> buku lain yg mungkin dapat dijadikan referensi adalah Menuju Jama'atul > Muslimin, karya ilmiah ust. Jabir dlm desertasi S2nya di universitas > Madinah dengan predikat cumlaude (imtaz), > > Didalam prolognya beliau menukilkan hadist ttg periodisasi kepemimpinan, > yg menjelaskan pd kita bahwa kepemimpinan dunia ini akan berputar, yaitu > masa rosululloh SAW, masa kholafa'ur rosyidin, mulkon abdon (raja yg > menggigit), mulkon jabariyah (sekularisme), setealah itu akan kembali > kepada khilafah ala minhajul nubuwah. maka selaku muslim harus yakin > bahwa suatu saat nanti PASTI khilafah islam itu akan datang. > > dalam buku tsb ditegaskan bahwa sekarang ini tdk ada jama'atul muslimin, > tetapi yg ada adalah jama'tul minial muslim. kemudian setelah menjelaskan > ttg jama'ah yg ada yg bersifat internasional saat ini, baik ttg tokoh2nya, > sejarah lahirnya, kiprahnya, ttg stressing & ruang lingkup gerakannya > dll, dengan tidak mengabaikan peran jama'ah yg lain, beliau menyimpulkan > ttg jama'ah yg paling mendekati kepada kesempurnaan (keutuhan) islam. > > baru setelah itu beliau menjelaskan ttg tahapan-tahahapan da'wah > Rosululloh SAW beserta rambu-rambunya > > Demikian garis besar yg saya ingat dari buku tsb, mohon koreksinya bila > ada kesalahan, maklum sudah cukup lama membacanya yaitu pada saat masih > kuliah, sekitar tahun 1993 > > Musyafak > > > > > > > > > > Wa'alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh.2 > > Syukron akhi atas pertanyaannya mudah-mudahan uraian berikut (yang saya > ambil dari resonansi buku dawlah islamiyah) dapat menjawab pertanyaan > akhi, tapi kalau tidak mohon maaf yang sebesar-besarnya > > Secara faktual, Negara Islam bukanlah mimpi, bukan pula khayalan dalam > imajinasi. Lebih dari 13 abad Negara Islam eksis dan menjadi sebuah negara > adidaya, yang bahkan tidak ada tandingannya sampai hari ini. Secara > normatif pun, para ulama salaf maupun khalaf sepakat mengenai jargon, > "Islam adalah agama dan negara (Al-Islâm dîn wa dawlah)." Karena itu, > istilah Negara Islam (ad-Dawlah al-Iislâmiyah) bukanlah istilah yang asing > di kalangan ulama Islam sejak dulu hingga kini. > > > Namun sayang, faktanya istilah Negara Islam saat ini masih menyembulkan > problem, baik secara terminologis maupun politis. Problem terminologis > menyangkut penolakan sebagian kalangan, bahwa dalam al-Quran maupun > as-Sunnah tidak ditemukan kata dawlah yang berkonotasi negara. Anehnya, > pendapat ini juga sering dilontarkan oleh kalangan yang mengklaim sebagai > kaum subtansialis. Mereka lebih sibuk menyoal aspek literal/tekstual > Negara Islam ketimbang menelusuri 'subtansi'-nya dalam nash-nash yang ada. > Padahal banyak ayat al-Quran mengenai keharusan penguasa memerintah > berdasarkan wahyu Allah, termasuk memberlakukan sejumlah hukuman (hukum > cambuk, rajam, potong tangan. qishash, jihad, dll). Dalam as-Sunnah juga > banyak hadis mengenai kewajiban mengangkat Imam/Khalifah (kepala Negara > Islam). Demikian pula dalam Sirah Nabi saw., terdapat catatan mengenai > praktik kenegaraan otentik yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. sebagai > kepala negara (seperti mengangkat para qadhi/hakim, para wali/gubernur, > dan para panglima perang; melakukan perang dan damai; dll). Kenyataan ini > juga diperkuat oleh bukti-bukti sejarah faktual yang menunjukkan betapa > Negara Islam-yang dalam istilah lain disebut dengan Khilafah Islam-pernah > berlangsung selama kurang-lebih 13 abad (sebuah masa yang sangat panjang > untuk ukuran sebuah negara), dengan kekuasaan yang pernah meliputi 2/3 > bagian dunia ini (mencakup seluruh Timur Tengah, sebagian Afrika, dan Asia > Tengah; di sebelah timur sampai ke negeri Cina; di sebelah barat sampai ke > Andalusia [Spanyol], selatan Prancis, serta Eropa Timur [meliputi > Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, Bulgaria, serta > seluruh kepulauan di Laut Tengah]. Dengan semua kenyataan ini, sangat > sulit untuk dikatakan bahwa umat Islam tidak pernah memiliki Negara Islam. > > > Adapun problem politis menyangkut dominasi sistem negara dan pemerintahan > sekular di negeri-negeri Muslim saat ini. Problem politis juga menyangkut > penggambaran sosok Negara Islam, terutama oleh musuh-musuh Islam. yang > sering tampak pejoratif. Negara Islam (Khilafah Islam) sering digambarkan > sebagai negara otoriter, tidak demokratis, anti kemajuan, dll. Mereka > lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Islam pernah menjadi sebuah sumber > peradaban dunia yang agung selama berabad-abad-bahkan menjadi inspirator > renaissance Eropa-justru pada masa Kekhilafahan Islam, artinya ketika > Negara Islam ada. > > > Semua problem di atas sesungguhnya bermuara pada problem faktual, yakni > tidak adanya sosok Negara Islam di tengah-tengah kaum Muslim saat ini, > praktis setelah Khilafah Islam diruntuhkan 82 tahun yang lalu, tepatnya 3 > Maret 1924, oleh Mustafa Kemal Attaturk-seorang Yahudi yang juga agen > Inggris saat itu. Akibatnya, generasi umat Islam saat ini kehilangan > gambaran sama sekali mengenai sosok dan karakter Negara Islam. Ini berbeda > dengan generasi mereka yang pernah hidup pada masa-masa akhir Daulah Islam > Utsmaniyah, yang sempat menyaksikan sisa-sisa negara dan pemerintahan > Islam. > > > Itulah sebagian kenyataan yang diungkap dalam buku yang berjudul asli > Ad-Dawlah al-Islâmiyyah ini. Karena itu, di antara kepentingan buku ini > adalah ingin menghadirkan kembali gambaran Negara Islam (Khilafah Islam) > ke dalam benak kaum Muslim. Penulisnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, > adalah seorang pemikir, mujtahid, sekaligus politisi ulung. Beliau adalah > juga pendiri Hizbut Tahrir (HT, sebuah partai politik internasional yang > bercita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan cara > menegakkan kembali Khilafah Islam di dunia ini. Anggota dan aktivitas HT > sendiri saat ini telah tersebar di lebih 40 negara. > > > Di dalam buku ini, yang merupakan salah satu buku rujukan resmi HT, Syaikh > An-Nabhani memaparkan secara gamblang dan rinci bagaimana Rasulullah saw. > dan para Sahabatnya berjuang dalam melakukan dakwah, dengan menempuh > metode yang telah digariskan, sampai berhasil menegakkan Daulah Islam > (Negara Islam) di Madinah, sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke > seluruh jazirah Arab melalui dakwah dan jihad, sembari terus memperluas > wilayah kekuasaan Negara Islam. > > > Melalui buku ini, Syaikh An-Nabhani juga memaparkan secara jelas sosok dan > karakter Negara Islam, termasuk faktor-faktor yang memperkuat dan > memperlemah Negara Islam, yang sangat berpengaruh terhadap pasang-surutnya > Negara Islam, hingga kejatuhannya pada tahun 1924. Tidak lupa, An-Nabhani > juga menjelaskan jalan yang harus ditempuh oleh kaum Muslim saat ini untuk > menegakkan kembali Negara Islam serta bagaimana mengatasi berbagai > rintangan yang menghalanginya. > > > Di samping pemaparannya yang gamblang dan rinci, kelebihan buku ini > terletak pada analisisnya yang tajam, yang menjadikan buku ini lebih > merupakan buku 'analisis sejarah'-ketimbang sebagai buku sejarah-mengenai > jatuh-bangunnya Negara Islam. Lebih dari itu, buku ini sekaligus merupakan > buku 'tuntunan dakwah' mengenai bagaimana seharusnya generasi kaum Muslim > saat ini menempuh jalan untuk menegakkan kembali Negara Islam atau > Khilafah Islam, yang kewajibannya telah disepakati oleh para ulama sebagai > ma'lûm[un] min ad-dîn bi ad-darûrah, yakni sebagai kewajiban yang > urgensinya telah diakui dalam agama ini. > > > Walhasil, di tengah kelangkaan buku-buku sejenis, buku ini merupakan > ikhtiar baru dari penulisnya mengenai betapa pentingnya perjuangan > menegakkan kembali Khilafah Islam, dan betapa urgennya kaum Muslim > menempuh jalan yang pernah ditempuh Rasulullah saw. dan para Sahabat, > dalam upaya menghadirkan kembali Khilafah Islam ke tengah-tengah kehidupan > saat ini > > Wasalam. > > ----- Original Message ----- > From: Sulaeman <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > To: gunawan <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di > Kawasan EJIP <mailto:[email protected]> ; Forum Ukhuwah Pekerja > Muslim di Kawasan EJIP <mailto:[email protected]> > Sent: Monday, October 30, 2006 11:36 AM > Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM? > > Ass.wr.wb > Pertama Ana ucapkan Takobalallohu minna wa minkum,selanjutnya ana mohon > maaf lahir dan bathin > > Berbicara mengenai khilafah sebagai solusi,adalah sesuatu yang indah > didengar tapi tidak mudah diwujudkan apalagi dirasakan > karena sampai saat ini khilafah itu masih belum jelas keberadaannya.Perlu > proses untuk mewujudkannya,tapi prosesnya juga > enggak jelas.Ana sih yakin kalau khilafah adalah solusi tapi kalau sekedar > wacana ana enggak yakin (maaf ini hanya asumsi saja). > Barang kali Antum yang lebih tau banyak akan hal ini mohon pencerahannya. > > Sukron > At 07:22 30/10/2006 +0700, gunawan wrote: > > > > > KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM? > > Harian Republika (5/10/2006) memuat pernyataan Menteri Pertahanan > (Menhan), Juwono Sudarsono, yang menuding kelompok Islam radikal saat ini > melakukan penyusupan ke partai-partai Islam. Pernyataan ini menarik dan > penting untuk ditanggapi. Menarik, karena sekalipun mengaku dalam > kapasitas pribadi, Juwono adalah Menteri Pertahanan. Tidak dapat > dipisahkan antara kedudukan seseorang apakah sebagai dirinya ataukah > sebagai jabatan yang didudukinya. Disebut penting, sebab didalamnya > terdapat ungkapan yang berbau provokasi. > > Setidaknya ada empat pokok pikiran yang diungkapkan Menhan terkait > perkembangan politik Islam di Indonesia kini. Pertama, tudingan bahwa > kelompok Islam radikal saat ini melakukan penyusupan terhadap > partai-partai Islam. Kedua, kelompok Islam radikal memusuhi partai Islam, > terutama yang ikut pemerintahan, karena dianggap terkontaminasi sistem > Barat. Ketiga, penyusupan yang dilakukan mirip dengan cara PKI yang > memasukkan anggotanya ke berbagai partai pada tahun 1960-an. Keempat, > Menhan memastikan kelompok radikal yang bercita-cita mendirikan khilafah > ini akan gagal. Alasannya, ideologi yang diusung kelompok ini tidak > bermuatan lokal. > > Khilafah adalah solusi > > Bagaimana pun juga, pernyataan pejabat negara seperti itu mengandung > stigmatisasi. Padahal, istilah radikal sering dituduhkan pada kelompok > yang ingin berpegang teguh pada Islam berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah > serta menerapkan Syariat Islam. Bukankah ini merupakan upaya untuk > melanggengkan umat jauh dari sumber ajaran agama yang dianutnya? Dengan > terus menerus digunakan istilah 'Islam radikal' berarti hendak ditegaskan > bahwa Islam tetap berada dalam ketidakutuhan. Ini merupakan stigmatisasi > pada ranah ajaran. > > Stigmatisasi menjadi sempurna ketika dikaitkan dengan stigmatisasi > politis. Islam 'radikal' disamakan dengan PKI. Pada jaman orde baru segala > gerakan yang dipandang bertentangan dengan pemerintah dicap sebagai PKI. > Melalui penganalogian Islam 'radikal' dengan PKI ini terlihat kepentingan > untuk menjauhkan umat Islam dari kelompok Islam. Muaranya adalah > langgengnya kekuasaan sekuleristik yang saat ini tengah dijalankan. > Padahal, sudah menjadi rahasia umum, kekuasaan sekuleristik kapitalistik > selama Indonesia merdeka lebih berpihak pada asing dan pemiliki modal > daripada kepentingan rakyat. > > Nampak kental nuansa islamfobia dan khilafahfobia dalam pernyataan > Menhan. Daripada main stigmatisasi, akan lebih arif bila kita melihat > realitas lebih jernih. Indonesia kini tengah menangis. Indonesia kembali > menjadi negara miskin Beban utang Indonesia masih menumpuk, kemiskinan > belum terentaskan, pengangguran terus meningkat, anak putus sekolah > bukannya berkurang. Padahal, areal hutan paling luas di dunia, tanahnya > subur, alamnya indah bagi pariwisata, potensi kekayaan laut luar biasa > (6,2 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain), kandungan barang > tambang emas, nikel, timah, tembaga, dan batubara karunia Allah SWT luar > biasa. Bahkan, di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup > besar. Tapi, mengapa rakyat tetap menderita? Intervensi asing pun kian > kentara? Mengapa? Ada kesalahan dalam dua hal, yakni orang dan sistemnya. > Hanya orang amanah dan berkepribadian Islam yang akan dapat mengatur > masyarakatnya dengan sejujurnya. Dan, setelah sosialisme/komunisme hancur, > sementara kapitalisme makin menunjukkan kegagalannya, kemana lagi kalau > bukan kembali kepada sistem syariat Islam? Secara historis, Islam berkuasa > selama 12 abad. Secara realitas, dunia membutuhkan sistem pengganti > kapitalisme yang kini berkuasa. Sementara, dari segi imani hanya syariat > Islam yang akan menebarkan rahmat ke seluruh alam. Ditengah aset negara > makin dikuasai asing, Islam ingin mengembalikannya kepada rakyat. Pada > saat pornografi pornoaksi dijajakan, kerusakan akhlak anak bangsa > karenanya semakin rusak, kelompok Islam hendak menyelamatkan generasi dari > kehancuran. Asing ingin memecah belah Indonesia, sebaliknya kelompok Islam > yang distigmatisasi radikal berteriak lantang antiseparatisme. Jadi, Islam > adalah solusi. Bagi orang yang menginginkan Indonesia menjadi lebih baik, > patutkah upaya menerapkan syariat Islam dikhawatirkan, atau bahkan > ditakuti? > > Dalam konteks global, kini tengah terjadi hegemoni dan penjajahan > negara besar pimpinan AS atas kaum Muslim. Siapa yang dapat menghentikan > kebiadaban AS di Guantanamo, Abu Ghraib, Irak, Afghanistan? Siapa yang > melindungi akidah umat dari penghinaan terhadap Rasulullah, pelecehan > al-Quran dan Islam? Siapa yang akan dapat melindungi Palestina dari > konspirasi Israel, AS, dan Uni Eropa? Perlu ada kekuatan global baru yang > menyatukan umat Islam. Itulah khilafah. Dalam pendekatan fiqih, seluruh > ulama Ahlus Sunnah dan Syiah sepakat tentang wajibnya mengangkat khalifah > (Imam Ibn Hazm, Maratibul Ijma', hal. 124; An Nawawi, Syarah Muslim VIII, > hal. 10). Secara amaliy, Institusi khilafah inilah yang dapat menghentikan > penjajahan negara besar. Khilafah adalah solusi bagi persoalan global > dunia. ".... Kemudian akan muncul lagi khilafah diatas metode kenabian," > begitu Imam Ahmad meriwayatkan kabar gembira dari Rasulullah SAW tentang > kembali tegaknya khilafah. > > Demokrasi Semu > > Berbeda dengan tahun 80-an, saat ini memang muncul ghirah saling > mendekatnya berbagai pihak dalam Islam. Apalagi arogansi AS di dalam > negeri kian tampak, rasa senasib saat Rasul dihina dalam kartun, hingga > perasaan ingroup menyikapi pernyataan Paus yang menyatakan apa yang dibawa > Muhammad sebagai jahat dan tidak berperikemanusiaan. Soliditas umat Islam > kian meningkat. Kasus aksi sejuta umat melawan pornografi pornoaksi adalah > fenomena menarik. Delapan puluh organisi Islam, termasuk partai politik > Islam dan berbasis massa Islam tumpah ruah bersama. Tidak ada pembedaan > antara radikal dengan nonradikal, kelompok Islam dengan partai Islam. Umat > dengan dinaungi Majelis Ulama Indonesia saat itu terlihat harmonis. > Realitas ini tidak boleh dinafikan begitu saja apalagi sampai pada sikap > bahwa kelompok radikal memusuhi partai Islam. Bahwa terkadang ada > perbedaan pendapat adalah wajar belaka. Namun, tudingan permusuhan Islam > 'radikal' terhadap partai Islam tidak menemukan realitasnya. Bahkan, > menurut syariat muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Tidak > logis suatu kelompok yang hendak menerapkan syariat Islam tapi melanggar > syariat yang menjadi prinsip perjuangannya tersebut. > > Dalam kondisi seperti itu adalah bahaya ketika muncul tudingan bahwa > kelompok yang disebutnya Islam radikal memusuhi partai Islam. Kenyataan > demikian dapat ditangkap sebagai upaya untuk memisahkan antara partai > Islam dengan kelompok/organisasi Islam. Adu domba. Selama ini masyarakat > tidak memilih atas dasar kepahaman ideologi. Indonesia ini mayoritas > Islam, tapi bukan partai Islam yang meraih suara terbanyak dalam Pemilu. > Bila kondisi berbalik, katakan saja organisasi Islam 'berpihak' pada > partai yang secara terang-terangan akan menerapkan Islam, pihak yang > jauh-jauh hari gerah adalah kalangan yang tidak menghendaki Islam mengatur > kehidupan. > > Sikap seperti ini semakin mengokohkan bukti bahwa demokrasi tidak > diperuntukkan bagi Islam. Di Aljazair, FIS yang memenangkan 86% Pemilu > putaran pertama harus mengalami nasib tragis. Kemenangan dibatalkan, lalu > menjadi partai terlarang, banyak aktivisnya mendekam di penjara. Alasannya > hanya satu, FIS secara terbuka hendak memperbaiki Aljazair dengan > menegakkan Daulah Islamiyah. "Aljazair sakit, obatnya Islam, dokternya > adalah FIS," itulah credo yang mereka teriakkan. > > Baru-baru ini Hammas mengalami hal serupa. Sekalipun menang secara > demokratis, segeralah embargo bantuan ekonomi diberlakukan. Tuntutan > pembatalan bila Hammas tetap dalam garis perjuangan selama ini pun > menyeruak. > > Di Indonesia, ketika partai Islam dilihat mulai menyuarakan Islam, > segeralah dituding 'tersusupi'. Suatu kata yang mengandung makna negatif. > Arti penting dari pelabelan tersebut adalah partai Islam yang 'tersusupi' > Islam 'radikal' harus diwaspadai. Lebih jauh, demokrasi tidak boleh bagi > kelompok yang secara lantang menyuarakan Islam. Kalaupun suatu waktu > partai yang mengusung Islam menang, bukan mustahil akan di-FIS-kan. > Nampaklah, demokrasi memang semu. Wallahu a'lam.[] > ******************************************************** > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan > EJIP > ******************************************************** > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : > <http://www.usahamulia.net/> > > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > > ******************************************************** > > << File: ATT19036.txt >>
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
