Tadabbur 26 : I'tikaf
Ramadhan Rabu, 18 Oktober 06 -
oleh : Redaksi
Ibadah Pengendali &
Penyejuk Hati
Memang benar, setiap jiwa ditanamkan kecintaan kepada
duniawi, kita semua merasakan itu. Maka, wajar kalau kita cinta kepada
istri-istri kita, anak-anak, harta kekayaan leimpah, emas, perak, rumah tinggal,
kendaraan mewah. Namun, lebih banar dan lebih wajar lagi kalau kecintaan
tersebut dibatasi rambu-rambu dan keteraturan. Karena jika tidak demikian, akan
terjadi malapetaka bagi kita semua, bahkan bagi kehidupan itu sendiri.
Manusia adalah makhluk serakah, makhluk yang tak kenal lelah dalam
mencari harta dunia. Ia makhluk yang suka bersaing, memiliki dorongan syahwat
yang kuat terhadap keinginan dirinya. Karenanya, jika manusia dibiarkan dalam
kebebasan tanpa rambu dan batas-batas hidup, kehancuran dan kebinasaan yang akan
dialaminya.
Allah swt. tahu itu semua, karena Dia yang mencipta, Dia
pula yang memberikan kebutuhan hidup baik moril maupun materil. Dia yang
mengatur stabilitas kehidupan, juga yang selalu mengawasi, membantu manusia
dalam menjalankan misi hidupnya. Oleh karena itu semua, Allah swt. sangat tahu
akibat jauhnya manusia dari aturan dan rambu-rambu kehidupan.
Diantara
rambu dan aturan kehidupan untuk manusia adalah syariat Allah berupa akidah,
ibadah, dan muamalah. Karenanya, ibadah-ibadah dalam Islam diperuntukkan menjaga
diri manusia dari ketertipuan duniawi, ibadah yang berkonotasi taqorrub kepada
Allah agar dapat memelihara hati manusia dari bencana yang dapat menimpa
dirinya. Sebab, jika hati manusia baik dan terarah, maka amal perbuatannya pun
akan baik dan terarah.
Firman Allah swt., "Sungguh beruntung orang yang
membersihkan jiwanya (tazkiyah an-nafs) dan merugi orang yang mengotorinya" (QS
adz-Dzariyat: 9-10).
Rasulullah saw. menjelaskan isyarat itu dalam
sabdanya,
ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت
فسد الجسد كله ألا وهي القلب (رواه البخاري ومسلم)
“Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik
maka seluruh jasad menjadi baik, tetapi jika ia rusak maka seluruh jasad akan
menjadi rusak, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari
Muslim).
Diantara ibadah pengarah dan pengendali hidup dan kehidupan
manusia adalah i'tikaf. Yaitu menetap di dalam mesjid dengan niat taqarrub
kepada Allah, dengan melakukan amal-amal ubudiyah. I'tikaf merupakan ibadah yang
sangat dianjurkan dalam Islam.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Yang
saya ketahui, bahwa tidak seorang pun dari ulama yang tidak men-sunnahkan
(mengatakan hukumnya sunnah).”
Imam Malik juga mengatakan, "Saya cermati
dan analisa (dalil-dalil) I'tikaf. Kenapa kaum muslimin banyak yang meninggalkan
ibadah ini, padahal Rasulullah saw. tidak pernah meninggalkannya (di bulan
Ramadhan)".
Imam Az-Zuhri rahimahullah menyayangkan kalau sebagian kaum
muslimin meninggalkan ibadah sunnah ini, padahal Nabi Muhammad saw. sejak datang
ke Madinah tidak pernah meninggalkan ibadah ini sampai akhir hayatnya.
Rasulullah saw. selalu menghidupkan ibadah i'tikaf, karena beliau
memahami fadhilah (keutamaannya) dan merasakan kesejukkan hati. Memang, i'tikaf
ini merupakan ibadah yang mampu mengarahkan kecenderungan cinta dunia yang
dimiliki manusia. I'tikaf juga mampu mengingatkan gemerlapan harta kekayaan agar
tidak menjerumuskan.
I'tikaf terbukti mampu menuntun manusia untuk
menjauhkan diri dari godaan teman-teman hidup yang selalu mengajak manusia ke
jalan kehancuran dan malapetaka. Manusia akan aman dan tentram dari berbagai
tipu muslihat 'syetan' kehidupan.
Secara khusus, Rasulullah melakukan
i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana yang
diriwayatkan Aisyah ra., bahwa Nabi saw. selalu i'tikaf pada 10 malam terakhir
di bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, sunnah i'tikaf ini dilanjutkan
oleh para istri beliau (HR Bukhari dan Muslim).
Sedangkan pada tahun
wafatnya, Nabi melakukan i'tikaf di bulan Ramadhan selama 20 hari (10 malam
kedua dan terakhir dari Ramadhan), sebagaimana diriwyatkan oleh Imam Bukhari dan
Muslim. Hal itu dilakukan karena beberapa faktor :
- Malaikat Jibril mengajarkan Nabi Al-Qur'an pada
tahun wafatnya sebanyak 2 kali, maka sesuai dengan bilangan 20 hari. Sebab
pada setiap tahun biasanya malaikat Jibril hanya 1 kali mengajarkan beliau
Al-Qur'an.
- Nabi ingin meningkatkan amal sholihnya karena
perasaannya akan kedekatan ajalnya dengan turun ayat-ayat surat an-Nashr.
Beliau memahami ayat-ayat tersebut sebagai perintah Allah untuk memperbanyak
bertasbih dan istigfar karena dekatnya ajal beliau. Demikianlah Nabi
memanjangkan ruku dan sujudnya seraya membaca do'a: "subhaanakallohumma,
wabihamdika, Alloohummagfir lii", artinya: “Mahasuci Engkau ya Allah,
puji-pujian bagiMu, ampunilah aku ya Allah” (diriwayatkan Bukhari Muslim).
- Nabi melakukan i'tikaf 20 hari pada saat itu,
sebagai pengungkapan rasa syukur kepada Allah swt., atas karunia dan
taufik-Nya dalam menunaikan kebajikan dalam kehidupan, seperti kemampuan
berjihad, kesempatan mengajar, melaksanakan shaum, qiyam, menurunkan
al-Qur'an, dan sebagainya.
Allahu
Akbar, itulah teladan kita, senantiasa menyadari bahwa usia panjang yang
dikaruniakan Allah handaknya dimanfaatkan untuk kebaikan-kebaikan. Sebab, apa
artinya umur panjang jika penuh dengan noda maksiat kepada Allah swt.
Suatu keteladanan prima dari seorang Rasul dan seorang anak manusia
pilihan Allah. Ketinggian dan kemuliaan diri yang disandangnya tidak membuat
dirinya lupa. Bahkan, semakin tinggi dan mulia, semakin ia buktikan syukurnya
dan sikap serta perilaku tunduk dan taatnya, yang dicontohkan dengan bertasbih
dan istigfar. Yang mengindikasikan bahwa ketinggian dan kemuliaan dirinya bukan
semata-mata karena dirinya, tapi semua itu karena ke-Maha-Kuasa-an dan
Kehebaatan Allah swt.
Saat i'tikaf, seseorang hendaknya membersihkan
pakaian dan tempat ibadahnya, seperti yang diisyaratkan Rasulullah ketika
i'tikaf di mesjid, beliau mengeluarkan kepalanya ke hujrah (bilik rumah) Aisyah
ra., seraya Aisyah yang sedang haidh itu membersihkan rambut Rasul dan
merapikannya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Dalam i'tikaf, dianjurkan pula untuk melakukan kegiatan-kegiatan
taqarrub lainnya, seperti tilawah Al-Qur'an, mempelajari hadits Nabi saw.,
membaca buku-buku Islam, mendengarkan nasehat dan arahan agama, tasmi'
(mendengarkan bacaan Al-Qur'an) dan kegiatan lain yang positif yang tidak
membatalkan i'tikaf dan tidak mengurangi nilai kekhusyuan ibadah di mesjid.
Penulis melihat adanya hal-hal yang 'ganjil' dalam masalah i'tikaf,
sekaligus merupakan kekeliruan persepsi, antara lain:
- Sebagian orang menyangka bahwa i'tikaf itu hanya
berlaku di 3 mesjid saja yakni: mesjid Nabawi, mesjid Al-Aqsha dan mesjid
Al-Haram di Mekkah. Padahal, Allah swt. Berfirman,: "dan janganlah kamu gauli
(istri-istrimu) selama engkau I'tikaf di mesjid-mesjid" (QS. Al-Baqarah: 187).
Lafal "Al-Masajid" (di mesjid-mesjid) berarti dibolehkan di mesjid
manapun. Namun, dianjurkan melakukan i'tikaf di mesjid jami' (bukan musholla).
Sedangkan hadits: "La i'tikaafa illaa fil-masaajid ats-tsalaatsah" (tidak ada
i'tikaf selain di mesjid yang tiga) seperti yang diriwayatkan imam Ath-Thahawi
dalam bukunya "Misykatul Atsar 4/20" sekiranya hadits ini shahih, ini dapat
diartikan sebagai keutamaan i'tikaf di 3 mesjid ini, karena keutamaan 3 mesjid
ini dari yang lainnya, tidak berarti i'tikaf hanya disyariatkan di tiga mesjid
ini saja.
- Mispersepsi yang lain adalah anggapan i'tikaf
sebagai peluang bertemu handai taulan, sehingga ada kecenderungan i'tikaf
dijadikan ajang 'ngobrol' dengan teman-teman yang jarang bertemu. I'tikaf
berjamaah dibolehkan, bersama keluarga, teman atau famili sekalipun, namun
pertemuan saat i'tikaf tidak boleh dijadikan saat 'kangen-kangenan', sehingga
membuat gaduh mesjid dan bahkan sangat mungkin mengganggu yang lain. Imam Ibnu
Qoyyim ketika melihat gejala i'tikaf seperti ini mengatakan, "Ini adalah satu
warna (i'tikaf) yang sangat berbeda dengan i'tikaf Rasulullah saw." (Zaadul
Ma'ad 2/90).
- Ada kekeliruan lain tentang i'tikaf. Sebagian
orang meninggalkan tugas dan kewajibannya di tempat kerja atau mengindahkan
amanat dari seseorang lantaran ingin melakukan i'tikaf. Sangat tidak adil dan
tidak bijak seseorang meninggalkan yang wajib untuk melakukan yang
sunnah.
Semoga Allah swt.
memberikan taufik dan kemudahan kepada kita yang berminat dan berupaya
mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah saw., sebagai tambahan amalan kebajikan
kita dan pemberat timbangan amal shalih di Akhirat kelak. Allah swt. Berfirman,
"dan berbuatlah, sesungguhnya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman
akan melihat amal kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha
Tahu yang nampak dan tidak nampak, lalu meminta pertanggungjawaban amal
perbuatan kalian" (QS. At-Taubah: 105).
Allahu A'lam Bish-showab.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani -
IKADI
|