> Mnrt bhs jama'ah adalah sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yg
> berhimpun utk mencapai tujuan yg sama (Al Mu'jan al Wasith, I/136) sedang
> mnrt Syaitibi setelah mengemukakan bbrp hadists mengenai jama'ah, beliau
> menyimpulkan bahwa
> pengertian jama'ah mnrt syari'at ada lima : 
> 1. Jama'ah ialah para penganut islam apabila bersepakat atas suatu perkara
> dan para penganut agama lain diwajibkan mengikut mereka.
> 2. Jama'ah adalah masyarakat umum dari penganut islam 
> 3. Jama'ah ialah kelompok ulama mujtahidin
> 4. Jama'ah adalah Jama'atul muslimin apabila menyepakati seorang amir
> 5. Jama'ah adalah parasahabat ra. secara khusus
> 
> Dan dari lima pengertian scr syariat tsb beliau menguatkan pengertian yg
> no. 4, yg mana pendapat tsb didukung oleh al Hafidz Ibnu Hajar
> 
> sedangkan jama'atul minal muslimin spt Jama'ah Tabligh , Ikhwanul Muslimin
> dsb
> 
> Demikian nukilan pengertian jama'ah dan contoh jama'ah yg disebut dlm Buku
> Menuju Jama'atul Muslimin Karya Husain Bin Muhammad bin Ali Jabir, MA
> 
> Musyafak
> 
> 
> Syukron,Akhi
> 
> Sangat menarik apa yang antum semua sampaikan sepertinya memang ada sebuah
> 
> konsep untuk menuju sebuah Khilafah,
> Tapi mohon diperjelas lagi mengenai pengertian dari Jama'atul 
> muslimin,Jama'atul minal muslimin adakah kaitannya dengan khilafah
> 
> Wass.wr.wb
> At 09:26 31/10/2006 +0700, Accounting - IND wrote:
> 
> 
> > > buku lain yg mungkin dapat dijadikan referensi adalah Menuju Jama'atul
> > > Muslimin, karya ilmiah ust. Jabir dlm desertasi S2nya di universitas
> > > Madinah  dengan predikat cumlaude (imtaz),
> > >
> > > Didalam prolognya beliau menukilkan hadist  ttg periodisasi
> kepemimpinan,
> > > yg menjelaskan pd kita bahwa kepemimpinan dunia ini akan berputar,
> yaitu
> > > masa rosululloh SAW, masa kholafa'ur rosyidin, mulkon abdon (raja yg
> > > menggigit), mulkon jabariyah (sekularisme),  setealah itu akan kembali
> > > kepada khilafah ala minhajul nubuwah.  maka selaku muslim harus yakin
> > > bahwa  suatu saat nanti PASTI khilafah islam itu akan datang.
> > >
> > > dalam buku tsb ditegaskan bahwa  sekarang ini tdk ada jama'atul
> muslimin,
> > > tetapi yg ada adalah jama'tul minial muslim. kemudian  setelah
> menjelaskan
> > > ttg jama'ah yg ada yg bersifat internasional saat ini, baik ttg
> tokoh2nya,
> > > sejarah lahirnya, kiprahnya, ttg stressing & ruang lingkup  gerakannya
> > > dll, dengan tidak mengabaikan peran jama'ah  yg lain, beliau
> menyimpulkan
> > > ttg jama'ah yg paling mendekati kepada kesempurnaan (keutuhan) islam.
> > >
> > > baru setelah itu beliau menjelaskan ttg tahapan-tahahapan da'wah
> > > Rosululloh SAW beserta rambu-rambunya
> > >
> > > Demikian garis besar yg saya ingat dari buku tsb, mohon koreksinya
> bila
> > > ada kesalahan, maklum sudah cukup lama membacanya yaitu pada saat
> masih
> > > kuliah, sekitar tahun 1993
> > >
> > > Musyafak
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Wa'alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh.2
> > >
> > > Syukron akhi atas pertanyaannya mudah-mudahan uraian berikut (yang
> saya
> > > ambil dari resonansi buku dawlah islamiyah) dapat menjawab pertanyaan
> > > akhi, tapi kalau tidak mohon maaf yang sebesar-besarnya
> > >
> > > Secara faktual, Negara Islam bukanlah mimpi, bukan pula khayalan dalam
> > > imajinasi. Lebih dari 13 abad Negara Islam eksis dan menjadi sebuah
> negara
> > > adidaya, yang bahkan tidak ada tandingannya sampai hari ini. Secara
> > > normatif pun, para ulama salaf maupun khalaf sepakat mengenai jargon,
> > > "Islam adalah agama dan negara (Al-Islâm dîn wa dawlah)." Karena itu,
> > > istilah Negara Islam (ad-Dawlah al-Iislâmiyah) bukanlah istilah yang
> asing
> > > di kalangan ulama Islam sejak dulu hingga kini.
> > >
> > >
> > > Namun sayang, faktanya istilah Negara Islam saat ini masih
> menyembulkan
> > > problem, baik secara terminologis maupun politis. Problem terminologis
> > > menyangkut penolakan sebagian kalangan, bahwa dalam al-Quran maupun
> > > as-Sunnah tidak ditemukan kata dawlah yang berkonotasi negara.
> Anehnya,
> > > pendapat ini juga sering dilontarkan oleh kalangan yang mengklaim
> sebagai
> > > kaum subtansialis. Mereka lebih sibuk menyoal aspek literal/tekstual
> > > Negara Islam ketimbang menelusuri 'subtansi'-nya dalam nash-nash yang
> ada.
> > > Padahal banyak ayat al-Quran mengenai keharusan penguasa memerintah
> > > berdasarkan wahyu Allah, termasuk memberlakukan sejumlah hukuman
> (hukum
> > > cambuk, rajam, potong tangan. qishash, jihad, dll). Dalam as-Sunnah
> juga
> > > banyak hadis mengenai kewajiban mengangkat Imam/Khalifah (kepala
> Negara
> > > Islam). Demikian pula dalam Sirah Nabi saw., terdapat catatan mengenai
> > > praktik kenegaraan otentik yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw.
> sebagai
> > > kepala negara (seperti mengangkat para qadhi/hakim, para
> wali/gubernur,
> > > dan para panglima perang; melakukan perang dan damai; dll). Kenyataan
> ini
> > > juga diperkuat oleh bukti-bukti sejarah faktual yang menunjukkan
> betapa
> > > Negara Islam-yang dalam istilah lain disebut dengan Khilafah
> Islam-pernah
> > > berlangsung selama kurang-lebih 13 abad (sebuah masa yang sangat
> panjang
> > > untuk ukuran sebuah negara), dengan kekuasaan yang pernah meliputi 2/3
> > > bagian dunia ini (mencakup seluruh Timur Tengah, sebagian Afrika, dan
> Asia
> > > Tengah; di sebelah timur sampai ke negeri Cina; di sebelah barat
> sampai ke
> > > Andalusia [Spanyol], selatan Prancis, serta Eropa Timur [meliputi
> > > Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, Bulgaria, serta
> > > seluruh kepulauan di Laut Tengah]. Dengan semua kenyataan ini, sangat
> > > sulit untuk dikatakan bahwa umat Islam tidak pernah memiliki Negara
> Islam.
> > >
> > >
> > > Adapun problem politis menyangkut dominasi sistem negara dan
> pemerintahan
> > > sekular di negeri-negeri Muslim saat ini. Problem politis juga
> menyangkut
> > > penggambaran sosok Negara Islam, terutama oleh musuh-musuh Islam. yang
> > > sering tampak pejoratif. Negara Islam (Khilafah Islam) sering
> digambarkan
> > > sebagai negara otoriter, tidak demokratis, anti kemajuan, dll. Mereka
> > > lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Islam pernah menjadi sebuah sumber
> > > peradaban dunia yang agung selama berabad-abad-bahkan menjadi
> inspirator
> > > renaissance Eropa-justru pada masa Kekhilafahan Islam, artinya ketika
> > > Negara Islam ada.
> > >
> > >
> > > Semua problem di atas sesungguhnya bermuara pada problem faktual,
> yakni
> > > tidak adanya sosok Negara Islam di tengah-tengah kaum Muslim saat ini,
> > > praktis setelah Khilafah Islam diruntuhkan 82 tahun yang lalu,
> tepatnya 3
> > > Maret 1924, oleh Mustafa Kemal Attaturk-seorang Yahudi yang juga agen
> > > Inggris saat itu. Akibatnya, generasi umat Islam saat ini kehilangan
> > > gambaran sama sekali mengenai sosok dan karakter Negara Islam. Ini
> berbeda
> > > dengan generasi mereka yang pernah hidup pada masa-masa akhir Daulah
> Islam
> > > Utsmaniyah, yang sempat menyaksikan sisa-sisa negara dan pemerintahan
> > > Islam.
> > >
> > >
> > > Itulah sebagian kenyataan yang diungkap dalam buku yang berjudul asli
> > > Ad-Dawlah al-Islâmiyyah ini. Karena itu, di antara kepentingan buku
> ini
> > > adalah ingin menghadirkan kembali gambaran Negara Islam (Khilafah
> Islam)
> > > ke dalam benak kaum Muslim. Penulisnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani,
> > > adalah seorang pemikir, mujtahid, sekaligus politisi ulung. Beliau
> adalah
> > > juga pendiri Hizbut Tahrir (HT, sebuah partai politik internasional
> yang
> > > bercita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan cara
> > > menegakkan kembali Khilafah Islam di dunia ini. Anggota dan aktivitas
> HT
> > > sendiri saat ini telah tersebar di lebih 40 negara.
> > >
> > >
> > > Di dalam buku ini, yang merupakan salah satu buku rujukan resmi HT,
> Syaikh
> > > An-Nabhani memaparkan secara gamblang dan rinci bagaimana Rasulullah
> saw.
> > > dan para Sahabatnya berjuang dalam melakukan dakwah, dengan menempuh
> > > metode yang telah digariskan, sampai berhasil menegakkan Daulah Islam
> > > (Negara Islam) di Madinah, sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke
> > > seluruh jazirah Arab melalui dakwah dan jihad, sembari terus
> memperluas
> > > wilayah kekuasaan Negara Islam.
> > >
> > >
> > > Melalui buku ini, Syaikh An-Nabhani juga memaparkan secara jelas sosok
> dan
> > > karakter Negara Islam, termasuk faktor-faktor yang memperkuat dan
> > > memperlemah Negara Islam, yang sangat berpengaruh terhadap
> pasang-surutnya
> > > Negara Islam, hingga kejatuhannya pada tahun 1924. Tidak lupa,
> An-Nabhani
> > > juga menjelaskan jalan yang harus ditempuh oleh kaum Muslim saat ini
> untuk
> > > menegakkan kembali Negara Islam serta bagaimana mengatasi berbagai
> > > rintangan yang menghalanginya.
> > >
> > >
> > > Di samping pemaparannya yang gamblang dan rinci, kelebihan buku ini
> > > terletak pada analisisnya yang tajam, yang menjadikan buku ini lebih
> > > merupakan buku 'analisis sejarah'-ketimbang sebagai buku
> sejarah-mengenai
> > > jatuh-bangunnya Negara Islam. Lebih dari itu, buku ini sekaligus
> merupakan
> > > buku 'tuntunan dakwah' mengenai bagaimana seharusnya generasi kaum
> Muslim
> > > saat ini menempuh jalan untuk menegakkan kembali Negara Islam atau
> > > Khilafah Islam, yang kewajibannya telah disepakati oleh para ulama
> sebagai
> > > ma'lûm[un] min ad-dîn bi ad-darûrah, yakni sebagai kewajiban yang
> > > urgensinya telah diakui dalam agama ini.
> > >
> > >
> > > Walhasil, di tengah kelangkaan buku-buku sejenis, buku ini merupakan
> > > ikhtiar baru dari penulisnya mengenai betapa pentingnya perjuangan
> > > menegakkan kembali Khilafah Islam, dan betapa urgennya kaum Muslim
> > > menempuh jalan yang pernah ditempuh Rasulullah saw. dan para Sahabat,
> > > dalam upaya menghadirkan kembali Khilafah Islam ke tengah-tengah
> kehidupan
> > > saat ini
> > >
> > > Wasalam.
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: Sulaeman <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: gunawan <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim
> di
> > > Kawasan EJIP <mailto:[email protected]> ; Forum Ukhuwah Pekerja
> > > Muslim di Kawasan EJIP <mailto:[email protected]>
> > > Sent: Monday, October 30, 2006 11:36 AM
> > > Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM?
> > >
> > > Ass.wr.wb
> > > Pertama Ana ucapkan Takobalallohu minna wa minkum,selanjutnya ana
> mohon
> > > maaf lahir dan bathin
> > >
> > > Berbicara mengenai khilafah sebagai solusi,adalah sesuatu yang indah
> > > didengar tapi tidak mudah diwujudkan apalagi dirasakan
> > > karena sampai saat ini khilafah itu masih belum jelas
> keberadaannya.Perlu
> > > proses untuk mewujudkannya,tapi prosesnya juga
> > > enggak jelas.Ana sih yakin kalau khilafah adalah solusi tapi kalau
> sekedar
> > > wacana ana enggak yakin (maaf ini hanya asumsi saja).
> > > Barang kali Antum yang lebih tau banyak akan hal ini mohon
> pencerahannya.
> > >
> > > Sukron
> > > At 07:22 30/10/2006 +0700, gunawan wrote:
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >       KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM?
> > >
> > >       Harian Republika (5/10/2006) memuat pernyataan Menteri
> Pertahanan
> > > (Menhan), Juwono Sudarsono, yang menuding kelompok Islam radikal saat
> ini
> > > melakukan penyusupan ke partai-partai Islam. Pernyataan ini menarik
> dan
> > > penting untuk ditanggapi. Menarik, karena sekalipun mengaku dalam
> > > kapasitas pribadi, Juwono adalah Menteri Pertahanan. Tidak dapat
> > > dipisahkan antara kedudukan seseorang apakah sebagai dirinya ataukah
> > > sebagai jabatan yang didudukinya. Disebut penting, sebab didalamnya
> > > terdapat ungkapan yang berbau provokasi.
> > >
> > >       Setidaknya ada empat pokok pikiran yang diungkapkan Menhan
> terkait
> > > perkembangan politik Islam di Indonesia kini. Pertama, tudingan bahwa
> > > kelompok Islam radikal saat ini melakukan penyusupan terhadap
> > > partai-partai Islam. Kedua, kelompok Islam radikal memusuhi partai
> Islam,
> > > terutama yang ikut pemerintahan, karena dianggap terkontaminasi sistem
> > > Barat. Ketiga, penyusupan yang dilakukan mirip dengan cara PKI yang
> > > memasukkan anggotanya ke berbagai partai pada tahun 1960-an. Keempat,
> > > Menhan memastikan kelompok radikal yang bercita-cita mendirikan
> khilafah
> > > ini akan gagal. Alasannya, ideologi yang diusung kelompok ini tidak
> > > bermuatan lokal.
> > >
> > >       Khilafah adalah solusi
> > >
> > >       Bagaimana pun juga, pernyataan pejabat negara seperti itu
> mengandung
> > > stigmatisasi. Padahal, istilah radikal sering dituduhkan pada kelompok
> > > yang ingin berpegang teguh pada Islam berdasarkan al-Quran dan
> as-Sunnah
> > > serta menerapkan Syariat Islam. Bukankah ini merupakan upaya untuk
> > > melanggengkan umat jauh dari sumber ajaran agama yang dianutnya?
> Dengan
> > > terus menerus digunakan istilah 'Islam radikal' berarti hendak
> ditegaskan
> > > bahwa Islam tetap berada dalam ketidakutuhan. Ini merupakan
> stigmatisasi
> > > pada ranah ajaran.
> > >
> > >       Stigmatisasi menjadi sempurna ketika dikaitkan dengan
> stigmatisasi
> > > politis. Islam 'radikal' disamakan dengan PKI. Pada jaman orde baru
> segala
> > > gerakan yang dipandang bertentangan dengan pemerintah dicap sebagai
> PKI.
> > > Melalui penganalogian Islam 'radikal' dengan PKI ini terlihat
> kepentingan
> > > untuk menjauhkan umat Islam dari kelompok Islam. Muaranya adalah
> > > langgengnya kekuasaan sekuleristik yang saat ini tengah dijalankan.
> > > Padahal, sudah menjadi rahasia umum, kekuasaan sekuleristik
> kapitalistik
> > > selama Indonesia merdeka lebih berpihak pada asing dan pemiliki modal
> > > daripada kepentingan rakyat.
> > >
> > >       Nampak kental nuansa islamfobia dan khilafahfobia dalam
> pernyataan
> > > Menhan. Daripada main stigmatisasi, akan lebih arif bila kita melihat
> > > realitas lebih jernih. Indonesia kini tengah menangis. Indonesia
> kembali
> > > menjadi negara miskin Beban utang Indonesia masih menumpuk, kemiskinan
> > > belum terentaskan, pengangguran terus meningkat, anak putus sekolah
> > > bukannya berkurang. Padahal, areal hutan paling luas di dunia,
> tanahnya
> > > subur, alamnya indah bagi pariwisata, potensi kekayaan laut luar biasa
> > > (6,2 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain), kandungan
> barang
> > > tambang emas, nikel, timah, tembaga, dan batubara karunia Allah SWT
> luar
> > > biasa. Bahkan, di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup
> > > besar. Tapi, mengapa rakyat tetap menderita? Intervensi asing pun kian
> > > kentara? Mengapa? Ada kesalahan dalam dua hal, yakni orang dan
> sistemnya.
> > > Hanya orang amanah dan berkepribadian Islam yang akan dapat mengatur
> > > masyarakatnya dengan sejujurnya. Dan, setelah sosialisme/komunisme
> hancur,
> > > sementara kapitalisme makin menunjukkan kegagalannya, kemana lagi
> kalau
> > > bukan kembali kepada sistem syariat Islam? Secara historis, Islam
> berkuasa
> > > selama 12 abad. Secara realitas, dunia membutuhkan sistem pengganti
> > > kapitalisme yang kini berkuasa. Sementara, dari segi imani hanya
> syariat
> > > Islam yang akan menebarkan rahmat ke seluruh alam. Ditengah aset
> negara
> > > makin dikuasai asing, Islam ingin mengembalikannya kepada rakyat. Pada
> > > saat pornografi pornoaksi dijajakan, kerusakan akhlak anak bangsa
> > > karenanya semakin rusak, kelompok Islam hendak menyelamatkan generasi
> dari
> > > kehancuran. Asing ingin memecah belah Indonesia, sebaliknya kelompok
> Islam
> > > yang distigmatisasi radikal berteriak lantang antiseparatisme. Jadi,
> Islam
> > > adalah solusi. Bagi orang yang menginginkan Indonesia menjadi lebih
> baik,
> > > patutkah upaya menerapkan syariat Islam dikhawatirkan, atau bahkan
> > > ditakuti?
> > >
> > >       Dalam konteks global, kini tengah terjadi hegemoni dan
> penjajahan
> > > negara besar pimpinan AS atas kaum Muslim. Siapa yang dapat
> menghentikan
> > > kebiadaban AS di Guantanamo, Abu Ghraib, Irak, Afghanistan? Siapa yang
> > > melindungi akidah umat dari penghinaan terhadap Rasulullah, pelecehan
> > > al-Quran dan Islam? Siapa yang akan dapat melindungi Palestina dari
> > > konspirasi Israel, AS, dan Uni Eropa? Perlu ada kekuatan global baru
> yang
> > > menyatukan umat Islam. Itulah khilafah. Dalam pendekatan fiqih,
> seluruh
> > > ulama Ahlus Sunnah dan Syiah sepakat tentang wajibnya mengangkat
> khalifah
> > > (Imam Ibn Hazm, Maratibul Ijma', hal. 124; An Nawawi, Syarah Muslim
> VIII,
> > > hal. 10). Secara amaliy, Institusi khilafah inilah yang dapat
> menghentikan
> > > penjajahan negara besar. Khilafah adalah solusi bagi persoalan global
> > > dunia. ".... Kemudian akan muncul lagi khilafah diatas metode
> kenabian,"
> > > begitu Imam Ahmad meriwayatkan kabar gembira dari Rasulullah SAW
> tentang
> > > kembali tegaknya khilafah.
> > >
> > >       Demokrasi Semu
> > >
> > >       Berbeda dengan tahun 80-an, saat ini memang muncul ghirah saling
> > > mendekatnya berbagai pihak dalam Islam. Apalagi arogansi AS di dalam
> > > negeri kian tampak, rasa senasib saat Rasul dihina dalam kartun,
> hingga
> > > perasaan ingroup menyikapi pernyataan Paus yang menyatakan apa yang
> dibawa
> > > Muhammad sebagai jahat dan tidak berperikemanusiaan. Soliditas umat
> Islam
> > > kian meningkat. Kasus aksi sejuta umat melawan pornografi pornoaksi
> adalah
> > > fenomena menarik. Delapan puluh organisi Islam, termasuk partai
> politik
> > > Islam dan berbasis massa Islam tumpah ruah bersama. Tidak ada
> pembedaan
> > > antara radikal dengan nonradikal, kelompok Islam dengan partai Islam.
> Umat
> > > dengan dinaungi Majelis Ulama Indonesia saat itu terlihat harmonis.
> > > Realitas ini tidak boleh dinafikan begitu saja apalagi sampai pada
> sikap
> > > bahwa kelompok radikal memusuhi partai Islam. Bahwa terkadang ada
> > > perbedaan pendapat adalah wajar belaka. Namun, tudingan permusuhan
> Islam
> > > 'radikal' terhadap partai Islam tidak menemukan realitasnya. Bahkan,
> > > menurut syariat muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara.
> Tidak
> > > logis suatu kelompok yang hendak menerapkan syariat Islam tapi
> melanggar
> > > syariat yang menjadi prinsip perjuangannya tersebut.
> > >
> > >       Dalam kondisi seperti itu adalah bahaya ketika muncul tudingan
> bahwa
> > > kelompok yang disebutnya Islam radikal memusuhi partai Islam.
> Kenyataan
> > > demikian dapat ditangkap sebagai upaya untuk memisahkan antara partai
> > > Islam dengan kelompok/organisasi Islam. Adu domba. Selama ini
> masyarakat
> > > tidak memilih atas dasar kepahaman ideologi. Indonesia ini mayoritas
> > > Islam, tapi bukan partai Islam yang meraih suara terbanyak dalam
> Pemilu.
> > > Bila kondisi berbalik, katakan saja organisasi Islam 'berpihak' pada
> > > partai yang secara terang-terangan akan menerapkan Islam, pihak yang
> > > jauh-jauh hari gerah adalah kalangan yang tidak menghendaki Islam
> mengatur
> > > kehidupan.
> > >
> > >       Sikap seperti ini semakin mengokohkan bukti bahwa demokrasi
> tidak
> > > diperuntukkan bagi Islam. Di Aljazair, FIS yang memenangkan 86% Pemilu
> > > putaran pertama harus mengalami nasib tragis. Kemenangan dibatalkan,
> lalu
> > > menjadi partai terlarang, banyak aktivisnya mendekam di penjara.
> Alasannya
> > > hanya satu, FIS secara terbuka hendak memperbaiki Aljazair dengan
> > > menegakkan Daulah Islamiyah. "Aljazair sakit, obatnya Islam, dokternya
> > > adalah FIS," itulah credo yang mereka teriakkan.
> > >
> > >       Baru-baru ini Hammas mengalami hal serupa. Sekalipun menang
> secara
> > > demokratis, segeralah embargo bantuan ekonomi diberlakukan. Tuntutan
> > > pembatalan bila Hammas tetap dalam garis perjuangan selama ini pun
> > > menyeruak.
> > >
> > >       Di Indonesia, ketika partai Islam dilihat mulai menyuarakan
> Islam,
> > > segeralah dituding 'tersusupi'. Suatu kata yang mengandung makna
> negatif.
> > > Arti penting dari pelabelan tersebut adalah partai Islam yang
> 'tersusupi'
> > > Islam 'radikal' harus diwaspadai. Lebih jauh, demokrasi tidak boleh
> bagi
> > > kelompok yang secara lantang menyuarakan Islam. Kalaupun suatu waktu
> > > partai yang mengusung Islam menang, bukan mustahil akan di-FIS-kan.
> > > Nampaklah, demokrasi memang semu. Wallahu a'lam.[]
> > >       ********************************************************
> > >       Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di
> kawasan
> > > EJIP
> > >       ********************************************************
> > >       Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs
> SAMARADA :
> > >       <http://www.usahamulia.net/>
> > >
> > >       Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
> > >       [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > >       ********************************************************
> > >
> > >  << File: ATT19036.txt >>
> 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke