Di Sini, Di Dalam Jiwa Ini...

 

 

Oleh : Muhammad Nursani 

Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan
jiwaku (Wahib bin Wurd)

Saudaraku, 

Kita banyak tahu tentang kebaikan. Bahkan kita sering ingin melakukannya.
Tapi jujur saja, kita masih lebih sering gagal unutk menunaikannya. Seperti
juga keburukan. Kita tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Tetapi, mungkin
saja kita justru terdorong untuk melakukannya. Kita sering lepas kendali
mengawal diri sendiri.

Sulit mengatasi kecenderungan yang berulangkali mengajak pada suasana yang
sebenarnya kita sendiri tidak ingin ada di dalamnya. Entahlah, seolah ada
kekuasaan lain yang lebih kuat dalam membentuk dan mengendalikan diri kita.
Itulah inti masalah yang kita hadapi. Kita kerap gagal dan tak mampu
mengendalikan diri kita sendiri. Tepat, seperti ungkapan orang-orang bijak,
"Musuh kita adalah diri kita sendiri."

Padahal kemampuan mengendalikan diri, menurut Rasulullah saw adalah
parameter seseorang untuk bisa disebut kuat atau lemah. "Orang yang kuat itu
bukan orang yang menang dalam pertarungan, tapi orang yang mampu
mengendalikan amarahnya."

Amru bin Ahtam, seorang ulama di kalangan Tabi`in, menyebut orang yang mampu
menundukkan nafsunya dengan istilah `asyja`u rajul, atau orang yang paling
berani. Ia pernah ditanya oleh Mu`awiyah ra, "Siapa orang yang paling
berani?" Amru bin Ahtam menjawab, "Orang yang bisa menolak kebodohan dirinya
dengan sikap lapang dada yang dimilikinya. Dialah orang yang paling berani."
(Al Hilm, Ibnu Abi Dunia, 31)

Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman pada kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kepemimpinan pada diri
sendiri? Jawabannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika
berhadapan dengan musuh. Tak ada jalan lain, kecuali diperangi. Para ulama
kerap mengistilahkan perang batin ini dengan mujahadah. Perang batin jelas
berbeda dengan perang zahir. Musuh di perang zahir dapat dilihat dan tipu
dayanya bisa diidentifikasi lewat akal dan penglihatan kita. Tapi musuh
batin sungguh jauh berbeda. 

Dalam beberapa sisi, perang melawan batin bahkan jauh lebih hebat dibanding
perang zahir. Alasannya, medan perangnya ada di dalam diri kita sendiri.
Serangan, tikaman dan ledakannya bisa terjadi dalam diri kita, setiap waktu
dan bisa bertubi-tubi. Walaupun tidak terdengar dentumannya, tapi akibatnya
sangat berbahaya. Justru, kebanyakan orang yang mampu mengalahkan musuh
zahir, ternyata gagal mengalahkan musuh batinnya sendiri. Ia tak mampu
menundukkan hawa nafsunya sendiri. 

Saudaraku, 

Kita akan semakin mengerti, betapa hebatnya perang melawan hawa nafsu yang
sulit dideteksi. Seorang pemuda pernah bertanya pada Ustadz Fathy Yakan,
juru dakwah terkenal asal Jordania. "Saya gagal, putus asa, tidak sempurna
dalam berbagai amal karena saya selalu dihantui perasaan riya," kata pemuda
itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadah dan aktivitas dakwahnya
supaya tidak terjerumus pada sikap riya.

Ustadz Fathy Yakan menjawab, "Siapa manusia yang tidak pernah terganggu oleh
bisikan riya`? Kita manusia. Semua kita mengalaminya." Ia lantas mengutip
sebuah hadist Rasulullah saw, "Andai manusia tidak melakukan kesalahan
niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang melakukan kesalahan kemudian
mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka." (HR Muslim dan Ahmad).

Tentu saja, hadist itu tidak untuk menyepelekan sebuah dosa, termasuk riya.
Tapi hadist itu lebih mengarahkan pada dorongan untuk melakukan perbaikan
dan taubat. Fathy Yakan mengatakan, "Ibadah dan amal kebaikan itu sendiri
merupakan bagian dari terapi yang ampuh atas dosa yang engkau lakukan."

Saudaraku,
Perhatikanlah bagaimana jawaban Rasulullah yang sangat jelas tatkala ada
seorang pemuda bertanya padanya, "Ya Rasulullah, bagaimana jika ada
seseorang yang melakukan shalat malam, tapi di waktu siang ia mencuri?" Apa
jawab Rasulullah? "Amaluhu yanhahu amma taquulu," amal ibadahnya akan
menghalanginya dari mencuri. Singkat sekali. 

Jawaban ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang salafushalih
tatkala seseorang bertanya kepadanya, "Mana yang lebih baik apakah saya
melakukan sujud tilawah namun orang-orang melihat saya dan saya khawatir
riya, atau saya tidak melakukan sujud sehingga saya terhindar dari riya?"
Orang shalih itu menjawab, "Lakukan sujud tilawah dan lawan bisikan syaitan
dalam dirimu."

Saudaraku,
Apa inti jawaban para ulama terhadap rongrongan hawa nafsu itu? Lawan.
Jangan pernah menyerah terhadap dorongan negatif hawa nafsu. Ini adalah
perang yang tak pernah usai dan tak boleh berhenti. Berhenti atau mengurangi
amal ibadah, berarti keluar dari lingkup pemeliharaan dan perlindungan Allah
swt. Artinya, seseorang akan cenderung terpuruk lebih jauh dari apa yang
dikeluhkan akibat melakukan kesalahan. Ia telah memilih jalan ke arah
kesesatan, bukan jalan hidayah. 

Semoga Allah menghindarkan kita semua dari pilihan seperti itu....

Saudaraku,
Tentu saja kita harus tetap memikirkan sebab-sebab yang menjadikan kita
terjerumus pada suatu dosa. Ini penting karena menurut Hasan Al Bashri,
"Seorang hamba selalu berada dalam kebaikan selama ia mengetahui apa yang
merusak amal-amalnya." Ini adalah awal cara untuk mengobati semua masalah,
yakni dengan mengetahui sebabnya. Bahkan ini juga merupakan salah satu
bagian dari terapi kesalahan kita. Itulah yang diutarakan oleh Wahib bin
Wurd, "Inna min shalahi nafsi, ilmii bifasaadihaa.." Sesungguhnya termasuk
kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku. 

Duhai, betapa indah dan bijaknya nasihat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib
ra, "Hati ini terkadang memiliki kecenderungan menerima dan terkadang
menolak. Bila ia dalam kondisi menerima, ajak ia untuk melakukan ibadah yang
sunnah. Tapi bila ia dalam kondisi menolak, ajak dia untuk melakukan yang
wajib saja. Sampai kondisi menolak itu hilang, ajaklah kembali ia melakukan
yang sunnah."

Saudaraku,
Genderang perang itu telah lama bertalu di sini, di dalam jiwa kita ini.
Bersiap siagalah selalu. 

 

(Dikutip dari Mencari Mutiara di Dasar Hati, Catatan Perenungan Ruhani, Ust.
Muhammad Nursani)

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke