Senin , 16/04/2007 18:26 WIB
Wimax Akan Datang dari Desa
Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Jakarta, Layanan akses internet nirkabel pitalebar (Broadband Wireless Access)
yang menggunakan teknologi Wimax akan dimulai dari pedesaan sebelum ke
perkotaan. Hal ini demi 'lompat kodok'.
Hal itu ditegaskan Dirjen Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar dalam
rapat tertutup antara Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo),
Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Badan Perencanaan dan Pembangunan
Nasional (Bappenas), Dewan TIK Nasional (DeTIKNas), serta Direktorat Jenderal
Postel.
"Kali ini kita leapfrog (melompat mendahului, red). Nanti seluruh desa akan
mendapatkan layanan berbasis IP (protokol Internet, red)," ujar Basuki seusai
rapat di Gedung Depkominfo, Jakarta, Senin (16/4/2007).
Basuki mengatakan pemerintah akan memprioritaskan pembangunan layanan akses
nirkabel pitalebar, atau yang lebih populer disebut Wimax, ke masyarakat
pedesaan. Hal ini akan dilakukan seiring dengan penerapan layanan
telekomunikasi pedesaan atau yang populer disebut Universal Service Obligation
(USO).
Hal itu ditegaskan Basuki setelah anggota DeTIKNas Jos Luhukay menanyakan
apakah program USO akan disinergikan dengan pengadaan akses internet di
pedesaan. "USO ini kan harusnya seperti darah. Sekarang bagaimana darah itu
bisa mengaliri bagian tubuh yang sudah lama terpisah dan bagaimana agar bagian
tubuh itu bisa aktif lagi?" ujar Jos.
"Nggak usah takut desa tidak mendapat bandwidth, karena akan ada backbone
Wimax. Kita akan mulai Wimax dari desa, bukan dari kecamatan, apalagi dari
kota," tukas Basuki.
Basuki menambahkan, pihaknya menginginkan operator besar yang mengelola layanan
Wimax berbasis frekuensi 2.3 GHz di pedesaan. "Harus operator yang kuat, yang
punya kekuatan finansial. Karena bisnis yang menyangkut USO ini jangka
panjang," tutur Basuki.
Tender USO Sebentar Lagi
Basuki yakin pelaksanaan tender USO akan dilakukan dalam waktu dekat karena
semua proses persiapannya sudah hampir rampung. Hal yang masih perlu
dilengkapi, tambahnya, adalah dokumen tender dan surat izin multi-year contract
dari Departemen Keuangan. "Kalau dua itu selesai, bisa langsung jalan,"
tukasnya.
Tender USO rencananya akan dilakukan terhadap 11 blok wilayah di Indonesia.
Targetnya, pada tahun 2007 USO akan menjamah 18.000 desa di berbagai wilayah
tersebut.
Pertemuan di Gedung Kominfo itu diadakan agar terjadi sinergi program
pemerintah yang terkait akses telekomunikasi dan internet ke pedesaan. "USO
juga harus didukung oleh departemen lain, jangan ego sektoral. Kalau hanya
telepon, lima tahun juga selesai. Tapi ini kan perlu yang lain juga, seperti
listrik dan edukasi," tandas Basuki.
(wsh/wsh)
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/16/time/182613/idnews/768104/idkanal/328
Jumat , 06/04/2007 13:59 WIB
'Penggabungan WiMax dan 3G Bisa Turunkan Tarif'
Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Jakarta, Jepang menganggap, teknologi akses pita lebar WiMax bukan sebagai
ancaman bagi bisnis 3G di Indonesia. Bahkan, penggabungan antar keduanya
dinilai bisa menurunkan tarif dan berimbas menguntungkan konsumen.
Hal itu disampaikan Yutaka Morikawa, Senior Expert untuk divisi solusi Mobile
Network NEC Corporation dari Jepang, dalam seminar 3G and Next Generation
Network Mobile Communication yang digelar sehari penuh di Hotel Nikko, Jakarta,
Kamis (5/6/2007).
"Penggabungan tersebut justru bisa memperluas cakupan operator 3G dan
menurunkan tarif data," ujarnya.
Morikawa menjelaskan, penurunan tarif tersebut bisa terjadi asalkan trafik
pelanggan sudah penuh sehingga operator harus memindahkannya ke spektrum
frekuensi lainnya. "Operator 3G bisa mengenakan tarif lokal yang lebih murah
dengan cakupan yang dimiliki WiMax," tukasnya.
Di kesempatan yang sama, Dirjen Pos dan Telekomunikasi, Basuki Yusuf Iskandar
membenarkan kedua teknologi itu bisa dijalankan secara bersama nantinya.
"Operator jangan takut WiMax akan menghancurkan bisnis 3G," tambahnya,
menyemangati.
Meski diakuinya tidak mudah, Basuki mengatakan pihaknya akan mengupayakan
kebijakan yang menghindari benturan teknologi Wimax dan 3G, serta kebijakan
yang menyelamatkan investasi yang sudah ditanamkan pada teknologi sebelumnya.
Sementara anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Koesmarihati
menjelaskan, skema tarif yang dipaparkan oleh pihak Jepang dalam acara tersebut
dihitung berdasarkan volume pemakaian (volume base) bukan penghitungan berbasis
biaya (cost base). "(Sayangnya) untuk saat ini Indonesia masih belum bisa
menerapkan tarif berbasis volume tersebut," ujarnya.
(rou/rou)
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/06/time/135902/idnews/763848/idkanal/328
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************