AL-IKHWAN : WAHABI PEMBERONTAK [2]

[tulisan kedua]

 

Gelar Khalifah dan Taif

 

Di tahun 1924 salah satu keturunan dari Bani Hasyim yakni Syarif Husain bin
Ali masih sebagai Penguasa Hijaz. Anaknya Abdullah adalah penguasa Amman.
Anaknya yang lain Faisal menjadi penguasa Irak. Rival dari keluarga mereka
penerus keluarga Saud yakni Abdul Aziz,  penguasa Nejd. 

 

Di antara dua keluarga itu saling timbul kebencian apalagi bila Inggris
memberikan Pounds yang lebih besar kepada salah satu dari mereka. Tentu
uang-uang itu salah satunya dipergunakan membeli kesetiaan Suku Badui untuk
mempertahankan kekuasaan mereka dan merebut kekeuasaan saingan mereka. 

 

Dan bagi Syarif Husain uang itu tak cukup. Ia mencoba mengumpulkan uang
dengan jalan memasang pajak untuk apa saja, termasuk pajak dari jama'ah
haji. Ini menyebabkan ia tak populer, apalagi ditambah sikapnya yang kian
hari tidak bersikap layaknya sikap seorang raja. 

 

Terakhir adalah sikapnya pada tanggal 5 Maret 1924 yang memproklamirkan
dirinya sebagai Khalifah, Keturunan dan Pangganti Nabi, Wali Islam, Pemimpin
Kaum Muslimin Dunia-gelar sanjungan yang diperkirakan akan membuat kagum
warganya di Hijaz. Ia berani karena dua hari sebelumnya tanggal 3 Maret
1924, Kamal  Ataturk resmi membuang gelar Khalifah, berarti menurutnya ini
adalah sebuah kekosongan kepemimpinan umat Islam yang selama 400 tahun
dipegang oleh Daulah Utsmani.

 

Ini tak mendapat sambutan. Seorang pemuda Suriah yang mengakhiri pidatonya
dengan seruan "Hidup Khalifah Husain" disambut dengan diam, tanpa suara sama
sekali oleh hadirin. Di dunia Islam, berita itu mendapat sambutan dingin.
Kaum muslimin di Jawa meramalkan bahwa Syarif Husain akan menerima kutukan
Allah karena kelancangannya. Di India kaum Nasionalis Islam merasa bahwa
Inggris ada di belakang dari keberaniannya ini walaupun dibantah oleh
Inggris. Di Nejd yang muncul adalah kutukan dan kemarahan yang tak bisa
dipadamkan.

 

Tanggal 5 Juni 1924 diadakan persidangan tokoh-tokoh Riyadh. Lima tahun
sebelumnya Abdul Aziz mengadakan persidangan yang sama tapi yang dibahas
adalah tentang sikap Al-Ikhwan yang menyebarkan paham mereka secara
kekerasan dan ia ingin agar ulama mendisiplinkan persaudaraan tersebut. Kini
yang dibahas adalah sikap terhadap Syarif Husain tersebut. 

 

Dan ini ditanggapi oleh para pemimpin Al-Ikhwan yang membeberkan segala dosa
Syarif tua tersebut, yakni pelarangannya terhadap warga Nejd-terutama kaum
Ikhwan untuk melakukan ibadah haji. Abdul Aziz berpikir inilah saatnya untuk
bisa menguasai Hijaz apalagi ia merasa dunia Islam saat itu gerah dengan
tindakan Syarif yang sembrono. 

 

Saatnya untuk melakukan tindakan yang tertunda lima tahun sebelumnya, karena
pada saat itu ia membawa Al-Ikhwan, dan bila membawa pasukan tersebut ia
seperti mengingat kenangan yang tak menyenangkan saat kaum Wahabi memasuki
Mekah dan Medinah, seratus tahun lalu. 

 

Salah satu dukungan kepadanya adalah datang dari Komite Khilafah India.
Karena komite selalu menganggap bahwa tindakan Syarif adalah siasat Inggris
yang cerdik, siasat Inggris yang selalu ingin campur terhadap kepentingan
Arabia dan umat Islam. 

 

Di bulan Agustus 1924 Abdul Aziz memerintahkan Khalid bin Lu'ay untuk
memimpin 3000 pasukan Al-Ikhwan menuju Taif yang pada saat itu dijaga oleh
Ali bin Syarif Husain. Tetapi melihat kekuatan Al-Ikhwan, pada tanggal 04
September 1924 dalam kegelapan Ali beserta pasukannya meninggalkan Taif dan
penduduknya.

 

Apa yang terjadi kemudian adalah pembantaian yang terjadi sungguh tanpa
ampun. Qady dan para syaikh kota mencoba berlindung di masjid. Tetapi mereka
diseret ke luar dan dicincang. Rumah-rumah dihancurkan. Toko dan pasar
diserbu. Mayat-mayat dilemparkan ke sumur-sumur terbuka. Dan dalam beberapa
jam saja sekitar 300 orang tewas. Hijaz panik. Husain minta bantuan Inggris.
Inggris diam saja melihat perkembangan yang terjadi. Mereka menganggap bahwa
Syarif Husain lemah dan Abdul Aziz kuat serta memang pantas untuk memimpin
seluruh Nejd dan Hijaz. Abdul Aziz tahu pada saat itu bahwa Inggris telah
meninggalkan sekutunya.

 

Para penghuni Jeddah terutama para saudagarnya yang kaya raya mengirimkan
salah seorang utusannya untuk meminta Ali agar ayahnya turun tahta saja. 3
Oktober 1924, di ruang utamanya yang gelap dan sunyi, Syarif Husain
menandatangani persetujuan untuk turun tahta. Sungguh tanpa pertarungan
sedikitpun. Pada tanggal 16 Oktober 1924 Syarif Husain berangkat menuju
Aqaba dan langsung ke Siprus untuk mengasingkan diri.

 

Mekkah, Madinah, dan Jeddah

 

Di bulan Oktober 1924, Mekah jatuh. Dan Abdul Aziz melarang pasukan
Al-Ikhwan untuk masuk ke kota. Tetapi ada beberapa yang lolos dan
menghancurkan beberapa rumah minum, membakar semua rokok, dan pipa yang
mereka temui. Beberapa kuburan berkubah juga dihancurkan atau dirusak.
Tetapi tak ada korban satu pun seperti di Taif, Ibnu Lu'ay benar-benar
menjaga keamanan di kota tersebut.

 

Tiga bulan kemudian, Abdul Aziz datang ke Mekah. Ia bergerak sangat
hati-hati. Ia tak pernah melupakan bagaimana dahulu keluarganya runtuh
setelah mencoba mengasai Mekah-kekuatan asing (Turki) langsung ikut campur
tangan dan menjatuhkan Dar'iyyah. Dan pembantaian di Taif adalah awal yang
buruk di pandangan dunia. Oleh karena itu ia tidak menampilkan citra seorang
penakluk.

 

Dan ia benar-benar menjaga Mekah dengan sebaik-baiknya. Hingga ia berhasil
mengatur perjalanan haji di musim panas 1925. Keberhasilannya disebarkan
dari mulut ke mulut para jama'ah haji. Sehingga menegaskan bahwa generasi
baru wahabi tidak seganas yang dikira oleh dunia Islam. 

 

Robert Lacey menulis pada tanggal 05 Desember 1925 Madinah menyerah. Kota
tersebut hanya bisa mempertahankan diri pada minggu-minggu terakhir dari
kepuangan kaum Ikhwan karena Abdul Aziz sendiri menyelundupkan makanan untuk
para penghuni kota tersebut. Yang mengepung kota itu adalah kaum Ikhwan di
bawah pimpinan Faisal al Dawis. Abdul Aziz tidak mau Kota Suci kedua ini
jatuh di tangan Al-Ikhwan.

 

Madinah adalah tempat makam nabi dan tempat-tempat peringatan bagi para
pahlawan Islam lainnya. Al-Ikhwan sudah lama mencurigai kota ini. Madinah
merupakan pangkalan khusus kaum muslimin Syiah yang mereka anggap suka
memuja berhala. Harta benda mereka juga pastilah akan merupakan daya tarik
bagi keliaran Al-Ikhwan. Maka secara rahasia Abdul Aziz mengatur agar bahan
makanan diselundupkan ke dalam kota agar kota itu masih bisa bertahan. 

 

Dan  ia segera memerintahkan anaknya Muhammad untuk segera memimpin
pasukannya ke kota tersebut. Pada tanggal 6 Desember 1925, ia memasuki kota
Madinah dan kemudian berjalan ke masjid nabi yang berkubah hijau untuk
sembahyang. Al-Saud kini telah menguasai semua kota suci.

 

Berita itu membuat Jeddah kacau. Kota itu masih dikuasai keturunan
Hasyimiah, yaitu Syarif Ali bin Husain.Pasukannya tak mau bertempur karena
selama gaji setahun belum dibayarkan. Ia turun tahta dan meninggalkan Jedadh
pada hari Minggu tanggal 20 Desember 1925 naik kapal Inggris, HMS
Cornflower. Sejak saat itu Abdul Aziz memperoleh gelar baru: Raja Hijaz.

 

Bersambung.

 

Maraji':

1.                  Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka
Jaya, 1986;

2.                  History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu
Semesta, 2005;

3.                  Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:54 26 Maret 2007

Kalibata Masih Membiru

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke