> Mnrt bhs jama'ah adalah sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yg > berhimpun utk mencapai tujuan yg sama (Al Mu'jan al Wasith, I/136) sedang > mnrt Syaitibi setelah mengemukakan bbrp hadists mengenai jama'ah, beliau > menyimpulkan bahwa > pengertian jama'ah mnrt syari'at ada lima : > 1. Jama'ah ialah para penganut islam apabila bersepakat atas suatu perkara > dan para penganut agama lain diwajibkan mengikut mereka. > 2. Jama'ah adalah masyarakat umum dari penganut islam > 3. Jama'ah ialah kelompok ulama mujtahidin > 4. Jama'ah adalah Jama'atul muslimin apabila menyepakati seorang amir > 5. Jama'ah adalah parasahabat ra. secara khusus > > Dan dari lima pengertian scr syariat tsb beliau menguatkan pengertian yg > no. 4, yg mana pendapat tsb didukung oleh al Hafidz Ibnu Hajar > > sedangkan jama'atul minal muslimin spt Jama'ah Tabligh , Ikhwanul Muslimin > dsb > > Demikian nukilan pengertian jama'ah dan contoh jama'ah yg disebut dlm Buku > Menuju Jama'atul Muslimin Karya Husain Bin Muhammad bin Ali Jabir, MA > > Musyafak > > > Syukron,Akhi > > Sangat menarik apa yang antum semua sampaikan sepertinya memang ada sebuah > > konsep untuk menuju sebuah Khilafah, > Tapi mohon diperjelas lagi mengenai pengertian dari Jama'atul > muslimin,Jama'atul minal muslimin adakah kaitannya dengan khilafah > > Wass.wr.wb > At 09:26 31/10/2006 +0700, Accounting - IND wrote: > > > > > buku lain yg mungkin dapat dijadikan referensi adalah Menuju Jama'atul > > > Muslimin, karya ilmiah ust. Jabir dlm desertasi S2nya di universitas > > > Madinah dengan predikat cumlaude (imtaz), > > > > > > Didalam prolognya beliau menukilkan hadist ttg periodisasi > kepemimpinan, > > > yg menjelaskan pd kita bahwa kepemimpinan dunia ini akan berputar, > yaitu > > > masa rosululloh SAW, masa kholafa'ur rosyidin, mulkon abdon (raja yg > > > menggigit), mulkon jabariyah (sekularisme), setealah itu akan kembali > > > kepada khilafah ala minhajul nubuwah. maka selaku muslim harus yakin > > > bahwa suatu saat nanti PASTI khilafah islam itu akan datang. > > > > > > dalam buku tsb ditegaskan bahwa sekarang ini tdk ada jama'atul > muslimin, > > > tetapi yg ada adalah jama'tul minial muslim. kemudian setelah > menjelaskan > > > ttg jama'ah yg ada yg bersifat internasional saat ini, baik ttg > tokoh2nya, > > > sejarah lahirnya, kiprahnya, ttg stressing & ruang lingkup gerakannya > > > dll, dengan tidak mengabaikan peran jama'ah yg lain, beliau > menyimpulkan > > > ttg jama'ah yg paling mendekati kepada kesempurnaan (keutuhan) islam. > > > > > > baru setelah itu beliau menjelaskan ttg tahapan-tahahapan da'wah > > > Rosululloh SAW beserta rambu-rambunya > > > > > > Demikian garis besar yg saya ingat dari buku tsb, mohon koreksinya > bila > > > ada kesalahan, maklum sudah cukup lama membacanya yaitu pada saat > masih > > > kuliah, sekitar tahun 1993 > > > > > > Musyafak > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Wa'alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh.2 > > > > > > Syukron akhi atas pertanyaannya mudah-mudahan uraian berikut (yang > saya > > > ambil dari resonansi buku dawlah islamiyah) dapat menjawab pertanyaan > > > akhi, tapi kalau tidak mohon maaf yang sebesar-besarnya > > > > > > Secara faktual, Negara Islam bukanlah mimpi, bukan pula khayalan dalam > > > imajinasi. Lebih dari 13 abad Negara Islam eksis dan menjadi sebuah > negara > > > adidaya, yang bahkan tidak ada tandingannya sampai hari ini. Secara > > > normatif