________________________________

From: Susiana 
 Sent: Friday, March 09, 2007 10:27 AM
To: TRIPOLYTA LADIES; muslimmen; musarema
Cc: Rendi Purnama; Ratna Kusumayani; Nufus, Muniati (NF); Nini. Nuraini; Nety 
Budiningsih; Mila; Liana Awaludin; Ikhsan; Ika Aprilia; Hermawan. Maone; Galih 
H. Praptowo; Fdb_Washing; Erwin Haris - AD1; Ella Lestiana; Edijanti Elfira; 
Djoko Prabowo - AD2; budi santoso; Ansor M Muchtar; Agus KH; ades; achmad 
mutasim
Subject: Spam: KEDZALIMAN ADALAH KEGELAPAN PADA HARI KIAMAT


 


 
BismillaaHir Rohmaannir Rohiim
Assalamu'alaykum wa RohmatulloHi Ta'alaa wa BarokatuHu
 
Kedzaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat
 Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah 
<http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?sid=608> 
<http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=Recommend_Us&req=FriendSend&sid=608>
  
Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ulama kita menerangkan dengan berpatokan pada hadits di atas bahwa kedzaliman 
merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya hingga ia tidak mendapatkan arah/jalan 
yang akan dituju pada hari kiamat atau menjadi sebab kesempitan dan kesulitan 
bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim 16/350, Tuhfatul Ahwadzi kitab Al-Birr wa 
Shilah ‘an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Ma Ja`a fizh Zhulum)
Mungkin ada di antara kita yang masih bertanya-tanya, apa sih yang dimaksudkan 
dengan dzalim? Dalam bahasa Arab, dzalim bermakna meletakkan sesuatu tidak pada 
tempatnya. Asal kata dzalim adalah kejahatan dan melampaui batas, dan juga 
menyimpang dari keseimbangan. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, bab Azh-Zha’ ma‘a 
Al-Lam).

Sadar ataupun tidak, kita sering berbuat dzalim. Padahal kedzaliman bukanlah 
perkara remeh. Hukumnya haram dalam syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan 
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkannya bagi diri-Nya. Dia Yang Maha Suci 
berfirman dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ 
مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا...

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku dan 
Aku menjadikannya haram di antara kalian maka janganlah kalian saling 
mendzalimi…” (HR. Muslim)
Mengingat hal di atas, dalam rubrik ini kita coba membahas tentang kedzaliman, 
semoga dapat menjadi peringatan yang bermanfaat.

فَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi kaum 
mukminin.” (Adz-Dzariyat: 55)

Bentuk-Bentuk Kedzaliman
Kedzaliman banyak bentuknya, di antaranya:

1. Berbuat dzalim pada diri sendiri, dengan melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang dari berbuat dzalim seperti ini 
sebagaimana dalam firman-Nya:

فَلاَ تَظْلِمُوا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian pada bulan-bulan haram1 itu 
(dengan melakukan perbuatan yang dilarang).” (At-Taubah: 36)
 
2. Kedzaliman seseorang kepada saudaranya, bisa jadi dengan cara:

 ia melanggar kehormatan saudaranya
 ia menyakiti tubuh saudaranya
 ia mengganggu/merampas harta saudaranya
Semua ini diharamkan. Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah 
bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، 
كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هذَا، فِي شَهْرِكُمْ هذَا، فِي بَلَدِكمْ هذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram bagi kalian 
(untuk ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar), sebagaimana keharaman hari kalian 
ini, pada bulan kalian ini dan di negeri kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Mengubah perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala syariatkan

Mengganti (bongkar pasang) syariat yang diturunkan dari atas langit dengan 
aturan atau undang-undang rendahan yang dibuat oleh manusia, termasuk 
kedzaliman yang terbesar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengancam 
orang-orang yang tidak mau berhukum dengan syariat-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Siapa yang tidak mau berhukum dengan hukum yang Allah turunkan maka mereka itu 
adalah orang-orang yang dzalim.” (Al-Ma`idah: 45)
Mereka berbuat dzalim karena mereka telah menempatkan perkara tidak pada tempat 
yang semestinya.

4. Mendzalimi hewan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا 
النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا 
تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yang diikat/ dikurungnya 
hingga mati, si wanita masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya 
makanan, tidak diberinya minum, tidak pula dilepaskannya hingga bisa memakan 
serangga/hewan yang ada di tanah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sa‘id ibnu Jubair rahimahullah berkata: “Suatu ketika saat aku sedang berada di 
sisi Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, mereka melewati anak-anak muda atau 
sekumpulan orang yang menancapkan seekor ayam betina sebagai sasaran bidikan 
anak panah yang dilemparkan. Ketika anak-anak muda itu melihat Ibnu ‘Umar, 
mereka pun bubar meninggalkan ayam tersebut. Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma 
berkata: “Siapa yang melakukan hal ini? Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam telah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti ini.” (HR. 
Bukhari)

5. Membedakan manusia dalam penerapan hukum berdasarkan status sosial.

Perbuatan seperti ini sama artinya membuat kerusakan di muka bumi karena akan 
menumbuhkan kecemburuan, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat yang 
berbeda-beda status sosialnya. Tentunya muara dari semua ini adalah kebinasaan, 
sebagaimana keadaan umat terdahulu yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ 
فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا 
عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Hanyalah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketidakadilan 
mereka, di mana bila ada orang mulia di kalangan mereka yang mencuri, mereka 
biarkan (tidak diberi sangsi hukum), namun bila yang mencuri itu orang yang 
lemah, mereka tegakkan hukum had padanya.” (HR. Ahmad, dishahihkan dalam 
Shahihul Jami` no. 2344)

Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta'ala dari Berbuat Dzalim
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan perbuatan dzalim dan Dia mensucikan 
diri-Nya dari sifat tersebut.

وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ

“Dan sesungguhnya Allah tidaklah mendzalimi hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 182)

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

“Sesungguhnya Allah tidaklah berbuat dzalim walau seberat semut yang kecil.” 
(An-Nisa: 40)
Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي...

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku…” 
(HR. Muslim)

Berbuat Dzalim adalah Tabiat Manusia

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangatlah dzalim lagi kufur.” (Ibrahim: 34)

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ 
فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ 
إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan 
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka 
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. 
Sesungguhnya manusia itu amat dzalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)

Dua ayat di atas cukuplah menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka 
berbuat dzalim. Karenanya, kita harus mencari obat penyembuh dari penyakit 
tabiat tersebut. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kita 
untuk membersihkan tabiat jiwa dari perkara yang mengotorinya?

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang 
mengotori jiwanya.” (Asy-Syams: 9-10)
Penyucian jiwa tersebut dilakukan dengan memaksanya agar mencocoki dan 
menyepakati manhaj/aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Cara Membersihkan Jiwa dari Berbuat Dzalim

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk 
bersungguh-sungguh memaksa jiwa mereka agar bersih dari perbuatan yang rendah 
baik berupa kedzaliman, sombong, hasad, dan selainnya. Allah Subhanahu wa 
Ta'ala menjanjikan untuk memberikan petunjuk kepada jalan keselamatan bagi 
orang yang berbuat demikian karena mengharapkan wajah-Nya.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ 
الْمُحْسِنِيْنَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh berupaya mencari keridhaan Kami, niscaya 
Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah 
bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al-’Ankabut: 69)

Berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang agar terhindar dari 
berbuat dzalim:

1. Bertakwa kepada Allah

Takwa sebagai wasiat Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya yang awal 
sampai yang akhir, merupakan asas agama ini. Dengan takwa seorang hamba akan 
menahan dirinya dari melanggar batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta'ala. 
Karena itu setiap jiwa hendaklah merealisasikan takwa dan mengetahui keagungan 
dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى 
عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Mereka tidaklah mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan, padahal 
bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit-langit 
dilipat dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi Maha Tinggi dari apa yang 
mereka sekutukan.” (Az-Zumar: 67)
Seorang yang berbuat dzalim seandainya memiliki pengagungan kepada Allah 
Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar pengagungan niscaya ia akan menarik 
diri dan berhenti dari kedzaliman yang dilakukannya.

2. Tawadhu‘/rendah hati

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi penekanan untuk bersikap tawadhu‘.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبْغِي 
أَحَدٌ عَلىَ أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mewahyukan kepadaku agar hendaknya 
kalian bersikap tawadhu’ hingga seseorang tidak berbuat dzalim kepada orang 
lain, dan seseorang tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain.” (HR. 
Muslim)
Tawadhu‘ adalah obat kedzaliman, adapun sombong merupakan sebab. Tawadhu‘ ini 
bisa diupayakan oleh seseorang dengan cara terus melatih dan membiasakan 
jiwanya agar bersikap tawadhu‘.

3. Melepaskan diri dari sifat hasad

Karena hasad merupakan sebab kedzaliman dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
sendiri telah melarang dari berbuat hasad.

وَلاَ تَحَاسَدُوْا...

“Dan janganlah kalian saling hasad…” (HR. Muslim)

4. Menganjurkan jiwa untuk bersemangat meraih apa yang Allah Subhanahu wa 
Ta'ala janjikan kepada orang-orang yang berlaku adil/tidak dzalim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ ...

“Ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari di 
mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …”
Di antara tujuh golongan itu disebutkan:

إِمَامٌ عَادِلٌ

“Pimpinan yang adil.” (HR. Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ عَلىَ يَمِيْنِ 
الرَّحْمنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ...

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar 
dari cahaya di sebelah kanan tangan kanan Ar-Rahman dan kedua tangan-Nya 
kanan….” (HR. Muslim)

5. Menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan doa yang sungguh-sungguh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mengabulkan doa sebagaimana Dia berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ...

“Rabb kalian telah berfirman: ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan 
mengabulkan permintaan kalian…’.”
Maka semestinya seorang hamba senantiasa berdoa memohon pertolongan kepada-Nya 
agar dirinya dihindarkan dari perbuatan dzalim. Wallahul musta’an.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Bulan-bulan haram ada 4 yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa‘dah, dan Dzulhijjah. 
Dalam bulan-bulan haram ini dilarang melakukan peperangan.

http://asysyariah.com/print.php?id_online=415
 
 
Wassalamu'alaykum wa RohmatulloHi Ta'alaa wa BarokatuHu
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke