KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI 
PADA MASA KEKHIFAHAN ISLAM

Menelusuri sejarah peradaban kaum Muslim sama artinya dengan membuka kembali 
lembaran-lembaran sejarah yang menggambarkan kemajuan yang pernah diperoleh 
oleh generasi kaum Muslim terdahulu.  Zaman keemasan kaum Muslim saat itu 
dikenal dengan sebutan The Golden Age. Pada saat itu,  kaum Muslim berhasil 
mencapai puncak kejayaan sains dan ilmu pengetahuan yang memberikan 
kemaslahatan yang amat besar bagi peradaban umat manusia pada umumnya. Penting 
dicatat  The Golden Age terjadi ketika umat Islam masih memiliki Khilafah 
Islamiyah, negara tempat mereka bernaung. 

Pada masa itu, berbagai cabang sains dan teknologi lahir. Sains dan teknologi 
yang telah diletakkan dasar-dasarnya oleh peradaban-peradaban sebelum Islam 
mampu digali, dijaga, dikembangkan, dan dijabarkan, secara sederhana oleh kaum 
Muslim. Sains dan teknologi tersebut kemudian diwariskan kepada generasi dan 
peradaban modern serta turut memberikan andil yang amat besar bagi proses 
kebangkitan kembali (renaissance) bangsa-bangsa Eropa.

Bisa dikatakan, kebangkitan kembali bangsa Eropa yang memicu proses 
industrialisasi besar-besaran di Eropa dan Amerika tidak akan muncul jika para 
pionir Eropa tidak belajar kepada kaum Muslim.  'Berkah' Perang Salib yang 
berkecamuk hampir selama dua abad antara kaum Muslim dan Eropa yang Kristen 
telah membuka mata bangsa Eropa terhadap kemajuan sains dan teknologi yang 
dimiliki oleh kaum Muslim. Mereka masih sempat merampas buku-buku dan berbagai 
manuskrip kuno yang merekam perkembangan sains dan teknologi yang tersimpan di 
perpustakan-perpustakaan milik kaum Muslim, meskipun sebagian besarnya mereka 
bakar.

Untuk mengetahui betapa hebatnya kemajuan sains dan teknologi yang pernah 
dicapai oleh kaum Muslim pada masa pemerintahan para khalifah Islam di masa 
lalu, perjalanan tarikh kali ini akan menguak beberapa cabang sains dan 
teknologi.


A. Ilmu Bumi


Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun (paruh pertama abad IX M), 
Al-Khawarizmi dan 99 orang asistennya telah membuat peta bumi sekaligus peta 
langit (peta bintang).  Mereka berhasil mengukur lingkaran bumi dengan tingkat 
akurasi yang amat tinggi dengan dilandaskan pada pemahaman bahwa bumi itu 
bentuknya bulat. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah eksperimen sederhana 
dilakukan di dataran Sinyar (dekat kota Palmyra).  Dengan menggabungkan 
pengetahuan matematika sederhana (sinus, cosinus dan tangent) dengan sudut 
jatuh sinar matahari serta peredaran bumi dalam setahun, mereka menyimpulkan 
bahwa derajat zawal = 56 2/3 mil atau 959 yard lebih panjang dari nilai yang 
sebenarnya.  Setelah diperoleh derajat zawal, mereka dapat menghitung panjang 
keliling bumi, yaitu 20.000 mil, dan jari-jari bumi 6.500 mil.

Pada saat yang sama, bangsa Eropa masih yakin bahwa bumi itu datar, hingga 
Columbus berhasil menginjakkan kakinya di benua Amerika, dan membuktikan bahwa 
bumi itu bulat.

Upaya para intelektual Muslim saat itu untuk memetakan bumi-beserta informasi 
mengenai keadaan alam, hasil bumi, dan barang tambangnya-telah dimulai pada 
abad ke-9 M.  Al-Muqaddasi (Abu 'Abdillah) yang hidup pada tahun 985 M 
melakukan pengembaraan panjang mendatangi berbagai negeri hingga 20 tahun 
lamanya. Tujuannya adalah untuk menyusun ensiklopedia sederhana mengenai ilmu 
bumi.  Ia memberikan banyak informasi yang amat teliti tentang tempat-tempat 
yang dikunjunginya.

Sejak saat itu, mulailah berkembang upaya-upaya spesifik yang akan melahirkan 
cabang ilmu historio topographical maupun demografi.  Di antara buku-buku ilmu 
bumi yang banyak tersebar saat itu ada yang memfokuskan tentang sejumlah 
peraturan pos pada masa para khalifah dan peraturan mengenai kharaj di 
masing-masing wilayah; ada pula yang menggambarkan kondisi udara (tingkat 
hujan, kelembaban, intensitas sinar matahari dsb), pertambangan/logam; dan 
sejenisnya.

Pada pertengahan abad ke-10 M, Al-Astakhri menerbitkan karyanya tentang ilmu 
bumi negeri-negeri Islam yang disertai dengan peta berwarna yang membedakan 
data potensi masing-masing negeri.  Pada akhir abad ke-11 M, Al-Biruni 
mengekspose bukunya tentang ilmu bumi Rusia dan Eropa Utara.  Ia adalah Abu 
Raihan Biruni yang lahir di negara bagian Khurasan.  Ia belajar ilmu pasti, 
astronomi, kedokteran, matematika, sejarah, serta ilmu tentang bangsa India dan 
Yunani.  Ia sering melakukan korespondensi dengan Ibn Sina.

Pertengahan abad ke-12 M, Al-Idrisi, seorang ahli ilmu bumi dan pelukis peta, 
telah membuat peta langit dan bola bumi yang berbentuk bulat.  Kedua karyanya 
itu dibuat dari perak dan dihadiahkan kepada Raja Roger II dari Sisilia. Namun 
demikian, hasil karya Al-Idrisi yang amat terkenal adalah peta sungai Nil. Peta 
tersebut menjelaskan asal sumbernya (hulu sungai) yang kemudian dijadikan acuan 
bagi pengelana Eropa dalam menemukan hulu sungai Nil pada abad ke-19 M.

Tahun 1290 M, Quthbuddin as-Syirazi, ahli ilmu bumi, berhasil membuat peta Laut 
Mediterania, yang kemudian dihadiahkannya kepada Gubernur Persia saat itu.  
Pada era yang sama, Yaqut ar-Rumi (1179-1229) menyusun ensiklopedia ilmu bumi 
tebal yang terdiri dari 6 jilid.  Ensiklopedia ini dikemas dengan judul, Mu'jam 
al-Buldân.


B. Ilmu Astronomi


Khalifah al-Manshur dari generasi ke-Khilafahan Abasiyah pernah memerintahkan 
untuk menerjemahkan buku tentang astronomi yang berasal dari India yang 
berjudul Sidhanta.  Penerjemahnya adalah al-Farabi (meninggal antara 796-806 
M). Ia kemudian terkenal sebagai astronom pertama di dalam sejarah Islam.

Sepeninggal al-Farabi, direktur yang membidangi ilmu astronomi adalah 
al-Khawarizmi.  Ia berhasil merumuskan perjalanan matahari dan bumi serta 
menyusun jadwal terbitnya bintang-bintang tertentu.  Pada masa pemerintahan 
al-Makmun, al-Khawarizmi berhasil menemukan kenyataan tentang miringnya zodiak 
(rasi/letak) bintang.  Ia berhasil pula memecahkan perhitungan sulit yang 
disebut dengan persamaan pangkat tiga (a qubic equation), yang oleh Archimides 
pernah disinggung, tetapi tidak berhasil dipecahkan.  Penemuannya yang paling 
masyhur dan tetap digunakan dalam berbagai cabang ilmu adalah ditemukan dan 
mulai digunakannya angka nol serta berhasil disusunnya perhitungan desimal.  
Perlu diketahui bahwa  bangsa Romawi, Yunani, maupun berbagai peradaban sebelum 
Islam, penjumlahan maupun pengurangan, bahkan lambang angka/bilangan belum 
mengenal angka nol.

