Pengkhianatan Penguasa Saudi (Dulu dan Kini)Siyasah & Dakwah 1 Juni, 2007 Dalam
pidato pembukaan KTT Liga Arab yang dilangsungkan di Riyadh tanggal 28
Maret 2007, Raja Abdullah Ibnu Saud mengatakan bahwa kesengsaraan yang
dialami bangsa Arab adalah akibat perselisihan yang kerap terjadi di
antara para penguasa Arab. Padahal mereka hanya dapat mencegah
“kekuatan asing untuk merumuskan masa depan wilayah itu” jika
mereka bersatu. Kemudian dia melanjutkan pidatonya tentang sejarah
Liga Arab, “Pertanyaannya adalah, apa yang telah kita lakukan dalam
tahun-tahun belakangan ini untuk menyelesaikan semua permasalahan itu?
Saya tidak ingin menyalahkan Liga Arab karena ia adalah sebuah entitas
yang mencerminkan kondisi kita secara menyeluruh. Kita seharusnya
menyalahkan diri kita sendiri; kita semua; pemimpin bangsa-bangsa Arab.
Perbedaan-perbedaan kita yang permanen, penolakan kita untuk mengambil
jalan persatuan, semuanya itu menyebabkan negara-negara Arab kehilangan
kepercayaan diri dan kredibilitas serta kehilangan harapan pada masa
kini dan masa depan kita.” Dia
lalu menggambarkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh Dunia Islam,
“Di Irak yang kita cintai, pertumpahan darah terjadi di antara
saudara-saudara kita, dibayangi oleh pendudukan asing yang ilegal, dan
kebencian sektarianisme yang menjurus pada perang saudara…Di Palestina,
banyak orang menderita karena penindasan dan pendudukan. Sangat
mendesak untuk mengakhiri blokade yang diberlakukan atas bangsa
Palestina sehingga proses perdamaian dapat terus berjalan dalam kondisi
tanpa penindasan.” Apa
yang digarisbawahi oleh Raja Abdullah dalam pidato pembukaanya tentang
problem masa kini yang dihadapi kaum Muslim sudah sangat dimengerti
oleh kaum Muslim di seluruh dunia. Namun, Dia melupakan peran yang
telah dimainkannya, juga peran keluarga Saudi dalam menciptakan dan
memperpanjang isu-isu semacam itu. Keluarga Saudi memiliki riwayat
panjang terkait dengan pengkhianatan mereka terhadap umat. Mereka
justru telah memainkan peran pentingnya dalam mencegah persatuan di
Dunia Islam. Mulai
awal tahun 2006, Raja Abdullah telah mencetuskan inisiatif perdamaian
yang akan mengakui Keluarga
Saudi sering dalam beberapa kesempatan, bersama dengan kekuatan
penjajah Barat, bahu-membahu dalam menyediakan dukungan aktif. Dalam
Perang Teluk yang pertama, Raja Fahd dengan resmi memerintah-kan
penggelaran pasukan Amerika di tanah Saudi. Kerajaan itu menjadi tuan
rumah bagi 600,000 pasukan Sekutu hingga kas negara mengalami defisit.
Amerika mengeluarkan $60 miliar pada Perang Teluk pertama.
Pengkhiatan
telah berakar dalam di tubuh Kerajaan Saudi, yakni sejak keluarga Saudi
memainkan peran langsungnya atas kehancuran Khilafah dan pembentukan
negara Inggris
memberikan Ibnu Saud sedikit subsidi yang dipakai untuk memperluas dan
mempertahankan pasukan Wahabi. Pasukan ini adalah tulang punggung
pasukan Ibnu Saud untuk melawan Khilafah. Ibnu Saud berusaha untuk
memperoleh legitimasi dengan memakai gerakan Wahabi, pengikut Muhammad
ibnu Wahab, yang berkeyakinan bahwa tanah Arab perlu dibersihkan dengan
opini Islamnya. Ibnu Wahab menggunakan Wahabi untuk memberikan
kredibilitas agama atas kebijakan pro-Inggrisnya. kaum Wahabi melihat
kesempatan ini untuk melihat interpretasinya atas Islam agar menjadi
mazhab yang dominan di wilayah itu. Tahun
1910 keluarga al-Saud menjadi orang-orang yang lebih penting lagi bagi
Inggris ketika mereka memberontak terhadap Kekhalifahan Usmani, dengan
dukungan Inggris, dengan menyerang saudara sepupunya Ibnu Rashid yang
mendukung Khilafah. Subsidi yang tadinya kecil menjadi bertambah dan
sekomplotan penasihat dikirim untuk membantu gerakan Ibnu Saud. Pemberontakan
Arab (1916-1918) diawali oleh Syarif Hussein ibnu Ali dengan restu
penuh Inggris. Tujuannya adalah untuk memisahkan semenanjung Arab dari Setelah
kekalahan Kekhalifahan Usmani tahun 1918 dan keruntuhan sepenuhnya
tahun 1924, Inggris memberikan kontrol penuh atas negara-negara yang
baru terbentuk, yakni Irak dan Trans-Jordan, kepada anak laki-laki
Syarif Hussein yaitu Faisal dan Abdullah seperti yang sebelumnya
dijanjikan. Keluarga al-Saud berhasil membawa seluruh Arab di bawah
kontrolnya tahun 1930. Pandangan Inggris atas nasib Arab menyusul
kekalahan Khilafah tercermin pada kata-kata Lord Crewe bahwa ia
menginginkan, “Arab yang terpecah menjadi kerajaan-kerajaan di bawah
mandat kami.” Untuk peran itu, keluarga Saudi menerimanya dengan senang
hati. Keluarga
Saudi langsung bersekongkol dengan Inggris untuk menghancurkan
Khilafah. Jika tidak terlalu buruk keluarga Saud juga akan langsung
bersekongkol dengan Zionis untuk mendirikan Saudaranya
Raja Faisal dari Irak bahkan melebihi pengkhiatan Abdullah. Ketika itu,
pada tahun 1919 Faisal menandatangani Perjanjian Faisal-Weizmann,
dengan Dr. Chaim Weizmann, Presiden organisasi Zionis Dunia; dialah
yang menerima dengan syarat Deklarasi Balfour berdasarkan janji yang
dipenuhi oleh Inggris pada masa perang untuk kemerdekaan Arab. Sejak
tahun 1995 |
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
