|
Abizar Al
Ghifary Imam
Kaum Dhuafa Dia dikenal
sangat setia kepada Rasulullah. Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok
sederhana ini dalam satu perjalanan pasukan Muslim menuju Dia
keletihan dan roboh di hadapan Nabi SAW. Namun Rasulullah heran kantong airnya
masih penuh. Setelah ditanya mengapa dia tidak minum airnya, tokoh yang juga
kerap mengkritik penguasa semena-mena ini mengatakan, "Di perjalanan saya
temukan mata air. Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan nikmat. Setelah
itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum Nabi SAW meminumnya."
Dengan rasa haru, Rasulullah berujar, "Engkau datang sendirian, engkau hidup
sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian. Tapi serombongan orang
dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu." Abizar Al
Ghifary, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk
Islam. Tidak diketahui pasti kapan Abizar lahir. Sejarah hanya mencatat, ia
lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Abizar yang
dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghiffar saat itu,
menjadikan aksi kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan sebagai profesi
keseharian. Itu sebabnya, Abizar yang semula bernama Jundab, juga dikenal
sebagai perampok besar yang sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di
sekitarnya. Kendati
demikian, Jundab pada dasarnya berhati baik. Kerusakan dan derita korban yang
disebabkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya:
Insyaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali
segala perbuatan jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti
jejaknya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab
meninggalkan tanah kelahirannya. Bersama ibu
dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar, Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi.
Ini merupakan hijrah pertama Abizar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas,
Abizar tak lama tinggal. Sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner
sehingga tak jarang mendapat tentangan dari masyarakat setempat.
Mendengar
datangnya agama Islam, Abizar pun berpikir tentang agama baru ini. Saat itu,
ajaran Nabi Muhammad ini telah mulai mengguncangkan
Demikian
halnya dengan Ka'bah yang masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para
penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang
populer. Nabi juga datang ke Bahkan
sebelum masuk Islam, ia sudah mulai menentang pemujaan berhala. Dia berkata:
"Saya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan
melihat Nabi Besar Islam." Sejak saat itu, Abizar membaktikan dirinya kepada
agama Islam. Mendapat
kepercayaan Nabi SAW, Abizar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya.
Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abizar tergolong sukses.
Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka
merampok berhasil diislamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah
seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka. Rasulullah
sendiri sangat menghargainya. Ketika dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam
"Perang pakaian compang-camping", dia diangkat sebagai imam dan administrator
Bagi Abizar,
masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya,
hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam.
Penafsirannya mengenai "Ayat Kanz" (tentang pemusatan kekayaan), dalam
"Mereka yang
suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah,
beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada
hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak
yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang
telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah
engkau himpun." Atas dasar
pemahamannya inilah, Abizar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan
menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun
Abizar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria
yang diperintah Muawiyah, saat itu. Menurutnya,
sebagaimana dikutip dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran,
merupakan kewajiban Muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada
saudara-saudaranya yang miskin. Untuk
memperkuat pendapatnya itu, Abizar mengutip peristiwa masa Nabi: "Suatu hari,
ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad.
Nabi berkata
kepada Abizar, 'Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku
tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar
utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba
Allah'." Pelayan
Dhuafa dan 'Pelurus' Penguasa
Semasa
hidupnya, Abizar Al Ghifary sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa.
Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan
kepribadian Abizar. Sudah menjadi kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah
merampok kafilah yang lewat. Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap
kali merampok orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa.
Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.
Prinsip
hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di tempat
barunya, di Syria. Namun di tempat baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah
hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas
yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara
besar-besaran. Ajaran egaliter Abizar membangkitkan
Ketika
Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat
Nabi SAW yang tinggal di serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, "Kalau
Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan
uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda
melakukan 'israf' (pemborosan)." Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab
peringatan itu. Muawiyah
berusaha keras agar Abizar tidak meneruskan ajarannya. Tapi penganjur
egaliterisme itu tetap pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah
diskusi antara Abizar dan ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak
mempengaruhinya. Muawiyah
melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang
ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati
demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah
mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan kebencian
kelas di Keberanian
dan ketegasan sikap Abizar ini mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti
Hasan Basri, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak
berlebihan jika sahabat Ali Ra, pernah berkata: "Saat ini, tidak ada satu orang
pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang
diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang
terkecuali."
|
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
