Hiperbola Ketokohan Habib Rizieq?J61 - Tuesday, November 17, 2020 18:30
https://www.pinterpolitik.com/hiperbola-ketokohan-habib-rizieq
 
Habib Rizieq Shihab yang disambut kerumunan massa di Bandara Internasional 
Soekarno-Hatta pada 10 November lalu. (Foto: era.id)
7 min read

Sejak kepulangannya, eksistensi Habib Rizieq Shihab disambut antusiasme massa 
dalam jumlah besar yang belakangan menimbulkan polemik di tengah pandemi 
Covid-19. Lalu, mengapa fenomena kerumunan massa tersebut dapat terjadi semasif 
dan semilitan itu?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Serangkaian agenda yang dilakukan pasca kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) 
sejak 10 November lalu, kini menimbulkan konsekuensi yang tampaknya cukup 
meluas. Kerumunan massa besar yang mengiringi agenda tersebut dan tak 
mengindahkan protokol kesehatan di tengah pandemi, membuat pemerintah pusat 
meradang.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud 
MD, melayangkan ultimatum kepada kepala daerah dan aparat untuk menindak tegas 
pelanggaran berupa kerumunan selama pandemi Covid-19.

Tak sampai di situ, Mahfud juga mengatakan bahwa pemerintah akan memberikan 
sanksi kepada aparat yang tidak mampu bertindak tegas dalam memastikan 
terlaksananya upaya tersebut.

Gak pake lama sejak ultimatum dari Medan Merdeka Barat itu, dua Kapolda plus 
dua Kapolres langsung dicopot dari jabatannya. Mereka adalah Kapolda Metro Jaya 
Irjen Nana Sudjana, Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi, Kapolres Metro 
Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto, serta Kapolres Bogor AKBP Roland Ronaldy.

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga mendapatkan panggilan dari 
Polda Metro Jaya untuk mengklarifikasi adanya dugaan tindak pidana dalam 
penyelenggaraan acara keramaian di tengah pandemi Covid-19.

Dan kerumunan massa Habib Rizieq dalam jumlah masif yang tak terbendung 
tampaknya menjadi dalang dari melebarnya kasus, bahkan sampai ke jabatan para 
pejabat dan aparat.

Penjemputan di bandara, hingga sejumlah acara di Petamburan, Jakarta Pusat dan 
Megamendung, Bogor, Jawa Barat, memang menyuguhkan fenomena tersendiri dari 
gelombang massa yang seolah tak mempedulikan bahwa saat ini pandemi masih 
berlangsung dan terus mengancam.

Lalu, mengapa kiranya kerumunan massa dengan jumlah dan militansi yang tinggi 
ini dapat terjadi? Selain itu, fenomena apa yang sesungguhnya sedang terjadi?


“Syi’ar” Pasca Orba Tumbang
Aspek religiositas masyarakat kiranya tepat untuk menjelaskan kerumunan massa 
yang mengiringi sejumlah agenda pasca kembalinya Habib Rizieq ke Indonesia.

Akan tetapi dalam perkembangan dan penerapannya, aspek tersebut tampaknya tak 
melulu terkait dengan value atau nilai, yang mana religiositas erat kaitannya 
dengan konsistensi keyakinan dan perilaku seperti yang dijelaskan Edward 
Stevens dalam The Morals Game. Bahkan tendensi valleity – kebalikan dari value 
– agaknya juga mengambil porsi dalam aspek religiositas masyarakat di tanah air.

Di Indonesia, komersialisasi agama yang secara tidak langsung membentuk aspek 
religiositas masyarakat, salah satunya muncul seiring dengan penetrasi 
kapitalisme yang tak terhindarkan.

Dan penetrasi yang dianggap cukup nyata ialah yang berkenaan dengan simbol 
seperti gaya hidup yang sesuai dengan tuntunan syariat, salah satunya melalui 
cara berpakaian.

Hal tersebut merefleksikan bekerjanya teori reproduksi sosial yang dikemukakan 
Pierre Bourdie. Konteks habitus tergambar dari bagaimana wacana syi‘ar 
dioperasikan melalui beragam komunitas untuk menampilkan makna baru tentang 
busana dan pakaian syariat sebagai bagian praktik agama pada sebagian besar 
kelas masyarakat Indonesia.

M. Zainal Anwar dalam Formalisasi Syari’at Islam Di Indonesia: Pendekatan 
Pluralisme Politik dalam Kebijakan Publik, menyiratkan bahwa internalisasi yang 
terkait dengan syariat tersebut terkonstruksi secara berangsur-angsur dan mulai 
terlihat setidaknya pasca Orde Baru (Orba) tumbang.

Seperti yang diketahui, Soeharto menutup rapat diskursus syariat Islam melalui 
penerapan kebijakan asas tunggal bagi seluruh organisasi sosial politik, via 
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Setelah Soeharto lengser, “perjuangan” memformalisasikan syariat Islam kian 
semarak, yang disadari atau tidak, beriringan dengan penetrasi kapitalisme di 
baliknya.


Kemudian dalam perkembangannya, simbol seperti pakaian muslim tidak cukup lagi 
hanya dipahami semata-mata sebagai ungkapan takwa. Akan tetapi, di sebagian 
kalangan masyarakat, ihwal tersebut sendiri tak ubahnya seperti pergeseran 
selera gaya hidup pada konteks mode pakaian atau fashion.

Kondisi semacam ini lantas melahirkan komersialisasi agama yang memunculkan 
fundamentalisme hedonis atau spiritual hedonism, yakni semacam spiritualitas 
untuk bersenang-senang.

Pada akhirnya sektor bisnis yang berputar di persoalan syariat, seperti garmen, 
tampaknya memang turut berperan dalam mengkonstruksi religiositas masyarakat 
Indonesia secara tidak langsung, terlepas dari value atau valleity, seperti 
yang dikemukakan Stevens.



Bukan Karena Ketokohan HRS?
Selain peran kapitalisme yang mungkin saja “menunggangi”, faktor kekinian yang 
relevan juga tampaknya turut membentuk konstruksi religiositas masyarakat 
Indonesia, dan bermuara pada gelombang massa HRS yang kini menimbulkan polemik 
meluas.

Shelley E. Taylor dalam Health Psychology memuat temuan bahwa religiositas 
sangat membantu individu ketika mereka harus berhadapan dan mengatasi 
peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti bencana alam hingga krisis.

Dalam hal ini, religiositas berperan dan digunakan sebagai coping strategy 
untuk bertahan serta kemudian dapat keluar dari kondisi sulit tersebut secara 
psikologis.

Seperti yang telah diketahui, dampak turunan pandemi Covid-19 telah merenggut 
jutaan pekerjaan dan mendegradasi kemampuan ekonomi sebagian besar kalangan 
masyarakat.

Jika mengacu pada apa yang dikemukakan Taylor, situasi yang dapat dikatakan 
menjadi sebuah krisis tersendiri ini kemungkinan memang memunculkan atau 
meningkatkan tingkat religiositas masyarakat sebagai mekanisme psikologis untuk 
bertahan.

Riset yang dilakukan Pew Research Center yang bertajuk “The Global God Divide” 
edisi 2020 pun tampaknya mendukung postulat tersebut. Survei mengenai tingkat 
religiositas rata-rata masyarakat berdasarkan tingkat ekonomi, pendidikan, dan 
usia, menempatkan Indonesia di urutan teratas.

Survei di 34 negara – baik Eropa, Asia, Afrika, hingga Timur Tengah – sampai 
pada kesimpulan bahwa semakin rendah tingkat ekonomi, semakin tinggi tingkat 
religiositas rata-rata masyarakat di suatu negara.

Selain itu pada konteks Indonesia saat ini, “ketidakberdayaan” terhadap 
pemerintah yang sejumlah kebijakannya acapkali dianggap tak memihak rakyat dan 
bahkan cenderung kontroversial juga mungkin saja menambah derajat religiositas 
itu.

Artinya, terdapat kemungkinan bahwa “histeria” berupa kerumunan massa dalam 
jumlah masif dan militan dalam serangkaian agenda Habib Rizieq, tak semata-mata 
dikarenakan daya tarik personal maupun ketokohan sang Imam Besar seperti yang 
sebelumnya dikemukakan pengamat Intelijen, Stanislaus Riyanta. Melainkan 
terdapat akumulasi faktor psikologis dan ekonomi yang mendasarinya.

Lantas, apakah terkuaknya hal tersebut mengindikasikan bahwa sosok Habib Rizieq 
sesungguhnya tak terlalu signifikan dalam tatanan sosial politik tanah air 
seperti yang selama ini mungkin dibayangkan?


Tak Se-berpengaruh yang Dibayangkan?
Secara kasat mata, kerumunan massa yang berujung polemik pencopotan dua 
Kapolda, Kapolres, hingga pemanggilan Gubernur DKI Jakarta oleh Polda Metro 
Jaya, tampak mengimpresikan betapa berpengaruhnya sosok Habib Rizieq Shihab. 
Namun, benarkah demikian?

Jika melihat pola dan karakteristik antusiasme dan gelombang massa secara lebih 
komprehensif, termasuk aspek religiositas yang telah dijelaskan di atas plus 
bagaimana derajat ketokohan Habib Rizieq kini, tampaknya tidak demikian. Paling 
tidak sejumlah analis politik tanah air mendukung presumsi ini.

Yang pertama datang dari pengamat politik dan Direktur IndoStrategi Research 
and Consulting, Arif Nurul Imam yang menyebut bahwa figur dan ketokohan Habib 
Rizieq masih ada, namun sudah tidak besar dan kekuatannya dianggap terus 
meluntur.

Selain itu, “ketenaran” dan daya pikat Habib Rizieq dianggap hanya berada pada 
episentrum dengan skala yang tidak sebesar yang mungkin selama ini jamak 
dibayangkan publik.

Fenomena kerumunan massa seperti di Bandara, Petamburan, hingga Megamendung 
agaknya tidak akan terjadi di wilayah lain yang memiliki karakteristik berbeda. 
Pengamat masalah keislaman dan pemerhati politik komunitas Arab di Indonesia, 
Ahmad Syarif Syechbubakr dalam sebuah kesempatan menyiratkan hal ini.

Ahmad Syarif mengatakan bahwa memang tak bisa dipungkiri Habib Rizieq dan Front 
Pembela Islam (FPI) cukup populer di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera. 
Akan tetapi jika bergeser sedikit ke wilayah Jawa Tengah misalnya, ihwal 
dinilai akan berbeda.

Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut Ahmad Syarif dikuasai oleh kiai, ulama, dan 
habaib yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU). Dan secara nasional, NU dan 
Muhammadiyah – termasuk para tokohnya – masih terlalu kuat pengaruhnya 
dibandingkan organisasi Islam manapun. Pengaruh yang dikatakan Syarif juga erat 
dengan konteks elektoral.

Mengacu pada presumsi tersebut, pemerintah semestinya lebih komprehensif dan 
cermat dalam bereaksi dan merespons kasus pelanggaran protokol kesehatan akibat 
kerumunan massa Habib Rizieq agar tak dicap berlebihan dan malah dapat 
berbuntut panjang.

Pendekatan keras di situasi psikologis yang sulit seperti ini agaknya justru 
akan menimbulkan impresi dan reaksi balik yang kontraproduktif dan mungkin saja 
tidak diharapkan. Komprehensivitas dan kecermatan respons pemerintah itulah 
yang sesungguhnya diharapkan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0CDF3165621A49E2AD445B1EEEB57F01%40A10Live.

Reply via email to