Pakar-pakar astronomi yang pernah hidup pada masa itu, antara lain, adalah 
Ahmad Nihawand; Habsi ibn Hasib (831 M); Yahya ibn Abi Manshur (hidup antara 
870-970 M); an-Nayruzi (922 M), pengulas buku Euclides dan penulis beberapa 
buku tentang instrumen untuk mengukur jarak di udara dan laut; al-Majriti 
(1029-1087 M), yang dikenal lewat bukunya, Ta'dîl al-Kawâkib; az-Zarqali 
(1029-1089 M), yang di Barat lebih dikenal sebagai Arzachel; Nashiruddin 
at-Tusi (wafat 1274) yang membangun observatorium di kota Maragha atas perintah 
Hulaghu.

Az-Zarqali berhasil membeberkan kepada dunia cara menentukan waktu dengan 
mengukur tinggi matahari. Ia adalah orang pertama yang membuktikan gerak apogee 
matahari dibandingkan dengan kedudukan bintang-bintang.  Menurut 
perhitungannya, gerak itu besarnya 12,04 derajat.  Bandingkan akurasinya dengan 
nilai sebenarnya yang diperoleh saat ini, yaitu 11,8 derajat.

Ibn Jaber al-Battani, yang dikenal orang Eropa sebagai Al-Batanius (858-929 M), 
berhasil mengembangkan beberapa penyelidikan yang pernah dilakukan oleh 
Ptolomeus.  Ia memperbaiki perhitungan-perhitungan mengenai waktu dan jarak 
tempuh bulan maupun beberapa planet.  Ia juga membuktikan kemungkinan 
terjadinya gerhana matahari setiap tahun. Perhitungannya yang teliti tentang 
besarnya kemiringan ekliptika, panjang tahun tropis, waktu dan jarak tempuh 
matahari diakui oleh pakar-pakar astronomi.

Pada masa Bani Fatimiyah berkuasa, pakar astronom Muslim ternama, Ali ibn Yunus 
(meninggal tahun 1009 M) mempersembahkan sebuah buku mengenai ilmu astronomi 
kepada negara berjudul Al-Zij al-Kâbir al-Hâkimî.  Manfaat buku ini diakui oleh 
para pakar astronomi sehingga disalin ke bahasa Persia oleh 'Umar Khayyam. Umar 
Khayyam sendiri berhasil menyusun sistem penanggalan yang lebih teliti 
dibandingkan dengan penanggalan Gregorian, karena penyimpangannya hanya satu 
hari dalam 5000 tahun, sedangkan penanggalan Gregorian penyimpangannya satu 
hari dalam 3300 tahun). Buku Ali ibn Yunus juga diterjemahkan ke dalam bahasa 
China oleh Co Cheon King (tahun 1280 M).  Pada masa yang sama, al-Biruni (1048 
M) memaparkan teorinya mengenai rotasi bumi, perhitungan serta penentuan bujur 
dan lintang bumi dengan akurasi yang amat teliti.


C. Ilmu Pasti/Matematika


Bangsa Barat mengenal angka-angka Arab, atau biasa disebut algoritma, dengan 
menisbatkannya kepada al-Khawarizmi, seorang pakar matematika dan aljabar.  
Kata algoritma, yang disingkat menjadi augrim, bersumber dari buku-buku 
al-Khawarizmi.  Orang-orang Eropa saat itu amat terpengaruh oleh teori-teorinya 
yang brilian.  Hal itu tampak dalam buku Karmen de Algorismo, karangan 
Alexander de Villa Die (tahun 1220 M), dan buku Algorismus Vulgaris, karangan 
John of Halifax (tahun 1250 M).

Buku al-Khawarizmi yang paling masyhur adalah Hisâb al-Jabr wa al-Muqâbalah.  
Gerald of Cremona menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Latin, yang edisi 
Inggrisnya berjudul The Mathematics of Integration and Equations.  Buku ini 
menjadi referensi utama di berbagai perguruan tinggi Eropa hingga abad ke-16 M. 
Selain itu, al-Khawarizmi berhasil mengembangkan perhitungan Platolemy dalam 
perhitungan busur dan ilmu ukur sudut dengan mengetengahkan istilah sinus serta 
menyusun penyelesaian yang sistematis dalam persaman pangkat dua.  Ibn Ibrahim 
al-Fazari mengembangkannya lebih lanjut hingga ke bentuk persamaan pangkat 
tiga.  Hal sama sebenarnya juga dilakukan dalam persamaan pangkat tiga oleh Abu 
Ja'far al-Khazen (960 M).  Hanya saja, ia lebih memfokuskan penggunaan aljabar 
dalam ilmu ukur, dan ia adalah peletak dasar bagi ilmu ukur analitis.  

Keahlian dalam aljabar yang digunakan dalam ilmu ukur sudut didalami oleh 
Al-Battani (858-929 M).  Dialah yang menguraikan persamaan  sin Q/cos Q = k.  
Ia pun menjabarkan lebih lanjut formulasi cos a = cos b cos c + sin b sin c cos 
a  pada sebuah segi tiga.

Abu al-Wafa (940-998 M) termasuk kelompok pertama pakar matematika yang 
mengungkapkan teori sinus dalam kaitannya dengan segi tiga bola. Ia orang 
pertama yang menggunakan istilah tangent, cotangent, secant, dan cosecant dalam 
ilmu ukur sudut, yang sekaligus membuktikan adanya hubungan di antara keenam 
unsur itu.

Jabir ibn Aflah, yang dikenal oleh bangsa Eropa dengan sebutan Geber (wafat 
tahun 1150 M), telah menulis buku dalam ilmu astronomi sebanyak 9 jilid.  Para 
pengkaji manuskrip kuno menganggap bahwa bukunya merupakan pengembangan labih 
lanjut dari buku Almagest-nya Platomeus.  Jabir ibn Aflah adalah orang pertama 
yang menyusun formulasi  cos B = cos b sin A,  cos C = cos A cos B pada sebuah 
segi tiga, yang sudut C-nya siku-siku.


D. Ilmu Fisika


Pencapaian kaum Muslim dalam perkembangan ilmu fisika, sama pesatnya dengan 
perkembangan yang diperoleh dalam ilmu pasti maupun ilmu kimia.  Salah seorang 
pakar ilmu fisika yang terkenal pada abad ke-9 M adalah al-Kindi.  Ia 
menguraikan hasil eksperimennya tentang cahaya.  Karyanya tentang fenomena 
optik diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, De Sspectibus, dan memberikan 
pengaruh besar dalam proses pendidikan Roger Bacon.

Di samping itu, ada pula Ibn Haytham, yang di Barat lebih dikenal sebagai 
Alhazen  (965-1039 M).  Ia bukan saja ahli dalam bidang ilmu pasti dan 
filsafat, tetapi juga amat mumpuni dalam bidang ilmu optik dan pencahayaan.  
Sebanyak 200 judul buku mengenai optik dan pencahayaan dinisbatkan kepada Ibn 
Haytham.  Teorinya yang amat terkenal adalah tentang sumber cahaya yang 
menyebabkan benda dapat dilihat.  Ditegaskan juga bahwa cahaya itu bukan 
berasal dari mata yang melihat melainkan dari benda tersebut.  Teori ini 
jelas-jelas bertentangan dengan teori Euclides dan Platomeus yang mengatakan 
bahwa benda dapat dilihat karena mata yang bercahaya.  Ibn Haytham juga 
menunjukkan tentang fenomena refleksi dan refraksi cahaya.  Ia juga membuktikan 
adanya perbedaan berat jenis antara udara dengan benda-benda.  Teorinya ini 
mendahului teori yang sama yang dikeluarkan atas nama Torricelli jauh lima abad 
sebelumnya.  Ibn Haytham pula yang mulai melakukan eksperimen tentang gravitasi 
bumi jauh sebelum Newton merumuskan teorinya tentang gravitasi.  Kepiawaian Ibn 
Haytham dalam ilmu optik membuatnya berhasil menemukan lensa pembesar pertama.  
Padahal, lensa sejenis baru dapat dibuat di Italia beberapa abad kemudian.  
Buku Ibn Haytham yang membahas tentang optik diterjemahkan ke dalam bahasa 
Latin pada tahun 1572 M.  Bukunya amat mempengaruhi para sarjana Eropa di abad 
pertengahan seperti Keppler, Bacon, maupun Leonardo da Vinci.

Pembahasan tentang mekanika yang dituangkan dalam sebuah buku berjudul, Kitâb 
fî Ma'rifah, karya al-Jazari (nama aslinya Badi'uz Zaman Ismail) muncul pada 
awal abad ke-13 M.  Di dalamnya diuraikan berbagai fenomena mekanika sederhana 
yang menjadi dasar bagi para sarjana Eropa dalam menyusun ilmu mekanika moderen.


E. Ilmu Sejarah Alam


Tumbuhan maupun hewan tidak luput dari sasaran pengkajian ilmiah para 
intelektual Muslim.  Perkebunan (botanical garden) yang sederhana dijadikan 
tempat untuk melakukan eksperimen. Hal itu dijumpai di kota-kota seperti 
Baghdad, Kairo, Cordova dan lain-lain.  Melalui eksperimennya, para intelektual 
Muslim berhasil mengetahui perbedaan jenis tumbuh-tumbuhan, membagi tumbuhan 
berdasarkan tempat asalnya, mempelajari bermacam-macam perbanyakan tumbuhan, 
dan mulai menyusun klasifikasi tumbuhan secara sederhana.

Pada abad ke-11 M, pakar pertanian bernama Abu Zakaria Yahya menulis buku 
tentang pertanian berjudul Kitâb al-Falahah. Langkahnya kemudian diikuti oleh 
Abu Ja'far al-Qurthubi (1165 M) yang menyusun buku  yang berisi seluruh jenis 
tumbuhan yang dijumpai di daerah Andalusia dan Afrika Utara.  Setiap jenis 
tumbuhan diberi nama Arab, Latin, dan Barbar. Periode ini diikuti oleh Ibn 
Baythar (1248 M), yang melakukan  ekseperimen tentang rumput-rumputan dan 
berbagai jenis tumbuhan.  Ia menyusun dua buah judul buku hasil 
penyelidikannya.  Salah satunya memuat keterangan rinci lebih kurang 200 jenis 
tumbuhan.  Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1759 M di 
Cremona.

Kaum Muslim turut memberikan andil bagi para pakar tumbuhan dan menyediakan 
informasi yang amat berguna mengenai sekitar 2000 jenis tumbuh-tumbuhan yang 
sebelumnya belum dikenal.

Pakar zologi yang terkenal antara lain adalah al-Jahir. Ia menulis buku 
berjudul Kitâb al-Hayawân.  Di dalamnya dijelaskan anatomi sederhana, makanan, 
kebiasaan hidup, serta manfaat yang diperoleh dari berbagai jenis hewan. Di 
samping itu, terdapat pula ad-Damiri (1405 M), seorang pakar zologi yang 
berasal dari Mesir.

F. Ilmu Kedokteran

Perhatian kaum Muslim terhadap ilmu kedokteran sudah ada sejak peradaban Islam 
terbentuk di kota Madinah, ditambah lagi dengan kebutuhan yang dijumpai setiap 
kali kaum Muslim melakukan jihad fi sabilillah.  Ilmu kedokteran termasuk 
cabang ilmu yang paling pesat perkembangannya di Dunia Islam saat itu, karena 
manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Wajar kalau Khalifah 
Harun ar-Rasyid (abad ke IX M) memberikan perhatian yang amat besar dengan 
membuka fakultas khusus tentang ilmu kedokteran di berbagai perguruan tinggi di 
kota Baghdad, lengkap dengan rumah sakitnya.  Seiring dengan perkembangannya, 
berbagai buku tentang ilmu kedokteran pun mulai tersebar luas. Buku-buku 
tersebut di kemudian hari disalin ke dalam bahasa Latin.  

