Tadabbur 28 : Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Hamba
Ramadhani Kamis, 19 Oktober 06 -
oleh : Redaksi
Setiap bulan Ramadhan datang,
ada perubahan besar pada beberapa orang. Dengan semangat, mereka melakukan
ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan tingkat intensitas yang jauh berbeda dari
bulan-bulan sebelumnya. Namun sayang, setelah Ramadhan berlalu dan usai, maka
berlalu pula dan usai pulalah intensitas ibadah yang selama Ramadhan mereka
lakukan.
Pendekatan cara beribadah seperti ini tentu sangat keliru dan
tidak benar. Sebab, hanya menjadikan Ramadhan sebagai tumpuan utama beribadah
dan dengan menyepelekan bulan-bulan lain. Maka, sama artinya bahwa kita
melakukan ibadah yang hanya bersifat musiman. Kita menjadi hamba musiman dan
bukan hamba yang selalu istiqamah dan lurus di jalan Allah.
Padahal,
tujuan puasa yang sebenarnya adalah sebagaimana yang Allah firmankan,
Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan berpuasa kepadamu
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang datang sebelum kamu agar kamu
bertakwa (Al-Baqarah: 183).
Yakni, membidani lahirnya ketakwaan kita
kepada Allah secara berkesinambungan dan kontinyu. Oleh karena itulah, Allah
menggunakan kata tattaquun dalam bentuk fiil mudhari yang berarti untuk saat
ini dan yang akan datang.
Artinya adalah bahwa dengan puasa, seseorang
akan mampu melakukan internalisasi ketakwaan ini dalam darah dagingnya, sehingga
dia memiliki kepekaan rabbani yang terus menerus, tanpa mengenal waktu, kondisi,
dan ruang. Ketakwaaan yang sebenarnya bukan hanya ada dan harus terasa di bulan
Ramadhan, namun juga hendaknya terus bergulir di luar bulan suci, sebagai buah
dari latihan-latihan yang melelahkan di bulan Ramadhan ini.
Sebab,
ketakwaan tidak memiliki batas ruang dan zaman tertentu. Dia harus terus
mengalir deras kapan dan dimana saja dia berada. Bagi manusia takwa, dirinya
akan senantiasa berada dalam aura rabbani yang menggelegak-gelegak untuk
melakukan kebaikan dan kebajikan, untuk menjauhi larangan dan maksiat kepada
Allah.
Dalam hari-harinya, akan terasa nuansa rabbaniyah yang
menggerakkan dirinya untuk senantiasa dekat dengan Allah, merapat ke sisi-Nya,
mendekat ke hadirat-Nya. Mata hatinya memiliki radar furqan yang sangat
gampang membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang batil dan yang
hak, antara cahaya Tuhan dan kegelapan syetan.
Nuraninya memiliki
sensitivitas tinggi dalam memilah antara kebaikan dan kejahatan. Hamba rabbani
akan senantiasa berada dalam koridor-koridor lurus Tuhannya dan akan senantiasa
menjauhi jerat-jerat syetan.
Namun sekali lagi, aktivitas itu harus
senenantiasa berlangsung tanpa henti dan jeda. Gelombang ketakwaan itu harus
terus bergolak dan berhembus di luar bulan Ramadhan.
Suatu kali
dikatakan kepada Imam Bisyr, bahwa ada sekelompok manusia yang hanya
bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan dan dia diminta pendapatnya
mengenai orang yang memiliki sikap beribadah seperti itu. Dia menjawab,
Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allah kecuali pada
bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shaleh akan senantiasa bersungguh-sungguh
beribadah sepanjang tahun.
Jawaban ini mengisyaratkan bahwa seorang
hamba rabbani, yakni hamba yang selalu dekat dengan nilai-nilai ketuhanan,
amal-amalnya akan senantiasa bertaburan bak gemintang, kapan saja dan bulan apa
saja. Keterikatan kita bukan pada bulan itu, namun keterikatan kita senantasa
berupa ketaatan kepada Allah.
Hamba rabbani akan menggetarkan
dinding-dinding malam dengan dzikirnya, kapan saja dan dimana saja. Hamba
rabbani akan menggetarkan atap-atap langit dengan tasbih dan tahmidnya kapan
saja dan dimana saja.
Hamba rabbani akan menggelar konser tahlil di
mesjid-mesjid, di mushala-mushala, di kereta-kereta, di mobil-mobil dan dimana
saja dia berada. Bibirnya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah,
kalbunya penuh dengan cahaya Allah. Hamba rabbani terus berjalan di atas
shiratal mustaqim.
Hamba rabbani memiliki mata anti maksiat, telinga
anti desas-desus, mulut anti fitnah dan adu domba. Hatinya sebening mutiara dan
pikirannya secerah bintang kartika.
Tak heran jika hamba-hamba rabbani
ini akan menjadi suluh dan secercah cahaya yang akan memberikan penerangan
terhadap manusia-manusia lain. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun di
setiap detakan waktu, di setiap tarikan nafas, di setiap langkah kaki. Dia
menjadi musuh utama hamba syaitani, manusia-manusia yang mengabdi pada kehendak
syetan dan hawa nafsunya.
Di bulan Ramadhan ini, kesempatan untuk
melatih diri menjadi hamba rabbani betul-betul terbuka lebar. Karena, bulan ini
mengandung berbagai keistimewaan. Bulan ini bulan paling mulia diantara sebelas
bulan lainnya, bulan yang di dalamnya rahmat dicurahkan, ampunan ditawarkan
dengan gencar, pembebasan dari api neraka dibuka lebar-lebar. Bulan yang di
dalamnya tangan-tangan syetan dibelenggu, pintu Rayyan dibuka menganga.
Bulan yang sedekah di dalamnya jauh lebih baik dari pada sedekah di
bulan lainnya, pahal-pahala amal dilipat tanpa diketahui jumlah lipatannya.
Bulan dimana umrah yang dilakukan pada bulan ini setara dengan ibadah haji di
bulan lain, atau dalam hadits lain disebutkan laksana melakukan haji bersama
Rasulullah.
Bulan yang di dalamnya doa-doa tidak tertolak saat
dipanjatkan pada saat berbuka. Bulan yang di dalamnya Al-Quran untuk pertama
kalinya diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Bulan yang menjadi tameng
pelakunya dari api neraka, laksana tameng mereka pada saat perang.
Bulan
ini akan menjadi uji coba pertama siapa diantara kita yang mampu merengkuh semua
pahala di bulan suci untuk kita jadikan bekal menjadi hamba rabbani di masa-masa
mendatang. Bekal ketakwaan, bekal kesabaran, tahan uji, kepekaan sosial,
kearifan ucapan dan lainnya. Kelulusan kita di bulan ini sangat menentukan
apakah kita mampu menjadi hamba rabbani atau kita gagal mencapainya.
Maka, tidak ada cara lain bagi kita selain mengokohkan otot ketakwaan
kita kepada Allah di bulan suci ini, agar kita tidak menjadi abdun ramadhani,
hamba yang hanya takwa, sabar dan tawakkal di bulan Ramadhan. Hamba yang hanya
tahu hak dan kewajibannya di bulan Ramadhan, hamba yang hanya menyucikan
telinga, mata, mulut, dan lisannya di bulan Ramadhan semata.
Kita
berharap, bahwa puasa tahun ini akan mencetak kita menjadi hamba rabbani dan
bukan hamba ramadhani. Fakun abdan Rabbaniyan wala Takun Abdan Ramadhaniyan.
Semoga. Amien.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani -
IKADI
|