Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Sesungguhnya mengikuti orang alim/sholih adalah dengan mempelajari dari
mereka dari mana mereka mengambil amalan-amalannya. Bukan dengan
mengikutinya secara membabi buta, bukan dengan hushnuzh-zhan yang
berlebihan sampai tidak berani bertanya dalil amalan atau pendapat mereka.
Perkataan akhi Muhtadin "Kita tinggal make doang dan tinggal ikutan
orang-orang yang bener-bener alim, sholih" hanyalah sebagian benar. Ia
hanya berlaku pada kondisi orang yang baru belajar Islam. Orang yang masih
sangat awam dalam Islam. Selanjutnya, pada tahapan seperti kita, yang sudah
puluhan tahun bahkan semenjak lahir di dalam Islam, maka ada tuntutan untuk
meng-ilmu-i apa-apa yang kita kerjakan.
Sesungguhnya cara yang benar dalam mengikuti orang alim/sholih adalah
dengan belajar kepada mereka. Dari ilmu mereka. Bukan hanya sekedar dari
amalan mereka. Ketika umat Islam tidak lagi mau mempelajari ilmu dari para
ulamanya, dan hanya sekedar sibuk mengikuti amalannya, bertaklid buta
kepada mereka, maka boleh jadi ini adalah saat di mana Allah mengangkat
ilmu dari manusia. Rasulullah saw pernah mengingatkan bahwa ilmu ini tidak
akan dicabut oleh Allah swt dengan mencabut dari dada orang yang
memilikinya (para ulama), akan tetapi ilmu ini akan diangkat dengan cara
wafatnya para ulama yang berilmu, sedang di belakangnya tidak ada
orang-orang yang mewarisinya. Wallahu a'lam, salah satu sebabnya adalah
taklid buta dari pengikut sang ulama.
Cobalah kita renungkan kembali perkataan imam Abu Hanifah rahimahulah (yang
sudah saya kutip di email sebelumnya), ulama yang disandarkan kepadanya
madzhab Hanafi :
- "Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada perkataan kami,
selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya."
Jika ada orang alim/sholih, tidak mau mengajarkan ilmunya, tidak mau
menunjukkan dalilnya, hanya mau mengajarkan amalan-amalannya, maka ia tidak
amanah di dalam ilmunya. Jika ada orang alim/sholih ditanya landasan dalil
dari amalannya justru marah atau tersinggung, maka sesungguhnya ia tidak
ikhlas, ia hanya ingin menjadi ikutan.
Sungguh, di masa ini tidak ada guru-guru kita, orang-orang sholih,
ulama-ulama kita yang sealim/sholih para imam madzhab. Namun para imam
madzhab semuanya mengharamkan pengikutnya bertaklid buta kepada mereka
dengan berbagai perkataan mereka. Apakah justru kita yang menjadikan diri
kita taklid pada guru-guru kita, pada orang-orang alim/sholih ?
Para ulama besar telah berlepas diri, dengan perkataan-perkataan mereka,
dari pengikut-pengikutnya yang taqlid a'ma. Mudah-mudahan kita tidak
menzhalimi ustadz-ustadz kita, ulama-ulama kita, dengan mengikuti pendapat
mereka secara membabi-buta. Juga menzhalimi potensi akal kita, dengan
mengatakan "kalau mau yang yakin benar kebenarannya, harus mati dulu".
Na'uudzu billahi min dzaalik. Ucapan ini adalah pengabaian yang nyata dari
datangnya dalil-dalil kebenaran pada kita sebagai hidayah, dan diberikannya
kemampuan akal kepada manusia oleh Allah Ta'ala untuk membedakan yang benar
dari yang salah.
Al-haqqu min rabbika falaa takuunanna minal-mumtariin,
Wallaahu a'lamu bish-showaab, wallaahul-musta'aan,
Hadaanallaahu wa iyyaakum ajma'iin, wastaghfirullahaa lii wa lakum
Abu Karimna
"Muhtadin" <[EMAIL PROTECTED]>@usahamulia.net on 08/14/2007 07:14:35
AM
Please respond to Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
<[email protected]>
Sent by: [EMAIL PROTECTED]
To: <[EMAIL PROTECTED]>, "'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di
Kawasan EJIP'" <[email protected]>, "'Yul Erief'"
<[EMAIL PROTECTED]>
cc:
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Menjawab sholawat ketika disebut nama
NabiMuhammad
Assalaamu'alaikum,
Kalo soal nunjukin buku?tapi kok buku ya? soalnya kalo buku biasanya tipis2
aja dan isinya juga katanya ya?singkat padat?tapi paling2 padat akan
kulit2nya saja sedangkan isi2nya biasanya tidak menjelaskan secara
detail?afwan ya? akhi?.
Soal mo nunjuk2in dalil yaa?kurang bagus juga apalagi kalo hanya lewat
email dan yang mengkhawatirkan lagi ketika dalilnya ditunjukin baik itu
berupa Ayat atau Hadits jangan2 malah diingkari?.karena
dianggapnya?ya..biasalah?sehingga malah bikin orang jadi ingkar terhadap
hadits.
Soal penambahan Kalimah Sayyidina dalam bershalawat InsyaAllah merupakan
upaya dari orang2 yang 'Alim Sholih bagaimana Berakhlaq kepada Orang yang
dicintainya.
Sekarang gini aja, contoh gampang nich?ente?eh?kita2 kankerja ama orang
kafir nich..ama2 bule2 atawa ama jepang2, Nah..kalo kita2 dipanggil atau
memanggil bule2 atau jepang2 tu..pastilah ada kata2 tambahan ya?apling
tidak kita nyebut "Mister" lah atau kalo jepangnya misalnya "Warjiya San"
lha kita manggil orang tua atau atasan kita saja pakai kata2 pendahuluan
Bapak ANU?.dll.
Mangkanya kita ikuti orang2 'Alim Sholih bukan ngikutin buku dan hasil
pemikiran kita sendiri setelah memikir2 dan memilih2.
Kita tinggal make doing dan tinggal ikutin orang2 yang Bener2 'Alim Sholih,
nggak nyalah2in orang-orang yang sudah pada Ibadah.
Mudah2an kita diakui sebagai Ummat Nabi Muhammad Saw bukan hanya sekedar
ngaku2 ummat Nabi karena belum tentu diakui.
Mari banyak2 bershalawat apalagi ini udah akhir bulan Rajab, masuk Bulan
Sya'ban Bulannya Rosulllah Saw.
Allahummasholli 'alaa Sayyidinaa Muhammad.
Ibnu Husein
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************