-- Subject: [Hikmah] "Meruntuhkan Mitos Nurcholish Madjid"
"Meruntuhkan Mitos Nurcholish Madjid"
Senin, 25 Desember 2006
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, "menggugurkan" mitos bahwa pemikiran
Nurcholish Madjid adalah hebat. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini
ke-175
Oleh: Adian Husaini
Pada 16 Desember 2006 lalu, sebuah peristiwa yang sangat bersejarah
terjadi di Indonesia. Ketika itu, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, cendekiawan
Muslim asal Gontor Ponorogo, menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka
tasyakkuran gelar doktornya dari International Institute of Islamic Thought
and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM)
Malaysia. Secara terbuka dan sistematis, Hamid memberikan kritik-kritik
tajam terhadap gagasan pembaruan Islam yang pernah digulirkan oleh
Nurcholish Madjid dan kawan-kawan di awal tahun 1970-an.
Hamid F. Zarkasyi yang juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan
direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization
(INSISTS), lulus program Ph.D. pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006,
setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul 'Al-Ghazali's
Concept of Causality', di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr.
Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr.
Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid
terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam.
Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah
menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan
pengkaji al-Ghazali.
Acara tasyakkur Hamid F. Zarkasyi diselenggarakan INSISTS di Gedung
Gema Insani, Depok, dan dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai kalangan,
tokoh dan pimpinan Ormas Islam, profesional, dosen, mahasiswa, dan aktivis
dakwah. Selama hampir dua jam, hadirin dibuat tidak bergerak, khusyu'
menyimak paparan Hamid yang bertema 'Membangun Peradaban Islam yang
Bermartabat'. Pidato peradaban Hamid ini diakui sejumlah peserta sangat luar
biasa, karena dipersiapkan dengan sangat serius dan berisi hal-hal yang
mendasar dalam upaya membangun peradaban Islam yang dimulai dari upaya
perumusan konsep-konsep mendasar dalam pemikiran Islam.
Melalui orasi ilmiahnya tersebut, Hamid Zarkasyi seperti layaknya
pendekar yang baru turun gunung, setelah bertapa selama puluhan tahun. Sejak
kecil sampai sarjana S-1, Hamid dibesarkan dan dididik ayahnya sendiri di
lingkungan Pesantren Gontor. Barulah kemudian dia melanjutkan program
masternya di Pakistan. Setelah mengabdi beberapa tahun di Gontor, Hamid
kembali melanjutkan kuliah S-2 nya di Birmingham Inggris. Dari Inggris, dia
langsung melanjutkan studi S-3 nya ke ISTAC. Barulah, pada tahun 2006, pada
usia 48 tahun, Hamid baru menyelesaikan studi doktornya.
Bagi pembaca majalah ISLAMIA, sebenarnya sejak empat tahun ini, sosok
Hamid sudah dikenal luas melalui berbagai artikelnya. Pemikirannya sudah
tersebar luas dan memberikan dampak signifikan pada berbagai kalangan
peminat studi Islam.
Tetapi, orasi ilmiahnya pada 16 Desember 2006, merupakan momentum
penting. Secara substansi, orasi ilmiah Hamid Zarkasyi ini seperti
proklamasi jati diri dan pemikirannya. Orasi itu bagai upaya untuk menyapu -
setidaknya membendung - opini dan mitos yang terus dikembangkan oleh para
pengikut Nurcholish Madjid, bahwa pemikiran Nurcholish Madjid adalah hebat
dan ilmiah, sehingga tidak bisa dijangkau oleh para pengkritiknya.
Ada yang menulis, bahwa para pengkritik Nurcholish salah paham
terhadap gagasan Nurcholish. Sedangkan yang mendukung Nurcholish paham
terhadap Nurcholish. Padahal, baik yang mendukung maupun yang mengkritik
Nurcholish memang ada kemungkinan salah paham, jika tidak memahami benar
dasar dan anatomi pemikiran Nurcholish Madjid.
Mengembangkan prasangka semacam itu tidaklah bermanfaat untuk melihat
persoalan secara jernih. Gagasan sekularisasi dan pembaruan Islam
Nurcholish bukanlah gagasan yang rumit dan hanya dapat dipahami oleh
pendukung Nurcholish. Gagasan itu dia tulis dalam bahasan Indonesia - bukan
bahasa Ibrani atau bahasa Mesir kuno.
Ide Sekularisasi Islam juga mudah dirunut akarnya dari pemikiran
Harvey Cox atau Robert N. Bellah. Corak pemikiran neo-modernis Nurcholish,
bisa ditelusuri dari pemikiran gurunya di Chicago University, Prof. Fazlur
Rahman. Gagasan-gagasan keislamannya juga bisa dirunut pada pemikiran
Wilfred Cantwell Smith. Nurcholish sendiri tidak mengeluarkan satu buku
ilmiah yang utuh untuk menggambarkan pemikirannya sehingga bisa jadi ada
aspek-aspek yang bertentangan dalam satu bagian tulisannya dengan bagian
lainnya. Apalagi, setelah dia terjun ke dunia politik praktis, karena
berminat menjadi presiden RI.
Memang, kemunculan Nurcholish Madjid sebagai tokoh besar dalam
pemikiran Islam, tidak bisa dilepaskan dari setting media massa tertentu.
Karena itu, kritik-kritik terhadap Nurcholish, meskipun dilakukan oleh
ilmuwan kaliber internasional seperti Prof. HM Rasjidi, tetap saja
dikecilkan oleh media. Ketika menggulirkan pemikiran sekularisasinya,
Nurcholish baru lulus S-1 dan Prof. Rasjidi adalah doktor lulusan
Universitas Sorbone, Paris dan sempat menjadi professor di McGill University
Kanada.
Tanpa menafikan kemungkinan adanya niat baik dari gagasan pembaruan
Islam, gagasan ini harus dilihat dari akarnya, yakni pengaruh peradaban
Barat. Dewasa ini, tantangan ekternal terberat yang dihadapi Muslim dewasa
ini adalah hegemoni ilmu pengetahuan yang bersumber dari kebudayaan Barat.
Dalam pidato ilmiahnya itu, Hamid Zarkasyi mampu menyuguhkan gambaran
peradaban Islam yang sangat luar biasa dan memaparkan perbedaan yang
fundamental antara peradaban Islam dengan peradaban Barat.
Sebelum memberikan kritiknya terhadap gagasan pembaruan Islam, Hamid
F. Zarkasyi, telah membongkar hakekat peradaban Barat yang menurutnya dapat
dilihat dari dua periode penting yaitu modernisme dan postmodernisme.
Modernisme adalah paham yang muncul menjelang kebangkitan masyarakat Barat
dari abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad industri dan abad ilmu
pengetahuan. Ciri-ciri zaman modern adalah berkembangnya pandangan hidup
saintifik yang diwarnai oleh paham sekularisme, rasionalisme, empirisisme,
cara befikir dikhotomis, desakralisasi, pragamatisme dan penafian kebenaran
metafisis (baca: Agama).
Selain itu modernisme yang terkadang disebut Westernisme membawa serta
paham nasionalisme, kapitalisme, humanisme liberalisme, sekularisme dan
sebagainya. John Lock, salah seorang filosof Barat modern menegaskan bahwa
liberalisme rasionalisme, kebebasan, dan persamaan (pluralisme) adalah inti
modernisme. Tapi yang dianggap cukup menonjol dalam modernisme adalah
sekularisme, baik bersifat moderat dan ekstrim. Sedangkan postmodernisme
adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagai protes terhadap modernisme
ataupun sebagai kelanjutannya.
Postmodernisme berbeda dari modernisme karena ia telah bergeser kepada
paham-paham baru seperti nihilisme, relativisme, pluralisme dan persamaan
(equality), dan umumnya anti-worldview. Namun ia dapat dikatakan sebagai
kelanjutan modernisme karena masih mempertahankan paham liberalisme,
rasionalisme dan pluralismenya.
Fazlur Rahman mengakui, bahwa kaum modernis menekankan penggunaan akal
dalam memahami agama, masalah demokrasi dan masalah wanita; dan mengakui
adanya pengaruh Barat dalam pemikiran modernis. Apa yang disinyalir Rahman
terjadi pada banyak cendekiawan Indonesia seperti Nurcholish Madjid. Dengan
tanpa menggunakan terminologi Islam, Nurcholish berargumentasi bahwa inti
modernisasi adalah ilmu pengetahuan, dan rasionalisasi adalah keharusan
mutlak sebagai perintah Tuhan, maka. Maka dari itu modernitas membawa kepada
pendekatan (taqarrub) kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Istilah-istilah yang digunakan dalam pembaruan Islam adalah murni
Barat, sehingga pengaruh pemikiran Barat didalamnya sudah bisa diduga.
Pengaruh paham modernisme dalam pemikiran Nurcholish lebih jelas lagi ketika
ia mengambil unsur utama modernisasi, yaitu sekularisasi untuk memahami
agama.
Sekularisasi menurutnya adalah "menduniawikan masalah-masalah yang
mestinya bersifat duniawi, dan melepaskan ummat Islam untuk
mengukhrawikannya" kemudian diperkuat dengan idenya tentang "liberalisasi
pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam" dengan memandang negatif tradisi dan
kaum tradisionalis. Gagasan ini mengadopsi pemikiran Harvey Cox dan Robert
N. Bellah, pencetus gagasan sekularisasi dalam Kristen, dan tidak ada
modifikasi yang berarti. Ia hanya mencarikan justifikasinya dalam ajaran
Islam.
Nurcholish juga membatasi makna sekularisasi agar tidak berarti
sekularisme. Pembatasan diberikan dengan adanya kepercayaan akan adanya Hari
Kemudian dan prinsip Ketuhanan. Pembatasan ini tetap saja bersifat
memisahkan secara dichotomis. Orang-orang sekuler di dalam Kristen adalah
orang-orang yang percaya pada Hari Akhir dan pada Tuhan, hanya saja mereka,
karena sejarah mereka, tidak ingin agama mencampuri kehidupan dunia mereka,
agama adalah properti pribadi dan bukan publik. Dalam Islam agama adalah
urusan dunia dan akherat, urusan pribadi dan urusan publik sekaligus. Jadi
secara epistemologis akhirnya sekularisasi ini juga akan menjadi
sekularisasionisme (secularizationism).
Gagasan yag lebih vulgar dan bahkan secara eksplisit merupakan
kepanjangan dari Westernisasi adalah trend pemikiran yang kini dikenal
dengan liberalisasi. Jika gagasan Nurcholish dan Harun Nasution cenderung
mengadapsi paham-paham dalam modernisme, liberalisasi lebih condong
menerapkan paham-paham yang dibawa oleh postmodernisme. Relativisme,
pluralisme, equality (persamaan), dekonstruksi dan lain sebagainya adalah
terma-terma pemikiran postmodern. Karena bermuatan Westernisasi maka trend
pemikiran ini menjadi sebuah gerakan sosial. Meski ia di perkotaan dan
perguruan tinggi, namun secara perlahan-lahan berpengaruh dalam pembentukan
opini dan jika dibiarkan maka akan berkembang menjadi framework pemikiran.
Lebih-lebih trend pemikiran ini juga diminati oleh para dosen yang pernah
belajar dengan para orientalis di Barat.
Hamid memandang, upaya-upaya pembaharuan pemikiran di dunia Islam,
termasuk di Indonesia, ternyata masih bersifat seporadis, artinya pemikiran
dan gagasannya tidak didukung oleh komunitas yang memang bertekun khusus
dalam mengkaji, mengevaluasi dan mengembangkan pemikiran Islam. Terkadang
merupakan gerakan yang dipaksakan dan dipopulerkan, khususnya oleh media.
Jika pun ada komunitas itu, kualitas keilmuannya masih belum memadai
untuk suatu proyek pembangunan konsep-konsep keislaman. Kelemahan yang lain,
pemikiran yang konon merupakan pembaharuan itu ternyata lebih cenderung
meng-copy konsep-konsep Barat modern dan postmodern.
Untuk itu, simpul Hamid, apa yang diperlukan dalam kajian Islam di
Indonesia adalah menggali kembali khazanah ilmu pengetahuan Islam dan
menguasai pemikiran dan kebudayaan asing, terutama Barat, khususnya
tentang pandangan hidupnya, filsafatnya, epistemologinya, sains dan
teknologinya agar ummat Islam mampu melahirkan konsep-konsep Islam dalam
berbagai bidang dan dalam konteks kekinian.
Demikian, paparan dan kritik Hamid F. Zarkasyi terhadap gagasan
pembaruan Islam. Meskipun selama ini banyak yang sudah mengkritik gagasan
sekularisasi Nurcholish madjid, tetapi kritik Hamid Zarkasyi ini memiliki
signifikansi yang sangat tinggi.
Pertama, karena kualitas kritik Hamid yang sangat ilmiah dalam
membongkar akar-akar pemikiran Nurcholish Madjid dan kedua, karena Hamid
Zarkasyi adalah putra KH Imam Zarkasyi, pendiri pesantren Gontor, dimana
Nurcholish pernah nyantri.
Tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang, sosok Nurcholish
Nurcholish identik dengan pesantren Gontor.
Padahal, kata Hamid, ayahnya sendiri pernah menyatakan, bahwa
Nurcholish memang dari Gontor, tetapi Gontor bukanlah Nurcholish. Memang,
jika dicermati, Nurcholish memang sempat nyantri di Gontor, tetapi pemikiran
sekularisasi - apalagi pluralismenya - bukanlah berasal dari Gontor. Setelah
nyantri, Nurcholish melanjutkan studi S-1 nya di IAIN Jakarta dan kemudian
ke University of Chicago.
KH Khalil Ridwan, alumnus Gontor yang berpuluh-puluh tahun merasa
gusar dengan penyebaran pemikiran Nurcholish Madjid, termasuk di kalangan
alumni Gontor, mengaku sangat bersyukur dengan kelulusan doktor Hamid
Zarkasyi. Dia pun mengaku bersyukur karena Hamid berani dan mampu mengupas
pemikiran Nurcholish Madjid dengan baik dan menunjukkan kekeliruannya.
Karena itu, dalam sambutannya dalam acara tasyakkuran tersebut, KH Khalil
Ridwan berharap Hamid berusaha keras untuk memberikan penjelasan kepada para
alumni Gontor yang lain dan juga kepada umat Islam pada umumnya. Dia pun tak
lupa berpesan, agar Hamid senantiasa mengamalkan doa yang diajarkan KH Imam
Zarkasyi tentang keselamatan dalam agama. "Gelar doktor tidak menjamin orang
tidak tersesat," pesan Kyai Khalil yang juga pemimpin pesantren Husnayain.
Bagaimana pun canggihnya, orasi ilmiah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi ini
hanya akan bermanfaat bagi orang yang hati dan akalnya masih mau mengkaji
dan menerima kebenaran. Bagi para sofis yang keras kepala ('inad), yang
sudah a-priori dan menutup hati dan pikirannya untuk kebenaran, maka tidak
ada lagi hujjah yang bermanfaat. Meskipun sudah terbukti bisa terbang,
seekor burung gagak tetap dia katakan 'kambing hitam'. Wallahu a'lam.
[Yogyakarta, 22 Desember 2006/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara
Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
emailButton.png
Description: emailButton.png
_______________________________________________ Hikmah mailing list [EMAIL PROTECTED] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/hikmah
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
