Kotak-kotak

Ketika ramadhan mulai tiba, saya selalu membayangkan rumah saya di kampung 
ketika saya masih kecil. Bagaimana ramainya suara kotekan untuk membangunkan 
orang sahur, bagaimana serunya suara orang mengaji lewat speaker langgar dan 
masjid bersahut-sahutan, bagaimana ramainya suasana sore menjelang adzan 
maghrib, bagaimana penuhnya masjid/langgar oleh jamaah shalat tarawih.

Romantisme masa lalu ? yapp benar. karena ramadhan 5 tahun terakhir  yang saya 
alami di Bekasi memang tidak sama dengan di kampung saya yang masyarakatnya 
masih tradisional ( istilah tukulnya, Ndeso ! ). Dan suatu kemustahilan bila 
saya masih memimpikan hal yang sama terulang lagi, karena segala sesuatunya 
sudah berbeda.

Siapa yang mau kotekan, kalau anak2 di RT saya berusia sekitar 0 - 6 tahun. 
Siapa yang mau tadarus semalaman, kalau pagi hari masih harus berangkat kerja. 
Untungnya keramaian shalat tarawih masih saya temukan, walaupun 10 hari 
terakhir Ramadhan sudah berkurang drastis, maklum persiapan mudik.

Jadi menurut saya tidak masalah bila orang tetap mengingat masa lalu yang ( 
menurut ybs ) Indah, walaupun tidak mungkin mengulang masa-masa itu ke masa 
sekarang.Yang jadi masalah adalah ketika orang dengan referensi masa lalunya 
memaksakan sesuatu ke pihak lain.

Ada yang memaksakan tarawih 23 rakaat, ada yang memaksakan witir 2 kali salam, 
ada yang memaksakan ceramah sebelum tarawih, ada yang memaksakan membaca 
shalawat kepada Rasul dan sahabat setiap usai tarawih 2 rakaat, dll.

Lumayan kalau dia punya landasan atas apa yang dia paksakan, entah itu 
berdasarkan hadits atau kutipan dari penjelasan ulama. Sayangnya banyak yang 
mendasarinya dengan kalimat, "Dari dulu ya seperti ini !! masak ulama dulu 
ngaco !!"

Orang kampung saya mungkin juga sama kalimatnya, dari dulu ya seperti ini. Tapi 
untungnya, karena masyarakatnya homogen, pengalaman hampir semua orang sama, 
jadi tidak timbul konflik. Sedangkan di sub-urban seperti Bekasi yang 
heterogen, dengan latar belakang berbeda-beda, pengalaman berbeda-beda, 
referensi berbeda-beda, maka perbedaan pendapat serasa lebih tajam.

Ketika pemaksaan dan kekuatan menjadi solusi, maka yang menang akan menguasai, 
yang kalah akan tersingkir. Bisa jadi masjid A tarawih 23 rakaat, masjid B 
tarawih 11 rakaat, lama-lama akan terjadi peng-kotak-an. Masjid A cenderung ke 
aliran A, masjid B ke aliran B, sehingga jamaah yang cenderung aliran A akan ke 
masjid A, dan jamaah cenderung aliran B akan ke masjid B.

Lha kalau begitu, apa bedanya dengan gereja ??. Kalau sekarang ada gereja 
Katolik, gereja protestan, gereja pantekosta....bisa-bisa nanti ada Masjid NU, 
Masjid Salafi, Masjid Muhammadiyah...bukan hal mustahil kan ??

Cikarang, 11 Sept 2007




********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke