HRS Di Pusaran Tahta Polri?F63 - Tuesday, November 17, 2020 20:36
https://www.pinterpolitik.com/hrs-di-pusaran-tahta-polri
 
Kapolri Jenderal Idham Azis (Foto: Kompas)
7 min read

Rentetan kerumunan simpatisan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq 
Shihab (HRS) dalam beberapa waktu terakhir berbuntut panjang. Polri bahkan 
sampai mencopot dua Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) yakni Metro Jaya dan 
Jawa Barat akibat fenomena ini. Meski Korps Bhayangkara mengklaim pencopotan 
ini terkait dengan penegakan protokol kesehatan Covid-19, namun adakah manuver 
lain di baliknya?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

"Pemerintah akan memberikan sanksi kepada aparat keamanan yang tidak mampu 
bertindak tegas dalam memastikan terlaksananya protokol kesehatan COVID-19", 
tegasMahfud MD.Tak perlu waktu lama bagi ancaman Menko Polhukam tersebut untuk 
menjadi kenyataan. Ya, hanya selang beberapa jam setelah Mahfud melontarkan 
pernyataan itu, surat Telegram dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia 
(Kapolri) bernomor ST 3222/XI/Kep/2020 terbit.

Melalui telegram tersebut, Kapolri Jenderal Idham Azis mencopot Kepala 
Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa 
Barat, Irjen Rudy Sufahriadi. Nana digantikan oleh Irjen Fadil Imran yang 
sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur, sementara Rudy digantikan oleh 
Irjen Ahmad Dofiri yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Logistik Kapolri.

Tak dapat disangkal, pencopotan ini merupakan imbas dari rangkaian kerumunan 
massa simpatisan Habib Rizieq Shihab (HRS) di sejumlah wilayah, termasuk DKI 
Jakarta dan Jawa Barat dalam sepekan terakhir. Kepala Divisi Humas Mabes Polri 
Irjen Argo Yuwono menyebut bahwa keputusan ini diambil lantaran keduanya 
diangap gagal melaksanakan perintah untuk menegakkan protokol kesehatan 
Covid-19.

Titah Kapolri ini pun menuai beragam tanggapan. Sebagian memuji dan menilai 
keputusan ini merupakan bentuk ketegasan Polri dalam penegakkan protokol 
kesehatan, namun sebagian lain justru menyindir Kapolri Idham Azis yang 
dianggap kalah responsif dengan artis Nikita Mirzani yang sudah berkomentar 
terkait kerumunan bahkan sejak HRS baru tiba di Indonesia.


Kendati Polri sudah menjelaskan alasannya, namun pencopotan dua Kapolda yang 
bisa dibilang paling vital dalam waktu yang bersamaan ini tetaplah menarik 
untuk didalami. Apalagi disebut-sebut, Idham sempat dipanggil oleh Presiden 
Joko Widodo (Jokowi) sebelum menerbitkan telegram pencopotan dua Kapolda 
tersebut.

Lantas benarkah pencopotan ini hanyalah konsekuensi dari kegagalan keduanya 
dalam mencegah timbulnya kerumunan simpatisan HRS? Adakah maksud lain di balik 
manuver ini?



Lampu Kuning untuk HRS?
Konteks pemanggilan Idham oleh Presiden Jokowi sebelum pencopotan Kapolda Metro 
Jaya dan Kapolda Jawa Barat semakin menarik jika kita menilik lebih jauh lagi 
rekam jejak Fadil Imran yang didapuk menggantikan Nana Sudjana. Meski 
sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur, Fadil ternyata sudah sering 
berkiprah di Ibu Kota.  

Ia tercatat pernah beberapa kali bertugas di Jakarta, baik di Polda Metro Jaya, 
maupun di Mabes Polri. Kariernya bahkan bisa dibilang cukup moncer karena 
berhasil menangani sejumlah perkara yang menyita perhatian publik, termasuk 
yang melibatkan HRS.

Pada tahun 2017, Fadil yang saat itu menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal 
Khusus (Diskrimsus) Polda Metro Jaya, merupakan salah satu pihak di balik 
penetapan tersangka terhadap HRS dan Firza Husein terkait unggahan obrolan 
mesum.

Meski akhirnya berakhir dengan penerbitan Surat Penghentian Penyidikan Perkara 
(SP3), namun kasus inilah yang disebut membuat HRS bermukim di Arab Saudi untuk 
waktu yang cukup lama, hingga akhirnya kembali pada 10 November pekan lalu.

Selain kasus HRS, Fadil juga disebut-sebut menjadi pihak yang membongkar 
sindikat siber terorganisir Muslim Cyber Army (MCA) saat dirinya menjabat 
sebagai Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pada 2018 silam.

Rekam jejak yang pernah bersinggungan dengan HRS dan kekuatan politik Islam 
tersebut disebut membuat penunjukan Fadil sebagai Kapolda Metro Jaya menjadi 
sangat relevan dengan kepentingan pemerintahan Jokowi. Hal ini mengingat 
pemerintah saat ini tengah dibayangi oleh kebangkitan kekuatan oposisi di bawah 
komando HRS.

Tom Power dalam tulisannya yang berjudul Jokowi’s Authoritarian Turn mengatakan 
bahwa politisasi lembaga hukum dan penegakan hukum seperti Polri bukanlah 
fenomena baru di Indonesia. Menurutnya, kompleksitas aturan dan tingginya angka 
kriminalitas, terutama kasus korupsi, telah memberikan celah bagi para penguasa 
untuk mengontrol dan memanipulasi bawahan politik mereka melalui ancaman hukum.

Upaya pemerintah untuk menggunakan perangkat hukum tersebut, menurut Tom, 
menjadi jauh lebih terbuka dan sistematis di bawah pemerintahan Jokowi.

Made Supriatma dalam tulisannya di The East Asia Forum juga mengatakan hal 
senada. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Jokowi, Polisi tak hanya bertindak 
sebagai aparat keamanan melainkan juga alat politik. Polisi secara aktif 
membangun kasus-kasus hukum terhadap lawan-lawan pemerintah, membungkam kritik 
dan menekan mereka yang mengancam kekuasaan presiden.


Dengan adanya kecenderungan tersebut, maka bisa saja penunjukan Fadil sebagai 
Kapolda Metro Jaya merupakan bentuk upaya pemenuhan kepentingan politik Jokowi 
seperti yang disebutkan Supriatma.

Apalagi, Fadil terbilang polisi yang cukup berani. Hal ini salah satunya 
terbukti dari langkah Polda Jawa Timur di bawah kepemimpinannya yang sempat 
membubarkan deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Surabaya 
beberapa waktu lalu. Padahal acara tersebut rencananya akan dihadiri oleh 
mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo.

Dengan memerhatikan rekam jejaknya itu, maka Fadil bisa dibilang menjadi kunci 
penting bagi Presiden Jokowi untuk membendung kekuatan oposisi. Ini juga bisa 
dimaknai sebagai “lampu kuning” bagi HRS maupun semua pihak yang memiliki garis 
politik sejalan dengannya.

Lalu jika memang benar penunjukan Fadil merupakan manuver politik, , lantas 
bagaimana dengan Nana Sudjana yang disebut-sebut sebagai salah satu calon kuat 
pengganti Idham. Adakah manuver lain di balik pencopotannya dari jabatan 
Kapolda Metro Jaya?



Perebutan Tahta TB-1?
Kendati Polri sendiri beralasan pencopotan ini dilakukan terkait penegakan 
protokol kesehatan, namun tak dapat disangkal rotasi besar-besaran di ujung 
masa jabatan Idham juga menimbulkan spekulasi lain terkait suksesor kursi Tri 
Brata (TB) 1.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane menilai pencopotan 
Nana Sudjana merupakan manuver persaingan dalam bursa calon Kapolri. Sebab, Ia 
merupakan salah satu dari tiga jenderal ‘Geng Solo’ yang disebut-sebut akan 
menjadi calon kuat pengganti Idham.

Geng Solo sendiri mengacu pada pejabat tinggi Polri yang pernah bertugas di 
Kota Solo, Jawa Tengah. Adagium itu muncul lantaran ada kecenderungan dari 
Presiden Jokowi untuk memilih kolega-koleganya yang dulu berdinas di sana. 

Dicopotnya Nana Sudjana, praktis membuat kansnya untuk terpilih sebagai 
pengganti Idham semakin kecil. Sebab posisi yang Ia tinggalkan itu sebenarnya 
merupakan karpet merah untuk menjadi penguasa di Trunojoyo. Sementara terkait 
pencopotan Kapolda Jawa Barat, menurut Neta, Ia diikutsertakan karena dianggap 
membiarkan kerumunan massa dalam acara HRS di Jawa barat.

Asumsi yang menyebut bahwa pencopotan ini merupakan manuver dalam perebutan 
jabatan Kapolri juga semakin mendapat afirmasinya jika melihat alasan yang 
digunakan Polri untuk menanggalkan jabatan Kapolda Metro Jaya dari Nana. 
Sejumlah pihak menilai tidak tepat jika Idham menggunakan kerumunan HRS sebagai 
alasan untuk memutasi Nana.

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun menyebut bahwa munculnya kerumunan 
simpatisan HRS beberapa waktu terakhir merupakan bentuk pelanggaran terhadap 
peraturan lokal atau daerah. Sehingga secara teknis, tanggung jawabnya berada 
di bawah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Pernyataan Refly ini pun sejalan dengan pernyataan Mahfud yang sempat 
menegaskan bahwa kerumunan yang terjadi belakangan ini merupakan tanggung jawab 
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sehingga di sisi lain, pencopotan dua Kapolda 
terkait kerumunan HRS memang bisa dibilang kurang tepat.

Namun terlepas dari segala spekulasi yang ada, pencopotan Nana faktanya membuat 
bursa calon Kapolri kini mengerucut ke dua nama, yakni Kabareskrim Komjen 
Listyo Sigit dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Lutfi. Lalu jika kita 
memasukkan faktor hierarki jabatan dan kepangkatan, maka kans Listyo Sigit bisa 
dibilang lebih besar dari Ahmad Lutfi.

Kendati begitu, sekelumit ulasan ini hanyalah analisis teoretis semata. Yang 
tahu pasti maksud sebenarnya dari rotasi besar-besaran yang tengah terjadi di 
tubuh Polri hanyalah pihak yang bersangkutan sendiri. Namun yang jelas, tak 
dapat dipungkiri bahwa pergantian personel dalam jabatan-jabatan strategis 
korps Bhayangkara tetap akan memiliki konsekuensi dalam dinamika sosial-politik 
ke depannya. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (F63)




-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7CB3F840544346C2A9FDA2BCEEA12559%40A10Live.

Reply via email to