pun, para ulama salaf maupun khalaf sepakat mengenai jargon, > > > "Islam adalah agama dan negara (Al-Islâm dîn wa dawlah)." Karena itu, > > > istilah Negara Islam (ad-Dawlah al-Iislâmiyah) bukanlah istilah yang > asing > > > di kalangan ulama Islam sejak dulu hingga kini. > > > > > > > > > Namun sayang, faktanya istilah Negara Islam saat ini masih > menyembulkan > > > problem, baik secara terminologis maupun politis. Problem terminologis > > > menyangkut penolakan sebagian kalangan, bahwa dalam al-Quran maupun > > > as-Sunnah tidak ditemukan kata dawlah yang berkonotasi negara. > Anehnya, > > > pendapat ini juga sering dilontarkan oleh kalangan yang mengklaim > sebagai > > > kaum subtansialis. Mereka lebih sibuk menyoal aspek literal/tekstual > > > Negara Islam ketimbang menelusuri 'subtansi'-nya dalam nash-nash yang > ada. > > > Padahal banyak ayat al-Quran mengenai keharusan penguasa memerintah > > > berdasarkan wahyu Allah, termasuk memberlakukan sejumlah hukuman > (hukum > > > cambuk, rajam, potong tangan. qishash, jihad, dll). Dalam as-Sunnah > juga > > > banyak hadis mengenai kewajiban mengangkat Imam/Khalifah (kepala > Negara > > > Islam). Demikian pula dalam Sirah Nabi saw., terdapat catatan mengenai > > > praktik kenegaraan otentik yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. > sebagai > > > kepala negara (seperti mengangkat para qadhi/hakim, para > wali/gubernur, > > > dan para panglima perang; melakukan perang dan damai; dll). Kenyataan > ini > > > juga diperkuat oleh bukti-bukti sejarah faktual yang menunjukkan > betapa > > > Negara Islam-yang dalam istilah lain disebut dengan Khilafah > Islam-pernah > > > berlangsung selama kurang-lebih 13 abad (sebuah masa yang sangat > panjang > > > untuk ukuran sebuah negara), dengan kekuasaan yang pernah meliputi 2/3 > > > bagian dunia ini (mencakup seluruh Timur Tengah, sebagian Afrika, dan > Asia > > > Tengah; di sebelah timur sampai ke negeri Cina; di sebelah barat > sampai ke > > > Andalusia [Spanyol], selatan Prancis, serta Eropa Timur [meliputi > > > Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, Bulgaria, serta > > > seluruh kepulauan di Laut Tengah]. Dengan semua kenyataan ini, sangat > > > sulit untuk dikatakan bahwa umat Islam tidak pernah memiliki Negara > Islam. > > > > > > > > > Adapun problem politis menyangkut dominasi sistem negara dan > pemerintahan > > > sekular di negeri-negeri Muslim saat ini. Problem politis juga > menyangkut > > > penggambaran sosok Negara Islam, terutama oleh musuh-musuh Islam. yang > > > sering tampak pejoratif. Negara Islam (Khilafah Islam) sering > digambarkan > > > sebagai negara otoriter, tidak demokratis, anti kemajuan, dll. Mereka > > > lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Islam pernah menjadi sebuah sumber > > > peradaban dunia yang agung selama berabad-abad-bahkan menjadi > inspirator > > > renaissance Eropa-justru pada masa Kekhilafahan Islam, artinya ketika > > > Negara Islam ada. > > > > > > > > > Semua problem di atas sesungguhnya bermuara pada problem faktual, > yakni > > > tidak adanya sosok Negara Islam di tengah-tengah kaum Muslim saat ini, > > > praktis setelah Khilafah Islam diruntuhkan 82 tahun yang lalu, > tepatnya 3 > > > Maret 1924, oleh Mustafa Kemal Attaturk-seorang Yahudi yang juga agen > > > Inggris saat itu. Akibatnya, generasi umat Islam saat ini kehilangan > > > gambaran sama sekali mengenai sosok dan karakter Negara Islam. Ini > berbeda > > > dengan generasi mereka yang pernah hidup pada masa-masa akhir Daulah > Islam > > > Utsmaniyah, yang sempat menyaksikan sisa-sisa negara dan pemerintahan > > > Islam. > > > > > > > > > Itulah sebagian kenyataan yang diungkap dalam buku yang berjudul asli > > > Ad-Dawlah al-Islâmiyyah ini. Karena itu, di antara kepentingan buku > ini > > > adalah ingin menghadirkan kembali gambaran Negara Islam (Khilafah > Islam) > > > ke dalam benak kaum Muslim. Penulisnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, > > > adalah seorang pemikir, mujtahid, sekaligus politisi ulung. Beliau > adalah > > > juga pendiri Hizbut Tahrir (HT, sebuah partai politik internasional > yang > > > bercita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan cara > > > menegakkan kembali Khilafah Islam di dunia ini. Anggota dan aktivitas > HT > > > sendiri saat ini telah tersebar di lebih 40 negara. > > > > > > > > > Di dalam buku ini, yang merupakan salah satu buku rujukan resmi HT, > Syaikh > > > An-Nabhani memaparkan secara gamblang dan rinci bagaimana Rasulullah > saw. > > > dan para Sahabatnya berjuang dalam melakukan dakwah, dengan menempuh > > > metode yang telah digariskan, sampai berhasil menegakkan Daulah Islam > > > (Negara Islam) di Madinah, sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke > > > seluruh jazirah Arab melalui dakwah dan jihad, sembari terus > memperluas > > > wilayah kekuasaan Negara Islam. > > > > > > > > > Melalui buku ini, Syaikh An-Nabhani juga memaparkan secara jelas sosok > dan > > > karakter Negara Islam, termasuk faktor-faktor yang memperkuat dan > > > memperlemah Negara Islam, yang sangat berpengaruh terhadap > pasang-surutnya > > > Negara Islam, hingga kejatuhannya pada tahun 1924. Tidak lupa, > An-Nabhani > > > juga menjelaskan jalan yang harus ditempuh oleh kaum Muslim saat ini > untuk > > > menegakkan kembali Negara Islam serta bagaimana mengatasi berbagai > > > rintangan yang menghalanginya. > > > > > > > > > Di samping pemaparannya yang gamblang dan rinci, kelebihan buku ini > > > terletak pada analisisnya yang tajam, yang menjadikan buku ini lebih > > > merupakan buku 'analisis sejarah'-ketimbang sebagai buku > sejarah-mengenai > > > jatuh-bangunnya Negara Islam. Lebih dari itu, buku ini sekaligus > merupakan > > > buku 'tuntunan dakwah' mengenai bagaimana seharusnya generasi kaum > Muslim > > > saat ini menempuh jalan untuk menegakkan kembali Negara Islam atau > > > Khilafah Islam, yang kewajibannya telah disepakati oleh para ulama > sebagai > > > ma'lûm[un] min ad-dîn bi ad-darûrah, yakni sebagai kewajiban yang > > > urgensinya telah diakui dalam agama ini. > > > > > > > > > Walhasil, di tengah kelangkaan buku-buku sejenis, buku ini merupakan > > > ikhtiar baru dari penulisnya mengenai betapa pentingnya perjuangan > > > menegakkan kembali Khilafah Islam, dan betapa urgennya kaum Muslim > > > menempuh jalan yang pernah ditempuh Rasulullah saw. dan para Sahabat, > > > dalam upaya menghadirkan kembali Khilafah Islam ke tengah-tengah > kehidupan > > > saat ini > > > > > > Wasalam. > > > > > > ----- Original Message ----- > > > From: Sulaeman <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > > > To: gunawan <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim > di > > > Kawasan EJIP <mailto:[email protected]> ; Forum Ukhuwah Pekerja > > > Muslim di Kawasan EJIP <mailto:[email protected]> > > > Sent: Monday, October 30, 2006 11:36 AM > > > Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM? > > > > > > Ass.wr.wb > > > Pertama Ana ucapkan Takobalallohu minna wa minkum,selanjutnya ana > mohon > > > maaf lahir dan bathin > > > > > > Berbicara mengenai khilafah sebagai solusi,adalah sesuatu yang indah > > > didengar tapi tidak mudah diwujudkan apalagi dirasakan > > > karena sampai saat ini khilafah itu masih belum jelas > keberadaannya.Perlu > > > proses untuk mewujudkannya,tapi prosesnya juga > > > enggak jelas.Ana sih yakin kalau khilafah adalah solusi tapi kalau > sekedar > > > wacana ana enggak yakin (maaf ini hanya asumsi saja). > > > Barang kali Antum yang lebih tau banyak akan hal ini mohon > pencerahannya. > > > > > > Sukron > > > At 07:22 30/10/2006 +0700, gunawan wrote: > > > > > > > > > > > > > > > KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM? > > > > > > Harian Republika (5/10/2006) memuat pernyataan Menteri > Pertahanan > > > (Menhan), Juwono Sudarsono, yang menuding kelompok Islam radikal saat > ini > > > melakukan penyusupan ke partai-partai Islam. Pernyataan ini menarik > dan > > > penting untuk ditanggapi. Menarik, karena sekalipun mengaku dalam > > > kapasitas pribadi, Juwono adalah Menteri Pertahanan. Tidak dapat > > > dipisahkan antara kedudukan seseorang apakah sebagai dirinya ataukah > > > sebagai jabatan yang didudukinya. Disebut penting, sebab didalamnya > > > terdapat ungkapan yang berbau provokasi. > > > > > > Setidaknya ada empat pokok pikiran yang diungkapkan Menhan > terkait > > > perkembangan politik Islam di Indonesia kini. Pertama, tudingan bahwa > > > kelompok Islam radikal saat ini melakukan penyusupan terhadap > > > partai-partai Islam. Kedua, kelompok Islam radikal memusuhi partai > Islam, > > > terutama yang ikut pemerintahan, karena dianggap terkontaminasi sistem > > > Barat. Ketiga, penyusupan yang dilakukan mirip dengan cara PKI yang > > > memasukkan anggotanya ke berbagai partai pada tahun 1960-an. Keempat, > > > Menhan memastikan kelompok radikal yang bercita-cita mendirikan > khilafah > > > ini akan gagal. Alasannya, ideologi yang diusung kelompok ini tidak > > > bermuatan lokal. > > > > > > Khilafah adalah solusi > > > > > > Bagaimana pun juga, pernyataan pejabat negara seperti itu > mengandung > > > stigmatisasi. Padahal, istilah radikal sering dituduhkan pada kelompok > > > yang ingin berpegang teguh pada Islam berdasarkan al-Quran dan > as-Sunnah > > > serta menerapkan Syariat Islam. Bukankah ini merupakan upaya untuk > > > melanggengkan umat jauh dari sumber ajaran agama yang dianutnya? > Dengan > > > terus menerus digunakan istilah 'Islam radikal' berarti hendak > ditegaskan > > > bahwa Islam tetap berada dalam ketidakutuhan. Ini merupakan > stigmatisasi > > > pada ranah ajaran. > > > > > > Stigmatisasi menjadi sempurna ketika dikaitkan dengan > stigmatisasi > > > politis. Islam 'radikal' disamakan dengan PKI. Pada jaman orde baru > segala > > > gerakan yang dipandang bertentangan dengan pemerintah dicap sebagai > PKI. > > > Melalui penganalogian Islam 'radikal' dengan PKI ini terlihat > kepentingan > > > untuk menjauhkan umat Islam dari kelompok Islam. Muaranya adalah > > > langgengnya kekuasaan sekuleristik yang saat ini tengah dijalankan. > > > Padahal, sudah menjadi rahasia umum, kekuasaan sekuleristik > kapitalistik > > > selama Indonesia merdeka lebih berpihak pada asing dan pemiliki modal > > > daripada kepentingan rakyat. > > > > > > Nampak kental nuansa islamfobia dan khilafahfobia dalam > pernyataan > > > Menhan. Daripada main stigmatisasi, akan lebih arif bila kita melihat > > > realitas lebih jernih. Indonesia kini tengah menangis. Indonesia > kembali > > > menjadi negara miskin Beban utang Indonesia masih menumpuk, kemiskinan > > > belum terentaskan, pengangguran terus meningkat, anak putus sekolah > > > bukannya berkurang. Padahal, areal hutan paling luas di dunia, > tanahnya > > > subur, alamnya indah bagi pariwisata, potensi kekayaan laut luar biasa > > > (6,2 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain), kandungan > barang > > > tambang emas, nikel, timah, tembaga, dan batubara karunia Allah SWT > luar > > > biasa. Bahkan, di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup > > > besar. Tapi, mengapa rakyat tetap menderita? Intervensi asing pun kian > > > kentara? Mengapa? Ada kesalahan dalam dua hal, yakni orang dan > sistemnya. > > > Hanya orang amanah dan berkepribadian Islam yang akan dapat mengatur > > > masyarakatnya dengan sejujurnya. Dan, setelah sosialisme/komunisme > hancur, > > > sementara kapitalisme makin menunjukkan kegagalannya, kemana lagi > kalau > > > bukan kembali kepada sistem syariat Islam? Secara historis, Islam > berkuasa > > > selama 12 abad. Secara realitas, dunia membutuhkan sistem pengganti > > > kapitalisme yang kini berkuasa. Sementara, dari segi imani hanya > syariat > > > Islam yang akan menebarkan rahmat ke seluruh alam. Ditengah aset > negara > > > makin dikuasai asing, Islam ingin mengembalikannya kepada rakyat. Pada > > > saat pornografi pornoaksi dijajakan, kerusakan akhlak anak bangsa > > > karenanya semakin rusak, kelompok Islam hendak menyelamatkan generasi > dari > > > kehancuran. Asing ingin memecah belah Indonesia, sebaliknya kelompok > Islam > > > yang distigmatisasi radikal berteriak lantang antiseparatisme. Jadi, > Islam > > > adalah solusi. Bagi orang yang menginginkan Indonesia menjadi lebih > baik, > > > patutkah upaya menerapkan syariat Islam dikhawatirkan, atau bahkan > > > ditakuti? > > > > > > Dalam konteks global, kini tengah terjadi hegemoni dan > penjajahan > > > negara besar pimpinan AS atas kaum Muslim. Siapa yang dapat > menghentikan > > > kebiadaban AS di Guantanamo, Abu Ghraib, Irak, Afghanistan? Siapa yang > > > melindungi akidah umat dari penghinaan terhadap Rasulullah, pelecehan > > > al-Quran dan Islam? Siapa yang akan dapat melindungi Palestina dari > > > konspirasi Israel, AS, dan Uni Eropa? Perlu ada kekuatan global baru > yang > > > menyatukan umat Islam. Itulah khilafah. Dalam pendekatan fiqih, > seluruh > > > ulama Ahlus Sunnah dan Syiah sepakat tentang wajibnya mengangkat > khalifah > > > (Imam Ibn Hazm, Maratibul Ijma', hal. 124; An Nawawi, Syarah Muslim > VIII, > > > hal. 10). Secara amaliy, Institusi khilafah inilah yang dapat > menghentikan > > > penjajahan negara besar. Khilafah adalah solusi bagi persoalan global > > > dunia. ".... Kemudian akan muncul lagi khilafah diatas metode > kenabian," > > > begitu Imam Ahmad meriwayatkan kabar gembira dari Rasulullah SAW > tentang > > > kembali tegaknya khilafah. > > > > > > Demokrasi Semu > > > > > > Berbeda dengan tahun 80-an, saat ini memang muncul ghirah saling > > > mendekatnya berbagai pihak dalam Islam. Apalagi arogansi AS di dalam > > > negeri kian tampak, rasa senasib saat Rasul dihina dalam kartun, > hingga > > > perasaan ingroup menyikapi pernyataan Paus yang menyatakan apa yang > dibawa > > > Muhammad sebagai jahat dan tidak berperikemanusiaan. Soliditas umat > Islam > > > kian meningkat. Kasus aksi sejuta umat melawan pornografi pornoaksi > adalah > > > fenomena menarik. Delapan puluh organisi Islam, termasuk partai > politik > > > Islam dan berbasis massa Islam tumpah ruah bersama. Tidak ada > pembedaan > > > antara radikal dengan nonradikal, kelompok Islam dengan partai Islam. > Umat > > > dengan dinaungi Majelis Ulama Indonesia saat itu terlihat harmonis. > > > Realitas ini tidak boleh dinafikan begitu saja apalagi sampai pada > sikap > > > bahwa kelompok radikal memusuhi partai Islam. Bahwa terkadang ada > > > perbedaan pendapat adalah wajar belaka. Namun, tudingan permusuhan > Islam > > > 'radikal' terhadap partai Islam tidak menemukan realitasnya. Bahkan, > > > menurut syariat muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. > Tidak > > > logis suatu kelompok yang hendak menerapkan syariat Islam tapi > melanggar > > > syariat yang menjadi prinsip perjuangannya tersebut. > > > > > > Dalam kondisi seperti itu adalah bahaya ketika muncul tudingan > bahwa > > > kelompok yang disebutnya Islam radikal memusuhi partai Islam. > Kenyataan > > > demikian dapat ditangkap sebagai upaya untuk memisahkan antara partai > > > Islam dengan kelompok/organisasi Islam. Adu domba. Selama ini > masyarakat > > > tidak memilih atas dasar kepahaman ideologi. Indonesia ini mayoritas > > > Islam, tapi bukan partai Islam yang meraih suara terbanyak dalam > Pemilu. > > > Bila kondisi berbalik, katakan saja organisasi Islam 'berpihak' pada > > > partai yang secara terang-terangan akan menerapkan Islam, pihak yang > > > jauh-jauh hari gerah adalah kalangan yang tidak menghendaki Islam > mengatur > > > kehidupan. > > > > > > Sikap seperti ini semakin mengokohkan bukti bahwa demokrasi > tidak > > > diperuntukkan bagi Islam. Di Aljazair, FIS yang memenangkan 86% Pemilu > > > putaran pertama harus mengalami nasib tragis. Kemenangan dibatalkan, > lalu > > > menjadi partai terlarang, banyak aktivisnya mendekam di penjara. > Alasannya > > > hanya satu, FIS secara terbuka hendak memperbaiki Aljazair dengan > > > menegakkan Daulah Islamiyah. "Aljazair sakit, obatnya Islam, dokternya > > > adalah FIS," itulah credo yang mereka teriakkan. > > > > > > Baru-baru ini Hammas mengalami hal serupa. Sekalipun menang > secara > > > demokratis, segeralah embargo bantuan ekonomi diberlakukan. Tuntutan > > > pembatalan bila Hammas tetap dalam garis perjuangan selama ini pun > > > menyeruak. > > > > > > Di Indonesia, ketika partai Islam dilihat mulai menyuarakan > Islam, > > > segeralah dituding 'tersusupi'. Suatu kata yang mengandung makna > negatif. > > > Arti penting dari pelabelan tersebut adalah partai Islam yang > 'tersusupi' > > > Islam 'radikal' harus diwaspadai. Lebih jauh, demokrasi tidak boleh > bagi > > > kelompok yang secara lantang menyuarakan Islam. Kalaupun suatu waktu > > > partai yang mengusung Islam menang, bukan mustahil akan di-FIS-kan. > > > Nampaklah, demokrasi memang semu. Wallahu a'lam.[] > > > ******************************************************** > > > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di > kawasan > > > EJIP > > > ******************************************************** > > > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs > SAMARADA : > > > <http://www.usahamulia.net/> > > > > > > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : > > > [EMAIL PROTECTED] > > > > > > ******************************************************** > > > > > > << File: ATT19036.txt >> >
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
