Ass.wr.wb
Mungkin memang terjadi pengkotak - kotakan seperti itu,tapi perlu digaris
bawahi bahwa ketika umat sudah semakin paham
akar masalahnya,maka perbedaan itu bukan kendala untuk terjalinnya
persaudaraan sehingga dimanapun ia melaksanakan
Tarawih ( 11 rakaat / 23 rakaat),tetap nyaman dan tidak ragu untuk masuk
masjid manapun.
Jadi perbedaan seperti itu akan tetap ada,yang perlu disamakan adalah
pensikapan yang benar dari perbedaan seperti itu
sehingga tidak terjadi perpecahan alias umat islam tetap rukun.
Maka tugas kita semua untuk saling menjelaskan duduk persoalannya dan
bagaimana mensikapinya secara arif bijaksana
jangan sampai kita menjadi bagian yang malah memperuncing masalah,saya kira
kita semua sudah sama - sama mengerti
Sekarang ini baiknya kita saling tukar informasi mengenai methode /
cara,untuk mencegah / menyelesaikan konflik yang dipicu
oleh adanya perbedaan
Syukron
Sulaeman
At 07:45 12/09/2007 +0700, Ardiansyah Kimiawan wrote:
Content-class: urn:content-classes:message
Content-Type: multipart/alternative;
boundary="----_=_NextPart_001_01C7F4D6.3C232E9D"
Kotak-kotak
Ketika ramadhan mulai tiba, saya selalu membayangkan rumah saya di kampung
ketika saya masih kecil. Bagaimana ramainya suara kotekan untuk
membangunkan orang sahur, bagaimana serunya suara orang mengaji lewat
speaker langgar dan masjid bersahut-sahutan, bagaimana ramainya suasana
sore menjelang adzan maghrib, bagaimana penuhnya masjid/langgar oleh
jamaah shalat tarawih.
Romantisme masa lalu ? yapp benar. karena ramadhan 5 tahun terakhir yang
saya alami di Bekasi memang tidak sama dengan di kampung saya yang
masyarakatnya masih tradisional ( istilah tukulnya, Ndeso ! ). Dan suatu
kemustahilan bila saya masih memimpikan hal yang sama terulang lagi,
karena segala sesuatunya sudah berbeda.
Siapa yang mau kotekan, kalau anak2 di RT saya berusia sekitar 0 - 6
tahun. Siapa yang mau tadarus semalaman, kalau pagi hari masih harus
berangkat kerja. Untungnya keramaian shalat tarawih masih saya temukan,
walaupun 10 hari terakhir Ramadhan sudah berkurang drastis, maklum
persiapan mudik.
Jadi menurut saya tidak masalah bila orang tetap mengingat masa lalu yang
( menurut ybs ) Indah, walaupun tidak mungkin mengulang masa-masa itu ke
masa sekarang.Yang jadi masalah adalah ketika orang dengan referensi masa
lalunya memaksakan sesuatu ke pihak lain.
Ada yang memaksakan tarawih 23 rakaat, ada yang memaksakan witir 2 kali
salam, ada yang memaksakan ceramah sebelum tarawih, ada yang memaksakan
membaca shalawat kepada Rasul dan sahabat setiap usai tarawih 2 rakaat, dll.
Lumayan kalau dia punya landasan atas apa yang dia paksakan, entah itu
berdasarkan hadits atau kutipan dari penjelasan ulama. Sayangnya banyak
yang mendasarinya dengan kalimat, "Dari dulu ya seperti ini !! masak ulama
dulu ngaco !!"
Orang kampung saya mungkin juga sama kalimatnya, dari dulu ya seperti ini.
Tapi untungnya, karena masyarakatnya homogen, pengalaman hampir semua
orang sama, jadi tidak timbul konflik. Sedangkan di sub-urban seperti
Bekasi yang heterogen, dengan latar belakang berbeda-beda, pengalaman
berbeda-beda, referensi berbeda-beda, maka perbedaan pendapat serasa lebih
tajam.
Ketika pemaksaan dan kekuatan menjadi solusi, maka yang menang akan
menguasai, yang kalah akan tersingkir. Bisa jadi masjid A tarawih 23
rakaat, masjid B tarawih 11 rakaat, lama-lama akan terjadi peng-kotak-an.
Masjid A cenderung ke aliran A, masjid B ke aliran B, sehingga jamaah yang
cenderung aliran A akan ke masjid A, dan jamaah cenderung aliran B akan ke
masjid B.
Lha kalau begitu, apa bedanya dengan gereja ??. Kalau sekarang ada gereja
Katolik, gereja protestan, gereja pantekosta....bisa-bisa nanti ada Masjid
NU, Masjid Salafi, Masjid Muhammadiyah...bukan hal mustahil kan ??
Cikarang, 11 Sept 2007
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************