AL-IKHWAN : WAHABI PEMBERONTAK [1]

[tulisan kesatu]

 

 

Pendahuluan

 

Dulu saya pernah bercerita, masjid kami yang belum jadi kedatangan satu
keluarga dari Arab Saudi. Mereka berniat untuk menyalurkan dana yang mereka
miliki untuk kelanjutan pembangunan masjid komplek yang sudah lama belum
rampung. 

 

Ketika disodorkan proposal yang sudah kami siapkan, salah seorang dari
mereka menolak saat melihat sampul proposal tersebut. Lalu mengusulkan agar
nama masjid yang tertera di proposal tersebut diganti saja. Dengan nama apa
pun boleh asal jangan nama itu. Di sana tertulis dengan huruf besar nama
masjid kami Masjid Al-Ikhwan. 

 

Saat ditanya mengapa demikian? "Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama
Osama," katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah
antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan
nama itu. Jadi, takutnya nanti orang tidak mau pada menyumbang. 

 

Dulu saya berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia
menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah
saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan
berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang
kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama'ah ini tapi
hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin
lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama. 

 

Setelah pertemuan tersebut saya sempat menyimpulkan bahwa nama Al Ikhwan
(yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita
di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi
tidaknya berinfak. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik
dengan ke-bid'ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? 

 

Al-Ikhwan        

 

Tetapi saya barulah mengerti banyak mengapa nama Al-Ikhwan menjadi momok di
Arab Saudi. Dan kaitan terdekat dari semua itu adalah masalah politik bukan
pemikiran agama. Buku yang menjadi rujukan saya adalah buku lawas [1981]
yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul The Kingdom yang diterjemahkan dalam
Bahasa Indonesia dengan judul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia.

 

Sebanyak 102 halaman di bagian kedua buku tersebut dengan judul Al-Ikhwan
diungkap manis pahitnya hubungan antara Abdul Aziz bin Saud dengan Al-Ikhwan
sebagai kesatuan tempur yang tekstualis dalam tafsir agama, penerus gerakan
wahabi,  militan, tangguh, dan ganas.

 

Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti
bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh
dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang
dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini.

 

Kelompok ini di tahun 1912 datang dan menempati daerah penggembalaan yang
disebut Al-Artawiyah. Di sana terdapat beberapa sumur tempat kafilah-kafilah
dari Nejd dan Qasim bertemu. Kalau sekarang Al-Artawiyah ini berada di jalur
perjalanan antara Riyadh dengan Kuwait.

 

Gerakan Al-Ikhwan ini sesungguhnya adalah pembaharuan dari gerakan kemurnian
beragama yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdulwahhab. Seperti diketahui
bersama di tahun 1744 terbentuklah persekutuan antara Muhammad bin
Abdulwahab dengan Muhammad bin Saud sebagai penerus dinasti Saud penguasa
Dar'iyah.

 

Kelompok Al-Ikhwan selalu berpegang teguh akan arti harfiah yang tersurat di
Qur'an, sementara Hadits mereka anggap sebagai buku petunjuk dan perintah
yang harus mereka laksanakan setepat-tepatnya. Mereka tak mau memakai
aghal-tali ikat kepala, hitam, karena menurut mereka nabi tak pernah
memakainya. Mereka juga memotong jubah mereka setinggi lutut. Mencukur kumis
dan memanjangkan jenggot. 

 

Lacey menulis bahwa  penampilan mereka selalu menunjukkan betapa mereka
menjauhi keduniawian, menolak tembakau, dan pula menolak radio dan telepon,
karena Nabi tak pernah memakainya. Tapi anehnya tidak menolak kehadiran
senapan dan penggunaannya. Di Al-Artawiyah menyanyi, menari, dan bahkan
permainan anak-anak dilarang. Mereka menganggap bahwa mereka prajurit Allah
yang tugas utamanya adalah membersihkan dan memurnikan agama.

 

Ada satu perbedaan penting antara gerakan Al-Ikhwan di awal abad dua puluh
dengan kaum Wahabi. Bahwa Muhammad bin Abdulwahhab adalah seorang yang
tinggal di kota dan pesan yang disampaikan khusus diperuntukkan bagi
penghuni kota sedangkan kelompok ini adalah dari kaum Badui dan tugas
merekalah untuk menyebarkan pemahaman mereka di tengah masyarakat badui yang
pada saat itu masih saja percaya dengan takhayul. Cuma itu saja. Dan pada
saat itu mereka belum menjadi kekuatan tempur. Karena Abdul Aziz belum
datang kepada mereka.

 

Kekuatan Tempur

 

Yang jelas gerakan ini tak akan mungkin berkembang tanpa campur tangan Abdul
Aziz. Ia memberi mereka tanah, mengirimkan penyuluh ke padang pasir untuk
mengumpulkan lebih banyak anggota baru untuk pemukiman mereka. 

 

Di tahun 1912 ia menempatkan dirinya secara kukuh di pucuk pimpinan gerakan
ini. Dengan memberikan sebuah bentuk keterikatan kepada kelompok ini dengan
menghancurkan benda kesayangannya di depan umum berupa gramopon putar tangan
yang dibawanya dari Kuwait dan sering dimainkannya di dalam tendanya. Kaum
Ikhwan mengangguk setuju dengan perbuatannya. 

 

Di tahun 1917 dengan biaya pribadinya memesan dari India sejumlah besar buku
cetakan karangan Ibnu Abdulwahab, pendidikan dasar tentang iman, agar
pemikirannya bisa tersebar luas di tengah padang pasir.   

 

Bagi Abdul Aziz pengorbanan benda kesayangannya ini tak seberapa dengan
hasil yang ia dapatkan dengan menggenggam kekuasaan kelompok ini. Dengan
kekuatan tempur dari  gerakan ini-perlu diketahui bahwa sebelumnya Abdul
Aziz mempunyai kekuatan tempur lain dari suku-suku Badui liar yang hanya
bisa dibeli dengan emas untuk bertempur dengan Kaum Rasyid, tetapi tidak
untuk loyalitas kepadanya-sebanyak 60.000 sejak tahun 1912 ia dapat
menjinakkan suku-suku Badui liar dan menunjukkan kekuatannya pada rival
utamanya yaitu Penguasa Hijaz Syarif Husain bin Ali. 

 

Di tahun 1916 mereka dapat menguasai Khurmah-suatu daerah yang disepakati
oleh Abdul Aziz dengan Inggris sebagai daerah perbatasan daerahnya Nejd
dengan daerah Syarif yaitu Hijaz. Bahkan mereka sanggup menguasai  Turabah
suatu daerah yang jaraknya 'hanya' 150 km dari Mekah. Walaupun sempat
dikuasai kembali oleh Syarif dengan pasukan dibawah kepemimpinan Abdullah
bin Husain, namun tanggal 26 Mei 1919 Turabah direbut kembali. 

 

Penuturan salah seorang yang lolos dari sergapan Al-Ikhwan ini adalah "aku
melihat darah mengalir di Turabah bagaikan anak sungai di antara
batang-batang kurma. Aku melihat mayat-mayat ditumpuk di benteng sebelum aku
melompat ke jendela." 

 

Taif geger mendengar berita tersebut. Dengan hancurnya pasukan Abdullah maka
Hijaz sama sekali tak punya kekuatan lagi. Dengan mudahnya kaum Ikhwan bisa
maju dan meruntuhkan Mekah. Tapi Abdul Aziz merasa belum saatnya untuk
menakhlukkan Mekah karena ia ingin agar kota tersebut tidak direbut dengan
kekerasan, cara itu takkan menjamin ia berkuasa lama di sana.  

 

Terlalu dini bagi Saudi untuk bisa merebut Hijaz tanpa mendapat tentangan
dari Inggris atau dunia Islam lainnya. Maka ia berusaha membujuk Al-Ikhwan
untuk kembali ke pangkalan dengan alasan ia memerlukan mereka untuk
menghadapi tantangan kaum Rasyid. Ini benih perpecahan Abdul Aziz dengan
Al-Ikhwan. Mengapa hanya berhenti sampai di sini? Menurut kelompok ini,
inilah saatnya membersihkan Mekah, Madinah, dan semua daerah di pantai Laut
Merah dari segala macam khurafat. 

 

Dan benar kekuatan mereka digunakan oleh Abdul Aziz untuk mengalahkan
saingan utamanya di Nejd yaitu kaum Rasyid. Setelah menakhlukkan Jabal
Syammar di musim panas 1920, di awal Nopember 1921, Hail, sebagai pusat
kekuasaan kaum Rasyid ditakhlukkan. Para saudagar Hail agaknya sudah bosan
dengan keluarga Bani Rasyid yang memerintah mereka dan tak mau mengundang
kemarahan kaum ikhwan  hingga para saudagar tersebut memutuskan untuk
membukakan pintu gerbang Hail. Kini Abdul Aziz adalah penguasa Nejd sejati
dengan mengganti gelar untuknya semula adalah Amir Riyadh menjadi Sultan
Nejd.

 

Di tahun 1922, tanpa sepengetahuan Abdul Aziz sekitar 1500 prajurit
Al-Ikhwan memasuki Transyordania (kini Yordania) yang saat itu dikuasai oleh
Keluarga Hasyim dan sampai berada 15 km dari Amman. Setelah hampir banyak
menguasai perkampungan di sekitar daerah tersebut mereka terhalang oleh
patroli pesawat terbang Inggris, mereka mundur. Apalagi ditambah dengan
dukungan pasukan kendaraan berlapis baja Inggris yang memang tak dapat
dibandingkan dengan kuda-kuda mereka.

 

Abdul Aziz mendengar berita itu langsung menjebloskan pimpinan tentara
Al-Ikhwan yang tersisa. Dan ia minta maaf kepada para penguasa Inggris.
Tetapi sesungguhnya Abdul Aziz memaklumi keinginan dari Kaum Al-Ikhwan untuk
pergi ke mana pun mereka inginkan, menjarah rayah daerah manapun yang mereka
kehendaki. Ke daerah-daerah  kosong yang ditinggalkan oleh Turki sejak
Perang Dunia Pertama selesai. 

 

Maka energi mereka disalurkan untuk merebut daerah Asir, sudut barat daya
Arabia, daerah subur yang terjepit antara Hijaz dan Yaman. Daerah seluas
4000 mil itu pun dapat dikuasai oleh Abdul Aziz. Setelah itu mereka berniat
untuk menguasai Kuwait, sekutu Abdul Aziz awalnya saat Kuwait diperintah
oleh Mubarak dari keluarga Sabah. Namun saat Mubarak meninggal dan
digantikan oleh anaknya, Salim, Abdul Aziz memutuskan untuk merebut daerah
perbatasan yang sering menjadi sengketa yang tak kunjung padam. Menjadi
sengketa karena bagi masyarakat Badui batas daerah pada saat itu cuma ada di
hati manusia.

 

Tapi Inggris tak mau ini terjadi. Menurut  Inggris, Asir bolehlah direbut,
tapi Kuwait dan Irak lain ceritanya. Maka di tahun 1921 beberapa kapal
perang dikirim untuk melindungi Kuwait. Pasukan Al-Ikhwan yang dipimpin oleh
Faisal al-Dawisy pun harus berhadapan dengan polisi padang pasir plus
dukungan Angkatan udara Inggris saat merambah Irak. Kali itu, Al-Ikhwan
bertindak rasional memutuskan untuk mundur, dan ini lebih menguntungkan
daripada keberanian semata. Sekarang, batas hati yang ada di manusia kadang
harus mengalah pada penentuan dari Pemerintah Kerajaan Inggris.

 

Bersambung.

 

Maraji':

1.                  Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka
Jaya, 1986;

2.                  History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu
Semesta, 2005;

3.                  Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:54 26 Maret 2007

Kalibata Masih Membiru

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke