Soal alkohol... Aura... Ini beda standard. Untuk yang ga mampu.. Agama di pakai alat... Termasuk Babi haram.... Sejarah nya dari Judaism... Judea yang makan daging terkontaminasi... Jadi dilarang oleh ketua.... Penduduk ampir punah... Migrant ke Eropah... Kebiasaan ini terbawa...kebetulan 331AD....kristianiti berkembang....Semua ketipu atas kebiasaan ini.. Oleh Yahudi.... Termasuk Adam Dan Hawa manusia pertama.. Zaman Romawi.... Symposium itu ada tukang ngoplos minum an.. Belum ada standard AlkoholKalau mau symposium Agak liar... Alkohol kadarnya di tinggikan... Juga para wanita diselundupkan.....
Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Thu., Nov. 19, 2020 at 2:58 p.m., Sunny ambon<[email protected]> wrote: Apakah larangan konsumsi alkohol dan wanita harus tutup aurat bukan penerapan politik agama? On Thu, Nov 19, 2020 at 4:46 PM 'j.gedearka' via GELORA45 <[email protected]> wrote: -- j.gedearka <[email protected]> https://www.antaranews.com/berita/1849480/tgb-politisasi-agama-untuk-menangi-kontestasi-politik-berbahaya TGB: Politisasi agama untuk menangi kontestasi politik berbahaya Kamis, 19 November 2020 22:12 WIB Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi. (HO) Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia TGB Muhammad Zainul Majdi mengingatkan bahwa politisasi agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik akan berdampak buruk dan berbahaya. "Menurut saya, politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk mendapatkan simpati," katanya, saat webinar Moya Institute bertema "Gaduh Politisasi Agama", Kamis. TGB memaknai politisasi agama merupakan pemanfaatan agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik, atau agama jadi instrumen untuk mendapatkan hasil politik. Namun, kata Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) itu, politisasi agama juga bisa baik kalau nilai-nilai mulia agama menjadi prinsip dalam berpolitik, sebagaimana yang dilakukan para pendiri bangsa ini. "Maka politik menjadi hidup dan bagus karena ada nilai agama," kata mantan Gubernur Musa Tenggara Barat itu. Melihat kejadian akhir-akhir ini, TGB menilai ada kelompok tertentu mempolitisasi agama dengan tujuan politik, murni untuk mencapai kekuasaan. "Kita perlu literasi, perlu penegasan bahwa politik bagian dari muamalah, politik bukan akidah," tegas TGB. Intelektual Muhammadiyah yang juga Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruqutni mencontohkan apa yang dilakukan Rizieq Shihab merupakan bagian dari politisasi agama. "Kalau Rizieq mungkin mengatakan bukan (politisasi agama). Tapi kalau kita mengatakan iya," kata Imam. Masih dalam forum yang sama, intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad Cholil Nafis mengatakan apa yang terjadi akhir-akhir ini bukan karena kegagalan NU dan Muhammadiyah dalam membimbing umat, tetapi lebih pada kegagalan orang yang ingin membawa isu liberal. "Liberal ini melahirkan radikalisme. Yang kita hadapi ini buah dari proses liberalisasi. Jadi, jangan sampai kita menepi menjadi radikalisme. Bagaimana memasyarakatkan moderasi Islam agar orang tidak menepi ke kanan dan ke kiri," ujar Cholil. Sedangkan Direktur Moya Institute Hery Sucipto menegaskan bahwa negara harus hadir dan tegas melindungi segenap warganya termasuk menindak tegas kelompok yang memanfaatkan agama untuk kepentingan provokasi. "Negara tidak boleh kalah," tegasnya. Ia mengatakan munculnya konservatisme dan militansi juga akibat adanya pembiaran terhadap kelompok intoleran yang dibungkus dakwah provokatif, padahal dakwah itu harus santun, tidak boleh mencaci, dan melukai pihak lain. Selain itu, kata dia, kerumunan massa yang dibungkus kegiatan keagamaan beberapa hari lalu tidak boleh terulang lagi karena berbahaya bagi penanganan COVID-19. Baca juga: PBNU: Reuni 212 jangan politisasi agama Baca juga: Pengamat ingatkan jangan politisasi agama dalam Pemilu 2019 Baca juga: Pengamat: Pilpres harus bebas isu politisasi agama Pewarta: Zuhdiar Laeis Editor: Ruslan Burhani COPYRIGHT © ANTARA 2020 -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201119164601.d89db5cc66cc850b05c1a854%40upcmail.nl. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2ANXZGjMQKNuqtr1hxYedMhTh44-kmmC2CHQ8-HOLvYbA%40mail.gmail.com. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1112438984.26031.1605821338417%40mail.yahoo.com.
