Menjadi Pelopor Kebajikan     Oleh: Tim dakwatuna.com 
---------------------------------
  
  
  Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menunjukkan jalan kebajikan maka ia 
memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang melaksanakannya.” (Muslim, 
At-Tirmidzi, Ibnu Hibban)
 Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu saja 
tujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi ingat, 
mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yang mengkampanyekan 
kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikan itu sendiri. Karena, tidak semua 
objek dakwah berprinsip “dengar perkataannya, bukan lihat siapa yang 
mengatakan”. Masih banyak yang menilai sesuatu itu benar atau salah, menerima 
atau menolak dakwah dengan merujuk pada apa yang ia lihat pada si juru dakwah. 
Jika rasa simpati dan cinta manusia terhadap diri dai merupakan salah satu 
kunci keberhasilan dakwah, maka mewujudkannya dalam diri dai adalah bagian dari 
dakwah itu sendiri. 
 Rasulullah saw. sosok yang simpatik dan mempesona. Karena itu, orang-orang 
yang didakwahinya tidak punya alasan untuk mencela. Mereka yang menolak dakwah 
sekalipun mengakui bahwa Rasulullah saw. orang yang layak dicintai karena 
amanah, kejujuran, dan pekertinya yang baik. Paling-paling dalih mereka untuk 
menolak beliau –karena mereka tidak punya alasan lain– adalah dengan menuduh 
apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah sihir. Suatu tuduhan yang tidak dapat 
dibuktikan.
 Yang Utama: Cinta Allah.
 Hal utama yang harus dikejar adalah kecintaan Allah. Mengapa? Pertama, dakwah 
adalah tugas suci dari Allah. Restu Allah sangat menentukan berhasil dan 
gagalnya proyek itu. Mengejar cinta manusia dengan membuat murka Allah, pasti 
akan menggagalkan dan menghancurkan dakwah itu sendiri.
 Kedua, bila Allah telah mencintai seseorang, maka orang tersebut akan 
mendapatkan tempat dan memperoleh penerimaan yang luas di kalangan manusia. 
Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia 
memanggil Jibril seraya mengatakan, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka 
cintailah dia.’ Maka Jibril mencintainya. Kemudian ia (Jibril) menyerukan di 
langit dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah 
dia oleh kalian.’ Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian jadilah orang itu 
mendapatkan penerimaan di bumi. ” (Shahih Al-Bukhari dan Muslim)
 Tidak ada cara lain untuk meraih cinta Allah selain dengan cara taat 
kepada-Nya dalam keadaan apa pun. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) 
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni 
dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31). 
Selebihnya, juru kampanye kebenaran, keadilan, dan kebajikan wajib melakukan 
kiat-kiat islami untuk menumbuhkan keberpihakan masyarakat kepada kebenaran. 
Beberapa di antaranya adalah:
 a.      Berlapang Dada.
 Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang “merugikan” 
diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagi hadirnya kecintaan. Allah 
swt. berfirman: “Mereka harus memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin 
bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
(An-Nur: 22)  
 Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut. “Islam 
menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satu jalan tarbiyah. 
Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dan kecenderungan-kecenderungan 
buruk lainnya. Dengan demikian meningkatlah keyakinan seorang muslim dan 
semakin sempurnalah keimanannya,” kata Musthafa Abdul-Wahid dalam 
Syakhshiyyatul Muslim Kama Yushawwiruhal Quran.
 b.      Mencintai karena Allah.
 Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang tulus. Cinta 
palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena itu, landasan interaksi 
seorang dai dengan mad’unya hanyalah landasan cinta karena Allah swt. Anas bin 
Malik mengatakan, “Aku sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah saw. tiba-tiba 
seorang laki-laki lewat. Seseorang dari yang sedang duduk bersama Rasulullah 
saw. mengatakan, ‘Ya Rasulullah saw. aku mencintai orang itu.’ Rasulullah saw. 
mengatakan, ‘Sudahkah kamu menyatakannya kepadanya?’ Orang itu menjawab, 
‘Belum.’ Kata Rasulullah saw., ‘Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.” Maka 
orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan, ‘Uhibbuka fillah (aku 
mencitaimu karena Allah).’ Orang itu menjawab, ‘Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu 
(semoga mencintaimu pula (Allah) Yang karena-Nya kamu mencitaiku’.” (Hadits 
riwayat Ahmad)
 c.       Silaturahim
 Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menyambungkan apa-apa yang Allah 
perintahkan untuk disambungkan, merasa takut kepada Rabb mereka dan merasa 
takut akan buruknya penghitungan.” (Ar-Ra’d: 21)
 Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungan dengan orang yang 
memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw. juga bersabda, “Tidak akan masuk 
surga orang yang memutuskan hubungan, yakni memutuskan hubungan rahim 
(kekeluargaan).” (Muttafaq ‘alaih)
 Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaat bagi 
seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad’u. Dengan demikian, bisa mengenali 
problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat memberikan empati kepadanya 
dan hal itu akan meringankan beban penderitaannya. Akan lebih baik lagi bila ia 
bisa melakukan sesuatu yang konkret yang dapat dirasakan oleh si mad’u.
 d.      Menebar Senyum
 Menampilkan wajah cerai dan senyum adalah amal shalih yang ringan untuk 
dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruh besar pada 
manusia. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil 
apa pun, walaupun hanya bisa menemui saudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim). 
Sebab, “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah shadaqah.” (Ibnu Hibban)
 e.      Jauhi kesombongan
 Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkan hal-hal 
baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts binni’mah (menceritakan 
kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya untuk menjauhi riya dan kesombongan.
 Qatadah mengatakan, “Siapa yang diberi harta, atau ketampanan (kecantikan), 
atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu’ maka semua itu akan 
menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat.”
 f.        Hati-hati dalam berjanji.
 Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janji akan 
membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa serta kehilangan 
kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yang melanggar janji, 
membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihan yang tepat. Daripada 
mengumbar janji, lebih produktif menampilkan bukti-bukti. Jangan sampai kita 
terjebak untuk menyaingi atau mengimbangi janji-janji para penyeru kebusukan 
dengan janji busuk serupa.
 Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh mana para 
dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupannya. Memang untuk 
konsisten dalam kebenaran memerlukan stamina ekstra. Karena, penegak 
nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan selalu berhadapan dengan pemelihara 
kezhaliman. Orang yang berusaha hidup bersih dari korupsi akan berhadapan 
langsung dengan orang yang membangun kejayaan dengan korupsi. Allahu a’lam.

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke