarang, malah  tergolong murah Pak Faishol. 
>Pernah lihat gak tarif training bank di konvensional atau lembaga keuangan 
>konvensional, bisa mencapai 3,5 jutaan. Kuliah S2 di MM UI harganya 92 juta 
>Pak. Jadi harga-harga training bank syariah masih tergolong murah.Pelatihan 
>tentang BMT,tentu lebih murah lagi. . Biaya kuliah untuk dapet ilmu di 
>Fakultas Ekonomi atau Sekolah perbankan juga tidak murah Pak. Untuk 1 Semester 
>di Perbanas aja , lebih 10 jutaan, berarti 1 tahun 20 jutaan, Kalikan 4 tahun 
>Pak. Berapaan tuh?  Belum S2nya Pak. Jadi Biaya yang ada sekarang masih 
>sedang, bahkan murah. Namun jika dibandingkan dengan biaya pendidikan madrasah 
>di desa, ya, jelas, biaya training tersebut kemahalan.
>
>Sekian sekedar perbandingan 
>
>
>Pada 8 Juni 2010 15:16, AYeeP <fais1...@yahoo. com> menulis:
>
>  
>>Salam,
>>
>>Mengapa pelatihan, seminar dan sejenisnya yang berkaitan dengan perbankan 
>>islam atau ekonomis islam begitu mahal?
>>Hingga sekarang saya tak habis pikir, variable apa yang membuatnya bernilai 
>>juta-jutaan?
>>Apakah karena varibel fee dan transoprtasi pemakalah atau pembicara yang 
>>tinggi? Sewa gedung? harga kopi dan soft drink? variable harga trend?
>>Atau ini semua bisnis sebagaimana biasanya? Atau mungkin saya saja yang 
>>berpikiran cekak, kuno, gak maju, ndeso? 
>>Apakah ini indikasi bahwa geliat aktifitas ekonomi bernafaskan islam adalah 
>>geliat ekonomi biaya tinggi?
>>
>>Kalau mau jujur, tidak sedikit yang hanya berlomba mengumpulkan sertifikat. 
>>Tentu bukan sekedar "kertas itu ukuran A4" itu yang penting, tetapi implikasi 
>>eksistensi sertifikat yang berakhir pada harga jual "personal".
>>
>>Sentillah saya jika apa yang menggangu pikiran saya ini dinilai "mengganggu" .
>>
>>Salam hangat,
>>Faishol
>>
>>
>>
>>
>
> 




      

Kirim email ke