jujur ajah, ana udah berniat keluar dari milis ini, tapi saat baca tulisan dari kang nur rofik hati ini tenteram... senadai setiap pribadi muslim punya keinginan dan bersikap seperti mas nur rofik, Insya ALLAH ISLAM akan jauh dari perselisihan diantara kaum nya
________________________________
From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of Nur Rofik
Sent: Tue 3/20/2007 3:36 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] FW: [Saksi] Tak Gentar : Aktivis KenyangAsamGaram
Ideologi
Assalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
bismillah wash shalatu was salaamu 'ala rasuulillah,
Perkenalkan, nama lengkap saya adalah Hanif (nama di KTP/pasport) alias Hanif
HANIF (nama di prancis) alias Hanif s/o Muhammad Ihsan (nama di UAE). Inilah
akibatnya kalau cuma punya satu kata dalam nama. Akhirnya nama saya jadi
bermetamorfosis ketika ke negri lain. Mulai kenal tarbiyah/ikhwan/PK/PKS sejak
1997.
Meski saya seorang engineer, Saya suka sekali buku sejarah Nabi sampai khilafah
terakhir, politik internasional dan akhlak para sahabat dan salafus salih.
Ketika di ITS, saya rajin baca assunnah, sabili, sahid, etc sebagai refreshing
kuliah. Cara solat saya, insya Allah sama persis dengan yang di buku syaikh Al
albani. Untuk dzikir, saya pakai hisnul muslim semenjak saya tahu bahwa al
ma'tsurat ada hadist lemahnya. Kan lebih baik pakai yang lebih kuat riwayatnya.
Moroever buku hisnul muslim ini sangat terkenal lho di london.
Akrab dengan para salafiyyin, ikhwan dan tabligh di paris (baik indo maupun non
indo), pernah tinggal sekamar dengan mantan ketua HT dari negara X waktu di
london, dan sekarang tinggal dengan tabligh dari suku pattan (perbatasan
pakistan-afghan) di UAE. FYI, sebagian tabligh di paris itu memakai riyadhus
salihin rather than fadhailul a'mal sebagai bayan ba'da solat. Dan tabligh
pattan teman saya yang sekarang itu ternyata pendukung berat taliban. Pokoknya
beda dengan tabligh yang di indo dan malaysia. Saya sendiri sangat terbuka
dengan semua jamaah. Semua buku dari semua jamaah saya baca karena memang saya
suka baca. Saya selalu mencoba berusaha agar friksi antar jamaah itu kian
mengecil.
Alhamdulillah, meski saya kader PKS, saya selalu mencoba meluruskan berita yang
gak benar tentang semua jamaah (baik ikhwan, ht, salafy, jt, atau yang lain).
Ini dikarenakan banyaknya muslim yang misunderstand tentang jamaah yang lain,
misinformation, dan terlalu ta'ashshub terhadap golongannya. Pernah ada British
muslim dari HT yang mengatakan bahwa syaikh di saudi itu gak pernah mendoakan
umat islam dan paling2 cuman mendoakan secara global dan tanpa menyebut nama
negaranya dan si british itu juga bencinya setengah mati sama syekh di saudi.
Saya faham dia lagi mengolok2 salafy. Langsung saya tanya, "do u understand
arabic". Dia jawab, "no". Langsung saya bilang kalau saya ini faham bahasa arab
dan melihat dan mendengar ke mata dan telinga saya bahwa syaikh di saudi itu
mendoakan mujahidin di palestina, chechnya, kashmir, dan di mana2. Tahu nggak,
setelah kejadian itu, si british ssekarang belajar private bahasa arab lho sama
seorang lulusan madinah.
Kalau ada personal PKS atau siapapun muslim yang berbuat salah, maka hadapilah
dia sebagai muslim yang perlu dinasehati bukan sebagai jamaah tertentu. Itulah
yang insya Allah selalu saya lakukan sehingga saya bisa akrab dengan semuanya
walau beda warna kulit dan warna rambut, beda bahasa, beda negara, etc. Ketika
ada jamaah X dari negara Y yang salah, maka saya nasehati dengan dalil yang
sahih. Ikut ya syukur, kalau nggak ya gak apa2. Saya pribadi masih sangat hormat
kepada guru ngaji saya yang orang NU meski dia suka tahlilan. Dari dia lah saya
tahu tajwid yang benar dan baca quran. Semua orang muda di kampung kalau ketemu
dia, selalu cium tangan kecuali saya. Dia juga tahu saya nggak tahlilan, tapi
dia juga sayang pada saya sebagai seorang yang pernah jadi muridnya waktu saya
berumur 6 tahun. Teman2 NU saya juga gak masalah dengan saya meski saya nggak
qunut dan nggak tahlilan. Bahkan makin akrab. Bahkan saya pernah ditunjuk
sebagai imam solat mereka di masjid mereka. Rahasianya cuman satu. Ketika
ketemu, saya suka mendahului mengucapkan salam dan suka solat berjamaah.
Alhamdulillah, rasanya saya pusing kalau nggak solat berjamaah karena sudah
mejadi sindariom ketagihan. Ketika telah menjadi sindariom ketagian ini,
Alhamdulillah Allah selalu menganugerahkan kepada saya tempat yang hampir selalu
dekat masjid ketika saya hidup di prancis dan UK. Memang benar pepatah yang
mengatakan, bisa itu karena terbiasa.
Saran saya kepada rekan-rekan salafy, HTI dsb. Hendaknya apabila ada kesalahan
pada
seorang muslim, perlakukanlah dia sebagai muslim pribadi dan bukan jamaahnya.
Lupakanlah barrier/penghalang jamaah. Kalau ada yang salah, marilah saling
mengingatkan dengan cara yang santun sebagaimana salafus salih. Mungkin si
pelaku itu memang gak faham, atau gak tahu atau lupa atau yang lain. Nggak
usahlah berantem karena perbedaan status jamaah. Kalau ada yang solatnya gak
bener, ya diingatkan yang baik. Kalau ada yang suka bid'ah, ya diberitahu.
Salam,
Hanif
seorang muslim yang ingin meniti jejak salafus salih
<<winmail.dat>>
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