Kemungkinan besar, buku kedokteran pertama yang disusun oleh pakar kedokteran 
Muslim adalah Firdaus al-Hikmah. Buku tersebut ditulis pada tahun 850 M oleh 
Ali at-Tabari.  Pada saat yang sama, Ahmad ibn at-Tabari melakukan eksperimen 
pertama tentang penyakit kurap. Ia termasuk pakar kedokteran pertama yang 
berhasil menyingkap penyakit kulit tersebut.

Di kota Baghdad, muncul pula pakar kedokteran bernama Abubakar Muhammad ibn 
Zakaria. Ia  dikenal dengan ar-Razi (864-932 M).  karangan-karangannya 
tergolong sebagai encyclopedia karena tebal dan banyaknya.  Untuk bidang 
kedokteran saja, ia menyusun sekitar 200 judul buku.  Prestasinya yang hebat 
dipandang oleh sebagian orientalis melebihi prestasi Galinus, seorang filosof 
Yunani terkenal.  Di antara bukunya yang terkenal adalah Al-Manshûri. Buku 
tersebut terdiri dari 10 jilid dan telah disalin ke dalam bahasa Latin (di kota 
Milano) pada akhir abad ke-15 M.  Bukunya yang lain adalah Al-Judari wa 
al-Hasbah. Buku tersebut mengupas tentang penyakit cacar dan campak.  Buku ini 
tergolong sebagai buku  pertama yang membahas penyakit cacar dan campak serta 
penjelasan mengenai cara-cara pencegahan dan pengobatannya.  Buku ini telah 
disalin ke dalam bahasa Latin tahun 1565 M.  Buku lainnya adalah Al-Hawi yang 
terdiri dari 20 jilid. Buku ini memaparkan sejarah dan mengumpulkan berbagai 
penemuan di bidang kedokteran yang pernah dijumpai dalam peradaban Yunani, 
Persia, India, dan hasil analisis sang penyusunnya sendiri.  Tahun 1279 M, buku 
ini disalin di Sisilia ke dalam bahasa Latin dan dicetak tahun 1486 M.

Ali ibn 'Abbas (994 M) menyusun buku berjudul Kitâb al-Mâlik. Buku ini mengupas 
tentang masalah gizi dan pengobatan dengan menggunakan rempah-rempah. Ia juga 
menyusun buku lainnya yang memaparkan tentang sistem peredaran darah di dalam 
pembuluh, kehamilan dan persalinan, dan banyak lagi yang lain.

Dalam spesialisasi penyakit mata, terdapat nama-nama seperti al-Haysam (965 M), 
Ali al-Baghdadi, 'Ammar al-Moseli (yang menulis buku Al-Muntakhah fî al-'Ilâj 
al-'Ayn).  Buku-buku mereka mereka telah disalin ke dalam bahasa Latin dan 
dicetak berulang-ulang bagi mahasiswa kedokteran Eropa pada abad pertengahan.

Pakar farmasi (obat-obatan) yang terkenal di Dunia Islam adalah Ibn Bayhthar 
ad-Dimasyqi (1197-1248 M) yang menyusun buku Al-Adwiyah al-Mufradah.  Buku 
tersebut berisi kumpulan berbagai resep obatan-obatan. Penulisnya menjadi 
peletak dasar ilmu farmasi.  Sedemikian besar manfaatnya di Eropa, buku ini 
sempat dicetak ulang sebanyak 23 kali pada abad ke-15 M dan diberi judul 
Simplicibus.

Spesialis bedah yang terkenal adalah Ibn Qasim az-Zahrawi al-Qurthubi (lahir 
1009 M).  Ia menyusun buku berjudul At-Tashrîh.  Beberapa bagian buku ini 
disalin oleh Gerald of Cremona pada abad ke-16 M ke dalam bahasa latin.  Hingga 
abad ke-18 M, buku ini dijadikan referensi di berbagai perguruan tinggi 
kedokteran Eropa, terutama ilmu bedah.  Di dalam buku itu juga dijelaskan 
jenis-jenis dan penggunaan alat bedah, perlakuan pasca bedah yang mencakup 
sterilisasi luka, dan sejenisnya.

Menyinggung perkembangan ilmu kedokteran Islam, tidak lengkap tanpa menyebut 
Ibn Sina (1037 M).  Bukunya yang terkenal adalah Al-Qânûn fî ath-Thibb yang 
dianggap sebagai ensiklopedia ilmu kedokteran dan ilmu bedah terlengkap pada 
zamannya.  Selama kurun waktu abad ke-12 sampai abad ke-14 M, buku ini 
dijadikan referensi utama pada fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi 
Eropa.  Sejak abad ke-15 M, buku ini telah dicetak ulang sebanyak 15 kali, 
bahkan beberapa bagian buku tersebut masih dicetak tahun 1930 di kota London.  
Sedemikian terkesannya orang-orang Eropa terhadap buku-buku dan prestasi Ibn 
Sina hingga Encyclopedia Britannica mengutip ucapan salah seorang orientalis 
Sir Thomas Clifford yang berkata, "Orang-orang Eropa berpendapat bahwa 
karya-karya Ibn Sina dalam ilmu kedokteran telah menenggelamkan karya-karya 
lain seperti karya Hypocrates, bahkan karya Galinus sekali pun."

Selain itu terdapat juga spesialis ilmu tulang dan mikrobiologi, seperti Ibn 
Zuhr (1162 M), yang di Barat lebih dikenal sebagai Avenzoar.  Bukunya yang 
terkenal adalah At-Taysîr fî Mudâwah wa at-Tadbîr.  Ibn Rusyd-seorang dokter, 
penulis buku Al-Kulliyât fî ath-Thibb, sekaligus seorang faqih penulis buku 
Bidâyah  al-Mujtahid-berkomentar bahwa Ibn Zuhr adalah seorang pakar kedokteran 
Islam yang paling besar.

Sejarah Islam juga dipenuhi degan pakar kedokteran lain yang memiliki 
spesialisasi di bidang epidemi dan kesehatan lingkungan, seperti Lisanuddin ibn 
al-Khatib (1313-1374 M) yang menyusun kitab tentang penularan penyakit.  Ia 
mengikuti jejak dari Ibn Jazlah (110 M), yang di Eropa lebih dikenal dengan 
sebutan Ben Gesla. Ia menyingkap tentang periodisasi dan jadwal berbagai 
penyakit dengan memperhitungkan cuaca.  Ia juga menentukan obat-obatan bagi 
masing-masing penyakit yang dianalisisnya. Bukunya telah disalin dan dicetak di 
Tassburg tahun 1532 M.

Perhatian para khalifah dan kaum Muslim terhadap kesehatan dan ilmu kedokteran 
direalisasikan dengan dibukanya poliklinik harian dan poliklinik keliling.  
Para dokter yang bertugas di situ bertugas bukan saja membuka pelayanan umum 
bagi masyarakat, tetapi juga bagi orang-orang sakit yang ada di lembaga 
pemasyarakatan.  Sistem pemeriksaan secara periodik bagi para pegawai yang 
memperoleh beban tugas tertentu dan membutuhkan kriteria kesehatan yang amat 
ketat merupakan prosedur rutin yang sudah dilakukan oleh kaum Muslim.  Pada 
saat yang sama, di Eropa terdapat kepercayaan bahwa mandi itu dapat 
mengakibatkan penyakit tertentu, dan penggunan sabun sebagai alat pembersih 
sangat berbahaya bagi mereka.

Tidak pelak lagi, pencapaian sains dan teknologi yang amat tinggi, yang tidak 
pernah dicapai oleh umat manusia pada masa sebelumnya, adalah berkat 
diterapkannya Islam sebagai sebuah sistem hidup dan ideology.  Benar kiranya 
pernyatan salah seorang intelektual Muslim dari Mesir, Syekh Syaqib Arselan, 
yang mengatakan bahwa orang-orang Barat maju karena meninggalkan agamanya,  dan 
kaum Muslim mundur karena meninggalkan agamanya. []       

 
Regards
Daryono
 
Process Engineer
Process Engineering B (Machining)
PT. Astra Honda Motor
phone : 021-89981818 
ext : 8572 / 8574

 

<<winmail.dat>>

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke