Tadabbur 29 : Kembali Fitri dengan Tampilan lebih
Islami Kamis, 19 Oktober 06 -
oleh : Redaksi
Deskripsi Memaknai Idul
Fitri
Sudah merupakan sunatullah, bahwa setiap pertemuan pasti ada
perpisahan. Ramadhan yang kedatangannya selalu dirindukan oleh para salafus
shaleh (ulama terdahulu) enam bulan sebelumnya dan dimohonkan dalam doa mereka,
kini saatnya akan berpisah dengan kita.
Imam Mualla bin al Fadhl
rahimahullah berkata, Dahulu para ulama senantiasa berdoa kepada Allah selama
enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan! Kemudian mereka juga berdoa
selama enam bulan agar diterima amal ibadah mereka (selama Ramadhan).
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali
berjumpa dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya,
beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan, membawa segudang
pahala untuk bekal di akherat.
Semoga kita termasuk para shaimin (orang
yang berpuasa), yang akan mendapatkan kebahagiaan luar biasa, yaitu saat bertemu
Allah swt., sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya, Orang
yang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berakhirnya
ibadah puasa (berbuka) dan kebahagiaan saat bertemu Rabb-nya kelak. (Muttafaq
Alaih)
Setelah sebulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa dengan
semangat iman dan mengharap balasan Allah (ihtisaaban) semata. Maka, memasuki
hari raya Idul Fitri ini, berarti kita kembali kepada fitrah (kesucian). Jiwa
kita telah fitri (suci) tanpa dosa, sebagaimana sabda Nabi saw.,
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan landasan iman dan
mengharap ba/asan dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa sebelumnya,
(Muttafaq Alaih).
Karena itu, sepatutnyalah jiwa yang sudah fitri ini
diupayakan secara maksimal untuk dipertahankan dan dijaga dengan penunaian
berbagai bentuk amal shalih pasca Ramadhan. Sebab, keberhasilan meraih derajat
taqwa melalui ibadah puasa (A1-Baqarah/2: 183), bukan ditandai berakhirnya bulan
Ramadban. Melainkan, sejauh mana iltizam (konsistensi) orang-orang yang berpuasa
dalam melakukan ibadah pasca bulan Ramadhan. Sejauh mana kesinambungan
harmonisasi hubungan dengan Sang Khaliq (Allah swt.) terpelihara secara baik
pasca Ramadhan.
Jangan sampai prestasi cemerlang yang diraih dengan
kerja keras selama sebulan penuh, terhapus oleh keburukan yang menyusul. Jangan
sampai kesucian jiwa yang dibangun susah payah selama bulan Ramadhan, tercemari
oleh perbuatan maksiat, begitu sayonara (berpisah) dengan Ramadhan.
Jika
ini yang terjadi, maka sama halnya dengan orang yang mendirikan bangunan indah
nan megah dengan biaya mahal, lalu Ia sendiri yang merobohkannya. Allah swt..
berfirman, Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan
benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali,
(An-Nahl: 92).
Dikatakan kepada Imam Bisyr rahimahullah, Sesungguhnya
sekelompok kaum sangat rajin dan bersungguh-sungguh beribadah di dalam bulan
Ramadhan, bagaimana pendapat anda? Beliau lalu menjawab, Seburuk-buruk kaum
adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan saja.
Sesungguhnya orang shalih akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang
tahun (tidak hanya Ramadhan saja).
lmam Asy-Syalabi rahimahullah pernah
ditanya, Mana yang lebih utama bulan Rajab atau Syaban? Beliau menjawab, Kun
Rabbaaniyyan walaa Takun Syabaaniyyan! (Jadilah engkau muslim yang rabbani,
selalu ingat Allah kapan saja, jangan jadi Syabani, yang hanya beribadah di
bulan Syaban saja). Dulu, Nabi saw. amalnya selalu berkesinambungan.
Ummul Mukminin, Aisyah ra. pernah ditanya, Apakah Rasulullah saw. dulu
mengkhususkan suatu bulan tertentu untuk beribadah? Beliau menjawab, Tidak Ada!
Beliau saw. selalu berkesinambungan.
Tidak berarti secara kuantitas
kita harus sama persis seperti ketika bulan Ramadhan dalam beribadah kepada
Allah swt. Tapi, yang dituntut dari kita adalah mempertahankan keistiqomahan
dalam menapaki manhaj Allah yang lurus, memelihara kualitas semangat beribadah
dan kesinambungan mentaati Allah swt.
Sebab, menyembah dan mentaati
Allah tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja. Imam Hasan Al Bashri rahimahullah
pernah berkata, Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan
suau waktu tertentu selain kematian, kemudian beliau membaca firman Allah, Dan
sembahlah Rabbmu sampai kematian mendatangi mu, (Al-Hijr (15): 99). (Lathaa
ifu l Ma arif, hal. 261).
Boleh jadi amal shalih kita pasca Ramadhan
secara kuantitas menurun. Tapi, yang penting kontinyu dan inilah yang terbaik,
sebagaimana sabda Nabi saw., Amal (perbuatan) yang paling dicintai oleh Allah
adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit, (Muttafaq Alaih).
Bulan Ramadhan memang telah berlalu, tapi musim-musim kebaikan lain
segera menyusul. Shalat lima waktu yang merupakan perbuatan agung dan hal
pertama yang akan dihisab di hari kiamat nanti, tidak berhenti dengan
berakhirnya Ramadhan.
Jika puasa Ramadhan berakhir, maka puasa-puasa
sunnah yang berpahala tidak kecil, tidaklah berakhir bahkan menanti sentuhan
kita. Seperti, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga
hari dalam sebulan (Ayyaamul Bidh, han-han putib; tgl 13, 14 dan 15 tiap bulan),
puasa Asyura (tgl 10 Muharram), puasa Arofah dan lain-lain.
Jika Qiyam
Ramadhan dan Tarawih telah lewat. Maka, Qiyamullail (Tahajjud) tetap
disyariatkan tiap malam. Bermunajat di tengah malam adalah kebiasaan
orang-orang shalih. Abu Sulaiman Ad Daaraani rahimahullah berkata, Seandainya
tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia.
Jika zakat
Fitrah berlalu, maka zakat wajib dan pintu sedekah masih terbuka lebar pada
waktu-waktu yang lain.
Karenanya, memasuki Idul Fitri yang berarti jiwa
kita menjadi fitri (suci), maka tampilan kita harus lebih Islami. Termasuk
dalam tampilan di sini adalah tujuan, orientasi, motivasi, fikrah (pemikiran),
akhlak, moral, perilaku, interaksi, policy, aktivitas, kiprah, dan peran. Baik
tampilan keindividualan kita, kerumahtanggaan kita, maupun tampilan
kesosialan kita. Baik tampilan kerakyatan kita maupun tampilan kepejabatan
kita. Baik tampilan dalam kesendirian kita maupun tampilan dalam keramaian
kita.
Ketika terjadi islamisasi tampilan pasca Ramadhan, berarti ini
merupakan indikator diterimanya puasa Ramadhan kita. Karena, jika Allah swt.
menerima amal seseorang, maka pasti Dia akan menolongnya untuk mengadakan
perubahan diri ke arah yang lebih positif dan meningkatkan amal kebajikan.
Seorang penyair Arab pernah mengingatkan dalam syairnya,
Bukanlah hari raya Id itu bagi orang yang berbaju baru, melainkan
hakekat Id itu bagi orang yang bertambah taatnya (kepada Allah swt.).
Taqabbalallahu minna waminkum, wakullu aamin wa antum bikhairin. Semoga
Allah swt.. menenima semua amal ibadah klta di bulan Ramadhan. Amin ...
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani -
IKADI
|