Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
Soal Jawab June 1st, 2007 
Soal:

Banyak pertanyaan seputar Islam sebagai agama dan ideologi. Ada yang 
menyatakan, Islam adalah agama, bukan ideologi. Ada juga yang menyatakan, Islam 
adalah agama sekaligus ideologis. Mana yang benar? 


Jawab:

Harus diakui, istilah ideologi adalah istilah baru, setelah munculnya ideologi 
dunia, seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Bagi Islam dan kaum Muslim, istilah 
ideologi ini merupakan istilah serapan, seperti istilah 'aqîdah, dharîbah, 
dustûr (UUD) dan qânûn (UU) pada zaman masing-masing ketika istilah tersebut 
muncul pertama kali, dan diadopsi oleh kaum Muslim. Istilah 'aqîdah, misalnya, 
sekalipun tidak digunakan dalam nas-nas al-Quran dan as-Sunnah, pada akhirnya 
bisa diterima oleh kaum Muslim, setelah digunakan oleh para ulama ushuluddin 
pada pertengahan abad ke-6 H.1 Istilah ini merupakan padanan dari kata îmân, 
yang digunakan baik dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Demikian halnya 
penggunakan istilah dharîbah, digunakan oleh para fukaha kaum Muslim kira-kira 
pada abad ke-8 H.2 Hal yang sama juga terjadi dalam kasus dustûr dan qânûn, 
yang digunakan pada abad ke-18 H, setelah negara-negara Eropa mulai bangkit 
serta membuat UUD dan peraturan perundang-undangan. Istilah UUD dan peraturan 
perundang-undangan ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan istilah 
ad-dustûr wa al-qawânîn. Awalnya, istilah ini dipakai oleh para ulama bahasa 
untuk menulis buku yang berisi aturan bahasa, seperti kitab Dustûr al-Muntahâ 
atau Dustûr al-Mubtadi'.3 

Dalam konteks penggunaan istilah ideologi, istilah ini kemudian digunakan dalam 
bahasa Arab dengan sebutan yang sama, yaitu idiyuluji, atau dengan sebutan yang 
berbeda, yaitu mabda'. Intinya adalah pemikiran paling mendasar, yang tidak 
dibangun dari pemikiran yang lain.4 Pemikiran seperti ini, menurut Muhammad 
Muhammad Ismail, hanya ada pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia 
dan kehidupan; serta apa yang ada sebelum dan setelahnya; juga hubungan antara 
alam, manusia dan kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan setelahnya.5 Bagi 
kaum Muslim, pemikiran seperti ini adalah akidah Islam itu sendiri. Sebab, 
akidah Islam adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan 
kehidupan; yaitu dari mana, untuk apa dan akan ke manakah alam, manusia dan 
kehidupan ini? Maka dari itu, tentu alam, manusia dan kehidupan itu tak lain 
merupakan ciptaan Allah, untuk mengabdi kepada-Nya, dan hanya kepada-Nyalah 
semuanya akan kembali. Manusia akan dibangkitkan dan dimintai 
pertanggungjawaban setelah kematiannya di dunia, sementara yang lain tidak. 
Karena itu, sebelum kehidupan ini, ada Allah, Zat Yang Maha Pencipta, dan 
setelah kehidupan ini akan ada Hari Kiamat, dan hisâb. Agar semua proses 
kehidupan manusia itu bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, maka 
Allah menurunkan syariah (aturan) untuk kehidupan manusia, yang kelak juga akan 
dijadikan standar oleh Allah untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Inilah 
pemikiran mendasar, yang juga disebut fikrah kulliyah Islam. Pemikiran mendasar 
inilah yang juga disebut mabda' atau idiyuluji. Inilah substansi ideologi, 
yaitu apa dan bagaimana ideologi itu sendiri. 

Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah agama bisa menjadi ideologi? 
Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah akidahnya adalah akidah yang 
rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut bisa memancarkan sistem 
(nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan tersebut jawabannya ya, atau 
dengan kata lain merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan sistem, maka 
akidah tersebut bisa menjadi ideologi. Sebaliknya, jika tidak maka akidah 
tersebut pasti tidak akan bisa menjadi ideologi. Contohnya, akidah Yahudi 
maupun Nasrani. Kedua akidah ini tidak bisa menjadi ideologi, karena bukan 
merupakan akidah 'aqliyyah, yang bisa memancarkan nizhâm. Ini berbeda dengan 
akidah Islam. Akidah Islam adalah akidah rasional yang bisa memancarkan nizhâm, 
yang bukan hanya sistem peribadatan saja, melainkan juga sistem pemerintahan, 
ekonomi, sosial, pendidikan, dan semua sistem kehidupan yang lainnya. 

Bukti lain bahwa Islam bisa menjadi ideologi adalah dari aspek keutuhan ajaran 
Islam, yang bukan hanya berisi gagasan, konsep atau pemikiran, yang disebut 
dengan fikrah (ide), tetapi juga berisi tharîqah (metode) bagaimana fikrah 
tersebut diterapkan, dipertahankan dan diemban ke seluruh dunia. Pada tataran 
konsep, misalnya, Islam bukan saja berisi akidah tentang keimanan kepada Allah, 
Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat serta Qadha' dan Qadar-yang baik dan 
buruknya berasal dari Allah; tetapi juga seluruh aturan yang dibutuhkan oleh 
manusia, baik dalam konteks ubudiah, muamalah maupun untuk mengurus dirinya 
sendiri (akhlak, makanan dan pakaian). Semua itu hanya bisa diwujudkan kalau 
ada metode untuk mewujudkannya, yaitu adanya partai yang memperjuangkan 
terwujudnya fikrah tersebut, dan adanya negara yang menerapkannya. Demikian 
halnya, semua itu bisa dipertahankan jika ada sanksi hukum dan negara yang 
mempertahankannya, berikut peranan partai politik dan umat yang mengontrolnya. 
Begitu juga, semua itu akan bisa diemban ke seluruh dunia jika ada dakwah, 
jihad dan negara yang mengembannya.

Karena itu, Islam bukan hanya agama, melainkan juga ideologi. Penggunaan 
ideologi ini untuk Islam tentu absah, dilihat dari substansinya; bukan dari 
aspek sumber, dari mana ideologi tersebut dihasilkan; akal atau wahyu? Sebab, 
pada aspek ini, persoalannya adalah persoalan sumber, bukan substansi. Artinya, 
dari aspek sumber ideologi, ideologi yang ada saat ini bisa dikategorikan 
menjadi dua: yaitu ideologi yang bersumber dari akal manusia dan ideologi yang 
bersumber dari wahyu. Islam adalah satu-satunya ideologi yang bersumber dari 
wahyu. Selain Islam, baik Kapitalisme, Solialisme maupun Komunisme adalah 
ideologi yang bersumber dari akal manusia. Hanya saja, sering ada kesengajaan 
untuk merancukan ideologi dari substansinya ke sumbernya. Akibatnya, Islam 
ditolak sebagai ideologi, dengan alasan, Islam adalah ajaran yang bukan 
bersumber dari akal manusia, melainkan dari wahyu Allah. Padahal konteks 
permasalahannya bukan disitu. Ini sebenarnya merupakan upaya penyesatan yang 
bertujuan untuk menolak Islam sebagai ideologi. Padahal dengan menolak Islam 
sebagai ideologi, sama saja dengan menolak Islam sebagai sistem pemerintahan, 
ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar negeri. Tentu itu 
bertentangan dengan akidah Islam dan kaum Muslim, apapun mazhabnya. 

Kita tidak yakin ada orang Islam yang berani melakukan itu, apalagi sampai 
lancang mengatakan, bahwa ideologi Islam adalah sumber konflik. Sebab, 
risikonya jelas: melawan akidah yang diyakininya, bahkan menginjak-injak fikih 
yang dipelajari dan diajarkannya sendiri; kecuali, jika dia menjadi kepanjangan 
tangan kaum imperialis penjajah untuk sengaja melemahkan Islam dan kaum Muslim, 
demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia, yang belum tentu didapatkannya. 
Wallâhu a'lam. d 


Catatan Kaki:

  1.. Lihat, Lu'ayyi Shafi, Al-'Aqîdah wa as-Siyasah: Ma'âim Nazhariyyah 'Ammah 
li ad-Dawlah al-Islâmiyyah, al-Ma'had al-'Alami li al-Fikr al-Islami, cetakan 
I, 1996, hlm. 51.

  2.. Lihat, Imam as-Syafi'i, Al-Umm, Dar al-Ma'rifah, Beirut, cetakan III, 
1393, IV/200. Beliau telah menggunakan istilah dharîbah tersebut untuk menyebut 
jizyah. Istilah ini kemudian digunakan oleh para fuqaha' berikutnya, dan 
setelah itu bukan hanya untuk menyebut jizyah, tetapi menjadi istilah 
tersendiri untuk praktik pemungutan uang yang ditetapkan oleh negara kepada 
rakyatnya. Ibn Taimiyah menjelaskan, bahwa istilah dharîbah ini tidak memiliki 
batasan tersendiri dalam konteks bahasa, tetapi dikembalikan pada penggunaan 
berdasarkan konvensi kaum atau umat tertentu. Lihat, Majmu' al-Fatawa, XIX/253.

  3.. Lihat, Shadiq Hasan al-Qanuji, Abjad al-'Ulûm, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 
Beirut, 1978, III/259. 

  4.. Lihat, Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr al-Islâmi, Maktabah al-Waie, 
Beirut, 1958, hlm. 9-10. 

  5.. Lihat, Ibid, hlm. 10. 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke