Biografi Empat Pemimpin Dakwah Teladan     Oleh: Tim dakwatuna.com 
---------------------------------
   
 
  Dalam kamus dakwah ada adagium “ad-da’watu satamsyi binaa au bighoirina“, 
dakwah akan berjalan dengan kita atau tanpa kita. Dakwah merupakan jalan para 
nabi dan para rasul. Karenanya, akan terus mengalir dan berjalan sampai Islam 
tegak dan berkuasa di bumi Allah. Dan orang-orang yang terus berjalan bersama 
dakwah dan istiqamah menyampaikan Islam adalah orang-orang yang mulia. Mereka 
itu para dai yang mendapatkan petunjuk Allah dan karunia yang besar. Mereka 
itulah para qiyadah (pemimpin) dakwah dan mereka itulah yang memberikan 
keteladanan dalam dakwah. Sebaliknya, mereka yang berhenti dari jalan dakwah, 
tertipu olah gemerlapnya dunia, tidak berhak menyandang gelar sebagai dai, 
apalagi qiyadah dakwah.
 Segala bentuk keteladanan dalam kebaikan bermuara pada contoh yang dilakukan 
oleh Rasulullah. ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri 
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan 
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21) 
 Dengan keteladan yang dicontohkan Rasulullah, umat Islam menjadi umat terbaik 
yang dikeluarkan untuk manusia. Dan puncak kebaikan umat ini apa pada tiga 
kurun generasi pertama, yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. 
Rasulullah bersabda,“ Sebaik-baiknya abad adalah abadku, kemudian abad 
berikutnya, kemudian abad berikutnya.” (Bukhari dan Muslim)
 Kemudian pada setiap masa Allah akan membangkitkan pada umat ini orang atau 
generasi yang akan membangkitkan dan memperbaharui semangat ke-Islaman. 
“Sesungguhnya Allah akan mengutus pada umat ini pada setiap satu abad orang 
yang memperbarui urusan agamanya.” (Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)
 Para ulama menyebutkan di antara mujadid (pembaharu) umat yang hadir setiap 
satu abad, yaitu Umar bin Abdul Aziz, Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, dan 
Hasan Al-Banna. Untuk lebih mengenal sosok para qiyadah yang memberikan qudwah 
pada umat, maka di bawah ini sebagian biografi mereka.
 1.      Umar bin Abdul Aziz
 Umar bin Abdul Aziz disebut para ulama sebagai khulafa’ur rasyidin ke-5, 
karena kesamaan manhaj kepemimpinan beliau dengan empat khalifah pertama 
penerus Rasulullah saw. Nama lengkapnya Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz Marwan 
bin Al-Hakam. Ia seorang pemimpin dari generasi tabi’in. Lahir di Halwan Mesir 
tahun 61 H. Dibai’at menjadi khalifah pada saat wafat saudara sepupunya, 
Sulaiman bin Abdul Malik, pada tahun 91 H.
 Pada saat dibai’at Umar bin Abdul Aziz berpidato. ”Wahai manusia, sesungguhnya 
tidak ada kitab sesudah Al-Qur’an dan tidak ada nabi sesudah Muhammad saw. Saya 
bukanlah qadhi (hakim), tetapi saya adalah pelaksana. Saya bukanlah tukang 
bid’ah, tetapi pengikut setia. Dan saya bukanlah yang terbaik di antara kalian, 
tetapi saya adalah yang paling berat tanggung jawabnya di antara kalian. Orang 
yang lari dari imam yang zhalim, bukanlah kezhaliman. Ingatlah, tidak ada 
ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan pada Khalik,” begitu sebagian isi 
pidatonya.
 Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat wara’, zuhud, bersih, dan 
peduli pada umat. Istrinya menceritakan bahwa pada suatu hari sedang di kamar 
tidur dan ingat tentang akhirat, beliau gemetar seperti burung dalam air, 
duduk, dan menangis. Sedangkan perhatiannya kepada umat sangat besar. Ketika 
akan istirahat siang sejenak karena capai melaksanakan tugas, anaknya memberi 
nasihat, ”Apakah Ayah menjamin umur ayah akan panjang sesudah istirahat 
sehingga menunda banyak urusan yang harus diselesaikan?” Umar bin Abdul Aziz 
tidak jadi istirahat dan langsung meneruskan tugasnya.
 Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah hanya dua tahun lebih. Tetapi pada masa 
itu sangat banyak kesuksesan yang beliau lakukan. Beliau yang menghapuskan 
caci-maki terhadap Imam Ali dan keluarganya yang dilakukan khatib saat khutbah 
Jum’at dan mengganti dengan membaca surat An-Nahl ayat 90. Sampai sekarang 
khutbah Jum’at membaca ayat itu mengikuti sunnah yang baik dari Umar bin Abdul 
Aziz. Beliau juga menolak Nepotisme dari keluarganya, Bani Umayyah.
 Dalam masalah ilmu dan kekhusyu’an, Umar bin Abdul Aziz adalah termasuk ulama 
panutan. Berkata Maimun bin Mahran, ”Para ulama di hadapan Umar bin Abdul Aziz 
menjadi murid. Beliau adalah gurunya para ulama.” Di masa beliaulah penulisan 
hadits-hadits Rasululah saw. dilakukan sehingga berkembanglah tadwin hadits dan 
penulisan buku hadits.
 Sedangkan ibadahnya sangat menyerupai Rasululah saw. Anas bin Malik r.a. 
berkata, ”Saya tidak shalat berjamaah bersama imam yang lebih menyerupai 
shalatnya Rasulullah daripada shalat bersama pemuda ini (Umar bin Abdul Aziz) 
ketika beliau di Madinah.” Anas meneruskan, ”Beliau menyempurnakan ruku’ dan 
sujud, dan memendekkan berdiri dan baca Al-Qur’an.”
 2.      Imam Ahmad bin Hanbal
 Banyak orang yang mengenal bahwa imam Ahmad bin Hanbal adalah ulama ahli 
hadits dan fiqh. Memang beliau adalah ahli hadits. Kitabnya yang terkenal 
bernama Musnad Imam Ahmad. Imam Ahmad disamping hafal Al-Qur’an semenjak kecil, 
beliau juga hafal banyak hadits. Kitabnya, Musnad Imam Ahmad, terdiri sekitar 
40.000 hadits yang ditulis berdasarkan hafalannya. Beliau hafal satu juta 
hadits dan menghafalnya seperti hafal Al-Fatihah. Beliau berfatwa 60.000 
masalah dengan menggunakan firman Allah dan sabda Rasulullah saw.
 Imam Ahmad juga ahli fiqh. Bahkan, termasuk salah satu dari empat ulama besar 
yang menjadi rujukan dalam bidang fiqh (madzhab arba’ah). Imam Ahmad belajar 
fiqh kepada Imam Asy-Syafi’i. Tentang keutamaan Imam Ahmad, gurunya imam 
Asy-Syafi’i mengatakan, ”Saya keluar dari Baghdad, demi Allah saya tidak 
meninggalkan seseorang yang lebih bertakwa pada Allah, lebih ‘alim tentang 
ajaran Allah, lebih zuhud karena Allah, lebih wara’ dari yang diharamkan Allah, 
dan yang paling saya cintai melebihi Imam Ahmad bin Hanbal.”
 Ujian yang menimpa Imam Ahmad sungguh sangat besar, yaitu ujian dan fitnah 
penciptaan Al-Qur’an. Fitnah tentang penciptaan Al-Qur’an –yaitu pendapat yang 
mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk– muncul pertama kali pada masa 
Al-Ma’mun. Pendapat ini berasal dan diyakini oleh penganut paham Mu’tazilah, 
dimana Raja Al-Ma’mun merasa kagum dengan pendapat ini dan mengikutinya. Lebih 
dari itu Al-Ma’mun menggunakan pedangnya untuk memaksa rakyat mengikuti 
pendapatnya, dan yang menolak akan dibunuh. Al-Ma’mun membunuh sekitar 1.000 
ulama yang menolak mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Dan penjara penuh dengan 
para ulama.
 Imam Ahmad berada di barisan paling depan yang menolak bahwa Al-Qur’an itu 
makhluk. Dan konsekuensinya imam Ahmad dipanggil ke istana. Imam Ahmad berkata, 
”Saya diambil tengah malam pada saat saya shalat. Tangan dan kaki saya 
diborgol, dan berat borgol itu melebihi berat badan saya. Saya dinaikkan di 
atas kuda, saya berusaha pegangan tetapi saya tidak bisa. Saya hampir jatuh 
tiga kali, tetapi setiap mau jatuh saya membaca; Ya Allah peliharalah aku. Maka 
Allah menjaga saya sehingga tidak jatuh. Tatkala saya dimasukkan ke dalam 
penjara, muka saya diseret. Saya sampai di penjara di akhir malam. Saya tidak 
tahu di mana letak kiblat dan saya tidak tahu di mana saya waktu itu. Ketika 
saya menjulurkan tangan, tiba-tiba ada air yang sejuk, maka saya berwudhu dan 
shalat Fajar.
 Ketika pagi saya dibawa dengan kuda untuk kedua kalinya, dan saya belum makan. 
Hampir saja saya jatuh karena sangat laparnya. Saya dimasukkan ke tempat 
Mu’tashim. Tatkala saya masuk ia mencabut pedang, ditempelkan ke leherku dan 
berkata, “Wahai Ahmad, demi Allah saya mencintaimu seperti saya mencintai 
anaknya Harun Al-Rasyid (Al-Ma’mun). Maka janganlah engkau tumpahkan darahmu di 
hadapanku.” Kemudian ia memaksa kepadaku agar mengatakan bahwa Al-Qur’an itu 
makhluk. Imam Ahmad menolak, maka Mu’tasim menyuruh tukang pukulnya untuk 
memukul Imam Ahmad. Imam Ahmad dicambuk 160 kali, sampai beliau pingsan. 
Kemudian beliau siuman kembali.
 Imam Ahmad dipaksa lagi untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, tetapi 
beliau tetap menolak, sehingga dicambuk lagi berulang-ulang kali. Sampai 
punggungnya babak belur karena seringnya dicambuk.
 Imam Ahmad kembali dinaikkan ke atas kuda dan dimasukkan ke dalam penjara. 
Beliau dipenjara selama 28 bulan. Selama di penjara beliau selalu berpuasa dan 
makanan untuk berbuka cuma roti dan air. Itulah yang dimakan Imam Ahmad selama 
28 bulan. Dan terakhir Imam Ahmad dipaksa lagi untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an 
itu makhluk, beliau tetap menolak. Sampai akhirnya mereka tidak bisa berbuat 
apa-apa dan bosan, kemudian mengembalikan Imam Ahmad ke rumahnya dengan keadaan 
luka parah. Berkata putranya, Abdullah, ”Ayah kami pulang kembali ke rumah 
malam hari setelah di penjara, dan langsung jatuh sakit karena luka parah.”
 Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan bergantilah kekuasaan dari 
Mu’tashim kepada Al-Mutawwakil. Mutawwakil adalah pemimpin yang menycintai 
kebenaran dan sunnah. Dan suatu hari Al-Mutawwakil datang ke Imam Ahmad membawa 
harta kekayaan dan emas. Maka menangislah Imam Ahmad dan berkata, ”Demi Allah, 
saya lebih takut akan fitnah kenikmatan melebihi takut saya dari fitnah 
musibah.” Dan Imam Ahmad menolak semua itu. Begitulah Imam Ahmad. Beliau sakit 
selama 9 hari kemudian meninggal. Manusia berduyun-duyun bertakziyah mendoakan 
Imam Ahmad. Yang datang takziyah sekitar 800.000 orang lelaki dan 60.000 
perempuan. Dan pada saat beliau meninggal, masuk Islam orang-orang Yahudi, 
Kristen, dan Majusi sekitar 20.000 orang.
 3.      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 
 Namanya adalah Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad 
bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy. Lahir di Harran, salah satu 
kota induk di Jazirah Arab yang terletak antara sungai Dajlah (Tigris) dengan 
Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.
 Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika 
umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinya. Mereka 
menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar 
yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta 
benda. Mereka hijrah tanpa seekor binatang tunggangan pun.
 Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir 
saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka 
ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka 
bersama kitab-kitabnya dapat selamat.
 Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama. Jadi, 
punya kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab 
yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, 
menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya.
 Pada usia 22 tahun, Ibnu Taimiyah sudah mengajar di perguruan Darul Hadits 
Al-Syukriyyah, sekolah ternama yang hanya mau menerima tenaga pengajar pilihan. 
Meski masih tergolong muda, kecerdasannya mampu membuat guru-guru besar sekolah 
itu geleng-geleng kepala. “Sungguh, siapapun mengakui kebrilianan guru saya 
yang usianya masih sangat muda itu,” ujar Ibnu Katsir, salah seorang siswa yang 
akhirnya juga menjadi ulama ternama.
 Keluasan ilmu Ibnu Taimiyah juga terlihat dalam penguasaannya terhadap fiqh, 
hadits, ushul, fara’id, tafsir, mantiq, kaligrafi, hisab, bahkan olahraga. 
Penguasaan nahwu sharafnya juga luar biasa. Namun ilmu tafsir adalah disiplin 
ilmu yang paling digandrunginya. Bila sudah berkutat dengan tafsir, beliau 
tampak asyik sekali. Lebih dari seratus kitab Tafsir Al-Qur’an dipelajarinya. 
Tak heran bila mengkaji satu ayat saja, dia akan menelaah puluhan tafsir. 
 Ketika mengkaji tafsir, Ibnu Taimiyah tidak sekadar mengandalkan kecerdasan 
akal. Tapi juga kecerdasan spiritual. Dia akan selalu memohon kepada Allah swt. 
agar diberi kepahaman, pergi ke masjid dan bersujud. Wajar bila para pemikir 
yang hanya mengandalkan kemampuan akal, tanpa spiritual, senantiasa dikecamnya.
 Para filosof Yunani juga menjadi sasaran tembaknya. Termasuk pemikir Islam 
yang bertaklid buta kepada filsafat Yunani, seperti Ibnu Sina. Sebab, menurut 
Ibnu Taimiyah, filsafat Yunani tak mampu menemukan rahasia ketuhanan. “Mereka 
adalah sebodoh-bodoh dan sejauh-jauh manusia dalam mengetahui hal-hal yang 
benar. Komentar Aristoteles, guru mereka, masih terlalu sedikit dan banyak 
kesalahan. Para filosof telah tertipu dalam mengetahui dan mengenal Allah swt.”
 Ibnu Taimiyah termasuk sedikit di antara ulama yang istiqamah memegang 
prinsip. Akibat keteguhannya itu, ia harus keluar masuk tahanan. Sampai akhir 
hayatnya ia tetap dalam posisinya seperti itu. Berkali-kali ia diisolir, 
berkali-kali diintimidasi, tapi ia tak goyah untuk mempertahankan pendiriannya 
yang diyakini kebenarannya. Tak sejengkalpun ia mundur. Dari lisan Ibnu 
Taimiyah akhirnya muncul kata-kata mutiara: “Penjaraku adalah berkhalwat, 
pembuanganku adalah tempat hijrahku, dan pembunuhanku adalah syahid.”
 Di antara yang bisa menandai seorang ulama adalah kemampuannya dalam 
mengendalikan hawa nafsu. Akan tetapi dalam kenyataannya masih banyak dijumpai 
ulama yang mengumbar hawa nafsunya. Akibatnya, jika mereka berfatwa, fatwanya 
cenderung mengikuti hawa nafsu. Baik itu hawa nafsunya sendiri, maupun hawa 
nafsu orang lain. Hawa nafsu orang lain yang paling banyak mempengaruhi ulama 
dalam sejarah adalah hawa nafsu para penguasa yang diharapkan hadiah-hadiah dan 
ditakuti ancaman tindakannya.
 Ibnu Taimiyah adalah salah seorang ulama yang langka. Dalam mempertahankan 
keyakinannya, banyak pihak yang kagum. Namun demikian yang benci juga banyak. 
Sewaktu Ibnu Taimiyah menolak keras paham wihdatul wujud yang diusung Syaikh 
Muhyiddin Ibnu Arabi, banyak yang marah besar. Pada 5 Ramadhan 705 H, datanglah 
surat panggilan dari penguasa Mesir dan Syam, Sultan An-Nashir Muhammad bin 
Qulaun. Rupanya ini hanyalah jebakan para pengikut Ibnu Arabi. Buktinya, Ibnu 
Taimiyah ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan selepas ceramah di sebuah 
majelis.
 Beberapa bulan kemudian ada tanda-tanda hendak dibebaskan. Syaratnya, Ibnu 
Taimiyah harus mencabut sikap kontranya terhadap paham akidah penguasa Mesir. 
Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. “Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai 
daripada memenuhi ajakan mereka,” begitu jawaban Ibnu Taimiyah mengutip ayat 33 
surat Yusuf.
 Meski dipenjara, Ibnu Taimiyah tetap beraktivitas sebagaimana biasa. Ketegaran 
pribadinya mendorong terus beramar ma’ruf nahi munkar. Sewaktu para narapidana 
sibuk bermain catur, undian, judi, dan lain-lain sehingga melalaikan shalat, 
Ibnu Taimiyah tak segan-segan menegurnya. Dia perintahkan secara tegas agar 
mereka menjaga shalat, senantiasa bertasbih, istighfar, dan berdoa. Berbagai 
amalan ibadah diajarkan, sehingga para penghuni penjara itu larut dalam 
kegiatan agama. Bahkan banyak narapidana yang sebenarnya sudah bebas tapi 
memilih tetap tinggal bersama Ibnu Taimiyah. Akhirnya pada 23 Rabi’ul Awwal 707 
H dia bebas berkat pertolongan seorang pejabat Arab.
 Begitu bebas, Ibnu Taimiyah bukannya kembali ke Damaskus tetapi memilih 
tinggal di Mesir yang banyak dihuni orang-orang yang memusuhinya. Dia tetap 
aktif mengajar, memberikan nasihat, ceramah, dan membentuk majelis-majelis. 
Tidak lama kemudian beberapa sekolah di Kairo rutin memberi kesempatan ceramah, 
di antaranya Madrasah Ash-Shalihiyyah. Dari situlah kalangan ulama Mesir mulai 
terbuka matanya, bahwa ternyata Ibnu Taimiyah tidak sesat seperti mereka duga.
 Dalam waktu yang bersamaan, orang-orang yang dengki terus berupaya memasang 
perangkap. Celakanya, pemerintah Mesir termakan agitasi itu. Ibnu Taimiyah 
diberi ultimatum: kembali ke Damaskus, tetap tinggal di Mesir dengan syarat 
tidak mendakwahkan ajarannya kepada masyarakat, atau dipenjara.
 Ternyata pilihan ketiga yang dipilihnya: penjara. Namun murid-muridnya 
menghalangi, dan menyarankan agar Ibnu Taimiyah kembali ke Damaskus. Demi 
menjaga hati pengikutnya, pada 18 Syawal 770 H Ibnu Taimiyah kembali ke 
Damaskus. Namun sebentar saja, cuma beberapa jam di Damaskus. Penjara lebih 
‘dirindukannya’. Meski begitu Ibnu Taimiyah tidak bisa serta merta masuk 
penjara sebab rupanya kalangan qadhi dan ulama Mesir berselisih pendapat 
tentang penahanan itu. Alasan memenjaranya tidak jelas. Melihat pertentangan 
pendapat itu, Ibnu Taimiyah akhirnya mengambil keputusan sendiri: masuk penjara.
 Meski di penjara, Ibnu Taimiyah tetap dinanti-nanti fatwa dan nasihatnya. 
Berbondong-bondong orang menjenguknya. Pemandangan yang sungguh ganjil, 
sehingga akhirnya Ibnu Taimiyah dibebaskan. Murid-muridnya di Madrasah 
Ash-Shalihiyyah dan beberapa majelis kajian dapat kembali mendengar 
ceramah-ceramahnya.
 Tak lama kemudian terjadi pergeseran konstalasi politik di Mesir. Sultan 
An-Nashir Muhammad bin Qulaun yang mulai simpati kepada Ibnu Taimiyah turun 
takhta, diganti Ruknuddin Bibrus Al-Jasynaker. Sementara Syaikh Nashr 
Al-Munbajji Al-Murabbi Ar-Ruhi ulama yang berlawanan akidah dengan Ibnu 
Taimiyah menjadi penasihat raja. Lahirlah keputusan-keputusan politik yang 
memojokkan ulama yang berseberangan dengan ‘ulamanya’ penguasa. Ibnu Taimiyah 
pun dibuang ke Iskandariyyah (akhir Shafar 709 H) dengan dalih menghindarkan 
Mesir dari disintegrasi.
 Di tempat barunya, Ibnu Taimiyah tetap kebanjiran pengikut. Rumahnya di 
Iskandariyyah yang luas, bersih, dan indah terbuka 24 jam untuk siapa saja. 
Banyak kalangan pembesar maupun fuqaha yang datang meminta nasihat spiritual 
kepadanya. Sultan An-Nashir Muhammad bin Qulaun yang akhirnya kembali memimpin 
Mesir dan Syam (akhir 709 H), berkenan mengangkat Ibnu Taimiyah sebagai 
penasihat spiritualnya.
 Sampai akhir tahun 726 H, Ibnu Taimiyah berkonsentrasi pada pendidikan, 
menulis, ceramah-ceramah, dan mengeluarkan fatwa. Fatwa yang cukup terkenal 
adalah larangannya menziarahi kubur, termasuk kubur Rasulullah saw. Ibnu 
Taimiyah bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim, “Allah 
melaknati orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka 
sebagai masjid.”
 Terang saja banyak kalangan merasa gelisah, sebab Rasulullah saw. adalah 
manusia suci yang selama ini diagungkan. Banyak ulama yang menganggap fatwa itu 
‘tidak sopan’ dilihat dari segi kedudukan Nabi saw. Akhirnya pemerintah turun 
tangan, mengeluarkan surat perintah penangkapan atas diri Ibnu Taimiyah (7 
Sya’ban 726 H).
 Namun rupanya pemenjaraan yang ketiga kali itu dimanfaatkan pihak-pihak 
tertentu yang selama ini telah membencinya. Murid dan pendukung Ibnu Taimiyah 
dianiaya. Beberapa di antaranya dimasukkan penjara, ada juga yang dinaikkan di 
atas keledai lalu diarak beramai-ramai dan dimaki-maki. Bahkan Syamsuddin 
Muhammad bin Qayyim Al-Jauziyyah yang paling getol membela Ibnu Taimiyah 
dipenjara seumur hidup dan meninggal di penjara.
 Seperti sebelumnya, penjara tak menghalangi Ibnu Taimiyah terus berkarya. 
Tentu ini mengkhawatirkan pihak penguasa. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, 
pemerintah merampas semua alat baca dan tulis di penjara. Hebatnya, Ibnu 
Taimiyah terus menulis dengan memanfaatkan kertas-kertas sampah dan arang 
sebagai alat tulisnya.
 Satu hal yang tak bisa dilawannya, kondisi fisik yang digerogoti usia. Dia 
akhirnya jatuh sakit. Berita itu segera tersebar keluar penjara sehingga 
beberapa pejabat datang menjenguknya seraya minta maaf atas pemenjaraan itu. 
Terhadap mereka, dengan arif ia berkata, “Sungguh aku telah menghalalkan 
orang-orang yang memusuhiku karena mereka tidak tahu bahwa aku dalam kebenaran. 
Aku juga memaafkan Sultan An-Nashir yang memenjarakanku. Pendeknya, aku telah 
memaafkan semua orang yang memusuhiku, kecuali orang-orang yang memusuhi Allah 
dan Rasul-Nya.”
 Pada malam 22 Dzulqa’idah 728 H, ulama ini meninggal dunia. Penduduk negeri 
Mesir dan Syam gempar. Sewaktu jenazah Ibnu Taimiyah dimandikan, orang 
berdesak-desakan ingin melihat dan menghormatinya. Sewaktu dishalatkan di 
Masjid Jami’ Al-Amawi, warga semakin banyak. Pasar kosong. Toko dan 
warung-warung tutup. Banyak di antara mereka yang lupa makan dan minum. 
Kumpulan manusia itu menimbulkan bergemuruh. Ada yang menangis, meratap, 
memuji, dan mendoakannya. Orang yang memikul keranda Ibnu Taimiyah kesulitan 
bergerak, hanya bisa bergeser sejengkal demi sejengkal, itupun maju mundur. 
Sebelum Ashar, jenazah itu dikebumikan di kubur Ash-Shufiyyah. Di kuburan itu 
sebelumnya telah dimakamkan beberapa ulama seperti Ibnu Asakir, Ibnu Shalah, 
Ibnul Hujjah, dan Imaduddin bin Katsir.
 Di belahan bumi lain, kaum muslimin seantero dunia melaksanakan shalat ghaib. 
Timur Tengah, Afrika, sampai Yaman dan Cina, semua larut dalam keharuan atas 
meninggalnya Ibnu Taimiyah. Meski jasadnya telah tiada, pemikirannya telah 
hidup sampai saat ini. Al-Hafizh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Abdul Hadi, 
Ibnu Katsir, dan Al-Hafizh Ibnu Rajab adalah di antara murid-murid yang terus 
berupaya menghidupkan semangat perjuangannya. 
 4.      Hasan Al-Banna
 Imam Hasan Al Banna adalah imam para dai di abad 20, sesuai dengan namanya 
beliau adalah pembangun generasi yang baik. Imam Hasan bin Ahmad bin 
Abdurrahman Al-Banna lahir pada tahun 1906 M di daerah Mahmudiyah kota kecil 
dekat Iskandariyah Mesir. Ayahnya seorang ulama yang diakui keilmuannya oleh 
ulama lain. Disamping itu beliau bekerja sebagai tukang reparasi jam dan 
penjilidan buku sehingga ayahnya dikenal dengan julukan Asy-Syaikh As-Sa’ati.
 Lingkungan pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk suasana kota turut membantu 
perkembangan Hasan Al Banna. Sehingga dalam usia yang masih muda beliau sudah 
berhasil menghafal Al-Qur’an. Beliau disamping berguru pada ayahnya juga 
berguru pada ulama lain, sampai akhirnya mengantarkan beliau belajar di 
Universitas Darul Ulum Kairo.
 Ghirah keislamannya sudah tumbuh semenjak kecil. Beliau sangat rajin ibadah 
dan suka mengunjungi para ulama untuk berdiskusi tentang masalah agama dan 
problematika umat. Sehingga tidak aneh para ulama dan gurunya sangat mencintai 
beliau dan menaruh harapan yang besar terhadap Hasan Al-Banna. Kegundahannya 
terhadap kemaksiatan menyebabkan Hasan Al-Banna kecil bersama teman-temannya 
membuat organisasi Menolak Keharaman. Dan diantara aktivitasnya, mengingatkan 
umat Islam yang melakukan dosa dan meninggalkan kewajiban Islam seperti shalat, 
puasa, dan lain-lain. Hasan Al-Banna juga punya kegiatan yang dilakukannya 
ketika masih kecil, yaitu membangun-bangunkan orang tidur dari rumah ke rumah 
untuk shalat Subuh berjamaah di masjid.
 Pada tahun 1928 pada saat berusia 22 tahun, beliau mendirikan Jama’ah Ikhwanul 
Muslimun. Tokoh-tokoh yang bergabung di jama’ah ini di antaranya Syaikh 
Muhibbuddin Al-Khatib, ulama hadits; Syaikh Dr. Musthafa As-Siba’i, ahli hukum; 
Syaikh Amin Al-Husaini, mufti Palestina. Dan sekarang dakwah yang dirintisnya 
sudah masuk ke lebih dari 70 negara. Hampir tidak ada gerakan reformasi di 
dunia Islam yang tidak terpengaruh oleh pemikiran Jama’ah Ikhwanul Muslimun. 
Kelebihan Imam Hasan Al-Banna bukan pada kemampuannya ta’liful kutub (mengarang 
buku), tetapi pada ta’liful qulub (menyatukan hati) dan ta’lifur rijal 
(mencetak generasi muslim). Tidak aneh jika pengikutnya hampir ada di seluruh 
penjuru dunia. Penamaan Jama’ah Ikhwanul Muslimun juga tidak lain dari 
keinginan beliau untuk menyatukan umat Islam dan mengembalikan mereka dalam 
kejayaan Islam.
 Berkata ulama India Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi tentang imam Hasan Al 
Banna, ”Kehadirannya cukup mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam secara 
keseluruhan. Semua terkejut oleh dakwah, tarbiyah, jihad dan kekuatannya yang 
unik. Allah telah mengumpulkan pada dirinya berbagai kemampuan yang 
kadang-kadang tampak kontradiktif di mata psikolog, sejarawan, dan kritikus, 
yaitu pemikiran yang brilian, pemahaman yang cemerlang, wawasan yang luas, 
perasaan yang kuat, hati yang penuh berkah, semangat yang membara, lisan yang 
fasih, zuhud dan qanaah –tanpa menyiksa diri– dalam kehidupan pribadinya. 
Cita-cita dan kepedulian yang tinggi dalam menyebarkan da’wah.”
 Perhatian Hasan Al Banna terhadap Islam dan umat Islam sangat besar termasuk 
umat Islam yang jauh dari Mesir, seperti Indonesia. Hal ini yang menjadikan 
beliau memimpin sendiri Komite Solidaritas bagi Kemerdekaan Indonesia. Dan 
utusan Indonesia yang berkunjung ke Mesir saat itu, yaitu H. Agus Salim, Dr. 
H.M. Rasyidi, M. Zein Hasan dan lain-lain, mengucapkan terima kasih kepada 
Hasan Al-Banna atas dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.
 Imam Hasan Al Banna berpesan kepada pengikut-pengikutnya, ”Anda sekalian 
adalah ruh baru yang mengalir dalam jasad umat ini.” Dakwah dan jihad Hasan 
Al-Banna membuat kecut thaghut (penguasa yang lalim) yang hidup pada masa 
beliau. Tidak ada cara lain kecuali memusnahkan dakwah Hasan Al Banna. Tepat di 
depan kantor Organisasi Pemuda Islam yang didirikannya, Hasan-Al Banna 
ditembak. Sebagian pelaku membawa Hasan Al-Banna ke rumah sakit dan meminta 
kepada penjaga rumah sakit untuk membiarkannya tanpa penanganan medis.
 Sampai setelah dua jam tanpa pertolongan medis, Hasal Al-Banna meninggal 
dunia. Tahun itu tahun 1949 M. Hasan Al-Banna dishalatkan oleh ayahnya yang 
sudah sepuh dan 4 orang wanita. Begitulah Hasan Al-Banna yang hidup untuk Islam 
dan umat Islam. Meninggal akibat konspirasi yang menginginkan dakwahnya redup. 
Tetapi kematiannya tidak membuatnya mati. Dakwahnya tetap hidup dan namanya 
tetap harum. Pendukung gerakan dakwahnya semakin banyak.
 Demikianlah Allah akan menjaga agama-Nya. Dia selalu mengutus pada setiap abad 
ulama yang akan mengembalikan Islam pada kemurnian dan kejayaannya. Rasulullah 
saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengutus pada umat ini pada setiap satu 
abad orang yang memperbarui urusan agamanya.” (Abu Dawud, Al-Hakim dan 
Al-Baihaqi).
       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke