Sosok Wanita Shalehah Dambaan Umat
Oleh: Nurlaila Sari Q* 

"Dunia itu perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah." (HR. 
Muslim) 

Anas Ra juga menuturkan, Rasulullah Saw, pernah bersabda: "Siapa saja yang 
telah dikaruniai Allah wanita salehah berarti dia telah menolongnya dalam satu 
bagian agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam 
bagian yang kedua". (HR al-Hakim) 

BERDASARKAN hadits di atas maka wanita salehah adalah sebaik-baik perhiasan 
dunia. Dan keinginan untuk menjadi sosok wanita shalehah haruslah terpatri 
dalam diri setiap muslimah. Wanita mana sih yang tidak ingin menjadi 
sebaik-baik perhiasan didunia ini? Lantas bagaimanakah karakter wanita shalehah 
menurut Islam? 

Allah Swt berfirman: 

"Laki-laki adalah pemimpin wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka 
atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta 
mereka. Oleh karena itu, wanita yang salehah adalah yang menaati Allah dan 
memelihara diri ketika suami tidak ada karena Allah telah memelihara mereka" 
(QS.An-Nisa(4):3) 

Dalam ayat tersebut di atas Allah Swt menetapkan bahwa salah satu karakter 
wanita salehah adalah menaati Allah swt. Artinya wanita salehah hanya akan 
berpikir dan bertindak berdasarkan rambu-rambu dari Allah Swt. Ia akan berupaya 
dengan serius dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan Islam secara kaffah 
(keseluruhan). 

Islam sebagai dien yang sempurna telah menetapkan rambu-rambu baik berupa hak 
dan kewajiban bagi wanita terkait dengan posisinya sebagai anak, sebagai isteri 
dan sebagai ibu . 

Dalam pandangan Islam sebagai seorang anak, wanita berhak untuk mendapatkan 
nafkah yang halal, perlindungan, pengasuhan dan pendidikan yang terbaik dari 
orang tuanya. Pada saat yang bersamaan anak juga berkewajiban berbakti kepada 
orang tuanya dengan cara bergaul dengan makruf kepada mereka, tidak berkata 
kasar kepada mereka, memenuhi perintah mereka sepanjang tidak terkategori 
maksiyat. 

Terkait posisi wanita sebagai isteri, dalam Islam isteri berhak untuk 
mendapatkan nafkah, perlindungan dan pergaulan yang baik dari suaminya, berhak 
untuk didengarkan pendapatnya. Di saat yang bersamaan Islam mewajibkan isteri 
untuk berbakti dan taat kepada suami sepanjang tidak maksiyat, wajib menggauli 
suaminya dengan baik dan penuh kasih sayang, memelihara rumah, diri dan harta 
suaminya. 

Sebagai seorang ibu maka islam menjadikan peran sebagai ibu dan Robbatul bait 
adalah yang paling utama bagi wanita. Sabda Rasulullah saw: "Seorang wanita 
adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai 
pertanggung jawaban atas kepengurusannya" (HR.Muslim) 

Memang tidak dapat kita pungkiri, ibu berperan penting dalam mencetak generasi 
yang berkualitas. Islam menjadikan memelihara anak sejak dalam kandungan, 
menyusui, memelihara, merawat, mendidik anak menjadi tanggung jawab ibu. 

Islam juga mengatur peran publik wanita. Seorang wanita adalah bagian dari 
masyarakat dan bertanggungjawab bersama kaum laki-laki dalam mewujudkan 
masyarakat yang baik, yang mendapatkan ridho dari Allah Swt yaitu masyarakat 
yang menerapkan syariat Islam yang akan menebarkan rahmat bagi seluruh alam. 
Seorang muslimah berkewajiban untuk berdakwah, menyeru kepada Islam, 
mengingatkan kepada kebajikan. Dia juga tidak boleh menjadi sosok yang 
individualis dan egois, hanya mementingkan diri sendiri, minim empati dan tidak 
mau melihat persoalan orang lain. Sabda Rasulullah Saw: "Siapa saja yang bangun 
pagi-pagi tetapi tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah 
golongan mereka" (HR Ath-Thabari) 

Islam telah menetapkan, seorang muslimah memiliki hak untuk menyampaikan 
pendapat, kritik dan saran terhadap kebijkan pemerintah yang menyimpang dari 
syariat Islam. Oleh karena itu muslimah juga harus cerdas politik Ia harus 
mengetahui mana kebijakan yang keliru dan bagaimana yang seharusnya, khususnya 
kebijakan atau aturan yang terkait dengan peran utamanya yaitu sebagai pencetak 
generasi dan pengatur rumah tangga. Islam membolehkan wanita terjun ke sektor 
publik untuk mengembangkan potensi ataupun mengaktualisasikan dirinya sepanjang 
tidak melaksanakan hal-hal yang diharamkan Allah misalnya membuka aurat, 
berkhalwat, apalagi sampai mengabaikan kewajiban utamanya yaitu sebagai ibu dan 
pengatur rumah tangga. 

Dengan demikian sosok wanita shalehah adalah sosok anak, isteri dan ibu yang 
taat kepada Allah, menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Ia selalu bercermin 
pada sosok muslimah hasil pendidikan Rasulullah Saw. Ia mendedikasikan dirinya 
bagi Allah dan rasul-Nya sehingga tidak mudah terprovokasi dengan ide-ide yang 
justru akan menjauhkannya dari Allah bahkan menyesatkan manusia. Ia akan 
berdaya guna bagi dirinya, keluarganya, lingkungan sekitarnya dan bagi ummat. 
Ia adalah sosok daiyah yang menyeru dirinya, kelluarga dan masyarakatnya untuk 
berada dijalan Allah. Dia akan teguh dan istiqomah di jalan Allah walau apaun 
yang terjadi, baginya keridhaan Alah diatas segalanya. 

Memang menjadi wanita salehah tidaklah mudah, apalagi di tengah serbuan nilai 
dan sistem jahiliyah modern (baca Kapitalis, materialis) saat ini. Namun 
menjadi sosok wanita salehah bukanlah hal yang mustahil, tinggal bagaimana kita 
berupaya sungguh-sungguh untuk dapat mewujudkannya. Mengupayakan proses 
pembinaan untuk menempa diri menjadi sosok wanita salehah adalah hal yang tidak 
boleh ditunda-tunda untuk dilaksanakan. 

Pada dasarnya pembinaan kepribadian harus memperhatikan dua aspek. Pertama 
aspek aqliyah (pola pikir), yang kedua aspek nafsiyah (pola sikap) Beberapa 
cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kualitas aqliyah kita 
diantaranya: 

1. Mengikuti kajian-kajian ke-Islaman yang menuntun kita untuk dapat menambah 
pengetahuan kita tentang Islam baik tentang aqidah, hukum-hukum Islam terkait 
persoalan individu hingga persoalan masyarakat. 

2. Rajin mengasah pemikiran kita dengan mengikuti forum diskusi, seminar kajian 
workshop dan lain-lain, maupun dengan memperbanyak bacaan yang dapat menambah 
pengetahuan Islam kita ataupun pengetahuan lain yang tidak bertentangan dengan 
aqidah Islam. 

3. Senantiasa berlatih untuk menganalisa setiap masalah dan menyelesaikannya 
dalam sudut pandang Islam. 

Adapun cara untuk meningkatkan kualitas Nafsiyyah kita diantaranya: 

1. Meningkatkan frekuensi dan kualitas ibadah dalam rangka ketaatan terhadpap 
perintah Allah Swt, seperti memperbanyak sholat dan shaum sunnah disamping 
tetap mengerjakan shalat wajib, membaca Alquran , dan banyak bersedekah. 

2. Memupuk rasa tawakkal kepada Allah. 

3. Memupuk kesabaran dan rela terhadap qadha 

4. Memperbanyak dzikir dan istighfar kepada Allah 

5. Senantiasa tekun berlatih untuk ikhlas karena Allah Swt. 

6. Istiqomah untuk menyeru di jalan Allah. 

Dengan meningkatnya kualitas aqliyah dan nafsiyyah pada diri muslimah kita 
berharap dapat menjadi sosok wanita shalehah yang menjadi dambaan umat, yang 
akan menjadi pencetak generasi yang berkualitas serta menghantarkan umat kepada 
kejayaan dan kemuliaan didunia dan akhirat Insyaallah. Wahai para muslimah, 
mari kita segera bersama-sama untuk meraih ridho Allah dan bersama-sama 
menapaki jalan menuju surga-Nya! Pasti tidak ada yang lebih indah ditelinga 
para kita kecuali mendengar berita gembira bahwa dirinya,keluarganya, suaminya 
dan anak-anaknya maupun keluarga berada disurga-Nya. Wallahu a'lam.*** 


*) Ibu Rumah Tangga dan anggota aliansi penulis prosyariah KalSel 

Sumber : http://www.radarbanjarmasin.com (Kamis, 8 Maret 2007)

<<winmail.dat>>

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke